
Li Tan dan Li Ciau-hong tak mau ketinggalan, dengan penuh napsu mereka merangsek ke muka
dan siap melancarkan serangan.
Di antara kawanan jago itu, Ting Siu-hok adalah jago yang paling bernapsu membekuk gadis itu,
pertama karena dia ingin membalas sakit hati karena rasa malu yang dideritanya tadi, kedua
karena dia memang seorang lelaki pemogoran yang suka pipi licin.
Belum sempat Li Tan, Li Ciau-hong dan Ting Siu-hok ber-gerak maju, Ku Han-lim yang berada di
samping arena sudah turun tangan lebih dahulu.
Bagi Ku Han-lim, hanya ada satu alasan mengapa harus segera turun tangan: Mencari pahala!
Dari perkataan Ho tong tadi, ia sadar kalau inilah ke-sempatan emas baginya untuk mencari
pahala, maka tidak menunggu orang lain turun tangan, ia sudah merangsek lebih dulu ke depan,
sepasang tangan dengan kesepuluh jari tangan-nya segera melancarkan tujuh totokan maut ke
tubuh lawan, dia berniat menghabisi lawannya dalam satu gebrakan.
Kepandaian silat yang dimiliki Li Tan bersaudara serta Ting Siu-hok tidak selisih banyak
dengannya, tentu saja mereka bertiga tak ingin ketinggalan dari rekannya, maka hampir pada saat
bersamaan keempat orang jago tangguh itu menerkam ke arah Un Ji.
Walau sekilas pandang serangan itu dilancarkan berba-rengan, namun kenyataan ancaman datang
secara berurutan, karena Ku Han-lim yang menyerang duluan, maka dia juga yang pertama kali
menghadapi ancaman cahaya golok.
Baru saja tubuhnya bergerak, cahaya golok telah meng-ancam tiba, dengan perasaan kaget, cepat
dia mundur ke bela-kang dan cahaya golok pun ikut lenyap.
Li Tan menjadi orang kedua yang melancarkan serangan, kungfunya memang setingkat lebih
tinggi dari kepandaian Li Ciau-hong, karenanya kendatipun mereka menyerang secara
berbarengan, namun ancamannya sedikit lebih cepat mengan-cam sasaran.
Dengan demikian dia pun menjadi orang kedua yang menerima ancaman cahaya golok itu.
Serangan golok muncul sangat cepat, selain cepat juga amat ringan dan lembut, selembut
hembusan angin semilir, sehalus cahaya rembulan di angkasa.
Serangan yang datang dengan kekuatan dahsyat, bukan ha-langan bagi Li Tan untuk
menghadapinya, tapi menjumpai ancaman golok yang begitu halus, begitu lembut dan enteng, dia
jadi kelabakan dan tak tahu bagaimana mesti menghadapinya.
Dalam keadaan begini, mau tak mau dia harus mundur.
Karena dia mundur, cahaya golok itu mengancam tubuh Li Ciau-hong.
__ADS_1
Perempuan itu sangat kaget, dia ingin menangkis tapi ter-lambat, mau menghindar juga tak
sempat lagi, sebaliknya jika merangsek maju sama artinya dia akan termakan bacokan itu, dalam
paniknya segera dia mundur sejauh tujuh langkah.
Kini cahaya golok itu menyongsong datangnya ancaman dari Ting Siu-hok.
Tadi Ting Siu-hok sudah pernah menjajal keampuhan golok Un Ji, rasa ngeri segera muncul begitu
melihat datangnya ancaman, tentu saja dia tak berani ayal lagi, melihat ketiga orang yang berada
di depannya serentak mundur, tanpa memikirkan soal gengsi lagi dia ikut bergerak mundur ke
belakang.
Kembali Un Ji mengobat-abitkan goloknya ke empat pen-juru, kemudian baru ia menarik kembali
serangannya.
Golok masih berada dalam genggaman gadis itu, bahkan lilin pun masih berada di tangannya
secara utuh.
Empat jago tangguh ingin mengerubutnya, siapa sangka hanya dalam empat tebasan golok,
keempat orang itu sudah dipaksa mundur secara mengenaskan.
Berhasil menguasai keadaan, Un Ji kembali berpaling ke arah Ho Tong sambil tertawa cekikikan,
nadanya penuh ejekan.
Ong Siau-sik merasa amat kagum dengan kehebatan gadis itu, semakin diperhatikan dia merasa
bayangan menutupi celah di hadapannya.
Saat itulah ia mendengar seseorang berbisik lirih, berbisik persis di sisi telinganya, “Bila aku
berteriak ‘bagus’ nanti, kau segera turun tangan, robohkan Li Tan bersaudara, sementara yang
lain serahkan saja kepadaku.”
Ong Siau-sik tertegun.
Bayangan punggung yang menutupi pandangan matanya itu ternyata tak lain berasal dari si
pelajar yang dijumpai siang tadi, pemuda yang menggendong tangan sambil menengadah ke
angkasa.
Dalam pada itu Tio Thiat-leng yang berada di ruangan telah berkata kepada Ho Tong dengan
suara dalam, “Kiu-ko, kelihatannya kau tak bisa menyembunyikan ilmu Kim-jiu-eng milikmu lagi.”
Kedua orang itu saling mengangguk sambil perlahan-lahan bergerak ke depan, dengan
membentuk satu garis lurus, satu di depan yang lain di belakang, mereka mulai bergerak
mendekati gadis itu.
Un Ji dengan wajah dingin dan serius berdiri sambil melin-tangkan goloknya, setelah mendengus
__ADS_1
dingin, jengeknya, “Hmmm, kau anggap nonamu takut menghadapi kalian?”
Tio Thiat-leng maupun Ho Tong tidak menjawab, sekali lagi mereka saling bertukar pandang
sambil tertawa keras.
“Engkoh Kiu,” ujar Tio Thiat-leng kemudian dingin, “keli-hatannya kita mesti menangkap betina ini
hidup-hidup, setelah itu biar kuserahkan dia kepadamu, ajari dia agar lebih jinak.”
“Hahaha, jangan kuatir, tapi kita mesti hati-hati, kelihat-annya dia hebat juga.”
“Apakah sudah waktunya?” tanya Tio Thiat-leng sambil tertawa dingin.
Ho Tong tak langsung menjawab, ia berpaling ke balik kegelapan dan bertanya, “Bagaimana
menurut pandangan sau-dara Pek?”
Terdengar pemuda pelajar yang berdiri menggendong tangan sambil memandang ke angkasa itu
menyahut dengan santai, “Bukankah Ho-tongcu sudah memegang kendali? Kenapa mesti bertanya
lagi kepadaku?”
Berkilat sepasang mata Ho Tong, tiba-tiba ia mengernyit-kan alis matanya kemudian berseru,
“Serang!”
Baru saja Un Ji merasakan jantungnya berdebar keras karena kaget, mendadak telapak tangannya
terasa sakit, sedikit saja terpecah perhatian, secepat sambaran petir Ho Tong sudah
mencengkeram golok dalam genggamannya.
Gadis itu membentak nyaring, golok Seng-seng-to yang tajamnya luar biasa itu segera diputar
setengah lingkaran.
Menghadapi senjata mestika yang amat tajam ini, Ho Tong tak berani gegabah, dari pukulan,
cepat sepasang tangannya diubah jadi jepitan, ia berusaha menangkap senjata itu.
“Bagus!” saat itulah pemuda pelajar itu menghardik ny-aring.
Berbarengan dengan suara bentakan itu, Tio Thiat-leng melepaskan sebuah pukulan ke punggung
Un Ji.
Bagaimanapun hebatnya gadis ini, sayang pengalamannya dalam menghadapi pertarungan masih
sangat dangkal, rupanya Ho Tong sengaja mengulur waktu tanpa melancarkan serangan tadi, tak
lain karena sedang menunggu lilin yang ada di tangan Un Ji habis terbakar, ketika cairan lilin yang
meleleh menembus telapak tangan dan menyebabkan si nona kesakitan itulah dia manfaatkan
kesempatan itu untuk merampas golok lawan.
Sementara Tio Thiat-leng yang banyak pengalaman pun tak tinggal diam, dia manfaatkan juga
kesempatan itu untuk men-cabut nyawanya.
__ADS_1
Dalam waktu singkat kepalan Tio Thiat-leng sudah tiba di depan dada Un Ji, tampaknya gadis itu
segera akan terluka parah