
Pendatang itu memegang golok di tangan kanannya dan membawa lilin di tangan yang lain, sinar
lilin persis menyinari raut mukanya, dia bukan lain adalah pemuda yang nyaris ber-tumbukan
dengan Ong Siau-sik tengah hari tadi di tengah lapangan.
Wajah orang itu nampak lebih indah dan menarik, sorotan cahaya lilin membuat penampilannya
lebih menawan hati.
Kini seluruh penerangan dalam ruangan telah padam, yang tersisa hanya pancaran sinar lilin yang
berasal dari tangannya.
Sementara pihak musuh berkumpul jadi satu di balik kege-lapan bagaikan sebuah gentong, sorot
matanya justru tetap bersinar terang dan berkilauan, hanya kegembiraan yang meng-hiasi
wajahnya, sama sekali tak tersirat perasaan takut barang sedikitpun.
“Ooh, rupanya hanya seorang nona cilik, ilmu golok yang hebat!” hardik Ho Tong nyaring.
Orang itu nampak amat senang ketika mendengar ada orang memuji kehebatan ilmu goloknya,
tapi alis matanya kontan bekenyit begitu mendengar ia disebut “nona cilik”.
Dengan suara nyaring tegurnya, “Darimana kau tahu kalau aku adalah seorang nona cilik?”
Begitu perkataan itu diutarakan, semua jago yang semula masih tercengang oleh kehebatan ilmu
goloknya, kini tak kuasa menahan rasa gelinya, semua orang tertawa terbahak-bahak.
Sambil menuding ke ujung hidung sendiri, Ho Tong ber-tanya seraya tertawa, “Menurut
pendapatmu aku ini lelaki atau wanita?”
“Tentu saja lelaki,” sahut pemuda itu mendongkol, “me-mangnya manusia macam kau bisa
seorang wanita?”
“Nah itu dia,” sahut Ho Tong sambil menirukan nada bicaranya, “kalau kau bukan perempuan,
memangnya manusia macam kau bisa seorang lelaki.”
Bicara sampai di situ ia segera menggerakkan tangannya membuat gerakan gundukan di depan
dada sendiri.
Gadis itu amat jengkel, sambil mendepakkan kakinya ber-ulang kali ia maju selangkah sambil
menenteng goloknya, kembali serunya, “Kalian manusia busuk dari perkumpulan Lak-hun-poantong
memang pintarnya melakukan perbuatan jahat! Membuat cacad anak-anak, menculik dan
menipu bocah, hmmm! Akan kutangkap kalian semua untuk diserahkan ke kantor polis
“Kau ingin menangkap aku?” Ho tong mundur selangkah sambil menuding ujung hidung sendiri.
“Bukan cuma kau, tapi akan kutangkap semuanya!”
Kembali gelak tertawa bergema memecah keheningan, se-mua orang tertawa geli karena ucapan
__ADS_1
itu.
Sambil tertawa Ho Tong mengamati ujung golok lawan de-ngan matanya yang setengah terpicing,
sementara dalam hati kecilnya ia tahu jelas bahwa bocah ini sama sekali belum ber-pengalaman
dalam dunia persilatan meski ilmu goloknya cukup hebat.
“Kenapa tidak kubuat dia marah dulu, kemudian baru turun tangan?” demikian ia berpikir.
Mengimbangi pernyataan rekannya tadi, Ku Han-lim ikut bertanya sambil tertawa, “Buat apa kau
menangkap kami se-mua?”
Sementara Ting Siu-hok sambil menjulurkan sepasang tangannya berseru pula, “Kau ingin
menangkap aku bukan? Ayo, tangkaplah! Kalau bisa mati di bawah tangan bunga botan, jadi setan
pun pasti setan romantis ... nona mau memberi hadiah, sudah sepantasnya kuterima pemberian
itu. Silakan, silakan, silakan!”
Kembali semua orang tertawa tergelak, kali ini gelak ter-tawa mereka malah disisipi perasaan
cabul dan jahat.
Hanya Li Tan seorang yang tidak tertawa, ia sadar bahwa semua perbuatan dan ulahnya yang
memalukan telah diketahui lawan, kendatipun dia berbuat begitu karena perintah perkum-pulan
Lak-hun-poan-tong, namun bila berita itu sampai tersebar luas, dia bersama kelompoknya yang
tetap harus menanggung rasa malu dan nama busuk.
gadis itu berlalu dari situ dalam keadaan hidup.
Mendadak gadis itu mendengus dingin, paras mukanya berubah sedingin salju, menyusul
kemudian tampak cahaya lilin bergetar keras.
“Hati-hati ...!” bentak Ho Tong keras.
Lekas Ting Siu-hok mundur ke samping, “Blaam, blaam!”, diiringi suara keras, kedua orang yang
berdiri di belakangnya sudah terpental mundur dari posisi semula.
Menanti ia berhasil berdiri tegak, tampaklah dua buah robekan besar muncul di jubah bagian
pinggangnya.
Pucat pias selebar muka Ting Siu-hok, setelah memper-hatikan sekejap robekan di atas jubah
sendiri, dia mengawasi pula gadis itu sekejap, sadar akan kehebatan orang, dia tak berani lagi
mendekati lawannya.
Bukan hanya dia seorang yang kaget, hampir semua jago yang hadir dalam
ruangan ikut terpana dibuatnya, mereka tidak menyangka kalau si nona memiliki ilmu golok
secepat ini, hanya tampak cahaya lilin bergetar, tahu-tahu tubuh Ting Siu-hok nyaris terbabat
__ADS_1
kutung jadi dua bagian, masih untung orang she Ting ini memiliki ilmu meringankan tubuh yang
hebat, kalau tidak, entah apa jadinya.
Ho Tong mendengus dingin, wajahnya berubah amat serius, baru saja dia hendak turun tangan,
tiba-tiba terdengar Tio Thiat-leng menegur, “Apa hubunganmu dengan So Bong-seng?”
Kali ini giliran gadis itu yang melengak, dia balik berseru, “Darimana kau tahu kalau aku dan Toasuheng
....”
Sadar kalau telah salah bicara, lekas ia tutup mulut.
Tio Thiat-leng manggut-manggut berulang kali, selanya, “Tak heran kalau kau pun pandai
menggunakan ilmu golok bintang Seng-seng-to-hoat dari bukit Siau-han-san
Haah, kalau begitu kau adalah si gadis sakti yang bela-kangan ini menggetarkan sungai telaga,
Siau-han-san-yan (si burung walet dari bukit Siau-han-san) Un Ji, Un-lihiap?” seru Ho Tong pula.
“Jika kau memang anggota perkumpulan Kim-hong-si-yu-lau, jangan harap malam ini kau bisa
keluar dari tempat ini dalam keadaan selamat!” ujar Tio Thiat-leng kemudian, suara-nya keras dan
tegas bagaikan emas yang membentur cadas, sorot matanya setajam sembilu.
“Kau salah menduga,” dengan lembut gadis itu mendo-ngakkan kepala, “aku bukan anggota
perkumpulan Kim-hong-si-yu-lau, kedatanganku ke kotaraja kali ini adalah untuk men-cari tahu
suatu masalah, ingin menanyakan satu hal kepada Toa-suheng, kenapa sih urusan jadi makin
serius dan gontok-gontokan semakin parah. Cuma ... jangan kalian anggap lantaran menghadapi
jumlah banyak lantas aku takut, justru aku datang untuk mencari tahu siapa biang keladi
perbuatan keji ini, jadi kalian pun jangan harap bisa kabur dari sini dengan selamat!”
“Kami memang tak bermaksud kabur!” jengek Ho Tong sambil menyeringai seram.
Kawanan jago lainnya ikut tertawa tergelak, meski begitu, setiap orang diam-diam meningkatkan
kewaspadaannya, mere-ka kuatir Un Ji melancarkan serangan lagi sehingga mereka yang teledor
jadi korban.
“Kami justru merasa senang karena Un-lihiap mau meng-antar diri,” kata Ku Han-lim pula sambil
tertawa, “jangan kan kabur, kami malah akan menyambut kedatanganmu dengan senang hati!”
“Ya. Jika Siau-moay dari So-kongcu tertawan, dapat dipas-tikan kejadian ini merupakan sebuah
pahala besar yang jarang dijumpai dalam perkumpulan Lak-hun-poan-tong,” Ho Tong
menambahkan.
Begitu ucapan ini diutarakan, serentak para jago merangsek ke depan untuk melakukan
pengepungan, dalam waktu singkat situasi berubah jadi tegang, tampaknya setiap saat
__ADS_1
pertarungan bakal meletus.