Pendekar Golok

Pendekar Golok
Episode 9


__ADS_3

Pendatang itu memegang golok di tangan kanannya dan membawa lilin di tangan yang lain, sinar


lilin persis menyinari raut mukanya, dia bukan lain adalah pemuda yang nyaris ber-tumbukan


dengan Ong Siau-sik tengah hari tadi di tengah lapangan.


Wajah orang itu nampak lebih indah dan menarik, sorotan cahaya lilin membuat penampilannya


lebih menawan hati.


Kini seluruh penerangan dalam ruangan telah padam, yang tersisa hanya pancaran sinar lilin yang


berasal dari tangannya.


Sementara pihak musuh berkumpul jadi satu di balik kege-lapan bagaikan sebuah gentong, sorot


matanya justru tetap bersinar terang dan berkilauan, hanya kegembiraan yang meng-hiasi


wajahnya, sama sekali tak tersirat perasaan takut barang sedikitpun.


“Ooh, rupanya hanya seorang nona cilik, ilmu golok yang hebat!” hardik Ho Tong nyaring.


Orang itu nampak amat senang ketika mendengar ada orang memuji kehebatan ilmu goloknya,


tapi alis matanya kontan bekenyit begitu mendengar ia disebut “nona cilik”.


Dengan suara nyaring tegurnya, “Darimana kau tahu kalau aku adalah seorang nona cilik?”


Begitu perkataan itu diutarakan, semua jago yang semula masih tercengang oleh kehebatan ilmu


goloknya, kini tak kuasa menahan rasa gelinya, semua orang tertawa terbahak-bahak.


Sambil menuding ke ujung hidung sendiri, Ho Tong ber-tanya seraya tertawa, “Menurut


pendapatmu aku ini lelaki atau wanita?”


“Tentu saja lelaki,” sahut pemuda itu mendongkol, “me-mangnya manusia macam kau bisa


seorang wanita?”


“Nah itu dia,” sahut Ho Tong sambil menirukan nada bicaranya, “kalau kau bukan perempuan,


memangnya manusia macam kau bisa seorang lelaki.”


Bicara sampai di situ ia segera menggerakkan tangannya membuat gerakan gundukan di depan


dada sendiri.


Gadis itu amat jengkel, sambil mendepakkan kakinya ber-ulang kali ia maju selangkah sambil


menenteng goloknya, kembali serunya, “Kalian manusia busuk dari perkumpulan Lak-hun-poantong


memang pintarnya melakukan perbuatan jahat! Membuat cacad anak-anak, menculik dan


menipu bocah, hmmm! Akan kutangkap kalian semua untuk diserahkan ke kantor polis


“Kau ingin menangkap aku?” Ho tong mundur selangkah sambil menuding ujung hidung sendiri.


“Bukan cuma kau, tapi akan kutangkap semuanya!”


Kembali gelak tertawa bergema memecah keheningan, se-mua orang tertawa geli karena ucapan

__ADS_1


itu.


Sambil tertawa Ho Tong mengamati ujung golok lawan de-ngan matanya yang setengah terpicing,


sementara dalam hati kecilnya ia tahu jelas bahwa bocah ini sama sekali belum ber-pengalaman


dalam dunia persilatan meski ilmu goloknya cukup hebat.


“Kenapa tidak kubuat dia marah dulu, kemudian baru turun tangan?” demikian ia berpikir.


Mengimbangi pernyataan rekannya tadi, Ku Han-lim ikut bertanya sambil tertawa, “Buat apa kau


menangkap kami se-mua?”


Sementara Ting Siu-hok sambil menjulurkan sepasang tangannya berseru pula, “Kau ingin


menangkap aku bukan? Ayo, tangkaplah! Kalau bisa mati di bawah tangan bunga botan, jadi setan


pun pasti setan romantis ... nona mau memberi hadiah, sudah sepantasnya kuterima pemberian


itu. Silakan, silakan, silakan!”


Kembali semua orang tertawa tergelak, kali ini gelak ter-tawa mereka malah disisipi perasaan


cabul dan jahat.


Hanya Li Tan seorang yang tidak tertawa, ia sadar bahwa semua perbuatan dan ulahnya yang


memalukan telah diketahui lawan, kendatipun dia berbuat begitu karena perintah perkum-pulan


Lak-hun-poan-tong, namun bila berita itu sampai tersebar luas, dia bersama kelompoknya yang


tetap harus menanggung rasa malu dan nama busuk.


gadis itu berlalu dari situ dalam keadaan hidup.


Mendadak gadis itu mendengus dingin, paras mukanya berubah sedingin salju, menyusul


kemudian tampak cahaya lilin bergetar keras.


“Hati-hati ...!” bentak Ho Tong keras.


Lekas Ting Siu-hok mundur ke samping, “Blaam, blaam!”, diiringi suara keras, kedua orang yang


berdiri di belakangnya sudah terpental mundur dari posisi semula.


Menanti ia berhasil berdiri tegak, tampaklah dua buah robekan besar muncul di jubah bagian


pinggangnya.


Pucat pias selebar muka Ting Siu-hok, setelah memper-hatikan sekejap robekan di atas jubah


sendiri, dia mengawasi pula gadis itu sekejap, sadar akan kehebatan orang, dia tak berani lagi


mendekati lawannya.


Bukan hanya dia seorang yang kaget, hampir semua jago yang hadir dalam


ruangan ikut terpana dibuatnya, mereka tidak menyangka kalau si nona memiliki ilmu golok


secepat ini, hanya tampak cahaya lilin bergetar, tahu-tahu tubuh Ting Siu-hok nyaris terbabat

__ADS_1


kutung jadi dua bagian, masih untung orang she Ting ini memiliki ilmu meringankan tubuh yang


hebat, kalau tidak, entah apa jadinya.


Ho Tong mendengus dingin, wajahnya berubah amat serius, baru saja dia hendak turun tangan,


tiba-tiba terdengar Tio Thiat-leng menegur, “Apa hubunganmu dengan So Bong-seng?”


Kali ini giliran gadis itu yang melengak, dia balik berseru, “Darimana kau tahu kalau aku dan Toasuheng


....”


Sadar kalau telah salah bicara, lekas ia tutup mulut.


Tio Thiat-leng manggut-manggut berulang kali, selanya, “Tak heran kalau kau pun pandai


menggunakan ilmu golok bintang Seng-seng-to-hoat dari bukit Siau-han-san


Haah, kalau begitu kau adalah si gadis sakti yang bela-kangan ini menggetarkan sungai telaga,


Siau-han-san-yan (si burung walet dari bukit Siau-han-san) Un Ji, Un-lihiap?” seru Ho Tong pula.


“Jika kau memang anggota perkumpulan Kim-hong-si-yu-lau, jangan harap malam ini kau bisa


keluar dari tempat ini dalam keadaan selamat!” ujar Tio Thiat-leng kemudian, suara-nya keras dan


tegas bagaikan emas yang membentur cadas, sorot matanya setajam sembilu.


“Kau salah menduga,” dengan lembut gadis itu mendo-ngakkan kepala, “aku bukan anggota


perkumpulan Kim-hong-si-yu-lau, kedatanganku ke kotaraja kali ini adalah untuk men-cari tahu


suatu masalah, ingin menanyakan satu hal kepada Toa-suheng, kenapa sih urusan jadi makin


serius dan gontok-gontokan semakin parah. Cuma ... jangan kalian anggap lantaran menghadapi


jumlah banyak lantas aku takut, justru aku datang untuk mencari tahu siapa biang keladi


perbuatan keji ini, jadi kalian pun jangan harap bisa kabur dari sini dengan selamat!”


“Kami memang tak bermaksud kabur!” jengek Ho Tong sambil menyeringai seram.


Kawanan jago lainnya ikut tertawa tergelak, meski begitu, setiap orang diam-diam meningkatkan


kewaspadaannya, mere-ka kuatir Un Ji melancarkan serangan lagi sehingga mereka yang teledor


jadi korban.


“Kami justru merasa senang karena Un-lihiap mau meng-antar diri,” kata Ku Han-lim pula sambil


tertawa, “jangan kan kabur, kami malah akan menyambut kedatanganmu dengan senang hati!”


“Ya. Jika Siau-moay dari So-kongcu tertawan, dapat dipas-tikan kejadian ini merupakan sebuah


pahala besar yang jarang dijumpai dalam perkumpulan Lak-hun-poan-tong,” Ho Tong


menambahkan.


Begitu ucapan ini diutarakan, serentak para jago merangsek ke depan untuk melakukan


pengepungan, dalam waktu singkat situasi berubah jadi tegang, tampaknya setiap saat

__ADS_1


pertarungan bakal meletus.


__ADS_2