Pendekar Golok

Pendekar Golok
Episode 17


__ADS_3

Sedang orang yang semula mendekap tubuhnya, kini pun sudah melompat bangun.


Dalam keremangan cuaca, gadis itu dapat melihat orang berbaju putih yang gesit gerak tubuhnya


itu sedang menvulut lentera.


Malam ini, lentera di dalam kamar sudah padam sebanyak tiga kali.


Kali pertama terjadi di saat Un Ji melayang turun dari atap rumah dan terjebak dalam kepungan


orang banyak.


Kali kedua terjadi di saat Tio Thiat-leng dan Pek Jau-hui bersamaan menyerbu masuk ke dalam


ruangan disusul munculnya Ong Siau-sik.


Dan kali ini adalah kali ketiga lampu lentera itu padam.


Ketika cahaya api disulut kembali, di saat sinar mulai menerangi seluruh ruangan, pemandangan


macam apa pula


yang dijumpai?


Un Ji dapat merasakan bahwa setiap kali cahaya lentera disulut kembali, maka seolah selapis


kabut mulai disingkap, seolah sedang membuka sebuah halaman baru, seperti malam yang lewat


dan fajar mulai menyingsing.


Pemandangan macam apa pula yang akan tampil kali ini?


Ong Siau-sik sedang mengawasi sebuah cawan.


Sebenarnya cawan bukan sesuatu yang aneh, di atas lantai penuh berserakan cawan yang utuh


maupun cawan yang telah hancur lebur.


Tapi cawan yang ini sangat berbeda, cawan ini menancap di atas tiang penyangga bangunan.


Hampir seluruh permukaan cawan terbenam di tiang itu, yang tersisa di luar hanya dasar cawan,


itupun hanya sebagian kecil yang terlihat.


Sebetulnya cawan itu sangat biasa, tak ada keistimewaan apa pun karena terbuat dari porselen


putih dan merupakan cawan arak yang bisa digunakan kebanyakan orang.


Kalau dibilang benda itu mempunyai keistimewaan, maka hal ini dikarenakan di sisi cawan terlihat


ada beberapa helai rambut yang terpapas serta selembar kecil kain putih, kain dengan bercak


darah.


Sekarang Un Ji jadi paham apa yang sebenarnya telah terjadi.


Ternyata orang yang merobohkan tubuhnya dan melindunginya di atas lantai tak lain adalah Pek


Jau-hui, lelaki acuh tak acuh itu.


Sementara orang yang menerobos naik ke atap rumah untuk mengejar musuh adalah Ong Siausik,


si anak muda yang nampak sedikit bloon itu.


"Mana orangnya?" ia segera menegur sembari membenahi rambutnya yang kusut.


"Sudah pergi," sahut Ong Siau-sik sembari mengawasi cawan itu tanpa berkedip.


"Siapa sih orang itu?" tanya Pek Jau-hui pula. "Kurang jelas, aku hanya melihat bayangan orang


berkelebat kemudian lenyap, rasanya dia agak jangkung, agak kurus, tapi tidak terlampau jelas."


Kali ini giliran Pek Jau-hui yang melengak, dia tahu ilmu meringankan tubuh yang dimiliki Ong

__ADS_1


Siau-sik cukup tangguh, tapi nyatanya ia gagal mengejar orang itu, hal ini membuktikan


kepandaian silat lawan memang luar biasa.


Sementara itu Un Ji sedang mengawasi wajah Pek Jau-hui dengan matanya yang tajam, ia lihat


pemuda itu memiliki hidung mancung dengan kelopak mata agak cembung tulang matanya tinggi


menonjol, saat itu dia sedang berdiri dengan sikap tak acuhnya.


Tak tahan si nona ini jadi mencak-mencak lantaran mendongkol, tapi sekarang dia sadar ada


orang telah membokong mereka.


Rambut yang terpapas kutung jelas merupakan rambut miliknya, robekan kain putih ternyata


berasal dari ikat kepala Pek Jau-hui, sedang bercak darah berasal dari alis mata sebelah kiri Ong


Siau-sik.


Sungguh hebat kepandaian silat yang dimiliki si pembokong, ternyata ia mampu menggunakan


sebuah cawan arak, dari sudut yang tak terduga sekaligus mengancam nyawa ketiga jago itu.


"Serangan cawan yang hebat!" gumam Pek Jau-hui tanpa terasa.


Ong Siau-sik memeriksa sekejap dasar cawan yang nampak menongol keluar, lalu katanya pula,


"Orang ini sangat mahir menggunakan cawan sebagai senjata rahasia, aku jadi ingin tahu apakah


dia hebat juga menggunakan tombak?"


Begitu mendengar perkataan itu, Pek Jau-hui nampak terkesiap, serunya tanpa sadar, "Janganjangan


perbuatan dia?"


"Siapa?"


"Seseorang!"


berbisik lagi, "Sstt, jangan berisik, ada orang datang."


"Benar, malah lebih dari satu," sambung Ong Siau-sik.


Dengan kening berkerut, Un Ji siap melolos goloknya. "Jangan mencabut senjata," buru-buru Pek


Jau-hui mencegah, "kali ini yang datang adalah para opas dari pengadilan." "Mau menangkap


kita?" tanya si nona tertegun. Kontan Pek Jau-hui tertawa geli.


"Memangnya kau sudah melakukan pidana?" ejeknya.


"Kalau begitu mereka datang untuk menangkap kalian?" sekali lagi Un Ji tertegun.


"Aku rasa kehadiran mereka hanya merupakan sebagian dari strategi yang diatur Tio Thiat-leng,"


kata Ong Siau-sik menjelaskan, "kini para opas sudah berdatangan, kita tak perlu berdiam terlalu


lama di tempat ini."


"Betul, lebih baik segera angkat kaki," Pek Jau-hui membenarkan.


Terdengar suara gonggongan anjing, derap kaki kuda dan bentakan manusia berkumandang


semakin dekat, kali ini Un Ji pun dapat menangkap suara berisik itu dengan jelas.


Pek Jau-hui segera berseru sambil tertawa, "Kalau tidak angkat kaki sekarang, mau menunggu


sampai kapan lagi?"


Ketiga orang itu saling berpandangan sekejap, Ong Siau-sik segera menerobos keluar lewat lubang


di wuwungan rumah, Un Ji lewat jendela, sementara Pek Jau-hui melesat lewat pintu samping,

__ADS_1


tapi sebelum pergi ia sempat menyentilkan jari tangannya ke arah dasar cawan yang menancap di


tiang kayu.


Begitu kena sentilan, cawan arak itu segera hancur, hancur jadi dua bagian.


Kedua pecahan cawan tadi segera melesat ke samping, satu menghantam tubuh Li Tan sedang


yang lain menghajar tubuh Li Ciau-hong, sungguh tepat gerak serangan itu.


Saat itu sebenarnya Ong Siau-sik sudah melayang naik ke atap rumah, begitu mendengar


desingan angin tajam, badannya segera meluncur kembali ke bawah, langsung menuju ke arah


dua bersaudara Li tergeletak, dengan kepala di bawah kaki di atas dia menyambar ke samping,


mengambil segenggam hancuran genting.


"Sreeet!", terdengar suara desingan tajam menggelegar membelah bumi, belum lagi serangan Ong


Siau-sik tiba, tahu-tahu pecahan cawan itu sudah menyambar lewat, langsung menancap di atas


kening Li Tan.


Tak ampun lagi diiringi suara dengusan tertahan Li Tan tewas seketika.


Menyaksikan kejadian ini, Ong Siau-sik tak kuasa menahan rasa gusarnya, bentaknya penuh


amarah, "Kenapa kau harus mencabut rumput hingga seakar-akarnya?"


"Perasaanmu kelewat lembek," sahut Pek Jau-hui santai.


"Masalah ini bukan perasaan lembek atau tidak, tapi apa perlunya? Kenapa kau ngotot ingin


membunuhnya?"


"Jika kita melepaskan siapa pun di antara mereka, suatu ketika bila kejadian ini sampai tersiar,


sudah pasti Lui Sun maupun So Bong-seng tak akan melepaskan mereka, bayangkan sendiri, apa


untungnya perasaan lembekmu itu?"


Ong Siau-sik tidak membantah, namun dia nampak uring-uringan.


Sementara itu Un Ji yang sudah berada di luar tiba-tiba menegur, "He, apa yang sedang kalian


lakukan di situ? Cepat keluar!"


Tampaknya Pek Jau-hui tak ingin bentrok dengan Ong Siau-sik gara-gara persoalan ini, katanya


kemudian, "Ayo, cepat kita menyusul keluar, kalau perempuan itu berkoar-koar di luar sana, bisa


jadi seluruh opas dalam kota akan menyusul kemari."


Ong Siau-sik memandang sekejap Li Ciau-hong yanj masih menggeletak di lantai, saat itu


perempuan siluman itu sedang mendongakkan kepalanya dengan susah payah, pancaran sinar


dendam yang kuat terlintas dari balik matanya.


"Ya, sudahlah," ujar Pek Jau-hui kemudian, "akan kuampuni perempuan ini, semoga saja dia tidak


menyia-nyiakan harapanmu yang telah menyelamatkan jiwanya."


Selesai berkata, ia beranjak pergi dari situ.


Sekali lagi Ong Siau-sik mengawasi Li Ciau-hong yang tergeletak di lantai, kemudian memandang


pula mayat yang bergelimpangan dalam ruangan, tak kuasa dia menghela napas panjang.


Dalam pada itu suara derap kaki kuda dan teriakan manusia sudah makin mendekat, Ong Siau-sik


segera menendang tubuh Li Ciau-hong untuk membebaskan totokan jalan darahnya, sebelum

__ADS_1


meninggalkan tempat itu pesannya, "Semoga kau tidak melakukan kejahatan lagi."


__ADS_2