
Padahal sejak kecil ia sudah terbiasa hidup manja, dia harus paling menang, harus paling
diperhatikan, pernah gara-gara tidak dibelikan sebuah lentera waktu diajak ibunya menonton
keramaian, ia menangis menjerit-jerit hingga seluruh orang datang berkerumun.
Pernah juga gara-gara seekor burung hua-bi nya terlepas dari sangkar, dia mengumbar amarah
dengan menghancurkan sebelas macam benda antik yang tak ternilai harganya, merusak enam
lembar lukisan kenamaan dan menghancurkan cermin Persia kesayangan kakeknya.
Kenakalannya semakin memuncak ketika suatu saat dia menggunakan cap kepangkatan milik
ayahnya untuk menimpuk seekor anjing hingga cap itu hancur berantakan.
Ketika mulai belajar silat di gunung Siau-han-san, semua anggota perguruan pun menaruh hormat
kepadanya, gurunya juga amat sayang kepadanya. Kesemuanya ini membuat Un Ji sudah terbiasa
dimanja, manja yang membuatnya sering bertindak semena-mena.
Di luar dugaan, saat ini dua orang lelaki yang berada di hadapannya sama sekali tak memandang
sebelah mata pun kepadanya, bisa dibayangkan betapa mendongkol dan gusarnya gadis itu.
Jeritan Un Ji seketika membuat Pek Jau-hui dan Ong Siau-sik tertegun, setelah selang beberapa
saat kemudian Pek Jau-hui baru berkata sambil tertawa, "Kau tak usah marah, kami pun tahu
kalau kau adalah seorang pendekar wanita kenamaan, seorang pendekar sejati yang selalu
menegakkan keadilan dan kebenaran, kami malah tahu kalau kau adalah murid paling kecil, murid
paling disayang dari Ang-siu Sinni, Ciangbunjin partai Siau-han-san, bukankah begitu Un Ji, Unlihiap?"
"Darimana kau bisa tahu sejelas itu?" tanya Un Ji kehe¬ranan.
Pek Jau-hui tidak menjawab, dia hanya tersenyum.
Menggunakan kesempatan ini Ong Siau-sik bertanya pula, "Saudara Pek, aku merasa sangat
bingung dengan keadaan di sini, bersediakah kau memberi penjelasan?"
"Sudah pernahkah kau mendengar tentang perkumpulan Lak-hun-poan-tong?" Pek Jau-hui balik
bertanya.
"Dalam perjalanan menuju kemari, aku banyak mendengar tentang hal ini, bukankah perkumpulan
Lak-hun-poan-tong adalah sebuah organisasi yang amat berpengaruh di kota Kay-hong?"
"Kau pernah juga mendengar tentang perkumpulan Kim-hong-si-yu-lau?" kembali
Pek Jau-hui bertanya. Ong Siau-sik manggut-manggut.
"Ya, perkumpulan Kim-hong-si-yu-lau adalah organisasi nomor wahid yang banyak disanjung
jagoan baik dari golongan putih maupun golongan hitam."
__ADS_1
"Nah itulah dia, orang kuno bilang, di dalam satu gunung tak bisa ditempati dua ekor harimau,
kalau kedua belah pihak sama-sama ingin jadi nomor wahid, lalu siapa yang paling pantas disebut
nomor satu? Perkumpulan Lak-hun-poan-tong sudah dua puluh enam tahun menguasai dunia
persilatan, sudah barang tentu mereka tak akan membiarkan pengaruh dan kekuatan
perkumpulan Kim-hong-si-yu-lau bertambah besar dan kuat. Sebaliknya pihak perkumpulan angin
emas hujan gerimis tumbuh amat pesat, perkembangannya di luar dugaan, tak aneh bukan jika
mereka pun berusaha menggeser posisi perkumpulan Lak-hun-poan-tong agar bisa mereka
gantikan?"
Setelah berhenti sejenak, sambil menuding ke arah mayat yang berserakan, Pek Jau-hui berkata
lebih jauh, "Peraturan lama tetap berjalan dimana pun, akhirnya ...... siapa kuat dia jadi raja, siapa
lemah dia harus jadi seorang bandit."
"Berarti Tio-kiutongcu yang barusan berlalu tadi adalah anggota perkumpulan Lak-hun-poantong?"
tanya Ong Siau-sik.
"Dia?" Pek Jau-hui tertawa terbahak-bahak, tiba-tiba ia berpaling keluar kamar sambil teriaknya,
"Tio-tongcu, bukankah kau yang lebih pantas menjawab pertanyaan ini?"
Tio Thiat-leng si manusia persegi empat yang semula sudah berlalu, kini muncul kembali seraya
sebenarnya."
Kalau dilihat tingkah lakunya yang sopan, polos dan jujur, siapa pun tidak akan menyangka kalau
tadi ia telah melakukan pembunuhan secara keji.
Mendengar pertanyaan itu, Ong Siau-sik segera menjawab, "Aku hanya seorang Bu-beng-siau-cut,
seorang ingusan yang baru terjun ke dalam dunia persilatan!"
Dengan sorot matanya yang tajam Tio Thiat-leng mengawasi wajah bocah muda itu sekejap, tibatiba
tanyanya lagi, "Kau ingin kaya raya? Ingin punya kedudukan? Ingin punya nama besar?"
"Tentu saja ingin, tentu saja mau!" sahut sang pemuda tanpa ragu.
"Kau berbakat, punya kungfu hebat, asal mau mengikuti aku, di kemudian hari kau pasti akan
berhasil."
"Aku toh tidak tahu siapakah dirimu, kenapa harus mengikuti kau?"
"Aku adalah Tongcu kedua belas dari perkumpulan Lak-hun-poan-tong. Dengan posisiku sekarang,
belum tentu aku mau menerima orang lain jadi pengikutku walau mereka merengek-rengek."
"Tapi kenyataannya, mereka yang bekerja untukmu akhirnya tewas juga di tanganmu."
__ADS_1
balik ke perkumpulan Lak-hun-poan-tong, memangnya kau anggap aku akan membiarkan kau
tetap hidup lalu menyebar luaskan berita ini di luar?"
"Ooh, jadi kau ingin membunuhku untuk membungkam mulutku?" jengek Ong Siau-sik sambil
tertawa menjengek.
Sejak tadi Un Ji sudah tak kuasa menahan diri, maka begitu mendengar bakal ada gara-gara yang
terjadi, cepat ia maju ke depan, seolah kuatir tak mendapat bagian, dia maju dengan wajah
garang.
"Eei, jangan lupa, aku pun ikut mendengarkan semua pembicaraan kalian," teriaknya keras, "jadi
ada baiknya aku pun sekalian dibunuh."
Tio Thiat-leng tersenyum, dengan wajah menghormat sahutnya, "Un-lihiap, aku bilang tak ada
pembunuhan lagi di sini, apalagi kau, masa akan kubunuh juga?"
"Kenapa kau tidak membunuhku?" tanya Un Ji melengak.
Tio Thiat-leng tertawa dingin. "Sudah begitu banyak orang yang kubunuh, masakah nona Un
masih belum tahu kalau aku sebenarnya bekerja untuk Suhengmu?"
"Haaah, jadi kau ... kau adalah jagoan dari perkumpulan Kim-hong-si-yu-lau!"
Dengan pandangan geli Pek Jau-hui memandang Un Ji sekejap, lalu ujarnya kepada Ong Siau-sik,
"Kelihatannya bila malam ini kau ingin lolos dari sini dalam keadaan selamat, paling tidak kau
mesti mengunjuk kebolehanmu terlebih dulu."
Dalam pada itu Tio Thiat-leng telah berkata lagi kepada Un Ji dengan suara lembut, "Sebenarnya
bukan cuma dalam perkumpulan Lak-hun-poan-tong ada orang kita yang menyusup, mungkin ada
pula orang perkumpulan Lak-hun-poan-tong yang menyusup ke tubuh perkumpulan kita, ada di
antara mereka yang bisa ditemukan, tapi banyak yang masih tersembunyi. Sudah umum kejadian
semacam ini ditemukan dalam pertarungan antara dua kubu. Masalahnya hanya siapa tangguh dia
menang, siapa lemah dia akan ketahuan. Bukan sesuatu yang luar biasa
Kemudian sambil berpaling ke arah Ong Siau-sik, tegur¬nya, "Sudah kau dengar dengan jelas?"
"Sudah!"
"Kini rahasiaku sudah terbongkar, terhadap Pek Jau-hui aku tak perlu kuatir karena dia adalah
sahabatku, aku percaya penuh padanya, sementara Un-lihiap adalah orang sendiri, tentu saja aku
tak boleh membunuhnya, tinggal kau
"Tinggal aku seorang yang tahu kalau kau pun bukan Tio Thiat-leng, bukan begitu?" tukas Ong
__ADS_1
Siau-sik tanpa berubah wajah.