
Serangan itu sangat tiba-tiba dan cepatnya bukan kepalang, tak sempat bagi Ong Siau-sik untuk
menghindarkan diri.
Tio Thiat-leng segera sadar, dia bakal membunuh seorang lagi.
Bagi dirinya, bagi pandangannya, saat ini Ong Siau-sik sudah ibarat sesosok mayat.
Dia tidak kuatir ditegur So-kongcu, dia tak takut atasannya gusar karena ulahnya itu.
Sebab sekarang dia sudah membuat jasa besar, bila ditambah aksi yang akan dilakukannya esok
hari, maka jasa dan pahalanya akan luar biasa besarnya.
Dia tahu So-kongcu selalu membedakan dengan jelas mana jasa dan mana dosa, sekalipun
sekarang dia telah menyapu kaki adik seperguruannya hingga terjungkal, dia menganggap
kejadian ini lumrah, apalagi dia toh tidak membunuhnya.
Justru sekarang dia merasa sedikit sayang, sedikit kecewa.
Dia tahu, Ong Siau-sik adalah seorang anak muda yang berbakat, ia dapat melihat hal itu.
Tapi kenyataan, bakat yang begitu bagus ternyata enggan berpihak kepadanya, daripada bakat
bagus ini terjatuh ke tangan orang lain, dia putuskan lebih baik mengirimnya lebih dulu ke dalam
peti mati!
Sekarang dia sedang menunggu suara tulang belulang Ong Siau-sik retak dan hancur.
Suara tulang yang hancur bermacam-macam, suara tulang wajah yang retak beda sekali dengan
suara tulang dada yang hancur, tulang wajah agak keras sementara tulang dada lebih lunak, bila
dibandingkan suara tulang iga yang retak pasti lebih nyaring.
Namun baginya, suara tulang wajah yang retak jauh lebih merangsang, jauh lebih menegangkan.
Selama ini sudah terlalu banyak tulang dada orang yang hancur di tangan Tio Thiat-leng, oleh
karena itu dia lebih suka menghajar wajah lawan.
Misalnya saat dia menghajar Ho Tong sehingga tulang wajahnya hancur.
Ketika mendengar suara tulang wajah seorang sahabatnya yang sudah lama dikenalnya, sudah
lama berjuang bersama hancur berantakan, lalu dapat pula menyaksikan sorot mata ragu dan tak
percaya yang dipancarkan dari mata rekannya itu, bagi Tio Thiat-leng, kejadian ini amat
merangsang napsu, dia merasa sangat menikmatinya.
Betul juga, dia segera mendengar suara tulang patah.
Bukan tulang wajah, bukan pula tulang iga, tapi tulang per-gelangan tangan.
Suara retak itu berasal dari tulang pergelangan tangan kiri sendiri, suara retak yang amat nyaring.
"Kraaak!"
Tangan kanan Ong Siau-sik masih tetap menempel di atas gagang senjatanya.
__ADS_1
Gagang pedang itu panjangnya tujuh inci, berujung bulat dengan sarung yang antik, walaupun
tubuh senjata tidak nampak namun gagang pedangnya kelihatan sangat nyata, sebuah gagang
pedang berbentuk melengkung bagai bulan sabit, pada ujung lengkungan terlintas selapis cahaya
berwarna hijau.
Melihat bentuk senjata itu, setengah mirip sebilah golok, setengah mirip sebilah pedang, pedang
yang tergabung dalam golok.
Selama ini Ong Siau-sik belum pernah melolos pedangnya. Dia pun tidak bermaksud
menghindarkan diri.
Sekalipun tubuhnya tidak berkutik, namun telapak tangan kirinya telah bergerak cepat, menelusuri
sisi tubuhnya dia menghadiahkan sebuah babatan kilat ke atas pergelangan tangan lawan.
"Kraaak!", diiringi bunyi nyaring, pergelangan tangan itu segera terkulai lemas.
Tidak berhenti sampai di situ, kembali Ong Siau-sik mementang kelima jari tangannya, kali ini dia
berusaha mencengkeram kepalan kanan lawan.
Dalam keadaan begini buru-buru Tio Thiat-leng menarik kembali serangannya, dengan buas penuh
amarah dia melototi musuhnya sekejap, kemudian sambil memegangi tangan kirinya yang lunglai
lemas, ia membalik badan dan segera beranjak pergi meninggalkan tempat itu.
"Ploook, plookk"
Suara tepuk tangan bergema di udara, ternyata Pek Jau-hui yang sedang bertepuk tangan.
hebat, tapi tak kusangka ternyata kau pun sanggup melukainya tanpa harus mencabut pedang,
sayang aku gagal mengetahui asal-usul perguruanmu, he sobat, aku lihat kau memang sengaja
hanya melukai sebuah tangannya bukan? Kalau tidak, mungkin dia hanya memiliki dua kaki untuk
kabur."
Un Ji tidak habis mengerti dengan perkataan itu, sebab dia memang tak sempat melihat dengan
jelas apa yang telah terjadi.
Gerak serangan itu dilakukan dalam waktu singkat, serangan yang kelewat cepat.
"Padahal apa yang kau lakukan akan sangat menguntungkan posisi Tio Thiat-leng," kembali Pek
Jau-hui berkata, "coba bayangkan saja, jika dia pulang dalam keadaan utuh dan segar bugar,
dengan kecerdasan Lui-congtongcu, masa dia tak curiga? Sekarang dia pulang dengan membawa
luka, kejadian ini justru akan memperlancar usahanya memperoleh jasa dan pahala."
"Manusia macam dia termasuk seorang jago yang licik dan banyak akal, sekalipun tidak kulukai,
dia tetap bisa mengatur siasat dan akal muslihat untuk memberikan alasan yang masuk akal," kata
Ong Siau-sik, "tadi aku memang sengaja memberi pelajaran kepadanya, karena aku tak suka
__ADS_1
dengan wataknya, untuk mencapai tujuan, dia tak segan banyak membunuh, perbuatan macam
begini jelas merupakan satu perbuatan yang biadab."
"Padahal kalau mau bicara sejujurnya, justru aku yang paling banyak membunuh pada malam ini,"
kata Pek Jau-hui sambil tertawa, "selanjutnya, kau bakal kubuat repot terus."
"Aku masih muda, aku tak peduli."
Un Ji yang membungkam terus, kini tak sanggup menahan diri, dengan sorot matanya yang
bening dia mengawasi Pek Jau-hui sekejap, kemudian memperhatikan lagi Ong Siau-sik, setelah
itu gumamnya, "Manusia aneh, manusia aneh, satu rumah penuh dengan manusia aneh, seluruh
ruangan dipenuhi manusia aneh, sepasang manusia aneh."
"Kalau sudah tahu di sini ada manusia aneh, kenapa pula nona Un datang kemari?" tegur Pek Jauhui
dengan kening berkerut.
"Guruku dan orang tuaku minta aku berangkat ke kotaraja untuk membantu Suheng, tapi lantaran
sepanjang jalan aku sering mendengar orang bercerita kalau di tempat ini sedang terjadi
penculikan anak-anak, bahkan anak pembesar pun ikut diculik, maka dengan perasaan ingin tahu
aku melacak kabar berita ini, akhirnya aku pun bersembunyi di atas wuwungan rumah sebelum
akhirnya...."
"Akhirnya diseret keluar orang lain?" sela Pek Jau-hui lagi. "Hmm, siapa yang berani menyeret
aku?" teriak Un Ji gusar. "Nonamu
Belum habis dia berkata, tiba-tiba terdengar Ong Siau-sik berteriak keras, "Hati hati "Nguuung...
braaaak!"
Un Ji hanya merasakan seseorang menyambar lewat dari atas kepalanya, dengan perasaan kaget
dia segera melepaskan tujuh delapan jurus serangan ke udara.
Tampak orang itu merentangkan tangannya lebar-lebar, langsung memeluk tubuhnya dan
merobohkannya ke lantai.
Cahaya lampu yang semula menerangi ruangan, kini padam secara tiba-tiba.
Sesaat sebelum cahaya lentera itu padam, tampak seseorang membentak nyaring dan langsung
menerjang ke atas atap rumah.
Un Ji tak tahu apa yang telah terjadi, dia hanya merasakan seseorang masih menindih di atas
tubuhnya, dengus napas lelaki yang sangat kuat.
Sebenarnya Un Ji berusaha meronta sambil bersiap mencaci maki, tiba-tiba dia seperti paham
akan sesuatu, mulutnya segera terbungkam kembali dan tubuhnya tidak bergerak pula.
Dalam pada itu, orang yang semula melompat ke atas atap rumah tadi, kini bagai segulung asap
__ADS_1
telah melayang balik ke dalam ruangan, Un Ji dapat merasakan gerak tubuh orang itu sangat
enteng dan cepat.