Pendekar Golok

Pendekar Golok
Episode 6


__ADS_3

Li Tan menarik napas panjang, berusaha menahan hawa amarahnya yang meledak, kemudian


ujarnya, “Adikku, dari tiga puluh enam cabang darat dan tujuh puluh dua cabang air, kalau bukan


tunduk di bawah perintah So-kongcu, tentu tunduk kepada Lui-tongcu, kita berdua meski bisa


menancapkan kaki di wilayah seputar telaga Se-ouw, tapi terhitung jagoan macam apa di mata


orang banyak? Saudara Li, saudara sekalian yang hadir, mohon maaf yang sebesar-besarnya atas


perkataan adikku tadi, tolong masukkan perkataan tadi melalui telinga kiri dan kelu-arkan lewat


telinga kanan, jangan sebar luaskan di depan umum. Untuk itu aku orang she Li pasti akan


membalas budi kebaikan sahabat sekalian di kemudian hari.”


“Lotoa tak usah kuatir,” sahut Sim-jit cepat, “kami semua malah tidak mendengar terlalu jelas apa


yang telah dikatakan Cici kedua tadi.”


“Benar, benar,” sahut rekan lainnya, “kami memang tak mendengar jelas apa yang Cici katakan


tadi.”


Setelah memutar biji matanya, Li Ya ikut bicara, katanya, “Perkataan semacam ini memang tidak


sepantasnya diutarakan secara terbuka.”


Rupanya ia telah melihat sorot mata semua yang hadir telah tertuju ke wajahnya, sadar bahwa


dirinya merupakan satu-satunya ‘orang luar’ di tempat itu, maka untuk menghindari kecurigaan


orang, dia mesti menunjukkan keseriusannya menja-ga rahasia.


Dia pun tahu kawanan manusia yang hadir dalam ruangan saat ini merupakan jago kawakan dunia


persilatan, mereka terhitung manusia yang bisa membunuh tanpa berkedip, bila sampai


menunjukkan niat untuk berkhianat, niscaya jiwanya segera akan terancam.


Maka setelah menarik napas panjang, kembali ujarnya dengan wajah serius, “Untuk membuktikan


ketulusan hatiku, baiklah, biar aku bersumpah di hadapan Thian, jika aku Li Ya sampai


membocorkan ucapan Ji-nio sepatah kata saja, biarlah aku orang she Li mati secara mengenaskan


di pinggir jalan bagaikan tikus selokan yang mati digebuk orang


Tampaknya dia masih ingin mengucapkan sumpah yang lebih berat lagi, tapi Li Ciau-hong sudah


tak sanggup menahan diri, selanya, “Kau tak usah meneruskan sumpahmu, kau me-mang si tikus


jalanan, setiap orang akan menggebukmu sampai mampus


Ah, Ji-nio suka bergurau,” sahut Li Ya tersipu-sipu, na-mun dalam hati ia merasa lega sekali


Setelah menghela napas panjang, kembali Li Ciau-hong bertanya, “Kakak, benarkah kita akan


berbuat jahat terus?”


Li Tan tak sanggup mengendalikan emosinya lagi, sambil menggebrak meja bentaknya gusar,


“Tutup mulutmu, kau tidak kuatir pihak pusat akan menurunkan perintah pembunuhan? Kau boleh

__ADS_1


saja bosan hidup, tapi jangan sampai menyusahkan saudara kita yang lain!”


Baru saja Li Ciau-hong ingin membantah lagi, tiba-tiba dari luar ruangan berkumandang dua kali


suara lolongan anjing yang amat keras.


Berubah hebat paras muka kawanan jago yang ada dalam ruangan, tapi setelah diamati sejenak,


dengan wajah berseri Li Ya berseru, “Ah, jangan panik, orang sendiri.”


Li Tan berkerut kening, hawa pembunuhan memancar keluar dari sorot matanya.


“Aku rasa dia datang dengan membawa teman,” katanya.


“Benar,” sahut Li Ya sambil tertawa paksa, “kali ini yang menjadi komandan adalah Kutoacongkoan


dari pesanggrahan Yan-mo-cay, ia datang bersama Ting-tauke dari grup akrobatik.”


Sementara itu terdengar suara dua kali tepukan tangan dari bawah loteng.


“Apa? Mereka juga ikut hadir?” seru Li Ciau-hong.


“Aku telah menyebar mata-mata di luar sana, tebakanku tak bakal keliru.”


Mendadak terdengar lima kali suara ketukan pintu disusul dengan terbukanya pintu ruangan.


Ketika Li Ya membukakan pintu, masuklah dua orang diikuti dua orang di sebelah kiri dan kanan,


mereka menempel terus di belakang kedua orang itu secara ketat, seakan takut ada orang yang


akan mencopet duit mereka.


Empat orang yang mengintil di belakang, dua di antaranya berdandan pelajar, tapi sorot matanya


Kedua orang ini melindungi seorang lelaki setengah umur yang mengenakan baju halus, lelaki itu


berkumis tipis dengan wajah cerah, persis seperti seorang saudagar


Di sisinya mengikut seorang pemuda berwajah bulat telur dengan kulit badan yang putih bersih, di


belakang pemuda ini mengikut pula dua orang lelaki yang menempel terus bagaikan bayangan


setan, di sisi ikat pinggangnya tergantung sebuah kantung kulit ikan, siapa pun yang melihatnya


segera akan tahu kalau mereka berdua adalah jago menggunakan senjata rahasia.


Begitu bertemu dua bersaudara Li, kedua orang itu segera menjura seraya menyapa, “Li-lotoa, Jimoaycu,


baik-baikkah selama ini?”


Dua bersaudara Li lekas menyahut dengan beberapa kata sungkan. Menanti Li Ya mempersilakan


tamunya duduk, Li Tan baru berkata, “Kelihatannya hari ini kantor pusat akan menga-dakan


pertarungan akbar, kalau tidak, masa sampai merepotkan ketua pesanggrahan Yan-mo-cay, Ku


Han-lim serta Toa-tauke dari kelompok akrobatik, Ting Siu-hok”


“Mana, mana ...” sahut Ku Han-lim yang berdandan seperti saudagar itu sembari menjura, “aku


tak lebih hanya pemeran pembantu, justru saudara Li, Ji-moaycu dan Ting-lote yang me-rupakan


orang paling top dalam perkumpulan kita.”

__ADS_1


“Dalam persoalan malam ini, ada baiknya kita bersikap lebih hati-hati,” sela Ting Siu-hok Tauke


dari kelompok akro-batik tanpa basa-basi, “baru saja aku mendapat laporan, katanya Si Say-sin


dari perkumpulan


Kim-hong-si-yu-lau juga telah muncul di wilayah seputar sini.”


“Ah, ternyata memang dia!” seru Li Tan bersaudara serentak.


“Jadi kalian pun telah bersua dengan mereka?”


“Benar,” kata Li Ciau-hong, “tadi ketika kami sedang bebenah untuk balik kemari, di tengah jalan


kami telah bertemu dengan seseorang, orang itu mirip sekali dengan manusia tangguh yang kau


maksudkan!”


Senyuman yang semula masih menghias bibir Ku Han-lim, kini lenyap seketika, gumamnya, “Si


Say-sin ... Si Say-sin ... jika pihak perkumpulan Kim-hong-si-yu-lau sampai menurunkan malaikat


sakti dari langit barat, urusan jadi sedikit berabe, tidak gampang buat kita untuk turun tangan.”


“Ehmm, jika Si Say-sin benar-benar sudah datang, berarti kasus pembunuhan terhadap kedua


belas orang opas di lorong belakang rumah keluarga Han siang tadi kemungkinan besar adalah


perbuatannya,” kata Ting Siu-hok murung, biar agak masgul namun nada suaranya masih


terdengar lembut dan jelas.


“Dua belas lembar nyawa roboh berserakan hanya dalam sekali tebasan, kungfu semacam itu


memang menakutkan, se-olah dia sedang merontokkan dedaunan saja.”


“Hmmm, tapi kita semua bukan bangsa dedaunan,” de-ngus Li Tan.


“Sekalipun bukan dedaunan, rasanya juga tak selisih jauh,” sambung Ting Siu-hong hambar.


“Apa maksud perkataanmu itu?” teriak Li Tan sewot.


“Kalau cuma untuk menghadapi kita beberapa orang, rasanya tak perlu merepotkan malaikat sakti


dari langit barat!”


“Lalu kedatangannya untuk menghadapi siapa?” tanya Li Ciau-hong.


“Aku tidak tahu, aku hanya tahu perkumpulan Lak-hun-poan-tong sedang bertarung ketat


melawan perkumpulan Kim-hong-si-yu-lau, karena itu ada seseorang yang menyusul kemari,


khusus untuk menghadapi Si Say-sin.”


“Tio Thiat-leng, Tongcu kedua belas maksudmu?” tanya Li Tan kaget.


Ting Siu-hok menggeleng.


“Bukan, bukan dia, tapi Tongcu kesembilan, Ho Tong!”


“Ho-kiutongcu?” dua bersaudara Li menjerit serentak.


‘Benar, malah aku dengar selain dia datang pula dua orang yang lain, Tio Thiat-leng dan ....”

__ADS_1


“Siapa orang kedua?”


__ADS_2