
Li Tan menarik napas panjang, berusaha menahan hawa amarahnya yang meledak, kemudian
ujarnya, “Adikku, dari tiga puluh enam cabang darat dan tujuh puluh dua cabang air, kalau bukan
tunduk di bawah perintah So-kongcu, tentu tunduk kepada Lui-tongcu, kita berdua meski bisa
menancapkan kaki di wilayah seputar telaga Se-ouw, tapi terhitung jagoan macam apa di mata
orang banyak? Saudara Li, saudara sekalian yang hadir, mohon maaf yang sebesar-besarnya atas
perkataan adikku tadi, tolong masukkan perkataan tadi melalui telinga kiri dan kelu-arkan lewat
telinga kanan, jangan sebar luaskan di depan umum. Untuk itu aku orang she Li pasti akan
membalas budi kebaikan sahabat sekalian di kemudian hari.”
“Lotoa tak usah kuatir,” sahut Sim-jit cepat, “kami semua malah tidak mendengar terlalu jelas apa
yang telah dikatakan Cici kedua tadi.”
“Benar, benar,” sahut rekan lainnya, “kami memang tak mendengar jelas apa yang Cici katakan
tadi.”
Setelah memutar biji matanya, Li Ya ikut bicara, katanya, “Perkataan semacam ini memang tidak
sepantasnya diutarakan secara terbuka.”
Rupanya ia telah melihat sorot mata semua yang hadir telah tertuju ke wajahnya, sadar bahwa
dirinya merupakan satu-satunya ‘orang luar’ di tempat itu, maka untuk menghindari kecurigaan
orang, dia mesti menunjukkan keseriusannya menja-ga rahasia.
Dia pun tahu kawanan manusia yang hadir dalam ruangan saat ini merupakan jago kawakan dunia
persilatan, mereka terhitung manusia yang bisa membunuh tanpa berkedip, bila sampai
menunjukkan niat untuk berkhianat, niscaya jiwanya segera akan terancam.
Maka setelah menarik napas panjang, kembali ujarnya dengan wajah serius, “Untuk membuktikan
ketulusan hatiku, baiklah, biar aku bersumpah di hadapan Thian, jika aku Li Ya sampai
membocorkan ucapan Ji-nio sepatah kata saja, biarlah aku orang she Li mati secara mengenaskan
di pinggir jalan bagaikan tikus selokan yang mati digebuk orang
Tampaknya dia masih ingin mengucapkan sumpah yang lebih berat lagi, tapi Li Ciau-hong sudah
tak sanggup menahan diri, selanya, “Kau tak usah meneruskan sumpahmu, kau me-mang si tikus
jalanan, setiap orang akan menggebukmu sampai mampus
Ah, Ji-nio suka bergurau,” sahut Li Ya tersipu-sipu, na-mun dalam hati ia merasa lega sekali
Setelah menghela napas panjang, kembali Li Ciau-hong bertanya, “Kakak, benarkah kita akan
berbuat jahat terus?”
Li Tan tak sanggup mengendalikan emosinya lagi, sambil menggebrak meja bentaknya gusar,
“Tutup mulutmu, kau tidak kuatir pihak pusat akan menurunkan perintah pembunuhan? Kau boleh
__ADS_1
saja bosan hidup, tapi jangan sampai menyusahkan saudara kita yang lain!”
Baru saja Li Ciau-hong ingin membantah lagi, tiba-tiba dari luar ruangan berkumandang dua kali
suara lolongan anjing yang amat keras.
Berubah hebat paras muka kawanan jago yang ada dalam ruangan, tapi setelah diamati sejenak,
dengan wajah berseri Li Ya berseru, “Ah, jangan panik, orang sendiri.”
Li Tan berkerut kening, hawa pembunuhan memancar keluar dari sorot matanya.
“Aku rasa dia datang dengan membawa teman,” katanya.
“Benar,” sahut Li Ya sambil tertawa paksa, “kali ini yang menjadi komandan adalah Kutoacongkoan
dari pesanggrahan Yan-mo-cay, ia datang bersama Ting-tauke dari grup akrobatik.”
Sementara itu terdengar suara dua kali tepukan tangan dari bawah loteng.
“Apa? Mereka juga ikut hadir?” seru Li Ciau-hong.
“Aku telah menyebar mata-mata di luar sana, tebakanku tak bakal keliru.”
Mendadak terdengar lima kali suara ketukan pintu disusul dengan terbukanya pintu ruangan.
Ketika Li Ya membukakan pintu, masuklah dua orang diikuti dua orang di sebelah kiri dan kanan,
mereka menempel terus di belakang kedua orang itu secara ketat, seakan takut ada orang yang
akan mencopet duit mereka.
Empat orang yang mengintil di belakang, dua di antaranya berdandan pelajar, tapi sorot matanya
Kedua orang ini melindungi seorang lelaki setengah umur yang mengenakan baju halus, lelaki itu
berkumis tipis dengan wajah cerah, persis seperti seorang saudagar
Di sisinya mengikut seorang pemuda berwajah bulat telur dengan kulit badan yang putih bersih, di
belakang pemuda ini mengikut pula dua orang lelaki yang menempel terus bagaikan bayangan
setan, di sisi ikat pinggangnya tergantung sebuah kantung kulit ikan, siapa pun yang melihatnya
segera akan tahu kalau mereka berdua adalah jago menggunakan senjata rahasia.
Begitu bertemu dua bersaudara Li, kedua orang itu segera menjura seraya menyapa, “Li-lotoa, Jimoaycu,
baik-baikkah selama ini?”
Dua bersaudara Li lekas menyahut dengan beberapa kata sungkan. Menanti Li Ya mempersilakan
tamunya duduk, Li Tan baru berkata, “Kelihatannya hari ini kantor pusat akan menga-dakan
pertarungan akbar, kalau tidak, masa sampai merepotkan ketua pesanggrahan Yan-mo-cay, Ku
Han-lim serta Toa-tauke dari kelompok akrobatik, Ting Siu-hok”
“Mana, mana ...” sahut Ku Han-lim yang berdandan seperti saudagar itu sembari menjura, “aku
tak lebih hanya pemeran pembantu, justru saudara Li, Ji-moaycu dan Ting-lote yang me-rupakan
orang paling top dalam perkumpulan kita.”
__ADS_1
“Dalam persoalan malam ini, ada baiknya kita bersikap lebih hati-hati,” sela Ting Siu-hok Tauke
dari kelompok akro-batik tanpa basa-basi, “baru saja aku mendapat laporan, katanya Si Say-sin
dari perkumpulan
Kim-hong-si-yu-lau juga telah muncul di wilayah seputar sini.”
“Ah, ternyata memang dia!” seru Li Tan bersaudara serentak.
“Jadi kalian pun telah bersua dengan mereka?”
“Benar,” kata Li Ciau-hong, “tadi ketika kami sedang bebenah untuk balik kemari, di tengah jalan
kami telah bertemu dengan seseorang, orang itu mirip sekali dengan manusia tangguh yang kau
maksudkan!”
Senyuman yang semula masih menghias bibir Ku Han-lim, kini lenyap seketika, gumamnya, “Si
Say-sin ... Si Say-sin ... jika pihak perkumpulan Kim-hong-si-yu-lau sampai menurunkan malaikat
sakti dari langit barat, urusan jadi sedikit berabe, tidak gampang buat kita untuk turun tangan.”
“Ehmm, jika Si Say-sin benar-benar sudah datang, berarti kasus pembunuhan terhadap kedua
belas orang opas di lorong belakang rumah keluarga Han siang tadi kemungkinan besar adalah
perbuatannya,” kata Ting Siu-hok murung, biar agak masgul namun nada suaranya masih
terdengar lembut dan jelas.
“Dua belas lembar nyawa roboh berserakan hanya dalam sekali tebasan, kungfu semacam itu
memang menakutkan, se-olah dia sedang merontokkan dedaunan saja.”
“Hmmm, tapi kita semua bukan bangsa dedaunan,” de-ngus Li Tan.
“Sekalipun bukan dedaunan, rasanya juga tak selisih jauh,” sambung Ting Siu-hong hambar.
“Apa maksud perkataanmu itu?” teriak Li Tan sewot.
“Kalau cuma untuk menghadapi kita beberapa orang, rasanya tak perlu merepotkan malaikat sakti
dari langit barat!”
“Lalu kedatangannya untuk menghadapi siapa?” tanya Li Ciau-hong.
“Aku tidak tahu, aku hanya tahu perkumpulan Lak-hun-poan-tong sedang bertarung ketat
melawan perkumpulan Kim-hong-si-yu-lau, karena itu ada seseorang yang menyusul kemari,
khusus untuk menghadapi Si Say-sin.”
“Tio Thiat-leng, Tongcu kedua belas maksudmu?” tanya Li Tan kaget.
Ting Siu-hok menggeleng.
“Bukan, bukan dia, tapi Tongcu kesembilan, Ho Tong!”
“Ho-kiutongcu?” dua bersaudara Li menjerit serentak.
‘Benar, malah aku dengar selain dia datang pula dua orang yang lain, Tio Thiat-leng dan ....”
__ADS_1
“Siapa orang kedua?”