
Di bawah cahaya rembulan tampak tiga sosok bayangan manusia melesat dengan kecepatan
tinggi.
Bayangan berbaju putih adalah Ong Siau-sik, dia memang selalu berdandan sederhana, baju
panjangnya berwarna cerah bagai sinar rembulan, lembut bagai warna rembulan.
Bayangan yang berbaju sutera adalah Pek Jau-hui, dia mengenakan stelan baju terbuat dari bahan
sutera yang mahal harganya, anggun, mewah dan terhormat.
Sementara bayangan yang memakai baju merah adalah Un
Ji, baju ketat warna merahnya dengan renda berbentuk kupu-kupu emas, sulaman bunga mawar
di sisi bahu membuat gadis ini nampak cantik bak bidadari dari kahyangan.
Tak kuasa Ong Siau-sik melirik sekejap ke arah gadis itu.
Pek Jau-hui turut mengerling sekejap, namun sekulum senyuman angkuh segera tersungging di
ujung bibirnya.
Un Ji tahu, kedua orang anak muda itu sedang mencuri pandang ke arahnya.
Sekalipun kepandaian silat yang dimilikinya jauh lebih rendah ketimbang kedua orang itu, namun
dia yakin memiliki kemampuan yang cukup sempurna dalam menganalisa 'adakah seseorang yang
sedang mencuri pandang ke arahnya'.
Dalam persoalan ini, kaum pria memang selalu lebih bodoh ketimbang kaum wanita.
Un Ji luar biasa gembiranya, dengan senyum di kulum dia sengaja hanya memandang jalanan di
kejauhan sana, kepalanya didongakkan, alis matanya bekernyit dan sebisa mungkin dia berusaha
menjaga gerak-geriknya agar selalu tampil anggun.
Perasaan bangga menyelimuti hatinya, dia senang karena kedua orang anak muda itu mulai
menaruh perhatian kepada¬nya.
Baru keluar dari rumah penginapan, mereka telah menginjak sesosok mayat yang tergeletak di sisi
pepohonan, orang itu tak lain adalah salah satu mata-mata yang dikirim perkumpulan Lak-hunpoan-
tong untuk mengawasi Tio Thiat-leng.
Menyusul teriakan kaget gadis itu, suara bentakan dan de¬singan angin tajam bergema dari
seluruh penjuru ruangan, untung Pek Jau-hui dan Ong Siau-sik bertindak cepat, coba kalau bukan
ditarik kedua orang pemuda itu, mungkin dia sudah dikepung pasukan kerajaan.
"Hei, apa yang kalian takuti?" protes Un Ji tak senang hati,
"aku toh tidak membunuh, juga tidak membakar, kenapa aku mesti takut?"
Ong Siau-sik dan Pek Jau-hui tidak menggubris, mereka tetap menyeret gadis itu menjauh dari
tempat itu.
Menanti kejaran pasukan kerajaan tertinggal jauh, ketiga orang itu baru memperlambat larinya.
Saat itulah Un Ji baru membenahi rambutnya yang kusut, dia tahu, gayanya saat ini pasti lembut
dan menarik hati.
"Eh, bukankah bunga yang kau sisipkan di sanggulmu adalah bunga melati?" tiba-tiba Pek Jau-hui
__ADS_1
bertanya.
Un Ji memegang sisi sanggulnya sambil membetulkan letak bunga melati itu, lalu tanyanya sambil
mengerling ke arah pemuda itu sekejap,
"Benar, ada apa?"
Pek Jau-hui tertawa terbahak-bahak, serunya kemudian, "Nah, apa kubilang, ternyata memang
bunga melati."
"Bunga melati?" Ong Siau-sik seperti tak mengerti.
"Tempo hari Gwe-sian dan Loan-si juga menyisipkan bunga itu disanggulnya," kata Pek Jau-hui
sambil tertawa, "ketika aku tanya mereka, gadis-gadis itu enggan memberitahu, sekarang aku
baru mengerti, ternyata bunga itu bernama melati."
"Gwe Sian? Loan Si?" Ong Siau-sik semakin tak habis me¬ngerti.
"Masa kau tidak tahu?" kembali Pek Jau-hui berseru, "semua pelacur penghuni Ing-cun-sian
maupun Hong-hiang-kek di sepanjang sungai Chin-hway hampir semuanya menyisipkan bunga
semacam itu di sanggulnya, tak kusangka
Belum selesai perkataan itu diucapkan, Un Ji dengan wajah cemberut sudah kabur duluan
meninggalkan mereka berdua.
Melihat itu Pek Jau-hui mengerdipkan matanya ke arah Ong Siau-sik, kemudian tertawa tergelak.
Dengan cepat Ong Siau-sik menggeleng.
"Sekarang kau hendak berangkat kemana?" tanya Pek Jau-hui kemudian. "Kotaraja" "Mau apa ke
sana?" "Mengadu untung."
"Lantas mau apa kau ke kotaraja?" tegur Pek Jau-hui sambil tertawa,
"ingin kaya mendadak? Ingin ternama?"
"Aku tidak tahu, aku hanya tahu bahwa aku belajar ilmu untuk berbakti kepada negara, ambisi dan
cita-citaku harus diwujudkan mumpung aku masih muda, aku tak ingin menyia-nyiakan hidupku,"
kemudian setelah berpikir sejenak, tambahnya, "Tapi seandainya cita-citaku tak terwujud, ya
sudah, apa boleh buat."
"Tahukah kau, begitu banyak manusia macam kau hidup di dunia ini? Tapi akhirnya mereka hanya
menanggung rasa kecewa, karena keinginannya sulit terwujud."
Ong Siau-sik tidak langsung menanggapi perkataan itu, dia berpikir sejenak kemudian baru
sahutnya, "Paling tidak, aku toh harus mencobanya dulu."
"Bagus sekali!"
"Bagaimana dengan kau sendiri?" Ong Siau-sik balik bertanya.
"Aku? Kenapa dengan aku?"
"Aku lihat kungfumu hebat, kemampuanmu luar biasa, hendak kemana kau? Apa yang akan kau
lakukan?"
"Sebetulnya aku sejalan dengan kau," di balik keletihan ter¬lintas sikap angkuh dan kesendirian di
__ADS_1
wajah Pek Jau-hui, "aku pun hendak ke kotaraja, mencoba mengadu untung pula. Oleh karena
aku tak ingin mencari sesuap nasi dengan bekerja dalam lingkungan pengaruh perkumpulan Lakhun-
poan-tong, maka kuterima order sesaat yang bisa menghasilkan duit, dengan bekal itu aku
hendak ke kotaraja, mencoba apakah aku bisa menancapkan kaki di situ."
"Kalau begitu kita bisa melakukan perjalanan bersama-sama," seru Ong Siau-sik kegirangan,
"dengan begitu kita tak usah kesepian sepanjang jalan."
"Kesepian sih tak mungkin, kau tak kuatir aku segera angkat kaki menyingkir begitu melihat kau
tertimpa kesulitan?"
"Ooh, masa iya?" Ong Siau-sik menanggapi dengan serius.
"Hahaha, sayang aku bernama Pek Jau-hui, kabur di kala orang sedang murung, coba aku
bernama Pek Oh-hui, aku tentu akan kabur di saat kau sedang kelaparan," Pek Jau-hui tertawa
terbahak-bahak.
Kini Ong Siau-sik baru tahu kalau rekannya tidak bicara serius, serunya cepat, "Mau kabur pada
saat seperti apa pun aku tak bakal menyalahkan dirimu, aku hanya berharap kau jangan
membohongi aku, seperti yang kau lakukan tadi, katanya tak akan membunuh, tapi kenyataan ...
kau
"Sudahlah, yang sudah lewat tak usah disinggung lagi," potong Pek Jau-hui sambil tertawa.
"Saudara Pek," tiba-tiba Ong Siau-sik berseru setelah mengawasi wajahnya sekejap, "ternyata
sewaktu tertawa, kau tidak nampak angkuh atau jumawa, malah kelihatannya amat ramah."
Pek Jau-hui tidak menyangka kalau Ong Siau-sik akan mengucapkan perkataan semacam itu,
setelah melengak sekejap sahutnya, "Kalau tiap saat kita mesti senyum tak senyum, bagaimana
orang mau menghormati kita?"
Tiba-tiba terasa segulung angin berhembus lewat, tahu-tahu Un Ji bagaikan sekuntum bunga
mawar sudah menerjang ke depan mereka, serunya sambil tertawa, "Aneh, masakah dua orang
lelaki senang bicara berbisik, persis banci saja."
Kemudian setelah berhenti sejenak, katanya lagi, "Coba tebak, nonamu mau pergi kemana? Kalau
bisa menebak secara jitu, aku akan mentraktir kalian makan gula-gula."
Kemudian seraya berpaling ke arah Ong Siau-sik, ujarnya pula, "Kau duluan."
"Aku rasa kau akan ke Mongolia," sahut pemuda itu terpaksa.
"Dan kau?" tanya Un Ji sambil berpaling pada Pek Jau-hui. Dengan wajah serius Pek Jau-hui
berpikir sejenak, sahutnya kemudian, "Kau akan menuju pesanggrahan Ing-cun-sian di tepi sungai
Chin-hway."
Saat itu mereka bertiga memang sudah tiba di tepi sungai, sudah barang tentu sungai itu bukan
sungai Chin-hway me¬lainkan sungai Han-swe dengan arusnya yang deras.
Dengan menumpang sebuah sampan, mereka melanjutkan perjalanan, untuk tiba di kotaraja
paling tidak masih membutuhkan waktu sepuluh hari hingga setengah bulan lamanya.
__ADS_1
Begitulah mereka bertiga pun segera melanjutkan perjalanan bersama-sama, tengah hari itu
tibalah mereka di dermaga penyeberangan Lam-tok-tau.