
Hanya dalam waktu sekejap orang itu sudah lenyap di tengah kerumunan orang banyak.
Sewaktu Ong Siau-sik menoleh lagi ke tengah arena, ia saksikan beberapa orang lelaki kekar dan
perempuan kasar itu sedang memberesi peralatan senjata dan barang-barangnya un-tuk
meninggalkan arena dengan tergesa-gesa, para penonton yang semula mengerubung di seputar
arena pun sudah mulai bubar.
Tiba-tiba Ong Siau-sik teringat kembali dengan kata bisik-an tadi, “Kalau urusan kecil tak bisa
ditahan, urusan besar jadi terbengkalai”. Apa maksud bisikan itu?
Setelah berpikir sejenak, dia berkeputusan akan menguntit rombongan akrobatik itu lebih dulu, dia
ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Rombongan itu berjalan menelusuri jalan besar kemudian memasuki lorong kecil, sepanjang jalan
sering berpapasan de-ngan orang banyak, tapi mereka berjalan amat santai, menelu-suri jalan
sembari bicara kasar, malah seringkali mereka meng-hadiahkan cambukan atau tendangan ke
tubuh orang cebol dan manusia cacad itu.
Cara mereka menempuh perjalanan tidak mirip manusia yang melakukan perjalanan bersama, tapi
lebih mirip seorang peternak yang sedang menggiring binatang peliharaannya, mirip juga seorang
majikan yang sedang menggiring budak belian, mereka membentak, mencambuk untuk
memamerkan kewiba-waannya.
Ong Siau-sik teramat murka menyaksikan kejadian ini, hampir saja dia mengumbar
kemarahannya, ketika secara tiba-tiba ia saksikan munculnya seseorang yang jangkung dan kurus
kering dari kejauhan sana.
Orang jangkung itu mengenakan jubah panjang berwarna abu-abu, wajahnya putih memucat
seakan sudah lama tidak bertemu sinar matahari.
Di punggungnya kelihatan sebuah bungkusan besar, tua, kuno dan berat tergantung di situ.
Tak selang berapa lama kemudian orang itu sudah berjalan semakin mendekat.
Suasana pun sesaat menjadi hening, rombongan penjual akrobatik mulai berdiam diri sambil
mengawasi gerak-gerik orang itu.
Makin lama orang itu berjalan semakin dekat.
Ong Siau-sik dapat merasakan betapa tegangnya kawanan penjual akrobat itu hingga susah
bernapas, malah ada di antara mereka mulai gemetar kakinya, nyaris melarikan diri meninggal-kan
tempat itu.
Di tengah sorotan sang surya yang lembut, hembusan angin musim gugur terasa dingin, di antara
guguran daun ke-ring yang beterbangan di udara, lamat-lamat terdengar suara alunan seruling
yang menggema terputus-putus.
Siapa yang meniup seruling di tengah udara seperti ini?
Dalam pada itu orang tadi sudah berjalan lewat, berpa-pasan dengan rombongan penjual
__ADS_1
akrobatik, jangan kan berhen-ti, melirik atau berpaling sekejap pun ternyata tidak.
Kini rombongan itu baru bisa menghembuskan napas lega, beberapa orang di antaranya malah
sempat berpaling untuk melirik orang itu sekejap, memandang dengan sorot mata ke-takutan.
Sekarang orang itu sudah berjalan mendekati Ong Siau-sik.
Anak muda ini bisa merasakan hawa dingin yang meman-car dari wajah orang itu begitu
menggidikkan hati, dingin beku bagai bongkahan salju yang sudah terkubur ribuan tahun, tapi
hawa dingin yang terpancar dari bungkusan yang berada di punggungnya terasa jauh lebih
menyayat hati.
Orang itu berjalan terus ke depan, sewaktu hampir ber-papasan dengan Ong Siau-sik, tiba-tiba ia
mendongakkan ke-pala, dengan sinar mata
setajam kilat, ia melotot ke arah anak muda itu sekejap.
Ong Siau-sik merasa hatinya tercekat.
Orang itu sudah berjalan lewat, berjalan terus ke depan menjauhi tempat itu.
Tapi Ong Siau-sik kembali menemukan suatu kejadian yang sangat aneh.
Ia lihat dari ujung jalan, paling tidak dari lima enam arah yang berbeda, bermunculan belasan
orang, ada yang berlagak seperti sedang pesiar, ada yang berlagak sebagai penjaja ma-kanan
kecil, ada yang menjadi tukang ramal, ada pula kongcu yang membawa sangkar burung, di antara
orang-orang itu ada yang tua ada pula yang muda, dandanan serta pakaian mereka berbeda,
itu sangat tangguh, sedang tujuan kedatangan mereka pun hanya satu, menguntit manusia
jangkung itu!
Lalu siapakah lelaki ceking yang bertubuh jangkung itu? Mengapa kemunculannya menarik
perhatian begitu banyak orang?
Rasa ingin tahu Ong Siau-sik makin terusik, dia ingin tahu apa yang sebenarnya telah terjadi.
Sementara itu rombongan pemain akrobatik tadi sudah memasuki sebuah rumah penginapan,
segera Ong Siau-sik pun mengingat-ingat nama penginapan itu.
Ketika berpaling lagi, ia lihat lelaki kurus jangkung itu sudah berjalan memasuki sebuah lorong
kecil yang sepi, sedang belasan orang dengan dandanan yang berbeda itu turut me-masuki lorong
itu.
Ong Siau-sik segera mengambil keputusan dengan masuk ke rumah penginapan lebih dulu,
melihat rombongan akrobatik itu sudah memasuki kamarnya masing-masing, dia pun men-catat
kamar mana saja yang mereka gunakan.
Baru saja akan berbalik meninggalkan tempat itu, tiba-tiba ia lihat lelaki kekar yang sempat
menegur kasar kepadanya tadi sedang naik ke loteng sambil mengawasinya dengan pandangan
gusar.
Ong Siau-sik tak ingin mencari gara-gara dalam suasana begini, sambil melempar senyuman dia
__ADS_1
beranjak keluar dari penginapan dan langsung menyusul ke arah lorong tadi dengan kecepatan
tinggi.
Dia tahu, rombongan akrobatik itu tak mungkin kabur dalam waktu singkat, justru lelaki jangkung
itu yang mesti diperhatikan lebih dulu, tapi siapa pula lelaki jangkung itu? Apa yang bakal terjadi
dengan orang-orang itu?
Segera Ong Siau-sik menyusul ke lorong sepi itu.
Hembusan angin musim gugur terasa menyayat wajah, lamat-lamat hawa membunuh menyelimuti
jagad.
Tiba di ujung tikungan jalan, Ong Siau-sik seketika dibuat terbelalak dengan pemandangan yang
terbentang di hadapan-nya.
Di ujung lorong tumbuh sebuah pohon besar, dahan dan ranting yang tumbuh merentang ke
empat penjuru kini dalam keadaan gundul karena sebagian besar daunnya sudah ber-guguran ke
tanah.
Di belakang pohon gundul itu, yang terlihat hanya darah dan kematian.
Belasan orang penguntit itu kini sudah roboh terkapar di atas tanah, terkapar tumpang tindih, tak
seeorang pun dalam keadaan hidup.
Lelaki jangkung kurus kering tadi tidak nampak di antara tumpukan mayat.
Ketika Ong Siau-sik mengejar masuk ke dalam penginapan kemudian berlari keluar ke lorong itu,
selisih waktu sebenarnya teramat singkat, tapi kenyataannya belasan orang penguntit itu sudah
mati semua dalam keadaan mengenaskan, jangan lagi ada yang hidup, yang menghembuskan
napas pun tak ada.
Siapa yang telah turun tangan secepat itu?
Apakah di antara mereka terikat dendam kesumat sedalam samudra?
Menghadapi situasi seperti ini, hanya dua pilihan yang dihadapi Ong Siau-sik, kabur atau
meneruskan penyelidikan.
Ia putuskan untuk melanjutkan penyelidikan!
Dengan gerakan yang teramat cepat, dia periksa belasan sosok mayat itu satu per satu, kemudian
menarik tiga kesim-pulan:
Pertama, tidak dijumpai luka lain di tubuh belasan sosok mayat itu kecuali sebuah lubang. Lubang
darah persis pada jantungnya, siapa yang tertusuk nyaris tak mungkin bisa hidup.
Kedua, ketika menemui ajalnya, belasan orang itu tak sempat berteriak minta tolong. Di luar
lorong adalah jalan raya besar, banyak orang berlalu lalang di situ, asal ada yang ber-teriak minta
tolong, dapat dipastikan banyak orang akan mem-buru ke situ, tapi kenyataan belasan orang itu
tewas tanpa sempat bersuara, hal ini semakin membuktikan kalau menjelang ajalnya mereka tak
mempunyai kesempatan untuk minta tolong.
__ADS_1