Pendekar Golok

Pendekar Golok
Episode 3


__ADS_3

Hanya dalam waktu sekejap orang itu sudah lenyap di tengah kerumunan orang banyak.


Sewaktu Ong Siau-sik menoleh lagi ke tengah arena, ia saksikan beberapa orang lelaki kekar dan


perempuan kasar itu sedang memberesi peralatan senjata dan barang-barangnya un-tuk


meninggalkan arena dengan tergesa-gesa, para penonton yang semula mengerubung di seputar


arena pun sudah mulai bubar.


Tiba-tiba Ong Siau-sik teringat kembali dengan kata bisik-an tadi, “Kalau urusan kecil tak bisa


ditahan, urusan besar jadi terbengkalai”. Apa maksud bisikan itu?


Setelah berpikir sejenak, dia berkeputusan akan menguntit rombongan akrobatik itu lebih dulu, dia


ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.


Rombongan itu berjalan menelusuri jalan besar kemudian memasuki lorong kecil, sepanjang jalan


sering berpapasan de-ngan orang banyak, tapi mereka berjalan amat santai, menelu-suri jalan


sembari bicara kasar, malah seringkali mereka meng-hadiahkan cambukan atau tendangan ke


tubuh orang cebol dan manusia cacad itu.


Cara mereka menempuh perjalanan tidak mirip manusia yang melakukan perjalanan bersama, tapi


lebih mirip seorang peternak yang sedang menggiring binatang peliharaannya, mirip juga seorang


majikan yang sedang menggiring budak belian, mereka membentak, mencambuk untuk


memamerkan kewiba-waannya.


Ong Siau-sik teramat murka menyaksikan kejadian ini, hampir saja dia mengumbar


kemarahannya, ketika secara tiba-tiba ia saksikan munculnya seseorang yang jangkung dan kurus


kering dari kejauhan sana.


Orang jangkung itu mengenakan jubah panjang berwarna abu-abu, wajahnya putih memucat


seakan sudah lama tidak bertemu sinar matahari.


Di punggungnya kelihatan sebuah bungkusan besar, tua, kuno dan berat tergantung di situ.


Tak selang berapa lama kemudian orang itu sudah berjalan semakin mendekat.


Suasana pun sesaat menjadi hening, rombongan penjual akrobatik mulai berdiam diri sambil


mengawasi gerak-gerik orang itu.


Makin lama orang itu berjalan semakin dekat.


Ong Siau-sik dapat merasakan betapa tegangnya kawanan penjual akrobat itu hingga susah


bernapas, malah ada di antara mereka mulai gemetar kakinya, nyaris melarikan diri meninggal-kan


tempat itu.


Di tengah sorotan sang surya yang lembut, hembusan angin musim gugur terasa dingin, di antara


guguran daun ke-ring yang beterbangan di udara, lamat-lamat terdengar suara alunan seruling


yang menggema terputus-putus.


Siapa yang meniup seruling di tengah udara seperti ini?


Dalam pada itu orang tadi sudah berjalan lewat, berpa-pasan dengan rombongan penjual

__ADS_1


akrobatik, jangan kan berhen-ti, melirik atau berpaling sekejap pun ternyata tidak.


Kini rombongan itu baru bisa menghembuskan napas lega, beberapa orang di antaranya malah


sempat berpaling untuk melirik orang itu sekejap, memandang dengan sorot mata ke-takutan.


Sekarang orang itu sudah berjalan mendekati Ong Siau-sik.


Anak muda ini bisa merasakan hawa dingin yang meman-car dari wajah orang itu begitu


menggidikkan hati, dingin beku bagai bongkahan salju yang sudah terkubur ribuan tahun, tapi


hawa dingin yang terpancar dari bungkusan yang berada di punggungnya terasa jauh lebih


menyayat hati.


Orang itu berjalan terus ke depan, sewaktu hampir ber-papasan dengan Ong Siau-sik, tiba-tiba ia


mendongakkan ke-pala, dengan sinar mata


setajam kilat, ia melotot ke arah anak muda itu sekejap.


Ong Siau-sik merasa hatinya tercekat.


Orang itu sudah berjalan lewat, berjalan terus ke depan menjauhi tempat itu.


Tapi Ong Siau-sik kembali menemukan suatu kejadian yang sangat aneh.


Ia lihat dari ujung jalan, paling tidak dari lima enam arah yang berbeda, bermunculan belasan


orang, ada yang berlagak seperti sedang pesiar, ada yang berlagak sebagai penjaja ma-kanan


kecil, ada yang menjadi tukang ramal, ada pula kongcu yang membawa sangkar burung, di antara


orang-orang itu ada yang tua ada pula yang muda, dandanan serta pakaian mereka berbeda,


itu sangat tangguh, sedang tujuan kedatangan mereka pun hanya satu, menguntit manusia


jangkung itu!


Lalu siapakah lelaki ceking yang bertubuh jangkung itu? Mengapa kemunculannya menarik


perhatian begitu banyak orang?


Rasa ingin tahu Ong Siau-sik makin terusik, dia ingin tahu apa yang sebenarnya telah terjadi.


Sementara itu rombongan pemain akrobatik tadi sudah memasuki sebuah rumah penginapan,


segera Ong Siau-sik pun mengingat-ingat nama penginapan itu.


Ketika berpaling lagi, ia lihat lelaki kurus jangkung itu sudah berjalan memasuki sebuah lorong


kecil yang sepi, sedang belasan orang dengan dandanan yang berbeda itu turut me-masuki lorong


itu.


Ong Siau-sik segera mengambil keputusan dengan masuk ke rumah penginapan lebih dulu,


melihat rombongan akrobatik itu sudah memasuki kamarnya masing-masing, dia pun men-catat


kamar mana saja yang mereka gunakan.


Baru saja akan berbalik meninggalkan tempat itu, tiba-tiba ia lihat lelaki kekar yang sempat


menegur kasar kepadanya tadi sedang naik ke loteng sambil mengawasinya dengan pandangan


gusar.


Ong Siau-sik tak ingin mencari gara-gara dalam suasana begini, sambil melempar senyuman dia

__ADS_1


beranjak keluar dari penginapan dan langsung menyusul ke arah lorong tadi dengan kecepatan


tinggi.


Dia tahu, rombongan akrobatik itu tak mungkin kabur dalam waktu singkat, justru lelaki jangkung


itu yang mesti diperhatikan lebih dulu, tapi siapa pula lelaki jangkung itu? Apa yang bakal terjadi


dengan orang-orang itu?


Segera Ong Siau-sik menyusul ke lorong sepi itu.


Hembusan angin musim gugur terasa menyayat wajah, lamat-lamat hawa membunuh menyelimuti


jagad.


Tiba di ujung tikungan jalan, Ong Siau-sik seketika dibuat terbelalak dengan pemandangan yang


terbentang di hadapan-nya.


Di ujung lorong tumbuh sebuah pohon besar, dahan dan ranting yang tumbuh merentang ke


empat penjuru kini dalam keadaan gundul karena sebagian besar daunnya sudah ber-guguran ke


tanah.


Di belakang pohon gundul itu, yang terlihat hanya darah dan kematian.


Belasan orang penguntit itu kini sudah roboh terkapar di atas tanah, terkapar tumpang tindih, tak


seeorang pun dalam keadaan hidup.


Lelaki jangkung kurus kering tadi tidak nampak di antara tumpukan mayat.


Ketika Ong Siau-sik mengejar masuk ke dalam penginapan kemudian berlari keluar ke lorong itu,


selisih waktu sebenarnya teramat singkat, tapi kenyataannya belasan orang penguntit itu sudah


mati semua dalam keadaan mengenaskan, jangan lagi ada yang hidup, yang menghembuskan


napas pun tak ada.


Siapa yang telah turun tangan secepat itu?


Apakah di antara mereka terikat dendam kesumat sedalam samudra?


Menghadapi situasi seperti ini, hanya dua pilihan yang dihadapi Ong Siau-sik, kabur atau


meneruskan penyelidikan.


Ia putuskan untuk melanjutkan penyelidikan!


Dengan gerakan yang teramat cepat, dia periksa belasan sosok mayat itu satu per satu, kemudian


menarik tiga kesim-pulan:


Pertama, tidak dijumpai luka lain di tubuh belasan sosok mayat itu kecuali sebuah lubang. Lubang


darah persis pada jantungnya, siapa yang tertusuk nyaris tak mungkin bisa hidup.


Kedua, ketika menemui ajalnya, belasan orang itu tak sempat berteriak minta tolong. Di luar


lorong adalah jalan raya besar, banyak orang berlalu lalang di situ, asal ada yang ber-teriak minta


tolong, dapat dipastikan banyak orang akan mem-buru ke situ, tapi kenyataan belasan orang itu


tewas tanpa sempat bersuara, hal ini semakin membuktikan kalau menjelang ajalnya mereka tak


mempunyai kesempatan untuk minta tolong.

__ADS_1


__ADS_2