
“Di luar sana masih ada sedikit persoalan yang harus di-bereskan, rasanya aku harus segera pergi
dari sini?” terdengar Tio Thiat-leng berkata sambil tertawa dingin.
“Silakan Cap-ji Tongcu!” sahut pelajar itu tertawa.
Ketika melihat Tio Thiat-leng sudah tiba di luar pintu, tiba-tiba pelajar itu berkata lagi, “Ah keliru,
seharusnya kusebut kau sebagai Tio-kiutongcu (Tongcu kesembilan)!”
Sekilas perasaan girang melintas di balik mata Tio Thiat-leng, tapi di luar ia merendah, “Itu kan
susah dibilang, harus dibuktikan apakah aku memang bernasib jadi Tongcu kesem-bilan.”
Kini tinggal Un Ji dan Ong Siau-sik saling berpandangan dengan wajah melongo, kalau Ong Siausik
merasa makin me-mandang gadis itu semakin menawan hati, sebaliknya Un Ji makin
memandang wajahnya semakin tak habis mengerti.
Hanya pemuda pelajar itu yang tetap berdiri acuh tak acuh, sambil menggendong tangan dia tetap
mendongak memandang angkasa, seakan kehadiran siapa pun di tempat itu sama sekali tidak
menarik perhatiannya.
Sampai lama kemudian Un Ji baru berseru nyaring, “He!”
“Kau sedang memanggil aku?” tanya Ong Siau-sik sambil menuding ujung hidung sendiri.
“Tentu saja aku sedang memanggil kau.”
“Kau benar sedang memanggil aku?” sekali lagi Ong Siau-sik menuding ke dada sendiri.
Un Ji amat mendongkol melihat tingkah dungu yang diperlihatkan anak muda itu, teriaknya
dengan wajah sewot, “Siapa kau? Siapa namamu? Mau apa kemari? Kelompok mana yang sedang
kau bantu?”
“Aku ....” Ong Siau-sik tidak tahu pertanyaan mana yang mesti dijawab duluan, untuk ketiga
kalinya dia menuding ke tubuh sendiri, “Aku ...... aku pun tidak tahu.”
Dengan gemas Un Ji mengayunkan goloknya ke udara, sungguh hebat tebasan itu, Ong Siau-sik
yang berada lima kaki di hadapannya pun ikut merasakan betapa tajamnya angin serangan itu.
“He, siapa sih kamu ini?” teriak nona itu marah, “berani amat kau permainkan nonamu!”
Ong Siau-sik tahu, jika ingin tahu duduk persoalan yang sebenarnya, maka hanya pemuda pelajar
itu yang bisa menerangkan, maka dia pun menghampiri orang itu, memberi hormat dan menyapa,
“Heng-tay, selamat bersua.”
__ADS_1
“Kau tak usah sungkan,” balas pelajar itu tersenyum.
“Boleh tahu siapa nama Heng-tay?”
Belum lagi pemuda pelajar itu menjawab, Un Ji sudah menyela, “Buat apa mesti ditanya lagi, dia
dari marga Pek.”
“Oya? Jadi kau tahu aku dari marga Pek?” pemuda itu mengalihkan sorot matanya ke wajah si
nona, “lantas siapa pula namaku?”
“Peduli amat kau bernama Pek apa,” sahut Un Ji sembari menyarungkan kembali goloknya,
“pokoknya aku hanya ingin kau menjawab sejujurnya, kenapa kau membantai orang-orang itu?
Apakah mereka satu komplotan denganmu?”
“Bukankah kau sudah tahu kalau aku dari marga Pek? Jadi banyak bertanya pun percuma,” pelajar
itu tersenyum.
Lagi-lagi Un Ji naik darah, tampaknya dia akan melolos go-loknya lagi.
Melihat itu segera Ong Siau-sik berseru, “Boleh aku tahu siapa nama Heng-tay?”
“Oh, aku she Pek bernama Jau-hui, boleh tahu siapa nama-mu?”
“Pek Jau-hui? Pek Jau-hui?” pikir Ong Siau-sik di hati kecil-nya, “semenjak terjun ke dunia
persilatan, aku selalu memperhatikan tokoh-tokoh terkenal dunia persilatan, tapi rasanya be-lum
kenapa tak pernah kudengar namanya?”
Meski berpikir begitu, di luar segera dia memperkenalkan diri, “Oh, Cayhe dari marga Ong
bernama Siau-sik, Ong dari kata raja, siau dari kata kecil dan sik dari kata batu.”
Sebetulnya Pek Jau-hui ingin menjawab “Selamat bertemu kembali”, tapi setelah merasa nama
Ong Siau-sik belum pernah didengar sebelumnya, dia menelan kembali perkataan itu, ujarnya
kemudian, “Cepat betul gerak seranganmu, hanya dalam waktu singkat dua bersaudara Li telah
berhasil kau roboh-kan, tampaknya kungfumu bukan berasal dari perguruan besar di daratan
Tionggoan.”
“Ah, saudara Pek terlalu memuji, justru kungfumu yang lebih hebat. Tadi aku memang sengaja
tidak membunuh mereka, karena aku beranggapan kejahatan mereka belum sepantasnya diganjar
dengan hukuman mati.”
Pek Jau-hui menghela napas panjang, “Ai, jika kita biarkan satu saja di antara mereka pulang
__ADS_1
dalam keadaan hidup, bukan cuma kau dan aku, bahkan Tio-kiutongcu pun akhirnya akan tewas di
tangan orang-orang perkumpulan Lak-hun-poan-tong.”
“Tapi ... bukankah di antara orang-orang itu masih ada yang terhitung berhati baik, tidak berniat
melakukan kejahatan, apakah orang semacam inipun harus dibunuh?”
“Bila aku tidak membunuh mereka, merekalah yang akan membunuhku, biar salah bunuh, kita tak
boleh melepaskan mereka begitu saja, apalagi orang-orang itu sudah kelewat banyak melakukan
kejahatan, jadi dibunuh pun tidak keliru.”
“Kita manusia, mereka pun manusia, kita semua ingin hidup terus, begitu juga dengan mereka,
bila hanya dikarenakan alasan itu lalu kita membunuhnya, bukankah di kemudian hari mereka pun
bisa menggunakan alasan yang sama untuk membunuh kita? Entah bagaimana menurut pendapat
saudara Pek?”
Pek Jau-hui kontan tertawa dingin.
“Kita hidup dalam dunia yang kejam, siapa lemah dia tertindas siapa kuat dia pegang kekuasaan,
bila suatu ketika kita yang terjatuh ke tangan mereka, sekalipun kita memiliki alasan yang kuat,
alasan yang masuk akal pun, belum tentu mereka akan membebaskan kita. Aku rasa siapa yang
harus dibunuh tetap mesti dibunuh, siapa yang sudah saatnya mati dia tetap harus mati.”
“Tapi bila kau tidak membunuhnya, dia pun tak ada alasan untuk membunuhmu, bukankah semua
pihak dapat hidup secara aman damai?” seru Ong Siau-sik serius.
“Pendapatmu keliru besar,” bantah Pek Jau-hui serius, “asal di tempat itu ada manusia, asal
manusia yang satu berkumpul dengan manusia yang lain, tak bisa dihindari kalau bukan kau yang
membunuh aku, akulah yang akan membunuh kau, ada orang membunuh dengan darah
berceceran, ada pula orang membunuh tanpa kelihatan darah. Ada orang membunuh sambil
tertawa, membunuh sebagai satu kesenangan, ada pula yang membunuh dengan linangan air
mata, membunuh karena terpaksa. Ada pula orang yang tak pernah membunuh sesa-manya, tapi apa yang diperbuat jauh lebih menyakitkan dari-pada membunuh. Ada pula orang yang hidup
karena menunggu dibunuh orang lain. Dunia yang kau bayangkan selama ini, sebenarnya hanya
ada dalam hatimu sendiri, dunia luar jauh berbeda dengan bayanganmu
“Kenapa sih kalian meributkan terus soal bunuh membunuh,” sela Un Ji tiba-tiba, “kau anggap kita
semua ini manusia atau bukan?”
__ADS_1
Sudah sedari tadi nona ini menahan diri, baginya, kesabaran yang ia perlihatkan saat ini sudah
mencapai puncaknya. Mencapai pada taraf dimana ia sendiri pun memuji atas kemampuan sendiri.