
Karena sepanjang perjalanan mereka berbincang dan bergurau, hubungan mereka bertiga pun
bertambah akrab, saat itulah Ong Siau-sik dan Un Ji dapat merasakan bahwa Pek Jau-hui ternyata
bukan orang jumawa yang segan bergaul, meski cara kerjanya tegas, telengas dan tak segan
menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, bahkan terkadang tak kenal sanak keluarga
sendiri, sesungguhnya dia adalah seorang pemuda yang berhati mulia.
Sebaliknya Pek Jau-hui dan Ong Siau-sik pun merasa bahwa Un Ji meski kekanak-kanakan dan
lincah, sesungguhnya dia berhati mulia, cuma rasa ingin tahunya kelewat besar dan agak keras
kepala.
Sementara Un Ji dan Pek Jau-hui menganggap Ong Siau-sik kelewat jujur, polos, namun
terkadang serius dan tak main-main.
Di samping mereka bertiga dapat memahami satu sisi dari rekannya, namun ada sisi lain yang
mereka anggap sulit untuk diraba, seakan meraba sisi punggung rembulan, sulit untuk diketahui
rahasia apa di balik semua itu. Adakah sisi baik dari semua itu? Atau justru sisi buruk yang masih
tersembunyi? Terkadang dalam kehidupan manusia di dunia ini, ada sekelompok manusia
berkumpul dan berteman lantaran mereka memiliki kegemaran yang sama, terkadang berkumpul
karena kebutuhan yang sama atau didesak oleh keadaan, sifat asli mereka baru akan terlihat bila
sedang menghadapi suatu masalah, suatu keadaan yang berbahaya, kerap kali sifat asli yang
mereka tampilkan bisa membuat orang terkejut, membuat orang terpana bahkan melongo.
Tiba di dermaga, mereka bertiga menyewa sebuah perahu dan bersiap melanjutkan perjalanan
keesokan harinya.
Ujar Pek Jau-hui, "Lebih baik kita menempuh perjalanan air saja, lebih nyaman dan santai, toh kita
tidak sedang terburu-buru, kalau ada angin, mungkin kita akan tiba di tempat tujuan lebih cepat,
kalau sedang tak ada angin, anggap saja waktu yang lebih lama merupakan saat kita bersantai."
"Aku tak setuju," protes Un Ji.
"Kalau begitu kau boleh menempuh perjalanan darat sementara kami lewat jalan air."
Un Ji kontan melotot, sambil menghentakkan tangan ia ber¬teriak, "Pek Jau-hui, apa maksudmu?"
"Apakah nona takut kurang leluasa berada di atas ranjang?" tanya Ong Siau-sik cepat.
Sebenarnya ia bermaksud mengurai ketegangan di antara Un Ji dan Pek Jau-hui, siapa tahu saking
cemasnya dia telah salah menyebut Juan (perahu) menjadi Juang (ranjang), aneh kalau perkataan
ini tidak menimbulkan.bencana.
Benar saja, Un Ji kontan mencak-mencak gusar, sambil menuding ke arah pemuda itu teriaknya
penuh amarah, "Kalian memang cuma pintar bicara kotor, jangan keburu senang hati, suatu saat
nonamu pasti akan membuat perhitungan!"
Sepanjang perjalanan dia memang sudah terbiasa digoda Pek Jau-hui, maka ketika Ong Siau-sik
ingin mengucapkan kata yang bernada menggoda, dia kira anak muda inipun telah bersekongkol
untuk mempermainkan dirinya.
Ong Siau-sik semakin tergagap, serunya lagi terbata-bata, "Nona Un, aku ... aku ... tidak ...........
__ADS_1
tidak bermaksud begitu, maksudku ............ aku ......... aku ingin bersamamu naik ... naik ranjang
Lagi-lagi dia melakukan kesalahan besar, naik 'perahu' disebutnya naik 'ranjang', kegugupan
pemuda ini semakin membuat Un Ji naik darah, dia mengira pemuda ini sedang melakukan
pelecehan terhadapnya, tanpa pikir panjang, telapak tangannya langsung diayunkan ke muka dan
"Plaaak!", dia tampar wajah Ong Siau-sik dengan keras. Bicara kepandaian silat yang dimiliki Ong
Siau-sik., sebenarnya dia mempunyai kekuatan yang lebih untuk menghindar, tak ada alasan bagi
anak muda itu untuk tak mampu menghindarkan diri.
Tapi kenyataan, Ong Siau-sik sama sekali tak mampu menghindarkan diri dari tamparan itu.
Begitu pipinya terasa panas lantaran kena tamparan, untuk beberapa saat pemuda itu hanya
berdiri tertegun tanpa mengerti harus berbuat apa.
Pek Jau-hui sama sekali tidak melerai, dia hanya tertawa terbahak-bahak menyaksikan kejadian
itu.
Sementara itu Un Ji sambil bercekak pinggang mengomel lagi, "Hmm, kalian berdua memang
bukan orang baik, beraninya hanya mempermainkan aku!"
Selesai bicara ia segera melompat ke daratan dan beranjak pergi dari situ.
Ong Siau-sik ingin melompat ke daratan untuk menyusul gadis itu, tapi segera dicegah Pek Jauhui,
ujarnya, "Kau tak usah terburu-buru, asal tidak menjumpai sesuatu yang menarik, dia pasti
akan balik sendiri kemari."
"Tapi dia ....... dia masih menaruh salah paham padaku," kata Ong Siau-sik sambil mengelus
pipinya yang masih terasa panas, "kalau tidak kuberi penjelasan, dia tentu akan menganggap aku
"Mau dibantah dengan cara apa pun toh percuma, perkataan sudah telanjur diucapkan," kata Pek
Jau-hui tertawa, "apalagi dia memang cantik, masih muda dan menawan hati, bila tak ingin naik
ranjang bersamanya, kau pasti bukan seorang lelaki." "Tapi....... tapi....... aku sama sekali tak
punya pikiran begitu!" "Kalau hanya bicara, rasanya bukan kejadian yang luar biasa, bukankah dia
pun sudah marah? Kenapa? Memangnya perkataanmu sudah merugikan dirinya? Apalagi dia toh
sudah turun tangan menamparmu, apa dianggapnya kurang puas? Tak usah kuatir, menjelang
rnalam dia pasti sudah balik lagi kemari!"
"Semoga dia memang tidak pergi meninggalkan kita," gumam Ong Siau-sik sambil mengawasi
tengah sungai dengan perasaan gundah.
Pek Jau-hui yang mengamati gerak-gerik pemuda itu segera menyadari akan sesuatu, serunya
kemudian, "Jangan kuatir, tak bakalan pergi
Mendadak ia berhenti berbicara, dengan sikunya dia menyodok pinggang rekannya itu.
Ong Siau-sik agak tertegun, belum sempat bertanya sesuatu, Pek Jau-hui kembali berbisik dengan
nada serius, "Coba kau lihat!"
Mengikuti arah yang ditunjuk Ong Siau-sik, ia lihat ada se¬rombongan perempuan yang
berdandan sebagai dayang, mengiringi seorang nona bergaun hijau sedang menaiki sebuah
perahu pesiar mewah di sisi kiri sungai.
__ADS_1
Ong Siau-sik hanya sempat melihat sekejap, tiba-tiba saja semua orang seakan sudah lenyap dari
pandangan.
Ia dapat melihat nona berbaju hijau itu berparas amat cantik, dengan perawakan tubuh yang
ramping dan gerak-gerik yang lembah gemulai, sungguh seorang gadis yang menawan hati.
Ong Siau-sik tak berani memandang lebih lama, ia merasa hatinya mendadak amat sakit, buruburu
pandangannya dialihkan ke tempat lain, mengawasi keindahan alam di kejauhan sana.
Dalam pada itu para kelasi yang berada di atas perahu pesiar itu sudah mulai mendayung
perahunya bergerak menuju
ke mulut sungai.
"Kau dapat menyaksikan sesuatu?" bisik Pek Jau-hui kemudian.
"Ya, sungguh tak disangka ternyata di dunia ini terdapat seorang gadis yang begitu cantik, bila
dibandingkan Un-lihiap, maka nona itu ... nona itu........”
Bicara sampai di sini ia segera bungkam, ia merasa tak pantas untuk melanjutkan kata-katanya.
"Haah, tak nyana kau pun pandai menilai," goda Pek Jau-hui cepat, "setelahbertemu wanita
cantik, lalu ..."
Ia tidak melanjutkan godaannya, karena dengan wajah serius kembali bisiknya, "Aku rasa perahu
itu sedikit kurang beres"
"Mana yang tak beres?" tanya Ong Siau-sik terperanjat, di samping menguatirkan keselamatan
gadis cantik itu, dia pun sedikit kurang percaya dengan omongan Pek Jau-hui, dianggapnya
rekannya itu sengaja mengada-ada.
Pek Jau-hui tak menggubris keraguan rekannya, dengan sorot mata yang tajam dia masih
mengawasi perahu pesiar yang semakin menjauh itu.
"Orang yang sudah terbiasa mendayung perahu, biasanya galah mereka tak akan menimbulkan
percikan air, sang juru mudi biasanya sangat mengenal sifat arus dan pandai mengendalikan
posisi. Tapi kau lihat beberapa orang kelasi yang memegang kemudi perahu tadi, pertama, mereka
bermata tajam, berotot kekar dan punya kuda-kuda yang mantap, siapa pun tahu kalau mereka
sekawanan jago yang berilmu silat tinggi. Kedua, kawanan manusia itu tak mengerti
mengemudikan perahu, dayungan mereka menimbulkan percikan air, siapa pun tahu kalau mereka
masih sangat awam dalam mengemudikan perahu. Ketiga, kulit tubuh mereka kelewat putih dan
mulus, padahal biasanya kelasi berkulit gelap karena tiap hari berjemur di bawah teriknya
matahari. Selain itu, sebelum naik ke perahu mereka saling bertukar pandang sekejap, bahkan
membawa perahu itu menuju ke tempat yang sepi, jelas mereka mempunyai rencana busuk."
Setelah berhenti sejenak, terusnya, "Aku yakin, malam nanti perahu itu akan tertimpa bencana."
Mendengar sampai di situ, tanpa sadar Ong Siau-sik terbayang kembali wajah si nona yang cantik
jelita itu, tanyanya tiba-tiba,
"Bagaimana kalau kita memberi peringatan ..........."
"Jangan!" cegah Pek Jau-hui, sorot mata yang buas bagaikan sorot mata serigala yang sedang
__ADS_1
mengintai mangsanya terlintas dari balik matanya.