Pendekar Golok

Pendekar Golok
Episode 15


__ADS_3

"Apakah orang-orang itu sangat mempercayai dirimu?" tanya Ong Siau-sik lagi dengan kening


berkerut.


Dia saksikan paras muka Li Tan serta Li Ciau-hong yang tergeletak di tanah mulai mengunjuk


perasaan murka.


Tio Thiat-leng tertawa dingin.


"Justru yang percaya penuh kepadaku adalah Lui Sun Lui-congtongcu, sementara orang-orang itu


.... Hmm! Tak lebih hanya mengantar nyawa saja."


"Aku lihat perempuan ini baik hati dan masih mempunyai rasa peri kemanusiaan, kesalahannya


belum pantas untuk dihukum mati," bocah muda itu coba membela.


Waktu itu, meskipun jalan darah Li Ciau-hong sudah tertotok, namun mulutnya masih bisa


berbicara bebas, sambil mengertak gigi penuh amarah, mendadak ia mengumpat, "He, orang she


Tio, kau memang bedebah! Aku tidak ambil peduli kau mau bermarga Si atau bermarga Tio, tapi


yang pasti kau memang seorang bangsat sejati, bedebah yang berhati kejam, hanya manusia


macam kau yang mampu melakukan perbuatan terkutuk, biar jadi setan pun aku tak bakal


melepaskan dirimu!"


"Tutup mulutmu adikku!" hardik Li Tan cepat, lalu dengan nada setengah merengek terusnya,


"Tio-tongcu, mohon kebesaran hatimu dengan mengampuni jiwa anjing kami bersaudara! Di


kemudian hari, mau dijadikan kerbau atau kuda, kami siap menjalankan perintahmu dan tak akan


membangkang."


"Hmmm, kalau ingin jadi kerbau atau kuda, lebih baik cepatlah menuju ke neraka, di sana pun


kalian berdua bisa memperoleh jabatan," sahut Tio Thiat-leng ketus.


"Tio-tongcu," kembali Li Tan merengek, "kami berjanji tak akan membocorkan kejadian pada


malam ini kepada siapa pun, jika kami sampai membocorkan kejadian ini, biar aku orang she Li


mati disambar geledek, mati secara mengenaskan."


"Hmm! Kau memang bakal mati secara mengenaskan."


"Mau mati biarlah mati, kenapa mesti minta ampun!" jerit Li Ciau-hong tidak puas.


"Adikku," kembali Li Tan berseru dengan gugup. "Kau jangan bicara sembarangan, jika kau


melakukan kesalahan lagi terhadap Tio-tongcu, aku tak akan mempedulikan dirimu lagi."


"Kakak, matikan saja pikiran semacam itu," tukas Li Ciau-hong lantang. "Malam ini, jangan harap


kita berdua bisa lolos dari sini dalam keadaan selamat."


Tio Thiat-leng tertawa dingin.

__ADS_1


"Li Ciau-hong," katanya, "percuma kau berteriak-teriak dengan suara keras, memangnya kau


senang melihat urusan jadi semakin runyam? Sayangnya, semua penghuni rumah penginapan ini


sudah ditukar dengan orang-orangku, mereka yang tidak berpihak kepadaku sudah bersih


dibantai."


"Apa? Orang-orang cacad itupun sudah kau bunuh?" tanya Ong Siau-sik dengan wajah berubah.


"Hahahaha ... tidak sampai sesadis itu," Tio Thiat-leng tertawa tergelak, "justru orang-orang itu


yang akan mendatangkan pahala bagiku, merekalah bukti nyata perbuatan terkutuk dari


perkumpulan Lak-hun-poan-tong!"


Ong Siau-sik baru merasa lega setelah mendengar perkataan itu, tanyanya kemudian, "Di dalam


almari sana terdapat sebuah peti, apakah putra tunggal Sin-hu Tayjin yang disembunyikan dalam


peti itu?"


"Justru dialah yang dijadikan acara pembukaan oleh Si Say-sin dalam kejadian ini, tanpa dia, Bun


Sin-hu serta kawanan pejabat anjing lainnya belum tentu mau berganti haluan, kini pihak


perkumpulan Lak-hun-poan-tong berani mengusik putra tunggal Bun Sin-hu, sudah jelas para


pejabat negara akan menjadi musuh bebuyutannya," Pek Jau-hui menerangkan sambil tertawa.


Sementara itu Tio Thiat-leng sudah berjalan menghampiri almari itu, dengan sekali bacok, dia


melayangkan sebuah tendangan untuk membuka peti itu.


Seorang bocah berwajah bersih, tampan dengan hidung mancung duduk melingkar dalam peti itu,


dia seakan terlelnp dalam tidur yang sangat nyenyak sehingga walaupun peti sudah terbuka dia


masih tidur terus.


Sekilas pandangan Ong Siau-sik tahu kalau bocah ini sudah dicekoki obat pembius, bila dilihat


bagian tubuhnya yang utuh, rasanya dia belum dicelakai orang.


Sekarang ia baru menemukan jawaban, berasal darimanakah suara dengusan napas perlahan


yang didengarnya ketika bersembunyi dalam almari tadi.


"Kali ini Sin-hu Tayjin dan Congkoan pasti akan merasa sangat puas," kata Tio Thiat-leng dengan


perasaan lebih santai.


"Yang pasti So-kongcu akan semakin puas dengan sepak terjangmu," sela Pek Jau-hui.


Tio Thiat-leng tertawa dingin.


"Semua ini berkat bantuan dari saudara Pek, tapi masih ada satu urusan besar yang mesti


kukerjakan, bila pekerjaan itupun berhasil kulakukan, semua tugasku baru bisa dianggap selesai."


"Omong kosong," tak tahan Un Ji menyela, "Toasuheng bukan manusia semacam ini, mustahil dia

__ADS_1


memerintahkan kau untuk melakukan perbuatan terkutuk semacam ini!"


Tio Thiat-leng tidak menanggapi perkataan itu, ia berpaling dan memandang Li bersaudara


sekejap, kemudian katanya lagi kepada Ong Siau-sik, "Coba pertimbangkan sekali lagi tawaranku


itu, selesai membereskan kedua orang ini, aku akan menunggu kabar baikmu."


"Tak usah dipertimbangkan lagi," tukas Ong Siau-sik.


"Oya?"


"Aku telah mengambil keputusan."


"Nah, begitu baru seorang pemuda tahu diri, masa de¬panmu pasti cerah," seru Tio Thiat-leng


sambil tertawa, setelah, itu dia melangkah maju menghampiri Li Ciau-hong.


Dengan satu gerakan cepat Ong Siau-sik menghadang di hadapan Li Ciau-hong, teriaknya, "Hari


ini sudah kelewat banyak orang yang tewas di sini, aku tak ingin melihat orang mati lagi, apalagi


perempuan ini memang tidak seharusnya mati."


"Dia tidak pantas mati?" jengek Tio Thiat-leng dengan sorot mata berkilat, "sepanjang hidupnya


sudah kelewat banyak perbuatan jahat yang dia lakukan, dia adalah seorang perempuan bedebah,


apakah kau ingin menjadi pelindungnya?"


"Aku tak peduli apa katamu, seperti yang sudah kutegaskan tadi, hari ini aku tak akan


membiarkan kau membunuh orang lagi."


Sambil mundur selangkah, Tio Thiat-leng mengawasi wajah anak muda itu lekat-lekat, akhirnya


dia mengangguk tiga kali seraya berseru, "Bagus, bagus, bagus!"


Ong Siau-sik sama sekali tak ambil pusing, sambil mengerling ke arah Pek Jau-hui sekejap, tibatiba


ujarnya, "Saudara Pek, aku ingin tahu, kau berpihak kemana?"


Sambil menggendong tangan Pek Jau-hui mundur sejauh tujuh langkah, sahutnya,


"Malam ini adalah pertemuan kedua bagi kita, sementara aku sudah empat kali bertemu dengan


Tio-tongcu, malah transaksi jual beli kami sudah berjalan mulus, artinya baik kau maupun dia,


semua adalah sahabatku, aku tak ingin membantu pihak mana pun."


Dengan satu gerakan kilat Un Ji melompat ke sisi Ong Siau-sik, serunya cepat,


"Aku berpihak padamu ..........."


Belum selesai gadis itu berbicara, Tio Thiat-leng sudah menerjang sembari menyodokkan


sepasang kepalannya mele¬paskan satu pukulan, sementara kakinya menyapu tubuh Un Ji. .


Begitu tubuh Un Ji roboh terjungkal, kepalan itu langsung menyambar ke dada dan wajah Ong


Siau-sik.

__ADS_1


__ADS_2