
"Apakah orang-orang itu sangat mempercayai dirimu?" tanya Ong Siau-sik lagi dengan kening
berkerut.
Dia saksikan paras muka Li Tan serta Li Ciau-hong yang tergeletak di tanah mulai mengunjuk
perasaan murka.
Tio Thiat-leng tertawa dingin.
"Justru yang percaya penuh kepadaku adalah Lui Sun Lui-congtongcu, sementara orang-orang itu
.... Hmm! Tak lebih hanya mengantar nyawa saja."
"Aku lihat perempuan ini baik hati dan masih mempunyai rasa peri kemanusiaan, kesalahannya
belum pantas untuk dihukum mati," bocah muda itu coba membela.
Waktu itu, meskipun jalan darah Li Ciau-hong sudah tertotok, namun mulutnya masih bisa
berbicara bebas, sambil mengertak gigi penuh amarah, mendadak ia mengumpat, "He, orang she
Tio, kau memang bedebah! Aku tidak ambil peduli kau mau bermarga Si atau bermarga Tio, tapi
yang pasti kau memang seorang bangsat sejati, bedebah yang berhati kejam, hanya manusia
macam kau yang mampu melakukan perbuatan terkutuk, biar jadi setan pun aku tak bakal
melepaskan dirimu!"
"Tutup mulutmu adikku!" hardik Li Tan cepat, lalu dengan nada setengah merengek terusnya,
"Tio-tongcu, mohon kebesaran hatimu dengan mengampuni jiwa anjing kami bersaudara! Di
kemudian hari, mau dijadikan kerbau atau kuda, kami siap menjalankan perintahmu dan tak akan
membangkang."
"Hmmm, kalau ingin jadi kerbau atau kuda, lebih baik cepatlah menuju ke neraka, di sana pun
kalian berdua bisa memperoleh jabatan," sahut Tio Thiat-leng ketus.
"Tio-tongcu," kembali Li Tan merengek, "kami berjanji tak akan membocorkan kejadian pada
malam ini kepada siapa pun, jika kami sampai membocorkan kejadian ini, biar aku orang she Li
mati disambar geledek, mati secara mengenaskan."
"Hmm! Kau memang bakal mati secara mengenaskan."
"Mau mati biarlah mati, kenapa mesti minta ampun!" jerit Li Ciau-hong tidak puas.
"Adikku," kembali Li Tan berseru dengan gugup. "Kau jangan bicara sembarangan, jika kau
melakukan kesalahan lagi terhadap Tio-tongcu, aku tak akan mempedulikan dirimu lagi."
"Kakak, matikan saja pikiran semacam itu," tukas Li Ciau-hong lantang. "Malam ini, jangan harap
kita berdua bisa lolos dari sini dalam keadaan selamat."
Tio Thiat-leng tertawa dingin.
__ADS_1
"Li Ciau-hong," katanya, "percuma kau berteriak-teriak dengan suara keras, memangnya kau
senang melihat urusan jadi semakin runyam? Sayangnya, semua penghuni rumah penginapan ini
sudah ditukar dengan orang-orangku, mereka yang tidak berpihak kepadaku sudah bersih
dibantai."
"Apa? Orang-orang cacad itupun sudah kau bunuh?" tanya Ong Siau-sik dengan wajah berubah.
"Hahahaha ... tidak sampai sesadis itu," Tio Thiat-leng tertawa tergelak, "justru orang-orang itu
yang akan mendatangkan pahala bagiku, merekalah bukti nyata perbuatan terkutuk dari
perkumpulan Lak-hun-poan-tong!"
Ong Siau-sik baru merasa lega setelah mendengar perkataan itu, tanyanya kemudian, "Di dalam
almari sana terdapat sebuah peti, apakah putra tunggal Sin-hu Tayjin yang disembunyikan dalam
peti itu?"
"Justru dialah yang dijadikan acara pembukaan oleh Si Say-sin dalam kejadian ini, tanpa dia, Bun
Sin-hu serta kawanan pejabat anjing lainnya belum tentu mau berganti haluan, kini pihak
perkumpulan Lak-hun-poan-tong berani mengusik putra tunggal Bun Sin-hu, sudah jelas para
pejabat negara akan menjadi musuh bebuyutannya," Pek Jau-hui menerangkan sambil tertawa.
Sementara itu Tio Thiat-leng sudah berjalan menghampiri almari itu, dengan sekali bacok, dia
melayangkan sebuah tendangan untuk membuka peti itu.
Seorang bocah berwajah bersih, tampan dengan hidung mancung duduk melingkar dalam peti itu,
dia seakan terlelnp dalam tidur yang sangat nyenyak sehingga walaupun peti sudah terbuka dia
masih tidur terus.
Sekilas pandangan Ong Siau-sik tahu kalau bocah ini sudah dicekoki obat pembius, bila dilihat
bagian tubuhnya yang utuh, rasanya dia belum dicelakai orang.
Sekarang ia baru menemukan jawaban, berasal darimanakah suara dengusan napas perlahan
yang didengarnya ketika bersembunyi dalam almari tadi.
"Kali ini Sin-hu Tayjin dan Congkoan pasti akan merasa sangat puas," kata Tio Thiat-leng dengan
perasaan lebih santai.
"Yang pasti So-kongcu akan semakin puas dengan sepak terjangmu," sela Pek Jau-hui.
Tio Thiat-leng tertawa dingin.
"Semua ini berkat bantuan dari saudara Pek, tapi masih ada satu urusan besar yang mesti
kukerjakan, bila pekerjaan itupun berhasil kulakukan, semua tugasku baru bisa dianggap selesai."
"Omong kosong," tak tahan Un Ji menyela, "Toasuheng bukan manusia semacam ini, mustahil dia
__ADS_1
memerintahkan kau untuk melakukan perbuatan terkutuk semacam ini!"
Tio Thiat-leng tidak menanggapi perkataan itu, ia berpaling dan memandang Li bersaudara
sekejap, kemudian katanya lagi kepada Ong Siau-sik, "Coba pertimbangkan sekali lagi tawaranku
itu, selesai membereskan kedua orang ini, aku akan menunggu kabar baikmu."
"Tak usah dipertimbangkan lagi," tukas Ong Siau-sik.
"Oya?"
"Aku telah mengambil keputusan."
"Nah, begitu baru seorang pemuda tahu diri, masa de¬panmu pasti cerah," seru Tio Thiat-leng
sambil tertawa, setelah, itu dia melangkah maju menghampiri Li Ciau-hong.
Dengan satu gerakan cepat Ong Siau-sik menghadang di hadapan Li Ciau-hong, teriaknya, "Hari
ini sudah kelewat banyak orang yang tewas di sini, aku tak ingin melihat orang mati lagi, apalagi
perempuan ini memang tidak seharusnya mati."
"Dia tidak pantas mati?" jengek Tio Thiat-leng dengan sorot mata berkilat, "sepanjang hidupnya
sudah kelewat banyak perbuatan jahat yang dia lakukan, dia adalah seorang perempuan bedebah,
apakah kau ingin menjadi pelindungnya?"
"Aku tak peduli apa katamu, seperti yang sudah kutegaskan tadi, hari ini aku tak akan
membiarkan kau membunuh orang lagi."
Sambil mundur selangkah, Tio Thiat-leng mengawasi wajah anak muda itu lekat-lekat, akhirnya
dia mengangguk tiga kali seraya berseru, "Bagus, bagus, bagus!"
Ong Siau-sik sama sekali tak ambil pusing, sambil mengerling ke arah Pek Jau-hui sekejap, tibatiba
ujarnya, "Saudara Pek, aku ingin tahu, kau berpihak kemana?"
Sambil menggendong tangan Pek Jau-hui mundur sejauh tujuh langkah, sahutnya,
"Malam ini adalah pertemuan kedua bagi kita, sementara aku sudah empat kali bertemu dengan
Tio-tongcu, malah transaksi jual beli kami sudah berjalan mulus, artinya baik kau maupun dia,
semua adalah sahabatku, aku tak ingin membantu pihak mana pun."
Dengan satu gerakan kilat Un Ji melompat ke sisi Ong Siau-sik, serunya cepat,
"Aku berpihak padamu ..........."
Belum selesai gadis itu berbicara, Tio Thiat-leng sudah menerjang sembari menyodokkan
sepasang kepalannya mele¬paskan satu pukulan, sementara kakinya menyapu tubuh Un Ji. .
Begitu tubuh Un Ji roboh terjungkal, kepalan itu langsung menyambar ke dada dan wajah Ong
Siau-sik.
__ADS_1