Pendekar Golok

Pendekar Golok
Episode 7


__ADS_3

Belum sempat pertanyaan itu dijawab, dari luar ruangan kembali terdengar suara gonggongan


anjing, kali ini suara gonggongannya jauh lebih keras dan nyaring.


Paras muka semua orang yang hadir dalam ruangan segera berubah makin serius, seakan-akan


sedang menghadapi datang-nya serangan musuh tangguh.


“Rasanya orang-orang pusat yang datang,” bisik Li Tan sambil bangkit berdiri untuk membukakan


pintu.


“Tunggu, belum tentu mereka,” cegah Ting Siu-hok.


Sejak awal, Li Tan sudah merasa tak senang dengan orang ini, tapi dia enggan mengumbar


amarahnya karena orang-orang Lak-hun-poan-tong segera akan tiba, karena itu dia hanya melotot


sekejap ke arahnya dengan perasaan mendongkol.


“Aku pun mempunyai mata-mata di sekitar sini” kata Ting Siu-hok kembali.


Dari kejauhan terdengar suara katak berkumandang, begitu mendengar suara itu, Ting Siu-hok


baru berkata dengan perasa-an lega, “Ah, ternyata memang orang kita yang datang.”


Ia bangkit berdiri siap membukakan pintu, sikapnya bah-kan sangat menghormat, jauh melebihi


sikap Li Tan tadi.


Mendadak Ku Han-lim merentangkan tangannya mengha-langi.


Dua orang pelajar yang berada di belakangnya segera menyelinap ke depan jendela, membuka


daun jendela itu kemu-dian menyalakan korek api dan diayunkan beberapa kali, tak lama


kemudian dari balik kegelapan di kejauhan sana melintas juga cahaya api balasan.


“Ehmm, memang benar orang kita yang datang,” kata Ku Han-lim sambil mengangguk.


“Hmmm!” Li Tan mendengus dingin, “tampaknya me-mang Ku-toacongkoan dan Ting-tauke punya


banyak mata-mata di sini.”


“Ah, mana, mana ... oleh karena orang yang akan datang malam ini adalah utusan dari kantor


pusat, mau tak mau kita mesti bertindak lebih hati-hati.”


Li Tan menarik napas panjang berusaha menenangkan hatinya, kemudian tanyanya, “Tadi kau


menyebut ada tiga orang yang akan datang, siapa orang ketiga itu?”


“Kemungkinan besar adalah ....” belum selesai Ting Siu-hok menjawab, dari


bawah loteng kembali terdengar suara tepukan tangan, suara tepukan itu muncul sangat


mendadak sehingga bukan saja membuat semua orang keheranan, bahkan Ong Siau-sik yang


sedang bersembunyi dalam almari pun dibuat tercengang.


Sebetulnya tujuan kedatangannya ke sana adalah untuk mencari tahu masalah manusia-manusia


cacad itu, di luar du-gaan, bukan saja ia telah mendengar satu kejadian besar yang bakal terjadi


dalam dunia persilatan, bahkan manusia tersohor macam Tio Thiat-leng dan Ho Tong pun


sebentar lagi akan muncul di depan mata.


Dalam pada itu dari luar pintu kembali terdengar lima kali suara ketukan pintu, ketukan itu


sebentar perlahan sebentar cepat dan sangat tidak beraturan.


Li Tan bersaudara, Ku Han-lim maupun Ting Siu-hok sekalian serentak melompat bangun sambil


berdiri di depan pintu, sedang pintu kamar dibuka oleh Li Ya.

__ADS_1


Pintu telah terbuka lebar, namun tak nampak seorang pun.


“Aneh, kenapa tak ada orang ....” gumam Li Ya keheranan.


Ong Siau-sik mencoba mengintip keluar lewat celah almari, ia lihat di antara goyangan cahaya lilin


tahu-tahu di dalam kamar telah bertambah dengan tiga sosok manusia, mereka melayang masuk


lewat jendela dengan gerakan yang amat enteng, cepat dan sama sekali tidak menimbulkan suara.


Tiga orang manusia.


Orang pertama adalah seorang kakek berkepala botak, alis matanya keperak-perakan dengan


jenggot berwarna putih, sepa-sang tangannya disembunyikan di balik pakaian, seolah sedang


memegang benda mestika yang tak ingin diperlihatkan kepada orang lain.


Orang kedua adalah seorang lelaki sedingin dan sebeku baja, ia mempunyai wajah persegi empat


dengan perawakan kotak, bahkan tangannya pun berbentuk segi empat, ia mirip sekali dengan


sebuah kotak. Sebuah kotak baja


Orang ketiga, begitu masuk ke dalam ruangan, sorot matanya dengan lagak sengaja tak sengaja


melirik sekejap ke arah tempat persembunyian Ong Siau-sik, kebetulan anak muda itupun sedang


menatap ke arahnya sehingga sorot mata mereka saling beradu.


Ong Siau-sik segera merasakan hatinya bergetar keras, bukankah orang ini adalah lelaki yang


dijumpainya siang tadi? Lelaki yang berdiri di lapangan sambil mendongakkan kepala memandang


langit?


Saat ini tentu saja ia tidak memandang ke arah langit.


Yang dia awasi kini adalah cahaya lilin.


bertambah cemerlang.


Begitu badannya berdiri dalam ruangan, seluruh cahaya lilin seakan hanya khusus menerangi


tubuhnya, namun seakan juga cahaya itu tak mampu menerangi pakaiannya


Siapakah orang ini?


Dalam pada itu seluruh jago yang ada dalam ruangan telah mengetahui


kemunculan ketiga orang itu, serentak mereka maju sambil menyapa.


“Tio-tongcu!”


“Ho-tongcu!”


Tak seorang pun yang menyapa orang ketiga, karena memang tak ada yang tahu siapakah orang


itu.


Orang itupun berdiri santai, tidak menyapa juga tidak menggubris, seakan dalam ruangan hanya


ada dia seorang.


Perlahan-lahan Tio Thiat-leng mengambil tempat duduk, kemudian dengan suara yang parau


basah ujarnya, “Hari ini kantor pusat sengaja mengumpulkan kalian di tempat ini, karena ada tiga


persoalan yang hendak disampaikan, kalian ditugaskan untuk menyelesaikan tiga persoalan.”


“Silakan Tongcu memberi perintah,” sahut Li Tan sekalian dengan hormat.


Li Tan,” ujar Tio Thiat-leng, “bukankah kusuruh kau me-nangkap semua orang yang namanya


tercantum dalam daftar dan mengubah bentuk tubuh mereka? Apakah telah kau laku-kan?”

__ADS_1


“Dalam daftar tercatat empat puluh dua orang, sembilan belas orang di antaranya sudah berhasil


diculik, ada yang telah dikebiri, ada yang telah dipotong, secara garis besar kami telah


melaksanakan sesuai dengan perintah Tongcu dan mengubah mereka jadi manusia cebol atau


makhluk jelek lainnya, jangan kan orang tua mereka tak bakal mengenal lagi, bahkan


mereka sendiri pun kujamin tak akan kenal dengan diri sendiri.”


“Bagus sekali, apakah putra tunggal Bun Sin-hu juga telah berhasil ditangkap?”


“Telah kami tangkap,” Li Tan segera mengangguk.


“Kalau begitu kirim utusan dan katakan kepada orang she Bun itu, jika dia masih saja condong


membantu pihak perkum-pulan Kim-hong-si-yu-lau, maka kami akan menjadikan putra-nya


sebagai anggota topeng monyet untuk mencari duit dalam rombongan akrobatikmu dan menjadi


tontonan orang banyak!”


“Cari duit tidak penting, aku hanya tahu melaksanakan perintah dari Tongcu,” lekas Li Tan


menimpali.


Tio Thiat-leng tertawa dingin.


“Hmm, mencari duit pun merupakan urusan penting, bukankah untuk menambah ragam


permainan dalam tontonan-mu, kau pun sering mencelupkan tubuh orang ke dalam air panas agar


melepuh, bukankah kalian pun sering mengikat tangan dan kaki mereka jadi satu, atau sengaja


mematahkan tulang pinggang mereka agar tak bisa berdiri, lalu menjuluki mereka sebagai si


bocah plastik, si manusia bola, tujuannya hanya mencari simpati orang, agar penonton


melemparkan lebih banyak uang sedekah? Aku sudah kelewat banyak menyaksikan permainan


busuk macam begitu! Tapi, tahukah kau, kenapa aku menyuruh kau yang melaksanakan tugas


ini?”


“Silakan Tongcu menjelaskan.”


“Tadi adalah persoalan pertama yang ingin kutanyakan kepadamu, dan sekarang aku beritahukan


persoalan pertama yakni soal hukuman peringatan!”


Dengan sorot mata yang tajam dia mengawasi wajah setiap orang yang hadir dengan pandangan


cepat, kemudian melanjut-kan, “Dulu, orang tua bocah-bocah itu kebanyakan adalah ang-gota


perkumpulan Lak-hun-poan-tong, tapi sekarang, lantaran perkumpulan Kim-hong-si-yu-lau


mendapat dukungan dari pe-merintah, mereka beramai-ramai menyeberang dan mendukung


pihak lawan, itulah sebabnya sebelum kami turun tangan meng-habisi orang-orang itu, kami ingin


mereka menyaksikan dulu bagaimana anggota keluarganya yang paling disayang telah berubah


jadi manusia tak mirip manusia, setan tak mirip setan, agar setelah kita kembalikan mereka di


kemudian hari, orang-orang itu biar merasakan penyesalan yang bukan kepalang.”


“Apalagi manusia yang bernama Bun Sin-hu itu, hmm, hanya lantaran sedikit top posisinya di


perkumpulan Kim-hong-si-yu-lau, dia berani menangkap orang-orang kita. Hmmm, sekarang putra


tunggalnya berhasil kita bekuk, akan kulihat apakah dia masih berani berulah terhadap kita.”


Bicara sampai di sini, kembali dia menyapu sekejap wajah orang-orang itu, kemudian


menambahkan, “Aku ingin tahu, apakah masih ada yang berani berkhianat!”

__ADS_1


__ADS_2