
Ketiga, pada ikat pinggang belasan orang itu sebagian be-sar membawa lencana perintah (lengpay),
surat tugas maupun surat perintah, hal ini membuktikan orang-orang itu kalau bu-kan opas
kenamaan, pastilah petugas kepolisian atau petugas pengadilan yang sedang melacak suatu
kasus, atau bahkan bisa jadi kawanan jago dari istana.
Tapi kenyataan sekarang belasan jago tangguh itu telah tewas secara mengenaskan di situ.
Ong Siau-sik tak sempat memeriksa lebih teliti lagi, karena tiba-tiba ia mendengar suara jeritan
seorang wanita.
Rupanya ada seorang wanita bersama kekasihnya melewati lorong itu, sebetulnya mereka
berencana akan berpacaran di tempat yang sepi itu, siapa sangka di sana mereka melihat mayat
yang berserakan.
Bukan cuma mayat yang berserakan, di situ malah ada seorang hidup yang sedang memeriksa
tumpukan mayat itu.
Menanti jeritan kedua muda-mudi itu menarik perhatian orang banyak serta kehadiran dua orang
opas, dalam lorong itu hanya tertinggal mayat-mayat yang bergelimpangan.
Menyaksikan mayat-mayat korban pembunuhan, dengan muka hijau karena marah, kawanan opas
segera menegur, “Ma-na pembunuhnya? Bukankah kalian melihat sang pembunuh masih di sini?”
“Benar!” sahut sang pria, “sebenarnya dia masih ada di sini, tapi kemudian ... entah kemana
perginya.”
“Aku melihat dia ....” sambung sang gadis.
“Dia kabur kemana?” tukas sang opas.
“Tadi dia melompat ke atas pagar rumah itu, kemudian melompat sekali lagi dan ....”
Kedua opas itu segera berdiri terbelalak dengan mata melotot, sudah dua puluh tahun mereka
bekerja sebagai opas di Lak-san-bun, tapi belum pernah mendengar cerita sehebat itu: Melompati
pagar pekarangan setinggi dua tombak? Melompat dalam sekali lompatan.
Dalam pada itu si lelaki kurus jangkung berbaju abu-abu itu kelihatan berdiri pula di antara
kerumunan orang banyak, cuma saja hawa dingin yang menyelimuti wajahnya nampak jauh lebih
tebal dan berat.
Ong Siau-sik melompat ke atas atap rumah dengan gerakan seringan daun kering, ia
menggelantung di atas wuwungan rumah dengan mengaitkan sepasang kakinya di atas emperan,
tubuhnya kelihatan bergoyang ketika tertiup angin, ringan dan lembut seperti selembar daun.
Saat itu ia sudah mendekam di atas atap rumah pengi-napan dimana rombongan akrobatik itu
menginap.
Dengan membasahi ujung jarinya ia mencoba melubangi kertas yang menutupi daun jendela,
kemudian mengintip ke dalam.
Dalam ruangan tampak tujuh delapan orang lelaki kasar dan tiga empat orang perempuan kekar
sedang berduduk santai, mereka bukan lain adalah rombongan penjual akrobatik itu.
Rombongan manusia cacad yang dipotong lidah dan ang-gota badannya, lelaki kekar yang
melarang dia mencari berita, manusia yang berbisik memberi peringatan kepadanya, lelaki tampan
yang menerobos di tengah kerumunan orang banyak, lalu lelaki jangkung yang membuat
rombongan akrobatik itu ketakutan dan terakhir mayat yang bergelimpangan dalam lo-rong.
Sebenarnya apa yang terjadi? Ong Siau-sik memutuskan untuk menyelidiki peristiwa ini, dia akan
mulai mencari jejak rombongan orang-orang ini.
Sama sekali tak ada pertanda apa pun yang didapat.
Beberapa orang lelaki dan wanita kasar itu hanya duduk berkumpul dalam kamar, wajah mereka
__ADS_1
nampak tegang dan serius, tak seorang pun yang membuka suara maupun berbicara.
Beberapa orang lelaki di antaranya kadang kala nampak berdiri sambil menghela napas panjang,
mereka hanya meng-gosokkan kepalannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Malam semakin kelam, angin barat laut berhembus makin kencang.
Tentu saja Ong Siau-sik tak ingin menderita dalam cuaca yang begini dingin, pikirnya,
“Kelihatannya tak ada berita yang bisa kucari dari mereka.”
Baru saja dia bersiap meninggalkan tempat itu, tiba-tiba satu ingatan melintas.
Perlahan-lahan dia mencongkel selembar genteng, lalu menekan dengan tangannya, sebelum
genteng itu terjatuh ke dalam ruangan, dengan kecepatan bagaikan elang menyambar kelinci dia
sudah melayang turun ke bawah, lalu bersembunyi di sisi pintu.
“Braak!”, diiringi suara nyaring, genteng itu terjatuh ke lantai dan hancur berantakan.
Kawanan lelaki kekar yang ada dalam ruangan segera membentak nyaring, ada yang langsung
menerobos keluar lewat jendela, ada pula yang membuka pintu sambil mencaci maki.
Ketika itu Ong Siau-sik sudah bersembunyi di sisi pintu, menggunakan kesempatan di saat
beberapa orang itu berlari keluar secara bergerombol, dia menyelinap masuk ke dalam kamar dan
menyembunyikan diri dalam
sebuah almari kayu.
Begitu menyelinap masuk, cepat dia merapatkan kembali pintu almari itu, tapi mendadak ia
merasa bulu kuduknya berdiri.
Ia mendengar ada suara napas seseorang, suara napas manusia yang berasal dari sisinya.
Dengus napas itu sangat lirih dan teratur, napas orang awam tak mungkin selembut dan sehalus
ini, kecuali seseorang yang sedang terlelap tidur sangat nyenyak, apalagi kalau ada orang
menyelinap secara tiba-tiba, dengus napasnya sudah pasti sangat kalut dan agak terengah, tapi
Ini menunjukkan ada seseorang telah bersembunyi dalam almari itu sejak tadi!
Tapi siapakah dia?
Tanpa sadar Ong Siau-sik bersiap menghadapi segala ke-mungkinan.
Sementara itu di luar almari sudah terjadi kegaduhan, disusul suara tanya jawab antara orang di
luar kamar dengan rombongan akrobatik itu.
“Ada apa? Apa yang terjadi?”
“Tidak ada apa-apa, rasanya ada orang membuat gara-gara!”
“Ada orang membuat gara-gara?”
“Benar, ada orang sengaja melempar genting dari atas atap, untung kami cepat menyingkir, kalau
tidak, pasti ada yang terluka.”
“Melempar genting? Bukankah genting tersusun rapi di atas atap? Mana mungkin bisa jatuh
sendiri?”
“Darimana aku tahu, justru karena itu maka aku ingin mencari tahu sebabnya.”
“Kami sudah tiga belas tahun membuka usaha, belum pernah satu kali pun terjadi peristiwa
seperti ini,” kata pemilik losmen cepat, ia tahu kawanan manusia yang membawa golok itu adalah
orang yang paling susah dihadapi.
“Apa maksud perkataanmu itu? Kau anggap kami sedang mencari gara-gara? Katakan, kenapa
kami mesti cari gara-gara?”
“Bukan ... bukan begitu maksud kami ... mungkin atap itu sudah kendor karena lama tak
dibetulkan hingga jatuh sendiri, baiklah, maaf, maaf ... kami segera akan memperbaikinya ....”
Lociangkwe si pemilik losmen sadar bahwa manusia bengis macam begitu
__ADS_1
paling susah dilayani, maka dia mencari selamat dengan cepat minta maaf.
Dengan uring-uringan ketujuh delapan orang lelaki kekar itupun balik kembali ke kamarnya.
Menanti kawanan lelaki kekar itu sudah balik, para wanita kasar yang semula berjaga di tepi pintu
dan jendela baru merapatkan kembali pintu dan jendela, mereka lalu berkumpul di depan meja.
“Maknya sialan ....” umpat lelaki beralis tebal itu sambil meletakkan goloknya di meja, “coba kalau
bukan lagi ada urusan, akan kubacok habis orang itu ....”
Sambil menahan napas, Ong Siau-sik tetap bersembunyi di dalam almari.
‘Manusia’ yang sudah bersembunyi dalam almari sejak tadi pun tidak melakukan reaksi apa pun.
Mendadak terdengar seseorang berkata dengan suara serius dan nyaring, “Sim-jit, kau jangan
mencari gara-gara, malam ini para jago dari kantor pusat perkumpulan Lak-hun-poan-tong (enam
setengah bagian) segera akan berdatangan, kau boleh saja mencari onar dan tak ingin hidup, tapi
rekan yang lain masih ingin mati secara utuh. Hmmm, lihat saja ulahmu tengah hari tadi, nyaris
berkelahi dengan beberapa orang, aku lihat tabiatmu makin tak terkendali, lebih baik ingat baikbaik,
jangan mencari gara-gara buat kita semua!”
Ong Siau-sik coba mengintip lewat celah almari, ia lihat orang yang sedang berbicara itu adalah
seorang lelaki tua yang bermata tajam dengan senjata penggaris baja tersoreng di ping-gangnya,
di samping lelaki tua itu berdiri seorang wanita berwajah garang dan bermata licik.
Ketika kedua orang itu berdiri di sana, ternyata kawanan manusia yang lain tak ada yang berani
mengambil tempat duduk.
Lelaki beralis tebal itu menundukkan kepala, meski kepal-annya yang segede mangkuk dikepal
kencang, namun ia sama sekali tak berani membantah terhadap teguran kakek itu.
Lewat sesaat kemudian seorang lelaki berkepala kecil bermata tikus baru menimbrung, katanya,
“Lo-jit, selama ini memang kau yang salah, coba lihat ulahmu membuat Li Ya jadi sewot setengah
mati, memangnya kau sudah kebanyakan meng-hirup hawa kentut!”
Lelaki beralis tebal itu tetap membungkam, tak sepatah kata pun berani membantah, tapi tinjunya
dikepal makin ken-cang, nampak otot-otot hijau menonjol keluar.
Terdengar kakek she Li itu berkata lagi setelah menyapu wajah semua yang hadir dengan sorot
matanya yang tajam, “Ka-lian anggap berhargakah kita mengusik rumput mengejutkan ular hanya
gara-gara urusan orang yang tak penting? Li Ya, su-dah kau kirim orang untuk mengawasi ketiga
buah kamar itu?”
“Baru saja aku mengajak beberapa orang melakukan peron-daan di sekitar sana,” sahut lelaki
berkepala kecil bermata tikus itu dengan hormat, “setiap kamar dijaga dua orang saudara kita,
hingga detik ini tidak ada kejadian apa pun.”
“Hmm! Paling bagus memang begitu,” dengus kakek Li ketus.
Menggunakan peluang itu, Li Ya, si lelaki bermata tikus itu berkata lagi,
“Dalam wilayah tiga sungai besar enam propinsi, siapa yang telah makan nyali beruang hingga
berani mengusik Liong-tau (ketua) perkumpulan akrobatik Li Tan, Li Ya? Apalagi kali ini Li-ji-nio
pun ikut terjun sendiri ke dunia Kangouw, manusia busuk mana yang ingin cari apes?”
Mendengar pembicaraan itu, Ong Siau-sik seketika teringat kembali
beberapa tokoh termashur dalam dunia persilatan saat itu.
Banyak perkumpulan dan partai termashur yang berdiri dalam dunia persilatan, di antara sekian
banyak organisasi, ada di antaranya merupakan organisasi sempalan yang disebut Pay-kau.
Hampir semua yang bergabung dalam Pay-kau memiliki sedikit kemampuan yang dapat
diandalkan, mereka pandai mengikuti arus, pandai pula memotong arus.
__ADS_1