Pendekar Golok

Pendekar Golok
Episode 4


__ADS_3

Ketiga, pada ikat pinggang belasan orang itu sebagian be-sar membawa lencana perintah (lengpay),


surat tugas maupun surat perintah, hal ini membuktikan orang-orang itu kalau bu-kan opas


kenamaan, pastilah petugas kepolisian atau petugas pengadilan yang sedang melacak suatu


kasus, atau bahkan bisa jadi kawanan jago dari istana.


Tapi kenyataan sekarang belasan jago tangguh itu telah tewas secara mengenaskan di situ.


Ong Siau-sik tak sempat memeriksa lebih teliti lagi, karena tiba-tiba ia mendengar suara jeritan


seorang wanita.


Rupanya ada seorang wanita bersama kekasihnya melewati lorong itu, sebetulnya mereka


berencana akan berpacaran di tempat yang sepi itu, siapa sangka di sana mereka melihat mayat


yang berserakan.


Bukan cuma mayat yang berserakan, di situ malah ada seorang hidup yang sedang memeriksa


tumpukan mayat itu.


Menanti jeritan kedua muda-mudi itu menarik perhatian orang banyak serta kehadiran dua orang


opas, dalam lorong itu hanya tertinggal mayat-mayat yang bergelimpangan.


Menyaksikan mayat-mayat korban pembunuhan, dengan muka hijau karena marah, kawanan opas


segera menegur, “Ma-na pembunuhnya? Bukankah kalian melihat sang pembunuh masih di sini?”


“Benar!” sahut sang pria, “sebenarnya dia masih ada di sini, tapi kemudian ... entah kemana


perginya.”


“Aku melihat dia ....” sambung sang gadis.


“Dia kabur kemana?” tukas sang opas.


“Tadi dia melompat ke atas pagar rumah itu, kemudian melompat sekali lagi dan ....”


Kedua opas itu segera berdiri terbelalak dengan mata melotot, sudah dua puluh tahun mereka


bekerja sebagai opas di Lak-san-bun, tapi belum pernah mendengar cerita sehebat itu: Melompati


pagar pekarangan setinggi dua tombak? Melompat dalam sekali lompatan.


Dalam pada itu si lelaki kurus jangkung berbaju abu-abu itu kelihatan berdiri pula di antara


kerumunan orang banyak, cuma saja hawa dingin yang menyelimuti wajahnya nampak jauh lebih


tebal dan berat.


Ong Siau-sik melompat ke atas atap rumah dengan gerakan seringan daun kering, ia


menggelantung di atas wuwungan rumah dengan mengaitkan sepasang kakinya di atas emperan,


tubuhnya kelihatan bergoyang ketika tertiup angin, ringan dan lembut seperti selembar daun.


Saat itu ia sudah mendekam di atas atap rumah pengi-napan dimana rombongan akrobatik itu


menginap.


Dengan membasahi ujung jarinya ia mencoba melubangi kertas yang menutupi daun jendela,


kemudian mengintip ke dalam.


Dalam ruangan tampak tujuh delapan orang lelaki kasar dan tiga empat orang perempuan kekar


sedang berduduk santai, mereka bukan lain adalah rombongan penjual akrobatik itu.


Rombongan manusia cacad yang dipotong lidah dan ang-gota badannya, lelaki kekar yang


melarang dia mencari berita, manusia yang berbisik memberi peringatan kepadanya, lelaki tampan


yang menerobos di tengah kerumunan orang banyak, lalu lelaki jangkung yang membuat


rombongan akrobatik itu ketakutan dan terakhir mayat yang bergelimpangan dalam lo-rong.


Sebenarnya apa yang terjadi? Ong Siau-sik memutuskan untuk menyelidiki peristiwa ini, dia akan


mulai mencari jejak rombongan orang-orang ini.


Sama sekali tak ada pertanda apa pun yang didapat.


Beberapa orang lelaki dan wanita kasar itu hanya duduk berkumpul dalam kamar, wajah mereka

__ADS_1


nampak tegang dan serius, tak seorang pun yang membuka suara maupun berbicara.


Beberapa orang lelaki di antaranya kadang kala nampak berdiri sambil menghela napas panjang,


mereka hanya meng-gosokkan kepalannya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.


Malam semakin kelam, angin barat laut berhembus makin kencang.


Tentu saja Ong Siau-sik tak ingin menderita dalam cuaca yang begini dingin, pikirnya,


“Kelihatannya tak ada berita yang bisa kucari dari mereka.”


Baru saja dia bersiap meninggalkan tempat itu, tiba-tiba satu ingatan melintas.


Perlahan-lahan dia mencongkel selembar genteng, lalu menekan dengan tangannya, sebelum


genteng itu terjatuh ke dalam ruangan, dengan kecepatan bagaikan elang menyambar kelinci dia


sudah melayang turun ke bawah, lalu bersembunyi di sisi pintu.


“Braak!”, diiringi suara nyaring, genteng itu terjatuh ke lantai dan hancur berantakan.


Kawanan lelaki kekar yang ada dalam ruangan segera membentak nyaring, ada yang langsung


menerobos keluar lewat jendela, ada pula yang membuka pintu sambil mencaci maki.


Ketika itu Ong Siau-sik sudah bersembunyi di sisi pintu, menggunakan kesempatan di saat


beberapa orang itu berlari keluar secara bergerombol, dia menyelinap masuk ke dalam kamar dan


menyembunyikan diri dalam


sebuah almari kayu.


Begitu menyelinap masuk, cepat dia merapatkan kembali pintu almari itu, tapi mendadak ia


merasa bulu kuduknya berdiri.


Ia mendengar ada suara napas seseorang, suara napas manusia yang berasal dari sisinya.


Dengus napas itu sangat lirih dan teratur, napas orang awam tak mungkin selembut dan sehalus


ini, kecuali seseorang yang sedang terlelap tidur sangat nyenyak, apalagi kalau ada orang


menyelinap secara tiba-tiba, dengus napasnya sudah pasti sangat kalut dan agak terengah, tapi


Ini menunjukkan ada seseorang telah bersembunyi dalam almari itu sejak tadi!


Tapi siapakah dia?


Tanpa sadar Ong Siau-sik bersiap menghadapi segala ke-mungkinan.


Sementara itu di luar almari sudah terjadi kegaduhan, disusul suara tanya jawab antara orang di


luar kamar dengan rombongan akrobatik itu.


“Ada apa? Apa yang terjadi?”


“Tidak ada apa-apa, rasanya ada orang membuat gara-gara!”


“Ada orang membuat gara-gara?”


“Benar, ada orang sengaja melempar genting dari atas atap, untung kami cepat menyingkir, kalau


tidak, pasti ada yang terluka.”


“Melempar genting? Bukankah genting tersusun rapi di atas atap? Mana mungkin bisa jatuh


sendiri?”


“Darimana aku tahu, justru karena itu maka aku ingin mencari tahu sebabnya.”


“Kami sudah tiga belas tahun membuka usaha, belum pernah satu kali pun terjadi peristiwa


seperti ini,” kata pemilik losmen cepat, ia tahu kawanan manusia yang membawa golok itu adalah


orang yang paling susah dihadapi.


“Apa maksud perkataanmu itu? Kau anggap kami sedang mencari gara-gara? Katakan, kenapa


kami mesti cari gara-gara?”


“Bukan ... bukan begitu maksud kami ... mungkin atap itu sudah kendor karena lama tak


dibetulkan hingga jatuh sendiri, baiklah, maaf, maaf ... kami segera akan memperbaikinya ....”


Lociangkwe si pemilik losmen sadar bahwa manusia bengis macam begitu

__ADS_1


paling susah dilayani, maka dia mencari selamat dengan cepat minta maaf.


Dengan uring-uringan ketujuh delapan orang lelaki kekar itupun balik kembali ke kamarnya.


Menanti kawanan lelaki kekar itu sudah balik, para wanita kasar yang semula berjaga di tepi pintu


dan jendela baru merapatkan kembali pintu dan jendela, mereka lalu berkumpul di depan meja.


“Maknya sialan ....” umpat lelaki beralis tebal itu sambil meletakkan goloknya di meja, “coba kalau


bukan lagi ada urusan, akan kubacok habis orang itu ....”


Sambil menahan napas, Ong Siau-sik tetap bersembunyi di dalam almari.


‘Manusia’ yang sudah bersembunyi dalam almari sejak tadi pun tidak melakukan reaksi apa pun.


Mendadak terdengar seseorang berkata dengan suara serius dan nyaring, “Sim-jit, kau jangan


mencari gara-gara, malam ini para jago dari kantor pusat perkumpulan Lak-hun-poan-tong (enam


setengah bagian) segera akan berdatangan, kau boleh saja mencari onar dan tak ingin hidup, tapi


rekan yang lain masih ingin mati secara utuh. Hmmm, lihat saja ulahmu tengah hari tadi, nyaris


berkelahi dengan beberapa orang, aku lihat tabiatmu makin tak terkendali, lebih baik ingat baikbaik,


jangan mencari gara-gara buat kita semua!”


Ong Siau-sik coba mengintip lewat celah almari, ia lihat orang yang sedang berbicara itu adalah


seorang lelaki tua yang bermata tajam dengan senjata penggaris baja tersoreng di ping-gangnya,


di samping lelaki tua itu berdiri seorang wanita berwajah garang dan bermata licik.


Ketika kedua orang itu berdiri di sana, ternyata kawanan manusia yang lain tak ada yang berani


mengambil tempat duduk.


Lelaki beralis tebal itu menundukkan kepala, meski kepal-annya yang segede mangkuk dikepal


kencang, namun ia sama sekali tak berani membantah terhadap teguran kakek itu.


Lewat sesaat kemudian seorang lelaki berkepala kecil bermata tikus baru menimbrung, katanya,


“Lo-jit, selama ini memang kau yang salah, coba lihat ulahmu membuat Li Ya jadi sewot setengah


mati, memangnya kau sudah kebanyakan meng-hirup hawa kentut!”


Lelaki beralis tebal itu tetap membungkam, tak sepatah kata pun berani membantah, tapi tinjunya


dikepal makin ken-cang, nampak otot-otot hijau menonjol keluar.


Terdengar kakek she Li itu berkata lagi setelah menyapu wajah semua yang hadir dengan sorot


matanya yang tajam, “Ka-lian anggap berhargakah kita mengusik rumput mengejutkan ular hanya


gara-gara urusan orang yang tak penting? Li Ya, su-dah kau kirim orang untuk mengawasi ketiga


buah kamar itu?”


“Baru saja aku mengajak beberapa orang melakukan peron-daan di sekitar sana,” sahut lelaki


berkepala kecil bermata tikus itu dengan hormat, “setiap kamar dijaga dua orang saudara kita,


hingga detik ini tidak ada kejadian apa pun.”


“Hmm! Paling bagus memang begitu,” dengus kakek Li ketus.


Menggunakan peluang itu, Li Ya, si lelaki bermata tikus itu berkata lagi,


“Dalam wilayah tiga sungai besar enam propinsi, siapa yang telah makan nyali beruang hingga


berani mengusik Liong-tau (ketua) perkumpulan akrobatik Li Tan, Li Ya? Apalagi kali ini Li-ji-nio


pun ikut terjun sendiri ke dunia Kangouw, manusia busuk mana yang ingin cari apes?”


Mendengar pembicaraan itu, Ong Siau-sik seketika teringat kembali


beberapa tokoh termashur dalam dunia persilatan saat itu.


Banyak perkumpulan dan partai termashur yang berdiri dalam dunia persilatan, di antara sekian


banyak organisasi, ada di antaranya merupakan organisasi sempalan yang disebut Pay-kau.


Hampir semua yang bergabung dalam Pay-kau memiliki sedikit kemampuan yang dapat


diandalkan, mereka pandai mengikuti arus, pandai pula memotong arus.

__ADS_1


__ADS_2