Pendekar Golok

Pendekar Golok
Episode 2


__ADS_3

Apa pun jalan pikirannya, dia rela mendermakan sisa uang miliknya itu untuk orang-orang cacad


yang mengibakan hati ini.


Melihat si cebol itu masih juga menuding ke arah nam-pannya, Ong Siau-sik pun manggutmanggut


seraya berkata, “Kasihan, kau telah bertemu dengan orang rudin macam aku, semoga


saja ada orang berbaik hati yang rela memeliharamu, sehingga kau tak usah menderita lagi


mengembara di tengah udara dingin.”


Sewaktu mengucapkan perkataan itu, Ong Siau-sik mengu-tarakannya dengan perasaan tulus dan


bersungguh hati.


Dengan cepat ia mendengar suara tertawa dingin, suara itu muncul persis dari sisi tubuhnya.


Ong Siau-sik segera berpaling, namun mereka yang berada di sampingnya sedang menonton


pertunjukan manusia kecil di tengah arena, tak seorang pun sedang menoleh ke arahnya.


Di antara sekian banyak orang, dia hanya menyaksikan seseorang sedang berdiri sambil


mendongakkan kepalanya ke atas.


Orang itu mengenakan pakaian yang indah dan perlente, masih muda dan tampan, ketika berdiri


di tengah kerumunan orang banyak, persis seperti seekor bangau yang berdiri di tengah


kerumunan ayam.


Karena sedang mendongakkan kepala memandang angka-sa, maka raut mukanya tidak terlihat


dengan jelas.


Ong Siau-sik sendiri pun tidak jelas apakah orang ini yang barusan tertawa dingin.


Ketika selesai mendengar perkataan tadi, wajah si cebol segera menunjukkan mimik terharu


bercampur terima kasih, kembali jari tangannya menuding kian kemari sambil mengu-capkan kata


‘uu, aa’ yang tidak jelas, tapi garis besarnya dia merasa berterima kasih atas kebaikan hati


pemuda itu.


Ong Siau-sik meletakkan beberapa keping hancuran uang perak ke nampannya, mendadak ia


seakan menyaksikan sesuatu, satu ingatan segera melintas dalam benaknya.


Waktu itu si cebol sudah berpindah tempat untuk menarik ujung baju orang lain dan minta


sedekah kepadanya.


Ong Siau-sik seperti menemukan sesuatu yang mencuriga-kan, seakan ada hubungannya dengan


masalah ‘lidah’, tapi un-tuk sesaat dia tak bisa menerangkan persoalan apakah itu, tak tahan


kembali ia menengok ke tengah arena.


Sementara itu suara genderang dan gembreng dibunyikan makin ramai, dua ekor monyet besar


dengan menirukan lagak manusia bertarung sambil mengayunkan golok, para penonton mulai


bersorak sambil bertepuk tangan, pertarungan antar monyet pun makin seru dan menarik.


Kini ingatan yang melintas dalam benak Ong Siau-sik semakin nyata, karena dia telah


menyaksikan sesuatu, yaitu golok dan lidah!


Dia pun menghubungkan kedua hal itu menjadi satu, besar kemungkinan si cebol bukan bisu sejak


dilahirkan, dia bisu karena lidahnya telah dipotong seseorang.


Bahkan ia dapat menyimpulkan dengan lebih jelas, yakni lidah si cebol dipotong dengan sebilah


golok yang amat tajam, ia bisa menganalisa segala sesuatunya hingga paling detil, sebab dialah


Ong Siau-sik!


Ong Siau-sik, satu satu ahli waris Thian-gi Kisu.


Betapa sakit hatinya ketika pemuda ini mengetahui kalau bisunya si cebol bukan bisu sejak


dilahirkan, tapi bisu lantaran lidahnya dipotong orang.


Dulu ia pernah merasakan juga perasaan aneh semacam ini, ketika melihat orang di pasar


memotong ikan, tatkala mata pisau mengiris tubuh ikan, dia seolah merasakan tubuh sendiri ikut

__ADS_1


tersayat, dia merasa seakan sayatan pisau si tukang ikan bukan sedang membelah perut ikan itu,


tapi sedang menyayat perasaannya.


Manusia berhati lemah semacam ini seharusnya tidak cocok berlatih silat, terlebih tidak cocok


menjadi satu-satunya ahli waris Thian-gi Kisu, tokoh persilatan yang luar biasa.


Untuk menjadi seorang tokoh silat yang sesungguhnya, seseorang harus memiliki perasaan


setenang air. Pandangan se-luas jagad.


Tapi sayang Ong Siau-sik tidak memilikinya, Ong Siau-sik adalah seorang yang kelewat perasa,


kelewat sensitip perasa-annya.


Biarpun begitu, hanya dalam sepuluh tahun berikutnya, Ong Siau-sik telah berhasil melatih ilmu


pedang tanpa perasaan hingga mencapai tingkat kemahiran yang luar biasa, bukan saja ia dapat


sehati dengan gerak pedangnya, bahkan mampu me-ngalahkan pedang keji di tangan gurunya,


Thian-gi Kisu.


Dalam keadaan begini, gurunya, Thian-gi Kisu, hanya bisa menghela napas sambil berkata, “Ai,


tak kusangka bocah yang dulunya begitu tak tegaan, begitu perasa, begitu tak berguna hingga


membunuh seekor kelinci saja tak berani, bahkan setiap kali bertemu anjing kecil atau kucing kecil


yang telantar di jalan pun selalu dibawa pulang, tiap kali berkelahi dengan orang, lebih rela dirinya


yang terluka ketimbang melukai orang lain, sekarang jadi begitu tangguh dan telengas, berhasil


menguasai ilmu pedang yang tangguh, berhasil menggembleng diri menjadi jago tak terkalahkan.” Maka dengan membawa pedang tanpa perasaannya, Ong Siau-sik berangkat ke kota Kay-hong,


pergi mengadu untung.


Belum lagi pengalaman lain dijumpai, kini dia bertemu lebih dulu dengan seorang cebol yang


dipotong lidahnya.


Ong Siau-sik tahu kalau lidah milik si cebol dipotong dengan golok, selain itu dia juga menjumpai


peristiwa lain yang membuat amarahnya langsung memuncak.


dengan senjata tajam.


Orang yang cacad sejak lahir tak akan meninggalkan bekas luka seperti ini, jangan-jangan mereka


adalah korban peperang-an? Atau terluka oleh ulah perampok? Kalau memang demikian


kejadiannya, kenapa mereka bisa tumbuh abnormal? Ong Siau-sik mulai sangsi dan coba memutar


otak.


Akhirnya dengan perasaan ingin tahu dia berjongkok, berjongkok sambil memeriksa manusia aneh


yang kehilangan kedua kaki dan sebuah


tangannya.


Sambil mendesiskan suara parau yang aneh, orang itu balik mengawasi Ong Siau-sik, dia pun


seakan merasa heran dengan ulah anak muda itu, mungkin juga ia sedang mengeluh, kenapa


semua siksaan hidup yang ada di dunia ini ditimpakan pada dia seorang.


Tapi begitu diperiksa, sekujur badan Ong Siau-sik segera gemetar keras, ternyata manusia yang


mengibakan hati ini bukan saja kehilangan sepasang kaki dan tangannya karena dipotong orang


dengan golok, bahkan lidahnya juga digunting orang hingga putus.


“Siapa yang begitu kejam? Siapa yang begitu tega mela-kukan perbuatan keji ini?”


Mendadak seorang lelaki kekar menerobos maju sambil mendorong tubuh Ong Siau-sik, hardiknya


sambil melotot besar, “He, kalau mau sedekah cepat sedekah, kalau enggan memberi duit cepat


menyingkir!”


“Siapa yang memotong tangan orang ini?” tegur Ong Siau-sik tiba-tiba.


Lelaki itu sepertinya terperanjat, dengan mata melotot dia mengawasi Ong Siau-sik, tapi begitu


tahu orang itu hanya seorang sastrawan yang lemah, hatinya menjadi tenang kembali, dengan tak


memandang sebelah mata, kembali hardiknya, “Mau apa kau menanyakan persoalan ini?”

__ADS_1


“Bukankah kakinya dipotong orang dengan golok?”


Sebetulnya lelaki kekar itu hendak mengumbar amarahnya, tapi karena tak ingin mengganggu


para penonton yang me-ngelilingi arena, terpaksa ujarnya lagi sambil menahan amarah, “Apa


urusannya dengan kau!”


Dengan kasar ia mendorong bahu Ong Siau-sik, pemuda itu tidak melawan, sambil mundur


setengah langkah, kembali ujarnya, “Bukankah lidahnya sengaja dipotong dengan golok?”


Dengan penuh amarah lelaki kasar itu menyerbu ke depan, namun ketika dilihatnya ada beberapa


orang penonton mulai berpaling dan memandang ke arah mereka, terpaksa sambil tertawa dibuatbuat


ia menepuk bahu Ong Siau-sik sambil berseru, “Hati-hati kalau berdiri, hati-hati sedikit!”


Kemudian sambil merendahkan suaranya, kembali dia mengancam, “Aku peringatkan, di sini tak


ada urusannya dengan kau, lebih baik jangan mencari masalah!”


Sambil berkata ia menggandeng tangan si manusia cacad itu balik ke tengah arena, sepanjang


perjalanan tiada hentinya ia berpaling dan melotot


ke arah Ong Siau-sik dengan pandangan buas.


Ong Siau-sik segera melihat rasa takut dan ngeri muncul menghiasi wajah si manusia cacad itu.


Baru saja anak muda itu ingin melakukan suatu tindakan, mendadak terdengar seseorang berbisik,


“Kalau urusan kecil tak bisa ditahan, masalah besar akan semakin kacau, rahasia di balik semua ini


semakin susah ditelusuri, buat apa kau mesti berang?”


Suara itu begitu jelas, seakan-akan dibisikkan seseorang persis di sisi telinganya.


Dengan cepat Ong Siau-sik berpaling, namun di antara sekian puluh orang, hampir semuanya


sedang memperhatikan tengah arena, hanya seorang lelaki yang semula berdiri men-dongakkan


kepalanya, kini menyusup masuk di antara keru-munan orang untuk menjauh.


Satu ingatan melintas dalam benak Ong Siau-sik, baru saja dia akan menerobos kerumunan orang


banyak untuk mengejar orang itu, mendadak dari arah depan kembali muncul seseorang yang


langsung menerjangnya.


Karena seorang menerobos keluar sementara yang lain menerobos masuk, kontan saja kerumunan


orang banyak yang merasa tertumbuk tubuhnya menjadi marah, kata-kata umpatan segera


memenuhi arena.


Orang itu menerjang sambil mengangkat siku kirinya untuk melindungi bagian dada, tapi lantaran


menerobos kelewat cepat, tanpa sengaja kakinya menginjak kaki seorang perempuan yang sedang


menonton keramaian, tak tahan perempuan itupun mengumpat, “Dasar orang dungu yang tak


punya mata!”


Orang itu nampak berkerut kening seakan-akan mengum-bar amarah, namun akhirnya niat itu


diurungkan.


Ong Siau-sik hanya sempat melihat sekejap wajah orang itu, namun hanya sekejap saja sudah


cukup membuatnya ter-pesona.


Selama hidup belum pernah ia melihat seorang pria se-tampan ini.


Alis matanya yang tipis bagai mata golok nampak begitu indah sewaktu bekernyit, kulit wajahnya


yang putih bagaikan pualam kelihatan amat licin dan halus ketika tertimpa sinar matahari,


ditambah perawakan tubuhnya yang tinggi semampai membuat orang itu sangat menawan.


Kembali orang itu berkerut kening, dengan perasaan tak sabar ia menerjang kerumunan orang


banyak sambil berputar mengelilingi arena, agaknya dia sedang mencari seseorang.


Ong Siau-sik memperhatikan terus gerak-geriknya, ia perhatikan juga sebuah bungkusan panjang


yang terselip di pinggangnya.


Sekilas pandang saja dia sudah tahu apa isi bungkusan panjang itu, sebilah golok!

__ADS_1


__ADS_2