
Apa pun jalan pikirannya, dia rela mendermakan sisa uang miliknya itu untuk orang-orang cacad
yang mengibakan hati ini.
Melihat si cebol itu masih juga menuding ke arah nam-pannya, Ong Siau-sik pun manggutmanggut
seraya berkata, “Kasihan, kau telah bertemu dengan orang rudin macam aku, semoga
saja ada orang berbaik hati yang rela memeliharamu, sehingga kau tak usah menderita lagi
mengembara di tengah udara dingin.”
Sewaktu mengucapkan perkataan itu, Ong Siau-sik mengu-tarakannya dengan perasaan tulus dan
bersungguh hati.
Dengan cepat ia mendengar suara tertawa dingin, suara itu muncul persis dari sisi tubuhnya.
Ong Siau-sik segera berpaling, namun mereka yang berada di sampingnya sedang menonton
pertunjukan manusia kecil di tengah arena, tak seorang pun sedang menoleh ke arahnya.
Di antara sekian banyak orang, dia hanya menyaksikan seseorang sedang berdiri sambil
mendongakkan kepalanya ke atas.
Orang itu mengenakan pakaian yang indah dan perlente, masih muda dan tampan, ketika berdiri
di tengah kerumunan orang banyak, persis seperti seekor bangau yang berdiri di tengah
kerumunan ayam.
Karena sedang mendongakkan kepala memandang angka-sa, maka raut mukanya tidak terlihat
dengan jelas.
Ong Siau-sik sendiri pun tidak jelas apakah orang ini yang barusan tertawa dingin.
Ketika selesai mendengar perkataan tadi, wajah si cebol segera menunjukkan mimik terharu
bercampur terima kasih, kembali jari tangannya menuding kian kemari sambil mengu-capkan kata
‘uu, aa’ yang tidak jelas, tapi garis besarnya dia merasa berterima kasih atas kebaikan hati
pemuda itu.
Ong Siau-sik meletakkan beberapa keping hancuran uang perak ke nampannya, mendadak ia
seakan menyaksikan sesuatu, satu ingatan segera melintas dalam benaknya.
Waktu itu si cebol sudah berpindah tempat untuk menarik ujung baju orang lain dan minta
sedekah kepadanya.
Ong Siau-sik seperti menemukan sesuatu yang mencuriga-kan, seakan ada hubungannya dengan
masalah ‘lidah’, tapi un-tuk sesaat dia tak bisa menerangkan persoalan apakah itu, tak tahan
kembali ia menengok ke tengah arena.
Sementara itu suara genderang dan gembreng dibunyikan makin ramai, dua ekor monyet besar
dengan menirukan lagak manusia bertarung sambil mengayunkan golok, para penonton mulai
bersorak sambil bertepuk tangan, pertarungan antar monyet pun makin seru dan menarik.
Kini ingatan yang melintas dalam benak Ong Siau-sik semakin nyata, karena dia telah
menyaksikan sesuatu, yaitu golok dan lidah!
Dia pun menghubungkan kedua hal itu menjadi satu, besar kemungkinan si cebol bukan bisu sejak
dilahirkan, dia bisu karena lidahnya telah dipotong seseorang.
Bahkan ia dapat menyimpulkan dengan lebih jelas, yakni lidah si cebol dipotong dengan sebilah
golok yang amat tajam, ia bisa menganalisa segala sesuatunya hingga paling detil, sebab dialah
Ong Siau-sik!
Ong Siau-sik, satu satu ahli waris Thian-gi Kisu.
Betapa sakit hatinya ketika pemuda ini mengetahui kalau bisunya si cebol bukan bisu sejak
dilahirkan, tapi bisu lantaran lidahnya dipotong orang.
Dulu ia pernah merasakan juga perasaan aneh semacam ini, ketika melihat orang di pasar
memotong ikan, tatkala mata pisau mengiris tubuh ikan, dia seolah merasakan tubuh sendiri ikut
__ADS_1
tersayat, dia merasa seakan sayatan pisau si tukang ikan bukan sedang membelah perut ikan itu,
tapi sedang menyayat perasaannya.
Manusia berhati lemah semacam ini seharusnya tidak cocok berlatih silat, terlebih tidak cocok
menjadi satu-satunya ahli waris Thian-gi Kisu, tokoh persilatan yang luar biasa.
Untuk menjadi seorang tokoh silat yang sesungguhnya, seseorang harus memiliki perasaan
setenang air. Pandangan se-luas jagad.
Tapi sayang Ong Siau-sik tidak memilikinya, Ong Siau-sik adalah seorang yang kelewat perasa,
kelewat sensitip perasa-annya.
Biarpun begitu, hanya dalam sepuluh tahun berikutnya, Ong Siau-sik telah berhasil melatih ilmu
pedang tanpa perasaan hingga mencapai tingkat kemahiran yang luar biasa, bukan saja ia dapat
sehati dengan gerak pedangnya, bahkan mampu me-ngalahkan pedang keji di tangan gurunya,
Thian-gi Kisu.
Dalam keadaan begini, gurunya, Thian-gi Kisu, hanya bisa menghela napas sambil berkata, “Ai,
tak kusangka bocah yang dulunya begitu tak tegaan, begitu perasa, begitu tak berguna hingga
membunuh seekor kelinci saja tak berani, bahkan setiap kali bertemu anjing kecil atau kucing kecil
yang telantar di jalan pun selalu dibawa pulang, tiap kali berkelahi dengan orang, lebih rela dirinya
yang terluka ketimbang melukai orang lain, sekarang jadi begitu tangguh dan telengas, berhasil
menguasai ilmu pedang yang tangguh, berhasil menggembleng diri menjadi jago tak terkalahkan.” Maka dengan membawa pedang tanpa perasaannya, Ong Siau-sik berangkat ke kota Kay-hong,
pergi mengadu untung.
Belum lagi pengalaman lain dijumpai, kini dia bertemu lebih dulu dengan seorang cebol yang
dipotong lidahnya.
Ong Siau-sik tahu kalau lidah milik si cebol dipotong dengan golok, selain itu dia juga menjumpai
peristiwa lain yang membuat amarahnya langsung memuncak.
dengan senjata tajam.
Orang yang cacad sejak lahir tak akan meninggalkan bekas luka seperti ini, jangan-jangan mereka
adalah korban peperang-an? Atau terluka oleh ulah perampok? Kalau memang demikian
kejadiannya, kenapa mereka bisa tumbuh abnormal? Ong Siau-sik mulai sangsi dan coba memutar
otak.
Akhirnya dengan perasaan ingin tahu dia berjongkok, berjongkok sambil memeriksa manusia aneh
yang kehilangan kedua kaki dan sebuah
tangannya.
Sambil mendesiskan suara parau yang aneh, orang itu balik mengawasi Ong Siau-sik, dia pun
seakan merasa heran dengan ulah anak muda itu, mungkin juga ia sedang mengeluh, kenapa
semua siksaan hidup yang ada di dunia ini ditimpakan pada dia seorang.
Tapi begitu diperiksa, sekujur badan Ong Siau-sik segera gemetar keras, ternyata manusia yang
mengibakan hati ini bukan saja kehilangan sepasang kaki dan tangannya karena dipotong orang
dengan golok, bahkan lidahnya juga digunting orang hingga putus.
“Siapa yang begitu kejam? Siapa yang begitu tega mela-kukan perbuatan keji ini?”
Mendadak seorang lelaki kekar menerobos maju sambil mendorong tubuh Ong Siau-sik, hardiknya
sambil melotot besar, “He, kalau mau sedekah cepat sedekah, kalau enggan memberi duit cepat
menyingkir!”
“Siapa yang memotong tangan orang ini?” tegur Ong Siau-sik tiba-tiba.
Lelaki itu sepertinya terperanjat, dengan mata melotot dia mengawasi Ong Siau-sik, tapi begitu
tahu orang itu hanya seorang sastrawan yang lemah, hatinya menjadi tenang kembali, dengan tak
memandang sebelah mata, kembali hardiknya, “Mau apa kau menanyakan persoalan ini?”
__ADS_1
“Bukankah kakinya dipotong orang dengan golok?”
Sebetulnya lelaki kekar itu hendak mengumbar amarahnya, tapi karena tak ingin mengganggu
para penonton yang me-ngelilingi arena, terpaksa ujarnya lagi sambil menahan amarah, “Apa
urusannya dengan kau!”
Dengan kasar ia mendorong bahu Ong Siau-sik, pemuda itu tidak melawan, sambil mundur
setengah langkah, kembali ujarnya, “Bukankah lidahnya sengaja dipotong dengan golok?”
Dengan penuh amarah lelaki kasar itu menyerbu ke depan, namun ketika dilihatnya ada beberapa
orang penonton mulai berpaling dan memandang ke arah mereka, terpaksa sambil tertawa dibuatbuat
ia menepuk bahu Ong Siau-sik sambil berseru, “Hati-hati kalau berdiri, hati-hati sedikit!”
Kemudian sambil merendahkan suaranya, kembali dia mengancam, “Aku peringatkan, di sini tak
ada urusannya dengan kau, lebih baik jangan mencari masalah!”
Sambil berkata ia menggandeng tangan si manusia cacad itu balik ke tengah arena, sepanjang
perjalanan tiada hentinya ia berpaling dan melotot
ke arah Ong Siau-sik dengan pandangan buas.
Ong Siau-sik segera melihat rasa takut dan ngeri muncul menghiasi wajah si manusia cacad itu.
Baru saja anak muda itu ingin melakukan suatu tindakan, mendadak terdengar seseorang berbisik,
“Kalau urusan kecil tak bisa ditahan, masalah besar akan semakin kacau, rahasia di balik semua ini
semakin susah ditelusuri, buat apa kau mesti berang?”
Suara itu begitu jelas, seakan-akan dibisikkan seseorang persis di sisi telinganya.
Dengan cepat Ong Siau-sik berpaling, namun di antara sekian puluh orang, hampir semuanya
sedang memperhatikan tengah arena, hanya seorang lelaki yang semula berdiri men-dongakkan
kepalanya, kini menyusup masuk di antara keru-munan orang untuk menjauh.
Satu ingatan melintas dalam benak Ong Siau-sik, baru saja dia akan menerobos kerumunan orang
banyak untuk mengejar orang itu, mendadak dari arah depan kembali muncul seseorang yang
langsung menerjangnya.
Karena seorang menerobos keluar sementara yang lain menerobos masuk, kontan saja kerumunan
orang banyak yang merasa tertumbuk tubuhnya menjadi marah, kata-kata umpatan segera
memenuhi arena.
Orang itu menerjang sambil mengangkat siku kirinya untuk melindungi bagian dada, tapi lantaran
menerobos kelewat cepat, tanpa sengaja kakinya menginjak kaki seorang perempuan yang sedang
menonton keramaian, tak tahan perempuan itupun mengumpat, “Dasar orang dungu yang tak
punya mata!”
Orang itu nampak berkerut kening seakan-akan mengum-bar amarah, namun akhirnya niat itu
diurungkan.
Ong Siau-sik hanya sempat melihat sekejap wajah orang itu, namun hanya sekejap saja sudah
cukup membuatnya ter-pesona.
Selama hidup belum pernah ia melihat seorang pria se-tampan ini.
Alis matanya yang tipis bagai mata golok nampak begitu indah sewaktu bekernyit, kulit wajahnya
yang putih bagaikan pualam kelihatan amat licin dan halus ketika tertimpa sinar matahari,
ditambah perawakan tubuhnya yang tinggi semampai membuat orang itu sangat menawan.
Kembali orang itu berkerut kening, dengan perasaan tak sabar ia menerjang kerumunan orang
banyak sambil berputar mengelilingi arena, agaknya dia sedang mencari seseorang.
Ong Siau-sik memperhatikan terus gerak-geriknya, ia perhatikan juga sebuah bungkusan panjang
yang terselip di pinggangnya.
Sekilas pandang saja dia sudah tahu apa isi bungkusan panjang itu, sebilah golok!
__ADS_1