Pendekar Golok

Pendekar Golok
Episode 8


__ADS_3

Tak ada yang menjawab, tak ada yang memberi tanggapan, suasana dalam ruangan itu sangat


hening.


“Ting-tauke! Pengurus Ku!” kembali Tio Thiat-leng ber-seru.


“Siap!” sahut Ting Siu-hok dan Ku Han-lim berbareng.


“Aku perintahkan kepada kalian untuk mengumpulkan orang-orang berbakat, apakah dalam hal ini


sudah ada berita-nya?”


“Aku telah menaruh perhatian khusus,” sahut Ku Han-lim cepat, “memang ada beberapa orang


yang berkemampuan hebat dan bercita-cita tinggi, hal ini memang akan kulaporkan kepada Tiotongcu.”


“Dari kalangan akrobatik juga terdapat beberapa orang pesilat yang berbakat,” Ting Siu-hok


segera menimpali, “malah ada dua orang di antaranya merupakan bekas Piausu yang pindah


haluan, aku telah menahan mereka dalam rombongan-ku.”


“Bagus, saat ini pihak perkumpulan memang sedang membuka pintu untuk menerima orang-orang


berbakat. Jika kita tidak segera menarik orang berbakat, jika pihak perkumpulan Kim-hong-si-yulau


sampai keburu menguasai pihak ekspedisi dan sekolah tinggi, maka kita tak akan kebagian


orang pintar lagi, makanya kalian mesti berusaha sedapat mungkin merekrut orang. Tahu? Nah,


inilah persoalan kedua yang hendak ku-sampaikan kepada kalian.”


“Bila dapat berbakti untuk perkumpulan, mesti mati pun kami tak akan menyesal,” seru Ku Han-lim


segera.


“Benar, merupakan satu kehormatan dan kebanggaan bagi kami karena dapat menyumbangkan


sedikit tenaga demi per-kumpulan,” sambung Ting Siu-hok.


“Hmm, kami toh tidak menyuruh kalian pergi mampus, apa urusannya dengan kehormatan atau


kebanggaan? Asal tugas dapat kalian selesaikan dengan baik, pangkat dan posisi dijamin pasti


akan naik, sebaliknya jika gagal melaksanakan tugas, hukuman yang setimpal akan menanti kalian


semua. Hal ini merupakan peraturan perkumpulan dan berlaku terhadap siapa pun.”


Kemudian setelah berhenti sejenak, kembali Tio Thiat-leng melanjutkan, “Tahukah kalian, ada


seorang yang bernama Si Say-sin telah tiba di sini?”


“Selama beberapa hari terakhir ini, banyak laporan yang telah kuperoleh, kami tahu memang ada


manusia seperti itu yang telah tiba di wilayah Ouw-pak,” sahut Ku Han-lim.


“Belakangan, kami malah sempat berpapasan dengannya,” sambung Li Tan segera, “apakah perlu


mengirim orang untuk meringkusnya?”


“Aku malah tahu dia tinggal di dalam kuil Ho-song-an dekat jalan Mo-jong-ka,” kata Ting Siu-hok,

__ADS_1


“tapi selama ini tidak banyak melakukan tindakan, kami masih menunggu perintah Tongcu.”


Tiba-tiba Tio Thit-leng tertawa tergelak.


Ho Tong ikut tertawa.


Mereka berdua saling berpandangan dan tertawa terbahak-bahak.


Sambil tertawa tergelak, Tio Thiat-leng menepuk bahu se-orang pemuda yang ada di belakangnya


sembari berseru, “Lote, menurut kau menggelikan tidak?


“Menggelikan, sangat menggelikan!” sahut pemuda itu sambil tersenyum, senyuman yang


mengandung keangkuhan dan sinis, kemudian kepada para jago lainnya ia berkata lagi, “Tahukah


kalian, Si Say-sin adalah orang berkedudukan cukup tinggi di perkumpulan Kim-hong-si-yu-lau,


orang kesayangan So Bong-seng, So-kongcu. Memangnya kalian bisa berbuat apa terhadapnya?


Justru kedatangan Ho-tongcu kali ini adalah khu-sus untuk menghadapi manusia she Si itu, nah,


persoalan inilah merupakan persoalan ketiga yang ingin disampaikan kedua orang Tongcu kepada


kalian.”


Li Tan, Li Ciau-hong, Ting Siu-hok, Ku Han-lim, Li Ya maupun Sim-jit sekalian hanya bisa tertawa


paksa, sementara air muka mereka nampak agak tersipu.


Ho Tong ikut tertawa tergelak, mendadak serunya sekata demi sekata, “Hei orang yang


bersembunyi, sudah cukup belum menguping? Ayo, cepat menggelinding keluar dari tempat persembunyianmu!”


seseorang yang sedang menguping pembicaraan mereka.


Ong Siau-sik turut terperanjat, apakah Ho Tong telah me-ngetahui jejaknya?


Baru saja ia bersiap menampakkan diri dari tempat persem-bunyian, tiba-tiba terlihat Ho Tong


mencabut keluar sepasang tangannya dari balik baju, ia mencabut keluar tangannya seolah


sedang mencabut sepasang senjata andalan.


Ternyata dia memiliki sepasang tangan yang sangat aneh, sepasang tangan berwarna emas.


Sambil menggebrak meja ia hisap permukaan meja itu kuat-kuat, kemudian sambil membalik


tangan, dia lemparkan meja itu ke atas atap rumah.


Semua perubahan itu terjadi secepat sambaran petir, selain Ong Siau-sik yang sempat melihat


jelas sepasang tangan aneh-nya itu, para jago yang lain hanya menyaksikan meja itu tahu-tahu


sudah melayang ke atas atap bangunan rumah bagaikan burung rajawali, sementara lilin yang ada


di meja jatuh ke permukaan tanah, jatuh berjajar secara rapi di lantai tanpa ada sebatang pun


yang padam apalagi patah.


“Braak”, diiringi suara gemuruh yang keras, meja itu men-jebol atap rumah dan menembus keluar.

__ADS_1


Menyusul kemudian tertampak sekilas cahaya golok melin-tas.


Cahaya golok itu berkilau bagaikan untaian berlian yang dikenakan seorang gadis cantik, cahaya


golok yang amat menyilaukan.


Di antara kilatan cahaya tajam dan desingan angin, meja kayu itu hancur berantakan dan


menyebar ke empat penjuru, di antara hancuran serbuk kayu, tampak sesosok bayangan manu-sia


melayang turun dengan entengnya.


Baru pertama kali ini Ong Siau-sik menyaksikan kilauan cahaya golok seperti ini, cahaya golok


yang menghancurkan sebuah meja hingga remuk berkeping.


Terdengar Ho Tong membentak keras, kembali sepasang tangannya menggebrak permukaan


tanah.


Kali ini yang mencelat ke udara adalah enam batang lilin yang semula berada di lantai, enam lilin


dengan kecepatan ba-gaikan burung walet meluncur ke muka dan menghantam tubuh orang itu.


Sekali lagi cahaya golok berkelebat, dimana sinar golok menyambar, cahaya lilin seketika padam


dan lenyap tak berbekas.


Hanya sebatang lilin tetap utuh, sebatang lilin tetap me-mancarkan cahayanya.


Lilin itu berada dalam telapak tangan orang itu, seperti seekor capung kecil yang hinggap di daun


teratai.


Cahaya golok memantulkan sinar lilin dan menyinari wajahnya yang lembut, cahaya golok


menyinari pula biji mata-nya yang bening dan indah.


Ia melayang turun bagaikan bidadari, indah, lembut dan menawan hati.


Inilah kali pertama Ong Siau-sik berjumpa dengan Un Ji (Kelembutan).


Ketika ia memandang wajah Un Ji, di kolong langit hanya ada sebatang cahaya lilin yang


menerangi wajahnya.


Sebatang cahaya lilin yang berasal dari lilin di telapak ta-ngannya.


Anehnya. Dalam suasana seperti ini, di kala Ong Siau-sik belum sempat melihat raut wajah orang


itu dengan jelas, tiba-tiba ia teringat akan


seseorang.


Orang itu tak lain adalah pelajar berbaju sutera yang berdiri di tengah kerumunan orang banyak


sambil menengadah memandang angkasa.


Dia tahu orang itupun sedang bersembunyi di balik kege-lapan, tentunya dia pun sedang


mengawasi cahaya golok itu, mengawasi orang yang melayang turun sambil membawa se-batang

__ADS_1


lilin.


__ADS_2