
Sementara Un Ji terperanjat, tiba-tiba pukulan itu menyam-bar lewat dari sisi telinganya, kepalan
kiri langsung menghan-tam wajah Ho Tong sedang kepalan kanan menghajar dadanya.
Tak ampun wajah Ho Tong terhajar hingga retak, darah segar segera menyembur keluar dari
mulutnya.
Un Ji menjerit ngeri, dia merasa kakinya lemas saking kagetnya, apalagi menyaksikan tulang
wajah orang retak persis di hadapannya.
Sungguh dahsyat tenaga pukulan itu, saking kerasnya deru angin serangan itu membuat api lilin
padam seketika. Menanti lilin itu disulut kembali, tampak seseorang terjerembab jatuh di luar
pintu, orang itu tak lain adalah Ku Han-lim.
Padahal api lilin hanya padam sejenak, namun perubahan yang terjadi dalam ruangan itu luar
biasa besarnya.
Kini lilin sudah berada dalam genggaman pemuda pelajar itu, dia masih tetap berdiri angkuh dan
santai, seolah semua kejadian yang berlangsung di hadapannya sama sekali tak ada sangkut-paut
dengan dirinya.
Namun di atas lantai telah bertambah dengan beberapa sosok tubuh, orang-orang itu hampir
semuanya roboh terpakar di lantai.
Ku Han-lim, Ting Siu-hok, Li Tan, Li Ciau-hong, Ho Tong beserta seluruh orang yang dibawanya,
kini sudah terkapar semua di tanah. Kalau ingin dibilang ada perbedaan di antara mereka, maka
perbedaan itu terletak pada dua bersaudara Li.
Li Tan dan Li Ciau-hong hanya tertotok jalan darahnya, sementara kawanan jago yang lain telah
kehilangan nyawa secara mengenaskan dalam kegelapan tadi.
Ho Tong telah tewas, dia tewas terhajar sepasang kepalan baja milik Tio Thiat-leng.
Rupanya di saat Ho Tong sedang memusatkan seluruh per-hatiannya untuk menghadapi Un Ji
tadi, rekan perjuangannya, Tio Thiat-leng justru memanfaatkan kesempatan itu untuk menghabisi
nyawanya.
Di saat Ho Tong roboh terjungkal ke tanah dan api lilin mendadak padam itulah, pemuda pelajar
itu dengan gerakan tubuh yang luar biasa cepatnya menotok jalan darah Ku Han-lim, Ting Siu-hok
serta dua belas orang jago lainnya.
__ADS_1
Di antara sekian jago, Ku Han-lim berusaha melarikan diri dengan membuka pintu kamar, tadi
tengkuknya segera tersodok telak hingga roboh terkulai, sementara Ting Siu-hok berusaha kabur
dengan menerobos jendela, tapi punggungnya ikut ter-sodok telak hingga separoh badannya
terkulai lemas di atas daun jendela.
Kelompok yang semula memegang kendali akhirnya roboh terkapar secara mengenaskan,
sebaliknya orang yang sama sekali tak terduga justru kini menguasai keadaan, bahkan yang lebih
mengenaskan adalah pihak yang semula pegang kendali, kini justru tak sanggup berdiri tegak,
malah banyak di antaranya yang harus kehilangan nyawa.
Memang begitulah dunia persilatan, seringkali menang kalah ditentukan hanya dalam sedetik.
Ong Siau-sik yang berada di kegelapan hanya sempat mendengar deru angin yang menyambar
lewat, disusul suara manusia yang roboh ke lantai, menanti cahaya lilin bersinar kembali, ia lihat
pemuda pelajar itu masih berdiri santai seolah belum pernah melakukan serangan.
Tapi Ong Siau-sik tahu, bukan saja dia telah turun tangan bahkan kepandaian silatnya sangat
tangguh, justru dialah meru-pakan tokoh yang paling hebat di situ.
Begitu ia mendengar pelajar itu berseru “bagus”, maka sesuai dengan bisikan yang diterimanya
orang yang berada paling dekat dengan posisinya.
Satu-satunya yang tidak dia lakukan adalah melakukan pembunuhan, karena itu dia hanya
menotok jalan darah dua bersaudara Li hingga tak mampu bergerak.
Kendatipun ia telah merobohkan dua orang lawan, hingga kini dia sendiri pun tidak tahu secara
jelas kenapa Tio Thiat-leng tiba-tiba membunuh Ho Tong? Siapa pula pemuda pelajar itu? Apa
hubungannya dengan si nona Un Ji yang muncul seolah turun dari langit?
Sementara dia masih termenung, Tio Thiat-leng sudah menepuk tangan seakan sedang
membersihkan noda darah dari telapak tangannya, kemudian dengan sorot mata yang tajam dia
menyapu pandang sekejap sekeliling tempat itu.
Setelah yakin situasi telah teratasi, dengan nada puas ia baru berkata kepada pemuda pelajar itu,
“Akhirnya semua telah beres.”
“Ya, semua telah beres!” sahut pelajar itu tertawa.
“Siapa dia?” tanya Tio Thiat-leng lagi sambil menunjuk ke arah Ong Siau-sik, menuding dengan
__ADS_1
jari tangan yang kaku, persis seperti tangan boneka kayu.
“Hingga sekarang aku pun belum tahu, tapi sebentar kita bakal tahu,” sahut pelajar itu sambil
tersenyum.
“Ehm, kelihatannya dia sangat berguna,” seru Tio Thiat-leng dengan pandangan kagum.
“Orang yang berguna biasanya paling enggan digunakan orang lain.”
“Kalau orang berguna tak bisa digunakan, sama artinya dia tak berguna.”
“Kalau belum perlu, janganlah digunakan, bila sudah perlu, gunakanlah!”
“Sungguh menyesal saudara Pek,” ujar Tio Thiat-leng kemudian, “selama ini aku hanya bisa
menggunakan orang yang berbakat macam kau untuk keperluan kecil, benar-benar menyianyiakan
kemampuanmu.”
“Tapi hari ini, aku toh melakukannya demi uang seratus tahil perak,” sela pelajar itu sambil
tertawa lebar.
“Jangan kuatir saudara Pek, aku akan menambah lima bagian untukmu,” seru Tio Thiat-leng
sambil merogoh sakunya.
Pemuda pelajar itu menerima tiga lembar uang kertas, setelah diperiksa di bawah cahaya lilin, dia
masukkan uang itu kedalam saku sambil serunya, “terima kasih banyak!”
Tiba-tiba terdengar un-ji membentak nyaring, “He, siapa kalian? Mau apa kemari? Sebenarnya apa
yang telah terjadi?”
Gadis ini menjadi sewot karena semua yang hadir seakan tidak memperhatikan Tio Thiat-leng dan
Ong Siau-sik, namun semua bersikap begitu acuh, seakan tidak menganggap kehadirannya disitu.
Lama-kelamaan dia menjadi jengkel hingga akhirnya mengumbar amarah.
Tio Thiat-leng dan pelajar itu saling bertukar pandang sekejap, kemudian bersama mendongakkan
kepala dan tertawa terbahak-bahak.
Lain halnya dengan Ong Siau-sik, apa yang barusan ditanyakan Un-ji justru merupakan persoalan
yang ingin dia ketahui.
Siapa mereka?
Sebenarnya apa yang telah terjadi?
Siapa pula perempuan ini?
__ADS_1
Mau apa dia datang kesitu?