Pendekar Golok

Pendekar Golok
Episode 11


__ADS_3

Sementara Un Ji terperanjat, tiba-tiba pukulan itu menyam-bar lewat dari sisi telinganya, kepalan


kiri langsung menghan-tam wajah Ho Tong sedang kepalan kanan menghajar dadanya.


Tak ampun wajah Ho Tong terhajar hingga retak, darah segar segera menyembur keluar dari


mulutnya.


Un Ji menjerit ngeri, dia merasa kakinya lemas saking kagetnya, apalagi menyaksikan tulang


wajah orang retak persis di hadapannya.


Sungguh dahsyat tenaga pukulan itu, saking kerasnya deru angin serangan itu membuat api lilin


padam seketika. Menanti lilin itu disulut kembali, tampak seseorang terjerembab jatuh di luar


pintu, orang itu tak lain adalah Ku Han-lim.


Padahal api lilin hanya padam sejenak, namun perubahan yang terjadi dalam ruangan itu luar


biasa besarnya.


Kini lilin sudah berada dalam genggaman pemuda pelajar itu, dia masih tetap berdiri angkuh dan


santai, seolah semua kejadian yang berlangsung di hadapannya sama sekali tak ada sangkut-paut


dengan dirinya.


Namun di atas lantai telah bertambah dengan beberapa sosok tubuh, orang-orang itu hampir


semuanya roboh terpakar di lantai.


Ku Han-lim, Ting Siu-hok, Li Tan, Li Ciau-hong, Ho Tong beserta seluruh orang yang dibawanya,


kini sudah terkapar semua di tanah. Kalau ingin dibilang ada perbedaan di antara mereka, maka


perbedaan itu terletak pada dua bersaudara Li.


Li Tan dan Li Ciau-hong hanya tertotok jalan darahnya, sementara kawanan jago yang lain telah


kehilangan nyawa secara mengenaskan dalam kegelapan tadi.


Ho Tong telah tewas, dia tewas terhajar sepasang kepalan baja milik Tio Thiat-leng.


Rupanya di saat Ho Tong sedang memusatkan seluruh per-hatiannya untuk menghadapi Un Ji


tadi, rekan perjuangannya, Tio Thiat-leng justru memanfaatkan kesempatan itu untuk menghabisi


nyawanya.


Di saat Ho Tong roboh terjungkal ke tanah dan api lilin mendadak padam itulah, pemuda pelajar


itu dengan gerakan tubuh yang luar biasa cepatnya menotok jalan darah Ku Han-lim, Ting Siu-hok


serta dua belas orang jago lainnya.

__ADS_1


Di antara sekian jago, Ku Han-lim berusaha melarikan diri dengan membuka pintu kamar, tadi


tengkuknya segera tersodok telak hingga roboh terkulai, sementara Ting Siu-hok berusaha kabur


dengan menerobos jendela, tapi punggungnya ikut ter-sodok telak hingga separoh badannya


terkulai lemas di atas daun jendela.


Kelompok yang semula memegang kendali akhirnya roboh terkapar secara mengenaskan,


sebaliknya orang yang sama sekali tak terduga justru kini menguasai keadaan, bahkan yang lebih


mengenaskan adalah pihak yang semula pegang kendali, kini justru tak sanggup berdiri tegak,


malah banyak di antaranya yang harus kehilangan nyawa.


Memang begitulah dunia persilatan, seringkali menang kalah ditentukan hanya dalam sedetik.


Ong Siau-sik yang berada di kegelapan hanya sempat mendengar deru angin yang menyambar


lewat, disusul suara manusia yang roboh ke lantai, menanti cahaya lilin bersinar kembali, ia lihat


pemuda pelajar itu masih berdiri santai seolah belum pernah melakukan serangan.


Tapi Ong Siau-sik tahu, bukan saja dia telah turun tangan bahkan kepandaian silatnya sangat


tangguh, justru dialah meru-pakan tokoh yang paling hebat di situ.


Begitu ia mendengar pelajar itu berseru “bagus”, maka sesuai dengan bisikan yang diterimanya


orang yang berada paling dekat dengan posisinya.


Satu-satunya yang tidak dia lakukan adalah melakukan pembunuhan, karena itu dia hanya


menotok jalan darah dua bersaudara Li hingga tak mampu bergerak.


Kendatipun ia telah merobohkan dua orang lawan, hingga kini dia sendiri pun tidak tahu secara


jelas kenapa Tio Thiat-leng tiba-tiba membunuh Ho Tong? Siapa pula pemuda pelajar itu? Apa


hubungannya dengan si nona Un Ji yang muncul seolah turun dari langit?


Sementara dia masih termenung, Tio Thiat-leng sudah menepuk tangan seakan sedang


membersihkan noda darah dari telapak tangannya, kemudian dengan sorot mata yang tajam dia


menyapu pandang sekejap sekeliling tempat itu.


Setelah yakin situasi telah teratasi, dengan nada puas ia baru berkata kepada pemuda pelajar itu,


“Akhirnya semua telah beres.”


“Ya, semua telah beres!” sahut pelajar itu tertawa.


“Siapa dia?” tanya Tio Thiat-leng lagi sambil menunjuk ke arah Ong Siau-sik, menuding dengan

__ADS_1


jari tangan yang kaku, persis seperti tangan boneka kayu.


“Hingga sekarang aku pun belum tahu, tapi sebentar kita bakal tahu,” sahut pelajar itu sambil


tersenyum.


“Ehm, kelihatannya dia sangat berguna,” seru Tio Thiat-leng dengan pandangan kagum.


“Orang yang berguna biasanya paling enggan digunakan orang lain.”


“Kalau orang berguna tak bisa digunakan, sama artinya dia tak berguna.”


“Kalau belum perlu, janganlah digunakan, bila sudah perlu, gunakanlah!”


“Sungguh menyesal saudara Pek,” ujar Tio Thiat-leng kemudian, “selama ini aku hanya bisa


menggunakan orang yang berbakat macam kau untuk keperluan kecil, benar-benar menyianyiakan


kemampuanmu.”


“Tapi hari ini, aku toh melakukannya demi uang seratus tahil perak,” sela pelajar itu sambil


tertawa lebar.


“Jangan kuatir saudara Pek, aku akan menambah lima bagian untukmu,” seru Tio Thiat-leng


sambil merogoh sakunya.


Pemuda pelajar itu menerima tiga lembar uang kertas, setelah diperiksa di bawah cahaya lilin, dia


masukkan uang itu kedalam saku sambil serunya, “terima kasih banyak!”


Tiba-tiba terdengar un-ji membentak nyaring, “He, siapa kalian? Mau apa kemari? Sebenarnya apa


yang telah terjadi?”


Gadis ini menjadi sewot karena semua yang hadir seakan tidak memperhatikan Tio Thiat-leng dan


Ong Siau-sik, namun semua bersikap begitu acuh, seakan tidak menganggap kehadirannya disitu.


Lama-kelamaan dia menjadi jengkel hingga akhirnya mengumbar amarah.


Tio Thiat-leng dan pelajar itu saling bertukar pandang sekejap, kemudian bersama mendongakkan


kepala dan tertawa terbahak-bahak.


Lain halnya dengan Ong Siau-sik, apa yang barusan ditanyakan Un-ji justru merupakan persoalan


yang ingin dia ketahui.


Siapa mereka?


Sebenarnya apa yang telah terjadi?


Siapa pula perempuan ini?

__ADS_1


Mau apa dia datang kesitu?


__ADS_2