Pendekar Sampah

Pendekar Sampah
Masalalu Yu Zhen 4 (end)


__ADS_3

Sampai selama setengah hari Yu Zhen pingsan, dia baru terbangun dengan kepala yang sedikit terasa berat.


"Ukh, kepala ku", Yu Zhen memegang kepala nya sambil meringis sakit. lalu dia memegang bahu nya yang kini anak jarum milik Chu Bei sudah tak ada lagi disana.


"Racun di dalam tubuhku sudah mulai menghilang, apa orang tua tadi yang membantuku?", Yu Zhen merenung sejenak dalam kebingungan, kemudian dia melihat sekeliling merasa asing dengan tempat keberadaan nya saat ini, "Dimana aku?".


Yu Zhen celingak-celinguk melihat kesana sini dengan termangu-termangu, ketika Yu Zhen sedang melihat-lihat ke sekeliling dia mendengar ada suara anak kecil yang sedang berlatih diluar.


"Hiyaa! shaa!".


Setelah mendengar suara teriakan bocah kecil berlatih yang berasal dari luar, Yu Zhen bangun dari tempat istirahat nya dengan kepala masih agak terasa pusing dengan maksud ingin melihat apa yang terjadi diluar.


Ketika Yu Zhen sudah berdiri diluar dia melihat sebuah kediaman yang begitu terasa nyaman dan tentram dengan seorang anak kecil yang giat berlatih keras mengayunkan pedang nya.


Yu Zhen memperhatikan setiap gerakan bocah kecil itu dari kejauhan, bocah itu yang tak lain adalah Qing Yuan ketika dia masih di umur 7 tahun.


Saat Qing Yuan mengeluarkan sebuah tebasan dari pedang kayu nya, hal itu membuat Yu Zhen seketika melebarkan mata nya akan tak percaya dengan sesuatu yang dia lihat, "Bocah itu?".


"Kau juga merasakan nya bukan?", ucap Tetua Yan yang menghampiri Yu Zhen sambil membawa sebuah mangkuk kecil berisi air obat herbal.


Yu Zhen menoleh sedikit terkejut dengan kemunculan tiba-tiba Tetua Yan, "Anda!".


"Minum lah ini biar tubuh mu tidak lemah. jangan khawatir itu adalah air rebusan daun herbal", Tetua Yan menyela perkataan Yu Zhen sebelum dia menghabiskan ucapan nya.


Secara ragu-ragu Yu Zhen menatap ke arah air itu, namun tanpa harus berpikir lebih lanjut dia langsung meminum nya dengan mata terpejam kasar pertanda air itu sedikit terasa pahit.


Saat sedang Yu Zhen tengah meminum air herbal itu, Tetua Yan meneruskan ucapan nya memberitahu akan tentang Qing Yuan kepada Yu Zhen


"Dia hanya anak kecil sebatang kara namanya Qing Yuan. aku menemui nya di jalanan dalam keadaan kelaparan saat usia nya masih 3 tahun. hatiku sangat sakit ketika melihat anak sekecil itu kelaparan dan kedinginan di jalanan tanpa ada yang mengasihani atau memberinya makan, jadi aku membawa nya pulang ke sekte Qingyun", Tetua Yan menjelaskan nya secara tersenyum pahit mengandung makna sedih.


Lalu Tetua Yan masih melanjutkan penjelasan nya, "Dia mempunyai bakat luar biasa sayang nya dia memiliki dantian cacat, walaupun dantian nya cacat entah mengapa aku selalu merasa ada sesuatu hal yang luar biasa dari nya setiap kali Qing Yuan berlatih mengayun pedang".


Mendengar penjelasan dari Tetua Yan seketika membuat Yu Zhen jadi bergumam dalam hati nya, "Ternyata bocah itu memiliki dantian cacat. tapi kenapa walaupun dantian nya cacat dia bisa membuat tebasan sehebat itu?". Yu Zhen berpikir sejenak tentang Qing Yuan.


Setelah meminum itu, Yu Zhen menghadap ke arah Tetua Yan dengan kepala tertunduk melupakan akan hal tentang Qing Yuan sambil berucap rasa terimakasih kepadanya, "Terimakasih karena sudah menolong ku".


Tetua Yan tersenyum, dia menepuk pundak Yu Zhen sambil menjawab, "Sudah lah aku hanya sekedar lewat dan tak sengaja melihat mu sedang diserang oleh sekte aliran darah iblis bersama keluarga pembunuh Chu".


Sejenak Yu Zhen termangu menatap ke arah Tetua Yan, entah kenapa Yu Zhen merasa kalau dia sangat nyaman merasa aman berada di dekat Tetua Yan yang seperti punya kepribadian lembut.

__ADS_1


Kemudian Yu Zhen lanjut bertanya, "Boleh kah Tetua memberi tahu nama Tetua padaku?".


"Panggil saja aku Tetua Yan". jawab Tetua Yan sambil mengelus-elus jenggot nya putih nya.


"Baiklah Tetua Yan mengapa tadi dengan mudah nya Tetua menghancurkan cincin berharga yang di incar seluruh dunia?".


Pertanyaan yang diberikan Yu Zhen membuat Tetua Yan tersenyum halus sambil memejamkan mata, dia berjalan secara perlahan ke depan kemudian kembali berhenti lalu memberi jawaban, "Itu hanyalah rumor kalau jiwa sang kaisar surgawi kuno ada didalam cincin itu".


Tetua Yan berhenti menjawab sekejap menatap ke arah langit, setelah itu dia berpaling menoleh ke arah Yu Zhen dan berkata, "Jika pun itu benar bukan kah sebaik nya itu dihancurkan daripada menjadi saling menyerang demi bisa merebut dan memiliki cincin itu?".


Yu Zhen terpaku dengan jawaban dari Tetua Yan, dia hanya bisa terdiam tak bisa mengelak akan kebenaran dari perkataan Tetua Yan.


Keheningan berlangsung terjadi hanya terdengar suara Qing Yuan yang terus-menerus berlatih.


Saat keheningan itu terjadi Yu Zhen melirik ke arah Liontin giok merah berbentuk simbol bulan sabit yang bergelantungan di pinggang Tetua Yan.


Karena rasa keingintahuan nya akan tentang simbol itu, Yu Zhen bertanya, "Simbol apa itu?". tanya Yu Zhen dengan penasaran.


Tetua Yan melirik ke arah simbol itu setelah Yu Zhen bertanya kepada nya, kemudian Tetua Yan menjawab, "Oh ini adalah simbol bulan sabit. arti simbol bulan sabit ini adalah kedamaian yang akan datang".


Yu Zhen seketika menatap sedalam-dalamnya simbol bulan sabit itu setelah mengetahui arti nya.


Namun Yu Zhen hanya penasaran dalam sesaat. sekarang dia kembali memberi hormat kepada Tetua Yan seraya berkata, "Tetua sudah menyelamatkan nyawaku, aku sekarang berhutang budi padamu, jadi tolong Tetua Yan memberitahu bagaimana cara nya agar aku bisa membalas kebaikan dari Tetua Yan". Yu Zhen mengatakan nya sambil menunduk dengan menelangkupkan tangan.


Bayangan masalalu Yu Zhen bersama Tetua Yan sudah terlintas. sekarang kembali pada saat masa ini percakapan nya dengan Qing Yuan.


"Berhutang budi sama guru ku? apa maksud anda?", tanya Qing Yuan dengan heran.


Yu Zhen kembali berbalik setelah mengingat masalalu nya, dia menjawab pertanyaan Qing Yuan secara santai mencoba menghindar, "Tidak, lupakan. hanya disini saja yang ingin kusampaikan padamu".


Di waktu Yu Zhen hendak ingin pergi dia menatap ke arah bunga giok api merah, yang mana bunga-bunga itu menumpuk dengan banyak hingga menghalangi pandangan Xiao Yu.


"Bunga-bunga giok api merah itu apa milik kalian?".


"Iya, itu milik kami", jawab Qing Yuan.


Tiba-tiba Yu Zhen tersenyum-senyum lebar setelah mengetahui bahwa bunga-bunga itu milik mereka.


"Bagaimana jika aku membeli semua bunga-bunga itu dengan harga tiga ribu koin perak dan dua ratus koin emas?".

__ADS_1


Qing Yuan dan Xiao Yu terkejut dengan mata melebar akan harga yang di tawakan oleh Yu Zhen. Qing Yuan melirik ke arah Xiao Yu ingin meminta pendapat dari nya, "Xiao Yu bagaimana?".


Xiao Yu hanya terdiam menatap Qing Yuan seolah-olah tak peduli akan tawar menawar harga bunga-bunga itu padahal asli nya dia sangat setuju atas tawaran Yu Zhen.


Karena Qing Yuan juga bingung dengan sikap Xiao Yu, Qing Yuan menolak tawaran dari Yu Zhen, "Ah maaf kan kami guru Yu Zhen kami tidak bisa menjual nya".


Sontak Xiao Yu terkaget akan ucapan dari Qing Yuan, "Bocah bodoh!", Xiao Yu mengatai Qing Yuan dalam hatinya dengan kesal.


Dan Yu Zhen pun juga ikut bingung dengan Qing Yuan yang menolak tawaran bagus dari nya, "Baiklah kalau begitu..


"Kami akan menjual nya, jangan pedulikan dia, dia tidak tahu cara menghitung uang", Xiao Yu langsung maju kedepan menyela ucapan Yu Zhen.


"Aku tidak tahu cara menghitung uang?", Qing Yuan bertanya sambil menunjuk diri sendiri dengan bingung.


"Diam!", Xiao Yu yang langsung menyaut nya dengan kesal.


Yu Zhen hanya tertawa-tawa kecil melihat tingkah mereka berdua.


"Baiklah-baiklah maafkan aku, kalau begitu sisain sedikit bunga-bunga giok api merah itu yang lain jual saja".


Kemudian Xiao Yu langsung memberikan bunga-bunga giok api merah itu kepada Yu Zhen. saat Xiao Yu memberi bunga-bunga itu kepadanya Yu Zhen jadi bergumam, "Aku merasa ada aura aneh di tubuh nya". batin Yu Zhen dalam hati sambil menatap tajam ke arah Xiao Yu.


Namun, Yu Zhen melupakannya mungkin itu hanya perasaan nya saja. Yu Zhen melemparkan dua kantung terhadap Xiao Yu setelah mereka memberi bunga-bunga itu yang mana satu kantung berisi tiga ribu koin perak dan satu kantong lagi berisi dua ratus koin emas.


"Baiklah kalau begitu aku pergi dulu".


Yu Zhen terbang dan pergi dari situ.


Begitu juga dengan Xiao Yu dan Qing Yuan mereka mulai kembali pulang ke gubuk pegunungan.


.


.


.


Dilarut malam yang sunyi Qing Yuan menatap serius ke arah tanda pengenal giok Tetua Yan sambil sesekali mengelus giok itu dengan jari jempol nya.


Setelah berpikir matang-matang Qing Yuan mulai berbicara, "Xiao Yu mari besok kita turun gunung pergi dari sini", ucap Qing Yuan secara serius.

__ADS_1


Xiao Yu sontak menoleh ke arah Qing Yuan akan mendengar ucapan nya, kemudian dia menjawab, "Apa? turun gunung? itu tidak akan pernah terjadi, aku tidak akan pernah meninggalkan gubuk ini!".


Bersambung...


__ADS_2