Pengantin Pengganti CEO Culun

Pengantin Pengganti CEO Culun
Part 10


__ADS_3

Ibu dan ayah dari Saddam sudah pun sudah pulang dan saat ini hanyalah tersisa kecanggungan yang luar biasa di mana Saddam belum juga kunjung pergi bekerja. Hal itu menimbulkan rasa penasaran yang luar biasa dari Nadia.


"Kenapa kau belum berangkat?" Saddam yang masih memainkan ponselnya di ruang tamu itu hanya melirik sekilas ke arah Nadia dan setelahnya pria itu tampak acuh tak acuh kepada Nadia.


Nadia yang merasa jika dirinya diabaikan oleh Saddam pun memutuskan untuk pergi karena rasa canggung yang terjadi saat ini benar-benar memisahkan jarak mereka dan juga membuat komunis di antara mereka semakin kurang.


"Kenapa ada pria seperti itu?" tanya Nadia pelan. "Aku benar-benar tak merasakan jika orang itu hidup," ucap Nadia dan menarik napas panjang dan menghembuskannya secara perlahan.


Nadia pun memejamkan matanya dan meninggalkan ruang tamu tersebut. Saddam menatap sebentar ke arah punggung Nadia dan kemudian ia kembali fokus dengan ponselnya. Saat ini ia sedang membaca beberapa berita yang tengah menghebohkan jagat Maya.


Karena dirinya yang tergolong orang yang sangat introvert membuat Saddam sebenarnya sangat merasa terganggu dengan kehadiran Nadia di sini. Tapi apa boleh buat ia harus bisa menerima wanita itu dan membuat wanita tersebut bisa menjadi istri yang baik.


"Kenapa persyaratan dari ibu agar aku bisa memiliki perusahaan sepenuhnya begitu sulit," ucap Saddam yang merasa sangat tak senang dengan syarat pernikahan tersebut.


Jujur saja ia belum terbiasa dengan kehadiran seorang wanita di sisinya. Menurutnya wanita itu sangat merepotkan dirinya dan bahkan sebelumnya ia tak pernah terpikirkan bahwa ia akan memiliki seorang istri. Apalagi istrinya tersebut merupakan wanita yang sangat lucu dan mudah untuk ditindas.


Saddam pun menarik nafas panjang dan lalu kemudian menutup ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku celananya. Ia memanggil pembantu di rumahnya dan membisikkan sesuatu. Tampak pembantu itu mendengarkan dengan seksama dan kemudian menganggukan kepalanya.


Setelah mengatakan hal tersebut Saddam pun pergi dari rumahnya dan masuk ke dalam mobil untuk berangkat ke perusahaan. Kenapa dari tadi ia belum juga pergi karena dirinya tahu bahwa ibunya pasti tak akan membiarkan dirinya pergi ke kantor hari ini. Maka dari itu ia menunda kepergiannya dan menyingkirkan jebakan yang diberikan oleh sang ibu.


Nadia melihat dari atas balkon kepergian Saddam. Semenjak ia menikah dengan Saddam beberapa hal yang berbeda ia rasakan. Jujur saja ia belum merasakan kehangatan keluarga yang begitu kental dan hari ini ia baru merasakannya. Ia pikir sekolah menikah dengan Saddam orang tua dari Sadam dan Saddam tak akan menerimanya dengan mudah. Hal itulah yang terus menakut-nakuti dirinya.

__ADS_1


Entahlah apakah ia harus berterima kasih kepada Kelly karena telah menyerahkan calon suaminya untuk dirinya dan berkat Kelly ia bisa merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. Walaupun hari ini baru permulaan tapi Nadia sudah bersyukur dengan apa yang terjadi di hari ini.


Tok tok tok


Pintu diketuk membuat Nadia langsung bergegas menghampiri bibir pintu dan membukakannya untuk pembantu yang tadi mengetuk pintunya. Nadia tersenyum lebar dan kemudian mempersilahkan Bibi tersebut masuk.


"Tidak apa-apa aku di sini saja. Aku adalah pembantu di rumah ini dan tak pantas masuk ke dalam kamar majikanku." Rasanya sangat aneh dihormati seperti ini. Ini adalah kali pertamanya dihormati oleh pembantunya karena sebelumnya bahkan pembantu yang ada di rumahnya secara terang-terangan menindasnya.


"Kau benar-benar sanga baik. Terima kasih atas kebaikanmu. Semoga kau diberikan kesehatan selalu." Pembantu tersebut tertawa mendengar doa yang dilimpahkan oleh Nadia. Baru kali ini ia menemukan majikan seperti Nadia.


"Tidak usah sungkan nyonya. Sekarang kau adalah istri dari tuan muda, dan sudah seharusnya aku melayani istri tuan mudaku."


"Baiklah bibi. Sekarang ada apa kau datang kemari?"


"Ah iya. Tuan Saddam tadi menyuruh ku agar mengajakmu untuk ke mall berbelanja membeli barang-barang keperluan mu. Dia tak mengerti dengan keperluan wanita jadi kau saja yang membelinya secara langsung."


Nadia menggelengkan kepalanya keras karena menurutnya tak sepantasnya Ia mendapatkan semua itu. Segala hal yang diberikan oleh Saddam mulai dari pakaian yang ada di dalam lemari hingga perabotan yang ada di dalam kamarnya sudah membuat Nadia merasa sangat puas.


"Katakan kepadanya jika aku tak mengharapkan hal tersebut. Apa yang telah Ia berikan lebih dari cukup dan bahkan itu benar-benar luar biasa. Aku tak bisa menerimanya."


Pembantu tersebut sudah mengetahui jika Nadia menolaknya. Saddam sendiri juga bahkan sudah menebaknya sejak awal, maka dari itu ia mengatakan beberapa kalimat berbentuk ancaman agar Nadia mau menurut.

__ADS_1


"Kau adalah seorang istri dari tuan muda, apakah kau ingin membuat malu tuan muda? Kau ingin media mengatakan bahwa dia tak mengurus istrinya? Kau benar-benar sadis Nadia, terimalah, ini demi kebaikan Tuan Muda."


Nadia menarik napas panjang dan ia menundukkan kepalanya. Benar, tak mungkin Saddam melakukan hal tersebut untuk dirinya, memangnya siapa dia? Pasti segala kebaikan yang diberikan oleh Saddam tujuannya adalah untuk laki-laki itu sendiri.


"Baiklah, jika begitu aku akan siap-siap pergi ke Mall."


"Baik nyonya."


Setelah pembantu tersebut menutup pintu, Nadia langsung termenung. Kehidupannya berubah drastis setelah ia menikah dengan Saddam. Segala hal yang tak mungkin ia dapatkan hari ini benar-benar diraihnya. Nadia yang tak terbiasa dengan barang-barang seperti itu merasa canggung ketika Saddam menawarkan.


"Ayolah Nadia, dia melakukan semua itu bukan untukmu tapi untuk dia. Kau tak perlu merasa tidak enak," bisik dia kepada dirinya sendiri.


Setelah berhasil meyakinkan perasaannya, Nadia pun masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Ingat saat ini ia adalah istri Saddam dan ia harus berpenampilan menarik agar tak membuat malu seorang Saddam yang memiliki status sangat tinggi dan tak akan mungkin sepadan dengan dirinya.


Sampai sekarang Nadia tak mengerti kenapa Kelly menolak perjodohan itu. Padahal Saddam benar-benar tampan, dan ia yakin laki-laki tersebut juga merupakan suami idaman. Atau mungkin karena Kelly melihat Saddam sebagai pria yang culun?


________


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA

__ADS_1


__ADS_2