
Saddam menatap ke arah Nadia yang tertidur di sofa. Tentu saja Nadia tak tahu harus melakukan apa di ruangan yang sebesar ini hingga tanpa sadar dirinya tertidur di sofa ruangan Saddam. Saddam juga tak peduli dengan kehadiran wanita itu dan ia hanya fokus dengan aktivitasnya masing-masing. Tanpa ia ingin melakukan apapun kepada wanita tersebut. Bahkan permintaan dari sang ibu agar ia membawa Nadia memperkenalkan setiap sudut perusahaannya bahkan tak dilakukan olehnya.
Hari sudah malam, meninggalkan Nadia sendiri di sini tentu saja akan menjadi tindakan yang sangat kejam. Ia tak akan sejahat itu kepada Nadia dan ia masih memiliki hati nurani walaupun dirinya terkenal sangat kejam.
"Nadia!"
Nadia tak membuka matanya sama sekali. Dari wajahnya terlihat jika wanita itu sangat kelelahan. Mungkin ini baru pertama kalinya ia bisa tidur dengan nyenyak. Sebelumnya saya selalu dihantui oleh teriakan dari keluarganya yang terus menyuruhnya melakukan pekerjaan yang tak manusiawi.
Melihat betapa nyamannya Nadia tertidur membuat salana merasa sangat tidak tega. Ia pun pada akhirnya memutuskan untuk mengangkat tubuh Nadia dan membawanya ke dalam mobil. Ia pun meletakkan Nadia di sampingnya dan memasangkan sabuk pengaman kepada wanita itu.
"Nadia! Kau harus menjadi wanita yang kuat. Jangan mudah ditindas lagi. Menjadi istri ku itu artinya kau harus menjadi wanita yang kuat," gumam Saddam dan kemudian menjalankan mobilnya.
__ADS_1
Tak menunggu waktu yang cukup lama, mereka pun pada akhirnya sudah sampai di rumah. Saddam menghela napas panjang dan menatap ke arah Nadia yang masih tetap tertidur. Lagi-lagi setiap kali melihat wajah polos Nadia ia merasa sangat tak tega dengan perempuan tersebut.
Saddam pun turun dari dalam mobil dan lalu mengangkat tubuh Nadia dan membawanya ke dalam rumah. Di pertengahan, Nadia pun membuka mata dan mengerjapkannya beberapa kali. Ia merasa jika tubuhnya saat ini tengah melayang. Karena merasa sangat heran, Nadia pun menatap ke arah Saddam yang tengah menggendongnya dan wanita itu langsung bungkam tak dapat berbicara melihat Saddam dari dekat.
"Saddam! Turunkan aku. Aku bisa sendiri."
"Hm," ucap Saddam dan melepaskan Nadia begitu saja hingga membuat wanita itu terjatuh.
"Kau tak tahu jika ini sangat sakit."
"Aku tidak peduli." Saking tak memiliki hati nurani, Saddam bahkan melangkahi Nadia begitu saja dan kemudian masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Bahkan Nadia sangat bingung dengan laki-laki tersebut kenapa bisa memiliki sifat seperti itu, sama sekali bukan cerminan yang sangat baik. Nadia menghilang nafas panjang dan lalu kemudian berusaha untuk bangkit dan masuk ke dalam kamarnya yang tak jauh dari kamar Saddam.
"Kenapa aku harus satu rumah dengan pria seperti itu? Kenapa aku bisa menikah dengannya, selain dia sangat kejam, aku juga merasa jika dia benar-benar tidak sepadan dengan ku yang hanya seorang manusia rendahan."
Nadia pun menarik napas panjang dan lalu kemudian mengusap wajahnya putus asa. Air mata yang sedari dulu ditahan akhirnya keluar begitu saja, ia memandang ke seisi rumah ini dan masih tak menyangka dirinya sekarang sudah bebas dari keluarga ayahnya.
_______
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA
__ADS_1