Pengantin Pengganti CEO Culun

Pengantin Pengganti CEO Culun
Part 27


__ADS_3

Nadia benar-benar demam dan tak bisa melakukan interview ke perusahaan Saddam. Ia terpaksa dirawat di rumah karena Nadia yang demam tinggi.


Wanita itu mengalami demam setelah ia memiliki banyak pikiran dan terus saja membayangkan ucapan Saddam. Bisa-bisanya Saddam akan tidur dengan dirinya yang tak memiliki keistimewaan apapun. Nadia hanya bisa menggelengkan kepalanya tak percaya tapi ia berusaha untuk menenangkan diri dan pada akhirnya karena juga lama berendam di air tadi malam membuatnya sakit keesokannya.


Saddam pun tak menyangka jika Nadia akan sakit. Ia berusaha untuk merawat Nadia sebelum pergi. Perhatian kecil yang datang dari Saddam itu membuat Nadia merasa sangat terpaku. Saddam benar-benar luar biasa dan mau mengurus dirinya. Padahal baru pertama kali ini ia diperhatikan oleh seseorang.


Biasanya Jika ia sakit iya akan tetap dimaki dan melakukan pekerjaan berat. Namun Saat memasuki rumah Saddam ia seolah-olah mendapatkan kebahagiaan sesungguhnya dan juga kenyamanan di sini. Bolehkah ia merasa tidak rela jika dirinya suatu hari nanti harus pergi dari rumah ini. Padahal Ia ingin melakukan banyak hal lagi di tempat ini.


"Kenapa kau tak pergi ke perusahaan? Bukankah kau banyak pekerjaan dan kau harus mengerjakan pekerjaanmu itu. Pergilah aku bisa merawat diriku sendiri di sini."


Saddam meletakkan makanan yang ia bawa dan lalu kemudian meninggalkan ruangan itu. Melihat punggung pria itu entah kenapa Nadia merasa sangat gugup sebab punggung laki-laki itu sangatlah tegap membuat dirinya hanya bisa meneguk ludah.


"Dia benar-benar sangat tampan. Aku tak percaya menikahi dirinya. Apakah aku termasuk orang yang sangat beruntung di sini?"


Nadia tanpa sadar mengangkat senyumnya. Ia sangat bahagia dan tentunya degupan jantungnya selalu berpacu jika ia dekat dengan pria tersebut. Nadia menyentuh dadanya dan ia hanya bisa merintih karena Nadia sudah sangat yakin memiliki perasaan kepada Saddam.


Ia tak bisa membayangkan bagaimana nanti jadinya pria itu memperlakukannya ke depan. Apakah mereka akan bercerai?


Nadia menghela napas panjang dan kemudian memejamkan matanya. Ia tak ingin memikirkan hal tersebut sekarang karena Nadia tak sanggup dengan perpisahan yang sudah mengancamnya.


Sedangkan di ruangan kerja yang tak jauh dari kamar Nadia, Saddam tengah mengerjakan pekerjaan kantor dari rumah. Ia tak bisa meninggalkan rumah dengan Nadia yang dalam keadaan sehat. Ia harus merawat wanita itu hingga sembuh.


Saddam menatap ke arah jam tangannya yang mana jam siang telah tiba. Saddam pun menutup laptopnya dan kemudian beranjak meninggalkan ruangan pekerjaannya. Laki-laki itu menatap ke arah kamar Nadia dan langsung membuka pintunya.

__ADS_1


Senyum tipis terangkat ketika melihat wanita itu yang tertidur. Melihat wajah polos Nadia yang sangat tenang membuat Saddam menelan ludahnya.


Nadia benar-benar sangat cantik. Kenapa ia bisa seperti ini dan bahkan sampai memuji Nadia. Apakah ia telah jatuh cinta? Oh Tuhan kenapa ini benar-benar sangatlah aneh. Tak mungkin dirinya jatuh cinta kepada wanita itu dan apalagi ia mengetahui dengan jelas bahwa hatinya tak semudah itu ditaklukkan.


Saddam tak percaya jika ia telah memuji Nadia. Tapi tak bisa dibantah reaksi spontan itulah reaksi yang paling jujur dan tak dapat direkayasa olehnya.


Saddam terlalu fokus melamun hingga tak menyadari bahwa Nadia tengah memperhatikannya.


"Saddam?"


"Hah?" Saddam terkejut dan menatap ke arah Nadia seperti sedang melihat hantu. Keringat dingin keluar dari tubuhnya kardja telah tertangkap basah.


________


Saddam meletakkan punggung tangannya ke kening Nadia. Nadia hanya bisa menatap ke arah pria itu dengan tatapan gugup. Mereka benar-benar sangat deka dan tangan Saddam terasa kasar dan juga dipenuhi dengan urat-urat yang membuat dirinya hanya bisa menelan ludah.


"Aku baik-baik saja," ucap Nadia sembari menjauhkan tangan Saddam dari keningnya. Tampak wanita itu sengaja melakukannya agar ia bisa terlepas dari rasa gugup yang terus menggerogoti jiwanya.


Saddam menghilangkan nafas panjang dan lalu kemudian menatap ke arah wanita tersebut dengan tatapan tajam yang tak bisa diartikan oleh Nadia. Lalu kemudian ia pun membuka tablet obat untuk Nadia dan lalu kemudian menyuruh wanita itu membuka mulutnya agar ia bisa menyuapi Nadia.


Nadia laki-laki menolak dan mengatakan jika ia bisa meminum obat itu sendiri. Memang Nadia tak terlalu parah, akan tetapi entah kenapa Saddam benar-benar protektif kepada dirinya.


"Aku baik-baik saja, aku bisa meminumnya sendiri."

__ADS_1


Tanaman menyerahkan obat itu dan memperhatikanlah Nadia meminumnya. Ia pun mengganggu kan kepala dan kemudian menyerahkan satu piring nasi untuk Nadia. Laki-laki tersebut seolah-olah dengan menyuruh Nadia juga ia makan sendiri.


"Makanlah, supaya kau tak sakit lagi dan tak menyusahkanku."


Nadia langsung merebut piring tersebut dari tangan Saddam. Ia makan dengan lahap dan terburu-buru, tampaknya wanita itu benar-benar merasa cukup gugup sehingga tidak bisa makan dengan tenang.


Sadam hanya memperhatikan Nadia dengan seksama dan lalu kemudian tertawa dalam hati melihat dia yang begitu menggemaskan. Nadia yang melihat reaksi laki-laki tersebut merasa bingung dan mengerutkan alisnya. Ia tak mengerti kenapa Saddam seperti itu, apakah laki-laki tersebut dengan menertawakan dirinya?


Nadia menutup wajahnya dengan perasaan yang sangat malu. Kenapa bisa-bisanya dirinya berada di situasi yang ganting seperti ini. Nadia menarik napas dan berusaha tenang.


"Apa yang sedang kau tertawakan?"


Saddam yang masih tertawa dalam hati itu terkejut mendengar teguran dari Nadia. Tiba-tiba iya langsung bungkem dan menggelengkan kepalanya berusaha meyakinkan Nadia bahwa dirinya tidak melakukan apapun.


"Aku tidak sedang menertawakan dirimu, hanya kau saja yang terlalu berlebihan. Kau benar-benar sangat aneh."


Dikatakan seperti itu membuat Nadia langsung menciut dan tak bisa menahan malunya yang sangat luar biasa. Apakah ia melakukan sesuatu untuk menghilang dari bumi ini? Nadia benar-benar tak sanggup lagi dengan posisinya yang sekarang. Laki-laki tersebut benar-benar telah memporak-porandakan perasaannya.


"Maafkan aku telah menuduh mu."


Mendengar permintaan maaf tersebut membuat Saddam merasa sangat bersalah kepada Nadia.


__________

__ADS_1


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA DAN KOMEN.


__ADS_2