Pengantin Pengganti CEO Culun

Pengantin Pengganti CEO Culun
Part 22


__ADS_3

Pertemuannya dengan Kelly tadi terus menghantuinya. Nadia berusaha agar bisa tenang dan tak memikirkan masalah itu terlebih dahulu. Tapi entah kenapa semakin ia berusaha untuk melupakan pertemuan tersebut maka semakin lagi ia mengingat setiap kata-kata yang keluar dari mulut Kelly.


Nadia menggulung bibirnya dan lalu kemudian menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia benar-benar juga tak memiliki arah saat ini. Nadia pun berpikir sejenak bahwa memaksa Saddam bukan sesuatu yang salah dan juga merupakan tindakan kriminal. Jadi berapa ia merasa takut untuk menjalankan misinya tersebut.


Ya dia tidak takut hanya saja Nadia merasa bingung mulai dari mana ia memaksa Saddam untuk bekerja sama dengan ayahnya. Apalagi Nadia sangat tahu betul bahwasanya Saddam memiliki sifat yang cukup berbeda dan susah untuk diajak berinteraksi. Jadi kemungkinan besar rujukannya untuk Saddam bekerja sama dengan ayahnya tidak akan berhasil.


Nadia pun memikirkan apa yang akan terjadi kepadanya jika ia tak berhasil untuk membujuk Saddam. Nadia terus bertanya-tanya hingga akhirnya ia merasa pusing sendiri dengan pertanyaannya. Wanita itu memejamkan matanya dan lalu kemudian menarik napas panjang agar bisa sedikit lebih tegang lagi.


Nadia hendak keluar kamarnya dan minta sengaja ia berpapasan dengan Saddam yang hendak masuk ke kamarnya. Nadia ia sudahlah tak tahan untuk bertanya pun hanya bisa pasrah dan mencoba mengajak Saddam untuk berinteraksi.


"Saddam!" teriak Nadia yang sukses membuat Saddam berhenti dan kemudian menatap ke arah dirinya dengan tatapan tajam. Nadia menelan ludahnya melihat tatapan itu. Benar-benar sangat tajam dan juga sukar untuk dicairkan.

__ADS_1


Nadia seketika merasa ragu dengan kalimat yang hendak disampaikan olehnya. Entah kenapa ia merasa bahwa tak seberani tadi.


Nadia menyengir tanpa ada rasa bersalah sama sekali. Saddam tengah kebingungan dan tetap menunggu wanita itu untuk berbicara. Namun apa daya Nadia terus bungkam dan sama sekali tidak mengungkapkan apa yang ingin disampaikan olehnya.


"Tidak jadi." Sebuah ucapan yang tidak ada rasa bersalahnya sama sekali.


Saddam pun menggeram marah karena Nadia yang telah merenggut waktunya beberapa menit. Padahal ia bisa manfaatkan waktunya untuk hal-hal yang lebih berguna. Tidak seperti ini dan tidak mengungkapkan apa pun.


"Saddam! Tidak bisa kah kau mencoba untuk bekerja sama dengan ayah ku?"


Saddam berhenti membuka pintu kamarnya dan kembali menutupinya. Secara perlahan ia pun memutar tubuhnya dan melihat ke arah Nadia yang berusaha menahan rasa takutnya mati-matian.

__ADS_1


"Kau sungguh aku ingin bekerja dengan ayah mu? Kenapa? Bukan urusan mu dan dari dulu memang aku tak berniat bekerja sama dengannya," ucap Saddam dan langsung masuk ke dalam kamarnya tanpa ingin mendengar jawaban Nadia.


Nadia hanya menelan ludahnya dengan perasaan yang sedikit sulit. Seperti itu kah Saddam menatap dirinya? Sungguh tak penting. Tapi dipikir-pikir lagi pun sesungguhnya memang ia tak penting dan juga kenapa ia harus diperhatikan laki-laki tersebut.


Nadia pun masuk kembali ke dalam kamarnya. Yang penting ia sudah bisa merasa lega karena telah mengatakannya. Saat ini hanya tergantung kepada Saddam mau mempersulit atau mempermudah hidupnya.


_________


TBC


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA

__ADS_1


__ADS_2