
Pada menarik nafas panjang dan dadanya berdegup kencang karena mengingat kejadian tadi malam. Semalaman ia tak bisa berpikir jernih dan selalu saja dihantu-hantui dengan bayangan, Nadia. Laki-laki tersebut pun kembali bertemu Nadia pagi ini dan ingatan itu kembali lagi hingga membuat dada Saddam terasa sangat sesak.
Ia menundukkan kepalanya dan langsung duduk di meja makan. Perempuan tersebut melayani Saddam dengan cekatan.
"Aku membuatkan makanan kesukaan mu lagi. Kata Bibi kau memakannya tadi malam dengan sangat lahap. Aku sangat senang," ucap Nadia yang terdengar sangat antusias.
Sementara Saddam benar-benar merasa sangat malu dan tak tahu harus meletakkan di mana wajahnya. Ia melirik ke arah sang bibi yang telah membocorkan hal tersebut. Dirinya ingin marah kepada pembantu itu akan tetapi tak ada alasan yang mendasar kenapa ia harus marah.
Saddam hanya menikmati makanan itu dengan setiap suapan yang benar-benar merasa sangat malu dan juga gengsi. Nadia sudah tak sabar ingin mendengar komentar masakannya kali ini. Sebab makanan yang ka buat tadi malam adalah kali pertama dipuji oleh Saddam.
"Bagaimana? Apakah ini enak sama seperti dengan makanan tadi malam?"
Sedang mengangkat kepalanya dan menatap Nadia dengan tatapan penuh intimidasi. Nadia yang semulanya sangat cerewet langsung terdiam melihat tatapan itu dan ia menundukkan kepalanya.
"Tidak enak," jawab Saddam yang langsung membuat Nadia membulatkan matanya. Ia menatap ke arah makanan tersebut yang sudah habis bilahap oleh Saddam.
Seketika ia merasa sangat bersalah kepada pria karena telah memaksanya memakan makanan yang tak disukainya.
"Maafkan aku, lain kali aku akan memasaknya lebih baik lagi."
Nadia benar-benar sungguh merasa bersalah. Sedangkan Saddam sama sekali tak ingin jujur bahwa ia sangat menyukai makanan wanita itu.
"Tidak usah, lebih baik kau tak usah memasak lagi." Kalimat yang dilontarkan oleh keadaan sungguh berbeda dengan hatinya.
Dalam hati ia ingin lagi menambah namun karena tertutupi rasa gengsi akhirnya ia memutuskan untuk tak menambah.
__ADS_1
Sadam pun langsung pergi keluar dan meninggalkan Nadia yang ada di ruang makan itu. Ia memandang ke arah bibi yang mengerti dengan perasaan yang dirasakan oleh Nadia.
"Sabar saja Nyonya, lama-kelamaan Tuan pasti akan luluh."
Nadia tak pernah berpikir untuk meluluhkan hati Saddam. Ia melakukan semua ini karena dirinya ingin berterima kasih kepada pria itu. Akan tetapi kenapa ingin berterima kasih saja sesulit ini. Nadia tak mengerti dengan semua ini tapi ia paham dengan apa yang saat ini dirasakan oleh wanita tersebut.
"Sudahlah. Pasti dia memiliki alasan untuk melakukan itu," ucap Nadia dan lalu kemudian masuk ke dalam kamarnya. Ia harus berganti pakaian sebab sebagai seorang istri walaupun tak dianggap ia harus menyelesaikan pekerjaan rumah.
Nadia berpikir jika pakaiannya terlalu mewah untuk bekerja hal yang berat.
Sesampainya di depan pintu kamarnya Nadia melirik ke arah kamar Saddam yang tak jauh dari kamarnya. Wanita itu tertegun sejenak dan hanya bisa menatap kamar itu tanpa bisa masuk ke dalam sana.
Ia hanya pernah masuk ke dalam kamar itu sekali dan itu juga karena terpaksa.
"Apakah dia membersihkan kamarnya sendiri?" tanya Nadia kepada dirinya. Ia benar-benar ingin mengetahui siapa yang telah masuk ke dalam kamar tersebut dan membersihkannya.
_________
"Bukankah itu Nadia? Wow dia benar-benar berpenampilan seperti itu? Menarik sekali dan sekarang dia sudah menjadi nyonya besar."
Kelly pun menghampiri Nadia yang sangat berbelanja di mall besar. Padahal penampilan Nadia hanya bisa saja, namun di mata Kelly ada yang berbeda sebab Nadia dulu suka sekali memakai pakaian yang compang camping bahkan sampai tak terurus. Perbedaan yang sangat signifikan tersebut lah yang membuat Nadia benar-benar terlihat sangat berubah di mata Kelly.
"Nadia!"
Nadia yang sedang berbelanja sayuran terkejut ketika ada orang yang memanggil namanya. Ia menolong ke belakang dan tempat di sana berdiri sang kakak dengan sikapnya yang sangat angkuh.
__ADS_1
"Kakak!"
"Sekarang kau sudah benar-benar berubah, ingat kau seperti ini karena siapa. Karena aku Nadia, jadi kau harus membujuk suamimu untuk bekerja sama dengan ayah ku." Nadia hanya menatap ke arah wanita tersebut dengan pandangan sedih. Sebenarnya Ia juga tak mengharapkan kehidupan ini jadi Nadia tak benar-benar merasa hutang Budi kepada wanita itu.
"Kakak, apakah Saddam tidak jadi bekerja sama dengan Papa?"
"Iya dia memenuhinya untuk membantu keluarga ku, tapi karena bukan aku yang dinikahi jadi ia tak ingin bekerja sama. Aku tahu pasti itu adalah alasannya, sebenarnya memang dia tak ingin bekerja sama dengan Papa ku."
Nadia menundukkan kepalanya. Apa yang harus ia lakukan untuk membujuk Saddam. Bahkan ia sendiri tak memiliki kekuatan yang sangat besar sehingga harus dituruti oleh Saddam.
"Tapi aku tidak tahu cara melakukannya. Aku bahkan sama sekali tak berbicara dengannya."
Jujur saja Kelly benar-benar merasa kaget dengan pengakuan Nadia tersebut. Dalam hati ia merasa senang karena untung bukan dirinya yang menikah dengan Saddam. Jika seperti itu Kelly tak bisa membayangkan bagaimana hidupnya nanti.
"Kau sangat beruntung," sindir Kelly hendak menertawakan nasib Nadia.
Nadia melirik ke arah Kelly dan hanya bisa terus-terusan menahan perasannya yang benar-benar sangat merasa sedih dengan semua ini.
"Apa yang harus aku lakukan? Aku mohon jangan bebankan hal berat itu kepada ku," ucap Nadia sembari menatap ke arah sang kakak meminta belas kasihan.
"Kau bisa bebas dan menikmati hidup lebih baik adalah karena ku jadi kau harus melakukan apa yang aku suruh. Tak peduli bagaimana caranya kau melakukannya, kau harus melakukan itu semua."
Ucapan itu seperti sebuah tekanan yang wajib dijalani oleh Nadia.
_________
__ADS_1
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.