
Nadia sedang duduk santai menikmati rumah Saddam yang sangat besar tersebut langsung terkesiap saat mendengar langkah kaki seseorang yang mendekati dirinya. Ia pun memandang ke arah asal usul suara tersebut dan menegang melihat siapa yang ada di depannya.
Ia pun mengepalkan tangannya dan menundukkan kepala siap merasa bersalah. Akan tetapi Saddam yang melihat itu semua merasa kebingungan. Ada apa dengan Nadia? Kenapa wanita tersebut melakukan hal itu? Wajahnya benar-benar lugu dan merasa sangat bersalah, tapi ia rasa Nadia tak ada melakukan kesalahan kepadanya.
"Angkat kepala mu." Cukup dengan satu kalimat itu Nadia langsung merasa terintimidasi oleh pria yang ada di depannya.
Nadia tiba-tiba merasa canggung dan ia tak tahu akan mengatakan apalagi. Namun akan tetapi ia berusaha untuk mencairkan suasana yang sempat membeku karena tak ada satupun yang berbicara.
"Maafkan aku, aku sudah sangat keterlaluan karena menikmati rumahmu tanpa seizin mu," ucap Nadia dengan lugunya.
Sada menarik nafas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan. Hanya karena itu saja Nadia sudah membuat dirinya kebingungan. Ia pikir ada masalah apa dan ternyata wanita itu hanya merasa ketakutan karena telah lancang menikmati keindahan di rumahnya.
Seperti kebiasaan Saddam Ia hanya menatap Nadia dengan tatapan yang tajam namun setelah itu ia pun meninggalkan wanita tersebut begitu saja. Tidak ada kejelasan dari ekspresi yang ditunjukkannya membuat Nadia merasa heran sebenarnya laki-laki itu memaafkan dirinya atau ia marah kepadanya.
__ADS_1
Tapi opsi marah kepadanya itu lebih masuk akal. Nadia pun meringis dan merutuki diri sendiri yang tidak bisa mengontrol dirinya untuk menikmati suasana yang indah. Padahal Ia hanyalah wanita rendahan yang beruntung dibawa ke dalam istana megah.
"Aku benar-benar sudah keterlaluan karena membuatnya marah. Apa yang harus aku lakukan?" Nadia benar-benar kebingungan dengan dirinya. Wanita itu berusaha berpikir keras mencari jalan keluar dan agar bisa Saddam memaafkan dirinya.
Tiba-tiba timbul ide Nadia untuk memasarkan makanan kesukaan pria itu sebagai tanda permintaan maafnya. Akan tetapi makanan seperti apa yang disukai oleh Saddam? Bahkan ia tak mengetahui makanan kesukaan pria itu. Nadia menggigit bibirnya merasa resah dan mengumpati diri sendiri.
Ia baru sadar jika dirinya begitu bodoh. Namun Nadia pun pada akhirnya memutuskan untuk menebalkan wajahnya bertanya kepada para pelayan apa makanan kesukaan Saddam.
"Bibi, aku benar-benar keterlaluan sudah membiarkanmu memasak sendirian. Baiklah apa yang sekarang bisa aku bantu?"
Pembantu tersebut menoleh ke arah Nadia dan menyatukan alisnya merasa heran. Namun ia tersenyum menanggapi kalimat yang terlontar dari Nadia tersebut.
"Tidak usah Nyonya, saya bisa memasaknya sendiri. Nyonya tinggal duduk manis saja."
__ADS_1
Nadia menggelengkan kepalanya karena saat ini ia benar-benar merasa sangat bersalah. Terlebih lagi di kehidupan dirinya di keluarganya Nadia selalu membantu pelayan sehingga itu menjadi sebuah kebiasaan.
"Tidak bisa, aku harus membantumu. baiklah jika begitu apakah kau tahu makanan kesultanan dari Tuan? Biar aku saja yang memaksakan agar hidangan lebih spesial."
Pelayan itu berpikir dan mengganggukan kepalanya. "Baiklah Nyonya. Tuan sangat menyukai asam pedas dan juga kepiting."
Nadia pun tersenyum lebar dan akhirnya yang sudah mendapatkan informasi mengenai makanan kesukaan Saddam. Baikal nanti ia akan langsung melakukan aksinya.
_______
TBC
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA
__ADS_1