
Kelly belum benar-benar pergi. Wanita itu melihat sang adik yang terlihat sangat bahagia bersama dengan Saddam. Entah kenapa rasa iri yang sangat berlebihan itu muncul di dadanya. Ia mengepalkan tangannya karena merasa tidak rela dengan apa yang didapatkan oleh adiknya.
Kenapa di sini ia selalu saja ketimpa sial dan tak bisa mendapatkan keadilan yang diinginkan oleh dirinya. Padahal wanita itu sangat berharap ia akan menemukan kebahagiaan yang diinginkan olehnya. Akan tetapi kenyataan malah berkata sebaliknya. Jujur saja hati Kelly sangat sakit dan juga iri kepada adiknya.
Wanita itu mengepalkan tangan dan menatap ke arah sang adik dengan tatapan penuh mangsa. Tampaknya, wanita itu menyimpan dendam yang sangat besar kepada adiknya.
Kelly menarik napas panjang dan lalu meninggalkan ruangan tersebut. Wanita itu berusaha untuk terlihat sangat tegar walaupun hatinya sedang hancur berkeping-keping melihat kebahagiaan yang tampak nyata di depannya.
Saddam melirik ke arah Kelly yang meninggalkan ruangan tersebut. Ia tahu jika ada Kelly di sana sehingga ia memanas-manasi wanita itu. Namun untuk saat ini Saddam tak menyadari apa dampak yang akan terjadi jika pria tersebut melakukan hal seperti tadi. Malah akan memberikan efek yang sangat buruk kepada Nadia.
Tentu saja bahaya itu selalu akan mengincar dirinya di manapun. Apalagi Kelly memiliki ambisi yang sangat tinggi dan sukar untuk ditaklukkan.
"Apa yang sedang kau lihat?" Nadia pun menatap ke arah pandangan Saddam.
Tapi untungnya wanita tersebut tidak melihat apapun di sana sehingga ia hanya bisa melihat punggung punggung para karyawan. Saddam melihat ke arah Nadia seraya menarik napas panjang dan menghembuskannya secara perlahan.
"Aku harus tau apa yang sebenarnya terjadi," ucap Nadia sembari mengercutkan bibirnya. Wanita itu terlihat sangat marah dan sekaligus bingung. Entah kenapa ia tiba-tiba merasa kepo dengan urusan Saddam.
"Apa yang kau lihat?" tanya Saddam seraya menjentik kening Nadia.
Nadia mengaduh kesakitan sembari mengusap keningnya tersebut. Wanita itu tampak sangat kesal dengan Saddam dan berusaha untuk meninggalkan pria tersebut.
Akan tetapi Saddam malah menarik tangannya ke tempat sepi. Sontak saja apa yang dilakukan oleh pria itu memancing atensi Nadia. Ia menatap ke arah laki-laki tersebut dan menaikkan satu alisnya.
"Apa yang sedang kau lakukan? Kau sedang tidak bercanda, kan? Kau benar-benar sangat menyebalkan," umpat Nadia dan lalu kemudian membuang wajahnya.
__ADS_1
Saddam secara tiba-tiba mendekatkan tubuhnya dengan wanita itu. Ia menghimpit tubuh Nadia ke dinding dan hal itu membuat sang empu kesulitan untuk bernapas.
Bagaimana bisa ia bernafas dengan tenang sementara Saddam berada tepat di depannya. Nadia berusaha untuk tetap terlihat tenang walaupun sesungguhnya hatinya benar-benar sangat merasa gugup.
Mata mereka saling bertemu dan Nadia menata pancaran tak dimengerti dirinya dari pria tersebut. Alhasil Nadia hanya bisa bungkam tanpa bisa melakukan perlawanan. Wanita itu menundukkan kepalanya dan kemudian mengangkatnya secara perlahan.
Entah kenapa Ia melakukan hal tersebut. Dan Nadia berusaha untuk menghilangkan kontak mata dengan Saddam.
"Saddam, apa yang sebenarnya telah kau lakukan? Kau benar-benar membuatku sangat malu," ucap Nadia dan kemudian berusaha untuk menyingkirkan Saddam dari depannya.
Pada masih juga kekeh di tempatnya. Hal itu membuat Nadia sangat pasrah. Ia pun menatap ke arah pria tersebut dengan tatapan malas.
Tanpa diduga, Sada mendekatkan wajahnya dan hampir saja bibir mereka bersentuhan, tapi untungnya Saddam menghentikan hal tersebut. Laki-laki tersebut pun berhenti dan masih tetap di posisinya yang seperti itu.
Nadia sendiri terhipnotis dengan apa yang dilakukan oleh Saddam. Mereka paling panjang namun sedikit kemudian barulah mereka sadar dengan apa yang telah dilakukan. Nadia menampar wajah pria itu dengan cukup keras hingga menumbuhkan bunyi yang cukup nyaring.
"Hal konyol apa yang telah aku lakukan?" tanya Nadia kepada dirinya sendiri dan berusaha untuk tampak biasa saja.
Ia sejujurnya merasa sangat tidak tega karena telah lancang menampar Saddam. Perasaan tidak enak itu muncul begitu saja di hatinya dan sembari menatap ke arah Saddam.
Ia mengira Saddam akan marah besar kepada dirinya dan tapa diduga oleh wanita itu Saddam tersenyum ke arah dirinya dan mengusap kepalanya. Hal itu mampu membuat tubuh Nadia menegang seketika.
"Maafkan aku."
"Saddam," cicit Nadia dengan suaranya yang tak berdaya diperlakukan seperti itu oleh Saddam.
__ADS_1
Nadia menundukkan kepalanya dan menarik napas panjang. Wanita itu tanpa sadar ikut tersenyum dan tiba-tiba senyum itu hilang ketika Nadia sadar dengan apa yang dilakukannya.
"Kenapa kau berhenti tersenyum?"
"Hah?" tanya Nadia berpura-pura menjadi wanita yang lugu. "Padahal senyum mu sangat manis."
Blussh
Pipi Nadia langsung memerah dan wanita itu tak bisa menyembunyikan keterkejutannya dengan hal tersebut. Ia tak menyangka jika Saddam bisa seperti itu.
"Apa yang telah kau lakukan? Kau membuat ku benar-benar merasa sangat malu."
"Tidak melakukan apapun selain ingin melihat istriku dari dekat."
Nadia menatap ke arah Saddam, "istriku?" Kalimat itu terulang lagi di mulut Nadia saat mengingat apa yang telah dikatakan laki-laki tersebut. Yang benar saja Saddam bisa bersifat demikian.
"Apa yang kau katakan?"
"Sudah aku duga jika kau adalah wanita yang peka. CK, mending kau langsung saja pulang dan memasakkan ku makanan karena sebentar lagi aku akan pulang."
Saddam pergi meninggalkan Nadia yang termenung di tempat dengan segala pikirannya.
Mereka, Saddam dan Nadia hidup dengan bahagia. Tidak seperti Kelly yang seumur hidupnya harus merasakan amarah dan itu membuatnya sampai dirawat di rumah sakit jiwa.
__________
__ADS_1
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.