Pengantin Pengganti CEO Culun

Pengantin Pengganti CEO Culun
Part 20


__ADS_3

Saddam membuka pintu rumahnya dan pemandangan yang pertama dilihatnya adalah rumah itu yang sudah kosong tak ada lagi orang yang berlalu lalang di rumah tersebut baik Nadia maupun para pelayannya.


Pada menatap ke arah jam yang melingkar di tangannya. Pria itu berdecak malas karena rupanya ia telah pulang jam 01.00 pagi. Merasa sangat lelah, Saddam langsung menuju ke dapur.


Benar saja makanan sudah terhidang untuk dirinya di atas meja. Adapun menatap semua makanan itu dan rupanya adalah makanan kesukaannya, senyumnya pun terbit dan ia benar-benar tak menyangka dengan pelayannya yang hari ini menyiapkan makanan yang sangat spesial ini.


Sadam ku sudah tidak sabar untuk menyantap makanan tersebut dan melahapnya hingga habis. Laki-laki tersebut terburu-buru mengambil piring dan memasukkan beberapa sendok nasi dan juga lauk pauk tersebut ke dalam piringnya.


Setelah itu ia langsung memakan makanan tersebut dengan sangat lahap, baru pertama kali ia merasakan makanan yang seenak ini. Sebenarnya ini adalah kali keduanya tapi ia tak ingin mengakuinya karena tahu jika makanan kemarin dibuat oleh Nadia. Saddam adalah tipikal orang yang sangat gengsian.


Tersebut mengusap mulutnya dengan tisu dan hendak meninggalkan ruang makan tersebut. Akan tetapi niatnya diurungkan saat ia melihat pelayannya yang datang.


"Tuan maafkan saya, saya tidak bisa melayani Tuan." Pelayan tersebut menatap ke arah meja makan dan sangat terkejut melihat makanan yang ada di atas meja benar-benar sudah habis.

__ADS_1


Pelayan itu membulatkan matanya dan sekaligus mengangakan mulutnya. Baru kali ini yang melihat tuannya sangat lahap.


"Terima kasih, Bibi. Kau sudah menyiapkan makanan yang sangat enak."


Pelayan tersebut tampak sedang tercengang. Benarkah yang di depannya ini adalah tuannya?


"Tapi bukan saya yang memasak senja ini. Ini semua masakan yang dibuat oleh nyonya."


Sangat terlihat jelas keterkejutan di wajah Saddam. Ia menatap kembali ke arah hidangan tersebut yang benar-benar sudah habis. Laki-laki itu menyentuh mulutnya seakan tak percaya karena telah memakan masakan yang dibuat oleh Nadia.


"Iya Tuan."


Sedang pun menghembuskan napasnya dan lalu kemudian meninggalkan ruang makan. Tapi tampaknya pria itu tak peduli siapapun yang memasaknya yang penting ia bisa menikmatinya. Namun di sini yang membuatnya merasa sangat gengsi adalah karena ia sempat memuji masakan itu.

__ADS_1


Tidakkah hal itu sangat memalukan seorang Saddam pada akhirnya bisa juga memuji orang lain. Dengan bibinya ia sudah terbiasa memuji wanita itu, tapi tadi ia baru saja memuji masakan orang asing.


Sedang pun hendak masuk ke dalam kamarnya, namun karena ruangan mereka yang sangat dekat membuat Saddam bisa melihat kamar Nadia yang terbuka. Ia menarik nafas panjang dan lalu kemudian meraih gagang pintu itu hendak menutupkan pintunya.


Namun apa yang dilakukan olehnya langsung terhenti ketika ia melihat Nadia yang tertidur dengan pakaian yang sangat tipis dan juga menerawang. Selain itu baju tidak Nadia juga tersingkat hingga menampakkan pahanya yang sangat putih.


Tanaman yang menarik napas panjang dan mengenyahkan pikiran buruknya. Ia baru pertama kali merasakan perasaan seperti ini. Karena terhalang oleh rasa gengsi Saddam berlangsung menutup pintu dan masuk ke dalam kamarnya.


Lagi-lagi pria itu mengatakan jika dirinya sama sekali tidak terpesona kepada wanita itu. Ia hanya merasa kagum, tapi tak terlalu berlebihan. Itulah yang selalu ditekankan oleh Nadia kepada hatinya.


________


TBC

__ADS_1


JANGAN LUPA LIKE DAN KOMEN SETELAH MEMBACA. TERIMA KASIH SEMUANYA YANG SUDAH MEMBACA.


__ADS_2