
"Hana!" seru kedua teman gadis itu, lalu membantunya berdiri.
Belum cukup dengan itu, Nara kembali berulah, dengan sebuah ide licik yang terlintas di otak cerdas Nara.
Nara menarik tangan Hana, mengarahkan ke pipi kananya pelan. Namun, Nara berakting seolah tamparan itu keras. Dan kebetulan, dari arah belakang Hana dan temanya, seorang Guru tengah berjalan ke arahnya.
"Awhs, sakit," rintih Nara memulai aktingnya.
Guru itu, yang bername tag Rahman, langsung berlari menolong Nara. Kedua matanya menatap tajam ketiga gadis itu. Wajahnya memerah menahan amarah, sedangkan Hana dan kedua temanya, memasang wajah pucat pasi.
Keringat dingin bercucuran, tanganya gemetar. Guru yang selalu siswa berusaha untuk menghindar mencari masalah denganya, kini berada tepat di depan Hana dan kedua temanya.
"Pak, k-kita nggak ngapa-ngapain kok. Naya yang fitnah kita," tuduh Hana menunjuk Nara.
"Saya liat dengan mata kepala saya sendiri, kalian melakukan pembullyan pada Naya. Ini sekolah, buat menuntut ilmu, bukan ajang adu kekuatan dan kekuasaan!" bentak Guru itu marah.
Hana dan kedua temanya membela diri. Tapi sayangnya, Guru itu tetap pada pendirianya, bahwa Hana dan kedua temanya salah.
Sedangkan Nara yang berda di belakang Guru itu, tersenyum menang. Hatinya sangat puas melihat Hana dan kedua temanya terkena amarah Guru paling killer, dan disiplin itu.
'Nara dilawan, modar 'kan lo!' maki Nara dalam hati merasa senang melihat penderitaan orang yang menghina saudaranya.
Hana dan kedua temanya dibawa ke ruang BK, dan mendapat poin pelanggaran, plus ceramah gratis dari Guru BK.
'Sial banget 'tuh cewek cupu, fitnah gue segala. Awas lo Nay!' Hana menggeram marah.
__ADS_1
****
Setelah drama menyenangkan bagi Nara usai, tak lama bel masuk berbunyi. Nara duduk bangkunya bersama Putri, dan siap menerima materi pelajaran.
Putri yang mendengar Nara terlibat keributan, dan berani dengan Hana, yang sering disebut ratu gosip itu, langsung melontarkan berbagai pertanyaan yang membuat Nara pusing. Namun, Nara tetap menjawab dengan jujur.
****
Jam istirahat, Nara berada di perpustakaan sendiri. Sebab Putri sedang ke toilet, dan baru menyusul setelah selesai.
Nara mengambil satu buku, dan membacanya sambil berjalan. Saking asiknya dengan bukunya, Nara tak melihat seorang di depanya, dan akhirnya, membuat Nara mengadih kesakitan. Matanya mendongak, menatap sesuatu yang ditabraknya itu.
"Awan," lirih Nara.
Awan menatap Nara datar, mimik wajahnya tidak terbaca oleh Nara sendiri. Perlahan, Nara menyingkir dari hadapan Awan, melanjutkan langkahnya, dan cuek pada Awan.
"Naya," panggil Awan lalu meraih tangan Nara.
Entah mengapa, hatinya deg-degan tidak karuan. Bahkan, dengan Rangga saja, Nara tidak pernah merasakan detak jantungnya berpacu dua kali lebih cepat dari biasanya.
'Ada apa ini, dengan jantung gue. Sadar Nara, jaga perasaan lo, jangan sampai jatuh hati sama si curut brengsek,' batin Nara memeringati hatinya.
Nara masih diam, namun tanganya melepaskan dari genggaman tangan Awan yang terasa lembut, hangat, dan nyaman. Rasa yang hampir sama Nara rasakan pada Rangga, cowok yang disukainya.
"Kenapa?" jawab Nara cuek, sambil menetralkan detak jantungnya yang makin tak terkendali.
__ADS_1
"Maaf," lirih Awan menunduk.
Nara tercengang mendengar kata maaf dari mulut Awan. Nara masih terdiam dengan keterjutanya, dalam benak Nara, menerka-nerka maksud Awan. Apakah ini sandiwara? Tulus? Atau jebakan?.
Nara memilah-milah kata yang tepat untuk menjawab kalimat Awan. Sedangkan Awan mendongak menatap wajah Nara yang terdiam seribu bahasa.
"Maaf untuk apa?" Nara menatap serius Awan.
"Semuanya," jawab singkat Awan.
Nara mengernyitkan keningnya, lalu paham maksud dari jawaban singkat Awan. Namun, bagi Nara tak semudah itu memaafkan kesalahan Awan pada Naya.
Yang dilakukan Awan sangatlah keterlaluan, tak hanya melukai fisik saja, tapi perasaan juga. Mungkin, jika dia Naya, pasti dengan mudahnya memaafkan Awan, bahkan sangat merasa senang, mendengar permintaan maaf Awan. Tapi, ini Nara, bukan Naya.
"Gue mohon, Nay, kasih kesempatan buat nebus kesalahan yang gue buat," sambung Awan memohon.
Nara menghembuskan napas kasarnya, haruskah memberi kesempatan untuk Awan?. Nara benar-benar dibuat pusing dengan urusan Naya yang rumit.
"Ok, gue kasih kesempatan buat lo, merubah diri menjadi lebih baik," jawab Nara.
"Tapi, perlu lo inget. Jika buat kesalahan yang sama lagi, gue nggak akan memaafkan lo untuk selamanya, dan gue akan buat lo semenyesal mungkin," sambungnya, lalu meninggalkan Awan yang masih diam mematung.
"Gue bakal berubah, Nay!" teriak Awan tiba-tiba, dan membuat seisi perpustakaan kaget.
Di depan pintu, Nara tersenyum penuh Arti. Hingga ledekan Putri, membuyarkan semuanya.
__ADS_1
Bersambung ...