Pengganti Sang Kembaran

Pengganti Sang Kembaran
4.


__ADS_3

Semua korban telah dilarikan ke rumah sakit Permata Medica, sebab lokasinya yang lebih dekat dengan tempat kejadian kecelakaan itu.


Para keluarga dari korban berdatangan, tak terkecuali adik dari Arini yang merupakan orang tua dari Leo.


"Sabar, Nak. Semua itu takdir, berdoalah pada yang maha kuasa," ucap Saskia adik Arini mendekap erat Nara yang masih menatap kosong ruang penangan kedua orang tua dan Naya.


"Tapi kenapa takdir sangat kejam sama Nara, Tante? Dan apa salah Nara? Hiks," tangis pilu Nara.


Saskia menatap iba keponakanya, dirinyapun juga sedih, kakak satu-satunya tengah berjuang antar hidup dan mati. Tapi, Saskia berusaha tegar. Jika dia menunjukan sisi rapuhnya, lalu siapa yang akan menenangkan keponakanya itu yang jelas-jelas jauh lebih terpukul ketimbang dirinya


****


Keesokan harinya, pada pukul 07.00 WIB, Naya dimasukan ke ruang operasi. Sedangkan kedua orang tua Nara sudah ditempatkan di ruang perawatan.


Rendi mengalami patah tulang di kaki kananya, sedangkan Arini hanya mengalami lecet-lecet. Dan yang paling parah adalah Naya, kepalanya terbentur besi sehingga membuatnya gagar otak yang cukup parah. Ditambah dengan kondisi Naya yang mengalami kebocoran jantung, membuatnya kritis dan harus dilakukan operasi.


Lampu merah yang terletak di atas puntu ruang operasi menyala, menandakan bahwa operasi telah dimulai.


Nara tak henti-hentinya berdoa di dalam hatinya. Mendoakan keselamatan dan kelancaran operasi Naya.


Tak terasa hampir delapan jam Naya dioperasi. Lampu pertanda operasi itu mati, yang berarti operasi telah selesai.


Nara yang melihat lampu itu mati, langsung bergegas berdiri dengan rasa cemas, begitu juga dengan saskia dan suaminya.


"Bagaimana keadaan Naya Dok?' tanya Nara saat Dokter baru saja keluar.

__ADS_1


"Kondisi pasien sudah stabil, operasinya juga lancar. Tapi, karena benturan yang cukup keras itu membuat pasien koma dalam wsktu yang masih ditentukan," jawab Dokter bername tag Adimas.


Deg


Waktu yang belum bisa ditentukan? Berarti bisa satu minggu, bulan, atau bahkan tahun. Itulah yang ada di dalam benak Nara, hatinya sakit, kakinya lemas bahkan hampir saja jatuh, untuk saja Leon yang dari tadi diam langsung sigap menangkap Nara.


"Lo harus kuat, Ra. Kalau lo rapuh, nanti siapa yang mau nguatin Naya, Om Rendi, dan Tante Arini?" ucap Leon menenangkan Nara.


'Leon bener, kalau bukan gue yang nguatin Mamah, Papah, sama Naya siapa?' lirih Nara dalam hati membenarkan kata Leon.


*******


1 minggu kemudian ...


Satu minggu, telah Nara lewati dengan setia menunggu Naya yang terbaring koma. Kedua orang tuanya telah sadar dari dua hari semenjak mereka masuk rumah sakit. Dan sore ini, Rendi dan Arini bisa pulang ke rumah. Maka dari itu, senyum kebahagiaan terlihat dengan lebar di bibir mungil Nara.


Nara ialah gadis dengan otak jenius, oleh sebab itu, Nara bisa lulus lebih dulu ketimbang Naya, walaupun mereka sama-sama masuk di tahun yang sama.


"Semua sudah lengkap, tinggal berangkat deh," monolog Nara yang telah selesai bersiap ke sekolah.


Nara mengambil motor gede berwarna hitam, lalu melajukannya ke sekolah Naya.


Hampir pukul 07. 00 WIB, Nara masuk ke parkiran sekolah Naya yang sudah sepi, sebab sebentar lagi bel masuk berbunyi.


Sesampainya di parkiran, Nara melepas jaket dan juga helmnya, lalu melangkah ke ruang kelas Naya yang ia tahu dari buku tulis milik Naya, yang kebetulan tercantum nama kelas dan nomor absenya.

__ADS_1


Terdengar kasak-kusuk dari para siswa yang melihat kedatangan Nara. Mereka tak mengira, kalau Naya masih mau berangkat ke sekolah setelah kejadian satu minggu yang lalu.


Sedangkan Nara yang mendengar kasak-kusuk itu cuek, dan tetap melangkah masuk ke ruang kelasnya.


Semua penghuni kelas Naya sudah duduk di bangkunga masiing-masing. Dan hanya tersisa satu yang merupakan tempat duduk Naya.


Tanpa banyak gaya, Nara langsung mendudukan bobotnya pada bangku yang terketak di nomor dua dari belakang.


"Masih berani lo datang ke sekolah?" ejek salah satu siswa perempuan di kelas X IPA 2.


Nara hanya diam tak menanggapinya, sebab Nara memang cuek pada orang yang dia tak kenal, tidak seperti Naya yang memang ramah.


"Woy! Gue lagi ngomong. Tuli lo?!" seru gadis itu yang bernama Dea.


"Apa sih hah?!" sentak Nara kasar dan melotot karena kelepasan.


'Ups!, aduh gue lupa kalau gue lagi nyamar,' gerutu Nara dalam hati.


Dea kaget mendengar suara kasar Nara, karena yang Dea tahu Naya ialah gadis lembut, dan Dea tak tahu jika itu bukan Naya.


"Berani lo ya?!" sungut Dea namun langsung ditarik salah satu temanya sebab mereka melihat guru yang akan masuk ke kelas mereka.


Sedangkan Putri yang merupakan sahabat Naya tercengang mendengarnya, karena yang ia juga tidak tahu kalau yang duduk di sampingnya bukan Naya.


Tumben, galak bener Naya,' batin Putri kaget.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2