
Setelah melewati pagi dan siang yang menurut Nara sangat panjang itu, akhirnya jam sekolah Nara telah selesai.
Putri yang sudah dijemput supirnya, terpaksa mendahului Nara yang masih duduk di bangkunya.
Nara mengeluarkan buku-bukunya dan memasukanya ke kolong laci mejanya. Dari buku tulis, hingga buku mata pelajaran.
"Nah, kalau kayak gini gue 'kan nggak repot bawa tas yang beratnya, masyaallah huh," monolog Nara saat telah selesai menata bukunya di kolong laci mejanya.
****
Suasana sekolah terlihat sudah sangat sepi. Hanya beberapa siswa saja yang masih stay di sekolah. Nara langsung menuju parkiran dan mengenakan kembali jaketnya lalu melajukan motornya membelah jalan kota.
Tanpa sepengetahuan Nara, seorang siswa laki-laki terlihat mengawasi Nara, entah itu disengaja atau tidak hanya dia yang tahu.
****
Nara melajukan motornya ke rumah sakit tempat Naya dirawat. Tak lupa Nara membeli beberapa buah-buahan, ya walaupun Naya belum sadar. Tapi, Nara tak pernah berhenti berharap saudara kembarnya akan segera sadar dan pulih kembali seperti sediakala.
Nara masuk ke ruang rawat Naya dengan langkah pelan. Matanya telah terpaku pada seorang gadis yang terbaring lemah tak berdaya di ranjang rumah sakit. Berbagai alat bantu terpasang di tubuh gadis itu yang tak lain adalah Naya.
"Naya, gue datang lagi. Nay, gue kangen lo, kangen senyuman lo, kejailan lo, dan gue kangen semua yang ada pada diri lo Nay," ucap Nara sambil menggenggam tangan Naya.
__ADS_1
Nara mengusap air matanya yang dengan lancang keluar tanpa seizin darinya. Air mata adalah hal yang paling Nara benci, karena air mata lebih dominan menandakan adanya luka pada hati seseorang.
"Lo tau Nay, gue udah liat cowok yang namanya Awan. Gue nggak habis pikir, kok bisa lo suka sama Awan yang cuma menang tampang aja," adu Nara pada Naya yang masih diam dengan mata terpejam.
Berbagai kalimat Nara ungkapkan pada Naya. Sebab Nara tahu, seorang yang sedang koma, harus sering diajak berbicara karena Dokter mengatakan bahwa orang koma bisa mendengar sesuatu yang orang lain
Pukul 17.00 WIB, Nara pulang. Namun, sebelum itu, Nara tak lupa pamit dengan Naya yang masih nyaman dengan mimpinya yang entah Nara tak tahu.
****
Di kamarnya, Nara merebahkan tubuhnya yang terasa penat sekali. Tapi, Tiba-tiba jiwa balap liarnya kambuh. Dengan langkah hati-hati, Nara menyelinap keluar dengan motor gede kesayanganya.
"Aman," lirih Nara girang.
Hanya beberapa menit, Nara sampai di sebuah jalan raya yang terlihat sangat ramai oleh banyak pemuda-pemudi berkumpul.
Nara menghentikan motornya dan berjalan gontai menuju segerombolan pemuda-pemudi yang jelas Nara sangat mengenalnya.
Mereka ialah teman sehobi Nara yang berasal dari negara kelahiranya, Indonesia. Mereka berjumlah sepuluh orang, ditambah banyak penonton yang menyaksikan balap liar antar gank.
Jaket kulit berwarna hitam, rambut panjang digerai dan diselipi beberapa helai rambut palsu warna warni, celana jins robek-robek, adalah ciri khas Nara saat melakukan hobinya itu.
__ADS_1
"Wow tumben nih, jagoan cantik kita datang. Lagi suntuk yak?" cerca salah satu anggota gank Nara yang bernama Rionaldi.
"Hmm, tau aja," singkat Nara cuek dan langsung mendapat tanggapan gelengan kepala, sebab mereka hapal betul dengan sikap Mara yang cuek dan masa bodoh.
"Kebetulan nih, leader gank Black Rose katanya mau ngajak tanding kita. Nah, berhubung di sini Nara yang paling hebat, gimana kalau Nara aja yang lawan?" sela Arga teman satu gank Nara.
Nara membulatkan matanya mendengar ucapan Arga. Lawan leader Black Rose? Nggak salah. Nara pernah dengar, leader Balck Rose adalah pria dan sangat jago bela diri plus balap liar.
Kemampuanya sudah tidak diragukan lagi, ya walaupun Nara cukup hebat dalam balap liar, tapi Nara berpikir tidak akan mungkin bisa menyaingi leader Black Rose yang Nara tak pernah tau namanya. Ya karena memang Nara terlalu cuek dengan urusan orang lain, maka dari itu Nara tak pernah tanya-tanya namanya, semua orang cuma memanggilnya leader Balck Rose saja, jadi wajar saja jika Nara tak tahu.
Tapi, Nara tetaplah Nara yang memiliki gengsi setinggi langit. Kalah sebelum berperang? Bukan Nara sekali.
Tanpa pikir panjang, Nara menyetujuinya. Walaupun batinya sedikit ragu, tapi menurut Nara kalah dan menang itu wajar dalam suatu pertandingan.
"Ok gue setuju!" seru Nara mantap.
Teman segank Nara bersorak mendengar kalimat Nara yang menyetujui usulan Arga.
"Ok, kita tunggu beberapa menit lagi. Tadi anggota Black Rose mengabari gue kalau mereka sudah di jalan, dan mungkin sebentar lagi sampai," jelas Rara teman segank Nara.
Nara manggut-manggut tanda mengerti. Tak lama, tatapan Nara terlaih pada segerombolan pria dan wanita yang berhenti tak jauh dari tempat Nara.
__ADS_1
'Astaga!' pekik Nara dalam hati.
Bersambung ...