
Tak henti, Nara mengumpati Awan di sela kegiatanya, yaitu membereskan dan membersihkan apartement Awan yang sungguh besar dan luas.
Dua jam, Nara telah menyelesaikan semuanya. Nara berdiri sembari berdecak pinggang, menatap sekeliling ruangan apartement Awan yang terlihat sangat rapi, bersih, dan wangi.
Nara mengusap peluh yang menetes dari dahi nya. Baru lima menit Nara mendudukan bobotnya di sofa empuk apartement itu, Awan sudah teriak-teriak memanggil Nara.
Sontak Nara melonjak kaget dan langsung berlari ke kamar Awan. Nara membuka pintunya tanpa mengetuknya dahulu.
Bruk
"Aduh!"
"Auww!"
Seru keduanya sama-sama kaget saat Nara menabrak tubuh Awan yang juga akan membuka pintu dan keluar dari kamarnya.
"Lo gila yak?! Masuk kamar orang lain nggak ketuk pintu dulu." Awan menatap tajam Nara.
"Lagian, lo sendiri teriak-teriak nggak jelas gitu." Nara balik menyalahkan Awan.
Awan menulikan telinganya saat Nara sedang menyalahkannya. Awan meninggalkan Nara sendiri dan mengamati seisi apartemenya yang sekarang terlihat sangat bersih, dan rapi.
'Bersih juga nih cewek beberesnya,' puji Awan namun hanya dalam hati.
Awan berbalik menatap Nara yang sedang berdiri di sampingnya dengan wajah yang sangat letih.
"Gue 'kan sudah bersih-bersihnya, nah gue langsung pulang aja," ucap Nara sambil membalas tatapan Awan.
__ADS_1
Belum sempat menjawab, suara bel berbunyi di depan pintu apartement Awan. Dengan sigap, Awan berjalan ke arah pintu dan membukanya.
"Bunga," ucap Awan kaget melihat Bunga yang tengah beridri di depanya sambil tersenyum.
"Sayang, gue kangen banget." Bunga memeluk Awan dengan manjanya.
Refleks Awan mendorong Bunga dan menatap tajam Bunga, yang dengan berani menyentuhnya.
"Nggak usah lebay," jawab Awan dingin.
Bunga yang mendapat tatapan tajam dari Awan tidak takut, justru Bunga langsung masuk ke apartemet Awan tanpa meminta izin dari pemiliknya. Bunga duduk di salah satu sofa besar, dan meletakan sesuatu dalam tas kreseknya. Diikuti Awan yang memilih duduk di sofa tunggal di sisi kanan.
Sedangkan Nara, menyaksikan semuanya dari awal. Tiba-tiba, terlintas untuk mengerjai Awan balik.
'Rasain, gue kerjain balik ni curut brengsek,' batin Nara menyingrai.
"Sayang, dia siapa?" tanya Nara sembari tersenyum manja.
"Nara!" seru Awan kaget.
Urat-urat leher Bunga terlihat jelas, wajahnya merah padam menahan amarahnya sendiri. Kedua tanganya mengepal erat seakan ingin menonjok wajah manusia di depanya itu.
"Awan!" seru Bunga ingin meledak emsinya.
Awan berusaha melepas pelukan manja Nara. Tapi, saat melihat wajah Bunga yang dipenuhi rasa cemburu dan amarah, Awan justru menarik pinggang Nara posesif lalu mendudukanya di pangkuanya.
Nara kaget bukan main dengan tingkah Awan, yang bukanya berusaha mengelak lagi tapi justru menarik Nara dan terduduk di pangkuannya. Nara berusaha bangun, tapi Awan menahan pinggang Nara dengan erat.
__ADS_1
"Kenalin, kekasih baru gue, Nara," tutur Awan sambil tersenyum sinis ke Bunga.
"Awan! Gue buk ...," ucapan Nara terpotong oleh sebuah benda kenyal yang mendarat dengan halus di bibir tipis miliknya, dan sukses membuat kedua mata Nara melotot tajam ke Awan yang sedang tersenyum kemenangan.
'Brengsek! Ciuman pertama gue,' batin Nara kesal nggak karuan, tanganya terasa gatal ingin menampar wajah memuakkan Awan.
Sebuah kecupan singkat untuk Nara dari Awan. Dan makin membuat Bunga emosi tak karuan. Mata Bunga melotot sempurna sakan ingin melahap manusia yang sekarang berada di depanya itu.
Brak!
Bunga menggebrak meja sambil berdiri. Dadanya naik turun menahan emosi, kedua tanganya mengepal erat sakan siap menonjok lawanya. Tangan kanan Bunga terangkat keatas dan siap untuk menampar pipi Nara.
Tapi, sebelum mendarat tamparan itu, tangan kekar Awan lebih dulu menahanya, dan mencengkeram pergelangan tangan Bunga dengan kuat. Dihempaskan tangan Bunga dengan kasar oleh Awan, dan membuat Bunga semakin emosi tidak karuan.
"Jangan sentuh kekasih gue, apalagi dengan tangan kotor lo, j****g!" Awan menatap tajam Bunga.
Nara yang melihat itu malah terbengong, Nara sangat bingung dengan hubungan Awan Bunga yang layaknya seorang musuh. Kalau memang Bunga kekasihnya, seharusnya Awan kemarahi Nara, bukan Bunga.
'Sial! Gue kejebak permainan gue sendiri,' maki Nara sambil membuang mukanya karena sebal sendiri.
Tak disangka, Bunga mengambil vas bunga yang terbuat dari keramik dan terletak di meja dekatnya.
Prang!
"Nara!" seru Awan kaget plus panik, sedangkan Bunga langsung melarikan diri.
"Awhss," rintih Nara memegang kepalanya yang mengeluarkan darah lumayan banyak.
__ADS_1
Bersambung ...