Pengganti Sang Kembaran

Pengganti Sang Kembaran
16.


__ADS_3

Di dunia lain, seorang gadis cantik tengah menangis sembari menatap sepasang remaja yang duduk di taman sambil bermesraan. Hatinya sakit, kala melihat remaja pria yang dicintainya bermesraan dengan saudari kembarnya sendiri.


Kedua tanganya mengepal, matanya menyorotkan api kemarahan dan kebencian. Api dendam membara di relung hatinya, hingga keinginan menghacurkan keduanyapun terlintas diotaknya.


'Penghianat!' serunya dalam hati.


Sepasang remaja itu berdiri, berjalan menjauhi taman itu hingga lama kelamaan tak terlihat. Sedangkan gadis itu ingin mengejarnya, tapi entah kenapa langkahnya sulit untuk digapai, tubuhnya seakan terpaku ditanah.


Dengan sekuat tenaga, gadis itu melangkahkan kakinya mendekati sepasang remaja itu. Namun sayang, gadis itu tertinggal jauh di belakang.


"Awan!"


"Nara!"


Gadis itu, yang tak lain ialah Naya berteriak kencang memanggil nama sepasang remaja itu dengan tangis bercampur kebencian.


****


Di sebuah rumah sakit, sepasang suami istri terlihat menangis bahagia. Sang anak yang koma selama satu tahun akhirnya bisa menggerakan jarinya serta membuka matanya.


"Naya, akhirnya kamu sadar Nak," ucap Arini lalu memeluk putrinya saat setelah selesai diperiksa oleh Dokter.


Doktet mengatakan jika kondisi Naya telah pulih. Namun, Naya tetap harus banyak istirahat dan tidak boleh berpikir terlalu keras.


"Mama, Papa," panggil Naya lirih bercampur air mata kebahagiaan.


Kedua orang tua Naya memeluk putrinya. Putri yang telah dirindukanya selama ini akhirnya membuka matanya.

__ADS_1


"Maafin Naya, sudah buat kalian khawatir dan susah," ucap Naya pelan dan menatap manik mata kedua orang tuanya.


"Kamu ngomong apa Nay, ini sudah menjadi kewajiban kami sebagai orang tua, yang akan selalu mencintai, merindukan, dan melindungi anaknya." Rendi menjawabnya dan diangguki oleh sang istri.


"Iya Mah, Pah. Oh iya, Nara mana?" tanya Naya saat menyadari ketidakhadiran saudari kembarnya di sisinya.


"Nara 'kan menggantikan kamu di sekolah, jadi dia belum pulang. Nanti akan mama hubungi," jawab Arini.


Naya mengangguk. Namun, pikiranya teringat dengan mimpinya tadi. Hatinya cemas, takut apa yang dimimpinya terjadi, apalagi ketika teringat permintaanya sebelum koma hari itu.


Meminta Nara mendekati Awan, membuatnya menjadi jatuh cinta. Berharap dirinya bisa kembali sebagai Naya sebenarnya, dan telah mendapatkan cinta Awan.


'Aku nggak akan rela, bila yang aku takutkan benar-benar terjadu,' lirihnya dalam hati.


******


Di sebuah taman kota, Nara mengajak Awan bertemu. Sesuai permintaannya satu minggu yang lalu, sore ini Nara akan menjawab pernyataan cinta Awan.


Sedangkan dari kejauhan, seorang pria berwajah tampan sedang berdiri sambil menatap seklilingnya, mencari seseorang yang tengah mengisi hatinya saat ini, dan mungkin selamanya.


Senyumnya terpancar jelas, saat menemukan seorang itu. Gadis cantik berambut hitam panjang dikuncir, dan jaket hitam, sedang duduk di salah satu bangku taman yang banyak orang menyebutnya taman Asmara.


Ya, sesuai namanya, taman itu banyak muda-mudi yang berpacaran dan saling bermesraan. Tak hanya itu saja, banyak keluarga kecil yang tampak harmonis berjalan-jalan atau sekedar bersantai ria, serta membuat siapa saja yang melihat iri.


Pria itu, yang tak lain ialah Awan, berjalan menuju ke gadisnya yang telah menunggunya.


"Sory, lama yak?" Awan menatap intes gadis pujaanya.

__ADS_1


Gadis itu tersenyum tipis. "Nggak kok, santai aja."


Awan duduk di samping gadis itu, yang masih setia dengan kebisuanya. Terdengar helaan napas pelan dari gadis itu, seolah tengah mengatur rasa kegugupanya.


"Jadi?" tanya Awan memecah keheningan.


"Gue terima lo jadi pacar gue," jawab gadis itu lirih, namun masih bisa Awan dengar dengan jelas.


"Apa? Gue nggak salah denger 'kan?. Coba ulangi lagi, yang keras," pinta Awan dengan wajah bahagianya.


Gadis itu malah memberutkan wajahnya, susah payah dirinya mengatur rasa kegugupan dan kecemasanya. Tapi, dengan mudahnya dia meminta mengulanginya.


"Gue, Kanara Herdzigova Afriana menerima cinta Awan Ariandra Pratama!" serunya dengan penuh penekanan.


Grap!


Awan memeluk erat gadis itu, dan tak lain ialah Nara. Jantungnya berdetak tidak karuan, bahkan mungkin saja Nara dapat merasakanya.


Begitu juga dengan Nara, jantungnyapun sama, berdetak dengan sangat cepat, seakan ingin meloncat keluar.


"I love you," bisik Awan tepat di telinga Nara.


"I love you to," balas Nara.


Tiba-tiba, suara dering handphone Nara berbunyi. Keduanya melepas pelukan mereka, dan Nara mengambil handphonenya dari saku jaket hitamnya. Mamah, satu kata terpampang di layar handphone Nara, dengan segera Nara mengangkatnya.


Arini : 'Naya sudah siuman, Nak, sekarang dia nyariin kamu. Datang ke rumah sakit sekarang ya.'

__ADS_1


Deg!


Bersambung ...


__ADS_2