Pengganti Sang Kembaran

Pengganti Sang Kembaran
15.


__ADS_3

Di sebuah rumah sakit Citra Farma, Awan membawa Nara. Setelah melakukan pemeriksaan, Dokter mengatakan luka yang dialami Nara tidak terlalu parah, hanya membutuhkan beberapa jahitan, dan istirahat yang cukup.


Awan mengantar Nara sampai ke rumahnya. Awan semakin terlihat sangat merasa bersalah atas apa yang menimpa Nara, disaat melihat untuk berjalan saja Nara harus berpegangan benda yang ada di sekitarnya.


Grap!


"Kyak! Awan," pekik Nara kaget.


Awan membopong Nara, memasuki ruang tamu kediaman Nara yang terlihat luas, bersih, dan elegant. Awan terus berjalan dengan Nara yang meronta-ronta untuk diturunkan.


"Diam, atau jatuh di lantai keramik yang super keras ini?" ancam Awan pada Nara.


Seketika Nara langsung diam. Awan meletakan Nara di sebuah sofa di ruang tamu itu dengan sangat hati-hati.


Dari atas, Arini selaku ibunda Nara, langsung panik saat mendengar pekikan sang anak, dan bergegas turun dari lantai dua ke lantai satu.


"Nara! Kamu kenapa, Nak?" tanya Arini panik melihat perban bersarang di kepala putrinya.


"Anu, Mah. Em, jatoh," bohong Nara yang tak ingin membuat ibundanya khawatir.


'Kenapa Nara bohong?' batin Awan dengan mengerutkan kening.


"Makanya, hati-hati dong Sayang. Kamu sih, kebiasaan ceroboh." Arini berkata sambil mengusap-usap kepala putrinya itu.


Nara menyengir mendengar kecerewetan ibutnya itu. Tapi, justru itu adalah hal yang paling membuatnya merasa kehilangan, saat dirinya kembali ke rumah neneknya dulu.

__ADS_1


Awan menatap interiaksi anak dan ibu itu, hatinya terasa hangat melihatnya. Matanya berkac-kaca, mengingat dirinyapun sangat butuh perhatian dan kasih sayang, seperti yang dilakukan ibunda Nara itu. Dirinya hanya mendapat perhatian dari pembantu di rumahnya, tak mendapat perhatian, apalagi kasih sayang dari kedua orang tuanya.


Orang tuanya sibuk mencari uang, uang dan uang. Melupakan bahwa ia mempunyai seorang anak yang butuh kasih sayang, butuh perhatianya, dan butuh didikan darinya. Tapi, semua itu hanya bisa menjadi hayalan saja, mereka hanya tau kalau yang dibutuhkan anaknya hanyalah uang semata.


"Siapa nama kamu, Nak?" tanya Arini lembut.


"Eh, s-saya Awan Tante, teman Nara," jawab Awan tergagap karena kaget mendengar suara Arini.


"Teman atau pacar?" goda Arini sambil tersenyum jail.


"Eh?" kaget Nara dan Awan.


******


Begitu juga dengan Naya, yang tak kunjung sadar dari komanya, entah apa yang dimimpikan Naya selama tertidur selama satu tahun, hingga membuatnya begitu nyaman dan enggan untuk membuka matanya.


Kondisi tubuh Naya telah stabil. Namun, jiwa Naya masih dalam keadaan down, dan membutuhkan suport dari orang-orang terkasihnya, agar dapat membantu memulihkan jiwanya yang masih nyaman di alam bawah sadarnya.


Kini, Nara telah duduk di bangku kelas X1 IPA 2, setelah pengambilan raport dua minggu yang lalu. Tak hanya itu, hubungannya dengan Awan semakin dekat.


Bahkan, satu minggu yang lalu, Awan menyatakan perasaanya pada Nara di sebuah pantai dan diwaktu sore hari, bertepatan dengan adanya sunset yang begitu indah.


Flashback mulai


"Nay, entah sejak kapan perasaan ini muncul. Yang gue tahu, rasa ini hadir dengan seiring berjalanya waktu. Gue suka sama lo, Nay. Gue cinta sama lo. Gue ingin lo jadi pacar gue, dan gue juga harap lo terima gue sebagai cowok lo." Awan mengungkapkan perasaanya sembari memeluk Nara dari belakang, dan menyaksikan matahari terbenam dengan indahnya.

__ADS_1


*Deg


Deg


Deg*


Jantung Nara berdetak kencang tak karuan, matanya berkaca-kaca. Hatinya bimbang, disatu sisi ia mulai menyukai Awan, dan melupakan Rangga yang ternyata telah memiliki kekasih, serta menganggap Nara sebagai adik saja, tidak lebih.


Namun, disisi lain, saudarinya pun menyukai Awan juga, bahkan Awan belum tahu bahwa dirinya bukan Naya. Nata juga tak ingin hubunganya dengan Naya renggang nantinya, hanya karena seorang cowok.


'Bagaimana ini, gue mulai suka lo Awan. Tapi, gue nggak mau jadi saingan saudari gue sendiri,' batin Nara bingung.


"


"Awan, jujur gue masih ragu sama perasaan gue sendiri. Gue nggak mau, suatu saat nati lo menyesal menjadikan gue kekasih lo, dan meninggalkan gue disaat gue telah benar-benar jatuh cinta sama lo dengan seiring berjalanya wakru,' jawab Nara jujur.


"Kasih gue waktu sampai minggu depan. Gue butuh waktu buat memikirkan ini semua." Nara meminta waktu untuk menjawab ungkapan perasan Awan


Awan menyutujinya, Awan juga tak berhenti berdoa agar gadis yang dicintainya mau menerima perasaan cintanya, dan semoga cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.


Flashback selesai


****


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2