Pengganti Sang Kembaran

Pengganti Sang Kembaran
13.


__ADS_3

Pagi hari, Nara telah berada di kelasnya bersama Putri. Keduanya bertukar cerita, dan mengungkap perasaanya sendiri.


Keduanya tertawa riang, seolah tak ada beban yang hadir di antara hidup mereka. Nara dan Putri, menceritakan laki-laki pujaanya masing-masing. Hingga membuat pipi keduanya merah merona, akibat keduanya saling bertukar ledekan, dan yaps, ledekan itu tepat sasaran.


"Nay, sebenarnya masih suka nggak sih, sama Kak Awan?" tanya Putri penasaran.


Nara tersenyum kikuk, tanganya menggaruk tengkuknya yang tak gatal sama sekali. Nara bingung dengan perasaanya sendiri. Disatu sisi, Nara menyukai Rangga.


Tapi, disisi lain Nara tidak merasakan detak jantungnya bertambah berkali lipat, yang ada hanyalah rasa nyaman, seperti seorang adik dan kakak.


Sedangkan dengan Awan, sebaliknya, Nara merasa jantungnya menjadi berdetak tak karuan. Jujur, Nara masih sangat bodoh dengan masalah cinta, yang Nara tahu hanyalah rasa suka, itu saja.


Namun, Nara sadar diri, bahwa Nara merasa salah, jika sampai mencintai Awan. Karena dengan tak langsung, Nara menikung saudaranya sendiri, yang jelas-jelas lebih dulu mencintai Awan.


"Entahlah, bingung gue," jawab Nara sambil memasang wajah datarnya.


Putri menghela napasnya, jujur Putri tak suka sahabatnya itu dekat dengan Awan. Mengingat betapa kasarnya Awan, muali dari sikapnya, hingga peekataanya yang super pedas dan menusuk hati.


****


Di rumah, Nara telah bersiap pergi ke apartement Awan. Nara berdandan sedemikian rupa, memoles wajahnya hingga membuat orang pangling, menambah tahi lalat kecil di pelipisnya, dan berdandan ala brandalan pada umumnya.

__ADS_1


Nara menggunakan motor gede kesayanganya untuk datang ke apartement Awan.


Sesampainya di sana, Nara mengirim pesan pada Awan, bahwa telah sampai di apartemennya.


Awan membuka pintu, sejenak, Awan memandang Aneh Nara. Tiga kata untuk Nara dari Awan, norak tapi cantik.


Bagaimana tidak, make up tebal, rambut panjangnya digerai, jaket kulit hitam, Celana jins yang ketat, dan sepatu both pas ukuran.


Nara yang merasa ditatap aneh Awan, meras takut bila Awan mengenalinya. Jantungnya berdebar hebat, seperti habis lari maraton.


'Diliat-liat, Nara kok mirip Naya. Ah, ngapain lo sih Awan, dari kemarin mikirin tuh cewek cupu mulu, sampai Nara gue kira Naya,' batin Awan kesal sendiri.


Bugh


"Awsh, sakit tauk Ra," rintih Awan sambil mengelus-elus tanganya yang terkena pukulan Nara.


Refleks, Nara memukul keras tangan Awan yang akan menyentuh tahi lalat palsunya. Jantung Nara deg-degan nggak karuan, antara grogi, takut ketauan, dan malu, semuanya bercampur menjadi satu, layaknya es campur.


Kedua mata Awan, tak henti mengamati tahi lalat yang mempel di pelipis Nara. Seingat Awan, terakhir melihat, Nara tak memiliki tahi lalat di pelipisnya. Tapi kenapa sekarang bisa ada, saking penasaranya, Awan hendak menyentuhnya. Namun, hanya tinggal beberapa centi lagi, tangan Awan mendapat pukulan sadis dari Nara.


Setelah drama itu, Awan memepersilahkan Nara masuk ke apartemenya. Kedua mata Nara melotot sempurna, bahkan sampai Nara dibuat melongo, saat melihat isi apartement Awan yang seperti kapal pecah.

__ADS_1


Bungkus makanan ringan bertebaran di mana-mana, di meja, lantai, hingga di sofa. Tak hanya itu, banyak sampah kulit kuwaci dan kacang berceceran di lantai. Bahkan, terlihat juga jus yang tumpah di lantai.


'Astaga, ini apartement atau kandang ayam sih,' gerutu Nara dalam hati.


Awan yang menyadari mata Nara yang melotot, dan mulut yang terbuka lebar, justru tersenyum senang. Sebenarnya, Awan bukan tipe pria berantakan. Justru, Awan adalah tipe pria yang gila kebersihan dan kerapian.


Dan tentunya, semuanya itu bukanlah ulah Awan, yang membuat seisi apartemenya seperti kandang ayam. Melainkan temannya yang semalam main ke apartemenya.


Dengan sengaja, Awan tak menyuruh orang untuk membersihkannya. Awan ingat, kalau dirinya ada kesepakatan konyol yang menguntungkan dirinya sendiri, yaitu mendapat pembantu gratis.


"Sana gih, bersihin. Tapi ingat, jangan masuk ke kamar itu," perintah Awan sambil menunjuk sebuah kamar besar, dan bisa ditebak, kalau itu adalah kamar utama apartement ini.


"Lo gila hah, masa gue bersihin semuanya sendrii," protes Nara kesal.


Awan sama sekali tak menanggapinya, Awan justru pergi ke kamarnya. Meninggalkan Nara yang sedang menahan emosinya agar tak meledak.


Di dalam kamar, Awan tertawa lepas mengingat wajah kesal Nara yang menurutnya mirip dengan gadis yang akhir-akhir ini mengganggu otaknya. Bahkan, Awan sebelumnya tak pernah tertawa selepas ini hanya karena seorang cewek.


"Lucu abis mukanya, berasa liat Naya, eh apaan sih lo Awan, bisa-bisanya malah mikirin tuh cewek lagi," monolog Awan.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2