Pengganti Sang Kembaran

Pengganti Sang Kembaran
12.


__ADS_3

"Nay."


"Kak Awan."


ucap keduanya berbarengan. Keduanya menjadi salah tingkah, dan kembali menciptakan keheningan.


Awan yang bosan dengan kehengingan dan kecanggungan yang terjadi, mengajak Nara untuk mampir ke restoran bintang lima.


Awan berniat mentraktir Nara, sebagai ucapan terimakasih, karena sudah menolongnya. Dan juga, keadaan yang sudah magrib, serta perut yang meronta minta diisi.


Nara berpikir, perutnyapun terasa lapar, sebab hari sudah sore, dan dirinya belum makan. Nara menerima ajakan Awan, tapi dengan syarat, makan di sebuah tempat makan langgananya, yang sangat sering dikunjunginya bersama naya.


Awan mau tak mau setuju, dan akhirnya, kedua anak manusia berbeda jenis kelamin itu, makan di sebuah warung yang cukup besar, dan terletak di pinggir jalan yang sangat ramai.


Warung Bakso Mang Sali, adalah tempat makan favorit Nara dan Naya. Menjual dari berbagai ujuran bakso, mulai yang biasa, hingga luar biasa, maksudnya, menjual dengan ukuran yang sangat besar.


Kedua mata Awan membulat sempurna, saat harus makan di tempat yang menurutnya kumuh, padahal sebenarnya tempat itu bersih. Namun, Awan tetaplah Awan, yang selalu makan di restoran bintang lima, dan hanya diisi oleh orang berdompet tebal.


'Nggak salah nih, makan di tempat ginian,' batin Awan ragu.


Nara langsung mengajak Awan masuk ke warung langganannya, dan memilih tempat duduk.


Nara memesan dua bakso berukuran jumbo.


Setelah bakso ukuran jumbo itu tersaji di depan keduanya, Nara langsung menyeruput kuah baksonya, yang terasa panas, asin, gurih, manis, dan pastinya pedas.

__ADS_1


Sedangkan Awan, dia hanya membolak-balikan baksonya. Lidahnya ragu, untuk mencicip makanan yang tersaji di depanya.


Tatapan Nara tertuju pada Awan yang sedang mengublek-ublek baksonya, Nara mengerti kalau Awan pasti ragu dengan makanan kesukaanya itu.


Nara yang gemas dengan Awan yang menampilkan ekspresi ragu, dan jijik, langsung merebut sendok Awan, dan menyuapkan kuah bakso itu pada Awan.


"Enak 'kan?" tanya Nara setelah menjajali Awan dengan satu sendok kuah bakso itu.


Awan tak merspon, jantungnya berdebar tak karuan. Rasa lezat kuah baksonya seketika terlupakan, sebab Awan sedang berusaha menetralkan detak jantungnya itu.


"E-enak, kok," sahut Awan gugup.


Nara tersenyum puas mendengar kata enak dari Awan. Karena seleranya memang tak pernah salah.


*****


Nara masih terbayang dengan kejadian yang dialaminya bersama Awan. Senyum manis terukir di bibir merah Nara, membayangkan setiap adegan kecilnya dengan Awan, yang menurutnya romantis.


Namun, dengan segera Nara menepisnya. Nara bertekad untuk meneguhkan hatinya, agar tak jatuh cinta dengan Awan. Nara merasa tak sanggup, bila harus bersaing dengan saudara.


Nara membersihkan diri, lalu membuka buku pelajaranya, dan mengerjakan PR-nya.


Tiba-tiba, sebuah bunyi notification dari handphon Nara berbunyi. Tanda sebuah pesan masuk di handphone Nara.


Segera, Nara membuka aplikasi dalam handphonya. Nara mengerutkan keingnya, saat sebuah nomor telepon tak dikenal terpampang di layar handphonya.

__ADS_1


"Nomor siapa sih ini, nggak ada foto profilnya lagi," monolog Nara.


Nara membuka pesan apa yang dikirim dari nomor tak dikenal tadi.


+62 : 'Sesuai kesepakatan. Jangan lupa, besok lo mulai jadi babu gue.'


Tak lama, nomor tak dikenal itu mengirim lokasi temapat yang harus Nara datangi.


+62 : 'Datang ke apartemen gue, jam 15.00. Jangan sampai telat!'


Nara mengingat-ingat, adakah dirinya terikat kesepakatan dengan seseorang. Kedua matanya membulat sempurna, saat Nara mengingat tentang balap liar yang sudah menjebaknya dalam kesepakatan konyol itu.


Nara mengumpat tiada habisnya. Nara menarik napas panjang, dan mengeluarkanya perlahan melewati mulutnya. Emosinya, kini telah stabil.


Nara mengsave nomor itu, yang tak lain ialah nomor Awan. Nara membalas singkat chat dari Awan.


Nara : 'Ok,' singkat Nara , lalu melemparkan handphonya di queen size miliknya.


"Aah, Sial banget sih gue. Kenapa mesti ada kesepakatan konyol itu sih." Nara mengacak rambutnya frustasi.


Tatapan Nara tertuju pada sebuah almari besar yang terletak tak jauh darinya. Nara membuka almari itu, mengobrak-akbrik isinya.


Setelah menemukan sesuatu yang dicarinya, Nara lalu melangkah ke meja riasnya. Nara mulai mencoba-coba make up yang sangat jarang sekali digunakanya.


Nara merias dirinya, hingga membuatnya menjadi seperti orang lain. Dan tentunya, dengan bantuan tutorial di youtube.

__ADS_1


"Astaga, cantiknya lo Ra. Kalau gini, si curut brengsek itu, tak akan tau kalau ini gue," monolog Nara merasa bangga dan senang dengan hasil riasanya. Ya, walaupun make up yang digunakan Nara memang sangat tebal, bahkan terkesan norak.


Bersambung ...


__ADS_2