
Pembelajaran pagi ini terasa sangat membosankan bagi Nara, hingga tak terasa suara bel istirahat terdengar.
"Ehem! Nay," panggil Putri saat para siswa sudah keluar dari kelasnya dan hanya tersisa mereka berdua.
Nara menoleh pada Putri dan menaikkan satu alisnya tanpa menjawab panggilan Putri.
"Aku minta maaf yah, kemarin nggak bisa belain kamu. Kamu tau 'kan, waktu itu aku nggak berangkat sekolah, jadinya aku nggak tahu kamu dibully sampai segitunya," jelas Putri sangat merasa bersalah pada sahabat satu-satunya itu.
"Bully?" beo Nara sembari mengerutkan keningnya.
Nara bingung, bully? Apa maksudnya. Siapa yang dibully, apa Naya?. Banyak berbagai pertanyaan muncul dalam benak Nara.
"Iya, bully. Masa kamu lupa," heran Putri.
Nara gelagapan mendengar ucapan Putri yang keheranan padanya. Nara tak tahu apa-apa, termasuk tentang pembulyian itu.
"Bully yang mana? Kan emang sering aku dibully," tanya Nara.
Ia memutar otak cerdasnya agar memgetahui pembullyian apa yang terjadi pada Naya. Ya, walaupun Nara hanya mengira-ira bahwa Nara sering dibully, entah tepat atau tidak itu urusan belakangan.
"Yaa emang sih, maksudku satu minggu yang lalu. Pas kamu nyatain perasaan kamu ke Kak Awan loh, dan kamu ditolak dengan kasar. Bahkan kamu dibully abis-abisan sama Kak Awan, Kak Bunga dan fans fanatik Kak Awan," jelas Putri dengan nada sebal.
"Apa?!" seru Nara kaget sekaligus geram mendengar itu.
Nara berpikir bahwa Naya sakit kerena pembullyian itu, sebab hari itu tepat dimana Naya jatuh sakit.
'Apa?! Jadi Naya sering dibully. Naya terlalu lembek sih, tapi lo tenang aja Nay, gue bakal balas perlakuan mereka. Dan Awan? Jadi cowok itu yang lo cinta, cowok yang sudah bully lo cuma karena nyatain perasaan lo?. Astaga Nay, lo oon apa gimana sih,' geram Nara dalam hati.
Nara geram dengan tidakan siswa yang membully Naya sekaligus sebal dengan Naya yang malah mencintai cowok yang jelas-jelas membully dan menolak cintanya dengan kasar.
__ADS_1
"Em, nggak papa. Lagian lo 'kan nggak tahu," jawab Nara berusaha santai.
"Lo?, tumben pake kata itu, biasanya aku kamu," tanya Putri bingung.
Nara yang sedang meredam emosi sontak kaget dan sadar dengan bahasanya yang memang kasar.
"Em, ya pingin aja. Eh ke kantin aja gimana?" tawar Nara mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Ehm, ok deh. Laper juga nih," sahut Putri setuju dengan tawaran Nara.
"Eh, tapi bentar. Kok ada yang aneh ya dari kamu Nay," ucap Putri.
"A-apa?" tanya Nara cemas.
Wajah Nara yang tadinya merasa lega bisa mengalihkan pertanyaan Putri, sekarang dibuat cemas lagi.
Tubuhnya berkeringat dingin, padahal sebelumnya Nara tidak pernah seperti ini, kecuali jika akan mendapat amarah dari kedua orang tua dan neneknya dulu.
Memang hari ini Nara menguncir rambutnya yang sebenarnya berwarna hitam pekat, namun Nara menyelipi beberapa helai rambut palsu berwarna kuning keemasan.
'Astaga, oon banget sih lo Ra. Udah tau nyamar, kenapa nggak kamu ubah sih rambut lo. Alesan apalagi nih, ah dasar bodoh lo Nara,' maki Nara dalam hati.
"Em, anu ya pingin tampil beda aja. Bosen model yang lama," alibi Nara sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Eh buruan yuk ke kantin, ntar keburu penuh," lanjut Nara mengalihkan pembicaraan saat Putri hendak meluncurkan pertanyaan barunya.
"T-ap ...."
Tanpa menunggu jawaban Putri selesai, Nara langsung menggandeng Putri ke kantin. Tapi, baru lima langkah, Nara menghentikan jalanya. Nara lupa kalau dia tidak tau letak kantin sekolah Naya.
__ADS_1
"Kenapa?" tanya Putri.
"Lo aja di depan, gue masih trauma sama kejadian kemarin," alibi Nara.
Putri mengiyakan permintaan Nara. Putri berjalan di depan Nara. Nara yang dibelakang merasa canggung dengan suasana kantin yang sangat rame hingga memenuhi bangku kantin.
Tersisa satu bangku di pojok belakang, tanpa disuruh Nara langsung menempati bangku itu. Sedangkan Putri yang tadinya sedang menatap sekeliling kantin itu untuk mencari tempat duduk langsung membulatkan matanya melihat tingkah Nara.
"Astaga Nay, jangan duduk di situ. Mending kita pindah," seru Putri panik.
Nara yang mendengar seruan dari putri mengernyitkan keningnya tak mengerti dengan sikap Putri.
"Pindah? Ngapain, Tinggal ini aja bangkunya," tolak Nara yang masih duduk manis di bangku itu.
Putri menepuk jidatnya. Putri sungguh merasa heran dengan kelakuan sahabtnya itu.
"Lo lupa atau amnesia sih?" tanya Putri sebal.
"Lupa sama amnesia ya sama, gimana sih," ketus Nara.
Tanpa aba-aba Putri langsung menarik kuat lengan Nara. Sedangakan para siswa lain yang melihat itu langsung bisik-bisik.
"Apa sih Put, bangku cuma sisa satu. Ini aja, terus kita mau duduk di mana?" tanya Nara yang sudah sebal.
"Tapi itu puny-"
Tiba-tiba ...
Brak!
__ADS_1
Bersambung ...