Pengganti Sang Kembaran

Pengganti Sang Kembaran
18.


__ADS_3

"Tuhan, bolehkah aku egois? Kenapa disaat kebahagiaan sudah di depan mataku, kau akan mengambilnya lagi." Nara terduduk dengan pandangan kosong di kursi yang terletak di balkon kamarnya.


Ternyata, kisah saudara kembar yang sering diceritakan di buku novel maupun film, terjadi juga di kehidupanya. Mencintai laki-laki yang sama, dan bersaing dengan saudarinya sendiri.


Bahkan, udara dingin tak Nara hiraukan. Rasanya, sungguh ingin sekali Nara menangis. Tapi, sekali lagi, Nara menguatkan hatinya, agar tak cengeng dengan keadaan yang ada.


Nara berusaha untuk ikhlas, atas apa yang telah dirinya korbankan. Nara percaya, suatu saat pasti kebahagiaan akan datang kepadanya, walaupun sekarang harus merasakan sakitnya dahulu.


Malam sudah mulai larut, tapi Nara belum ada sama sekali niatan untuk mengakhiri renunganya. Hingga, suara pintu kamarnya terbuka mengalihkan perhatianya.


"Mama?" Nara terkejut dengan kedatangan ayahnya yang masuk ke kamarnya tanpa mengetuk pintunya dulu.


"Belum tidur? Mama kira kamu sudah tidur, makanya mama nggak ketuk pintu dulu." Arini mendekati putrinya yang kini sudah berdiri di dekat ranjangnya.


Mendekati putrinya, Arini mendudukan Nara di pinggiran ranjang. Tanganya dengan lembut, membelai kepala putrinya.

__ADS_1


"Kenapa belum tidur?," tanya Arini halus.


"Boleh, Nara tiduran di pangkuan Mama?" Nara tidak membalasan pertanyaan mamanya, tapi justru balik bertanya.


"Tentu boleh dong, Sayang. Yuk, sini baringan." Arini menaiki ranjang dengan kaki berselonjor ke depan, diikuti Nara yang segera tidur dengan paha mamanya untuk bantal.


"Mama nggak jagain Naya?" tanya Nara menatap wajah cantik ibunya.


"Nggak. Mama gantian sama Papa, mama nggak tega kamu sendirian di rumah. Makanya, mama milih pulang. Lagian, di rumah sakit ada saudara kita yang datang jenguk juga, jadi nggak bakal kesepian Naya," jelas Arini seraya terus membelai lembut kepala anaknya.


Nara hanya mengangguk mengerti. Lalu, teringat tentang kapan terakhir dirinya berada di posisi seperti ini. Yang pasti, sudah sangat lama.


Arini tersenyum hangat. "Iya, dan mama kangen banget dengan suasana kita yang seperti ini."


"Sayang, Naya nggak ada di sini. Kalau ada, jadi lengkap deh," jawab Arini tersenyum sedih.

__ADS_1


Nara yang mendengar itu, haya mengangguk setuju. Karena, memang pada dasarnya Nara dan Naya memang saudara kembar yang saling menyayangi, mencintai, melindungi. Walaupun, terkadang rasa egois menguasai hati keduanya. Tapi, itu hanya sebentar. Sebab, setelahnya pasti akan sadar dengan kesalahan dirinya sendiri, dan akan saling memaafkan.


"Nara lagi ada masalah?" tanya Arini lembut pada putrinya.


Terdiam, Nara mendengar pertanyaan mamanya. Ingin jujur, tapi rasanya malu dan canggung. Karena itu, Nara memilih mengelak.


"Nggak, Mah. Bukan masalah serius, biasa anak remaja," sahut Nara dibarengi nada bercanda.


"Kalau ada masalah apapun, kamu jangan pernah sungkan cerita sama mama, hanya karena jarak dan waktu yang menghalangi kebersamaan kita. Mau bagaimanapun, mama tetap orang tuamu, dan kamu tetap tanggung jawab mama, sebelum kamu memiliki suami." Arini menasehati putrinya dengan lembut dan penuh kasih sayang.


"Iya, Ma," jawab Nara.


Percakapan ibu dan anak itu terus berlanjut, hingga tak terasa waktu sudah begitu larut malam, dan Nara tertidur di pangkuan ibunya.


Arini menidurkan putrinya pada bantal, dan mengecup kening putrinya dengan penuh kasih sayang.

__ADS_1


"Good night. Mama sayang kamu. Nara, putri mama yang cantik," bisik Arini.


Bersambung ...


__ADS_2