Pengganti Sang Kembaran

Pengganti Sang Kembaran
6.


__ADS_3

Seorang cowok dengan tubuh atletis, wajah sangat tampan, dan terlihat sangat keren dengan tampilanya yang tidak terlalu rapi sedang menatap marah Nara.


Mulut Putri yang tadinya terus bawel mengajak Nara pindah, seketika bungkam melihat cowok yang sekarang berada di sampingnya itu.


Nara yang kaget dengan suara gebrakan itu, spontan mengeluarkan umpatan yang membuat cowok itu makin menatap marah Nara.


"A***r! Mau apa lo hah?!" seru Nara kelepasan karena kaget bercampur emosi.


Nara yang menyadari kata kasrnya, langsung membungkam mulutnya.


"M-maaf, Kak," lirih Nara menyadari umpatanya yang kasar.


Putri yang mendengar umpatan Nara membulatkan matanya. Seumur-umur dia sahabatan, belum pernah mendengar kata kasar dari sahabatnya itu.


'Naya mengumpat?' tanya Putri dalam hatinya.


"Wow! Sudah bosan hidup hah?!" seru cowok itu yang tak lain ialah Awan dan ketiga temanya plus dua cewek yang selalu mengekori Awan.


"Maksudnya?" tanya Nara bingung dengan ucapan Awan.


'Siapa sih nih cowok, kenal juga nggak berani bilang bosen hidup ke gue. Yang ada lo kali yang udah bosen hidup, mau gue tonjok abis-abisan!' semprot Nara tapi dalam hatinya.


"Lo pura-pura bodoh, apa emang dari sananya udah bodoh?!" tanya Awan dengan menninggikan suaranya dan membuat Nara memejamkan matanya karena Awan berbicara tepat di depan wajah cantiknya.

__ADS_1


"Kakak siapa sih hah?! Kenal juga nggak marah-marah, buruan gih pergi dari sini, bikin nggak selera orang mau makan aja," ketus Nara yang jengkel dengan Awan.


Awan mengetatkan rahangnya mendengar Nara yang berani mengusirnya dari bangku vaforitnya yang tadi sempat Nara duduki.


"Gue pergi?! Yang ada lo bukan gue. Ini bangku gue," seru Awan tak mah kalah.


Sedangkan Bunga yang merupakan pacar Awan tidak terima mendengar ocehan Nara yang menurutnya sudah berani dengan Awan. Padahal baru satu minggu yang lalu Awan dan ia mempermalukan Naya yang ia kira sekarang di depanya.


Plak!


Satu tamparan mendarat dengan cantik di pipi mulus Nara. Terlihat pipi kanan Nara memerah menandakan betapa kerasnya Bunga menampar Nara.


"Awshh shitt!" rintih Nara memegang pipi kananya.


'Awan?! Jadi dia?' batin Nara kaget.


Nara masih terbengong akibat keterjutanya dengan keberadaan Awan di depanya. Nara tak menyangka, Awan adalah sosok laki-laki arogan, sombong, sok berkuasa, dan menang sendiri.


Nara tak habis pikir dengan permintaan Naya, bagaimana bisa Naya menyukai laki-laki seperti Awan yang menurut Nara hanya menang tampang doang.


Dan untuk etika, Nara menilainya nol besar, atau tidak ada sama sekali. Dan lebih parahnya, Nara telah berjanji dengan Naya akan menaklukan Awan hingga membuatnya bertekuk lutut padanya, hingga suatu saat waktu itu tiba, Naya kembali pada posisinya, begitu juga Nara yang akan bebas dari janjinya pada Naya.


"Jadi, lo Awan?" tanya Nara menatap Awan yang justru heran dengan pertanyaan Nara.

__ADS_1


'Nih cewek cupu saking depresinya kali yak gue tolak cintanya, sampai bikin si cupu amnesia, juga penampilanya bukan si cupu banget. Masa sih gara-gara gue tolak kemarin jadi kayak preman gitu, acak-acakan, dan bar-bar. Ah masa bodoh lah urusan gue juga bukan,' heran Awan dalam hati, namun dengan segera Awan menepisnya.


"Ck! Sudahlah gue sudah muak berdebat dengan lo. Mendingan, lo pergi dari sini, sebelum gue ngelakuin hal yang lebih parah dibandingkan satu minggu yang lalu," ancam Awan sembari tersenyum sinis.


"Tapi g-" ucap Nara terpotong saat Putri menyeretnya pergi.


Nara hendak melawan kembali, namun dengan cekatan Putri menyeret sahabatnya itu menjauh dari Awan dan kawan-kawanya.


Putri takut jika sahabat satu-satunya itu terluka kembali seperti kemarin.


'Sok sokan ngelawan, kalau cupu ya cupu aja' maki Bunga tersenyum sinis dan kepuasan menatap kepergian Putri dan Nara.


****


"Putri! Kenapa kita malah pergi. Kita yang duduk di bangku itu duluan, ck mana gue laper banget lagi, lo sih malah nyeret gue ke sini," omel Nara saat Putri telah melepas cengkramanya di taman belakang sekolah.


Putri menghela napas kasar. "Kamu mau jadi bahan bullyan satu sekolahan kayak kemarin?! Aku juga heran, semenjak kamu dibully satu minggu yang lalu, kamu berubah. Nggak kayak Naya yang biasanya, kalem, ramah, dan ...."


"Cuma bisa nunduk dan nangis, gitu?!" Potong Nara cepat.


Putri diam karena memang itulah kenyataanya, sahabatnya itu hanya bisa nangis, nunduk, tidak mau melawan orang yang menyakitinya.


'Sayangnya gue bukan Naya, Put. Yang diam tak mau melawan, pantang menyerah dengan lawanya dan selama gue berada dijalan kenenaran,' batin Nara

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2