Pengganti Sang Kembaran

Pengganti Sang Kembaran
17.


__ADS_3

Jantung Nara seakan berhenti berdetak, apakah ini saatnya untuk merelakan kekasih yang bahkan belum ada satu hari resmi menjadi kekasihnya.


Hatinya bahagia, saudarinya telah sadar dari komanya. Namun, disisi lain hatinyapun sakit, mengingat dirinya harus rela memberikan kekasihnya pada saudarinya, sesuai dengan permintaan saudarinya dulu sebelum koma. Ada rasa tak rela yang terselip di hati, mengingat dialah yang membuat harinya lebih berwarna.


Apakah dirinya boleh egois untuk saat ini, sekali saja? Dari kecil telah banyak mengalah dengan saudarinya. Rela mengajukan dirinya untuk tinggal bersama sang nenek, berjauhan dengan orang tuanya disaat masih kecil, yang seharusnya masih membutuhkan banyak kasih sayang dan cinta dari kedua orang tuanya.


Menyelamatkan saudarinya, agar tetap dekat dengan kedua orang tuanya, walaupun dirinya sendiri menjadi korban, sebab mengingat saudarinya tidak seperti anak kebanyakan lainya, yang dapat hidup normal tanpa merasakan sakit.


Hanya bisa berkomunikasi melalui video call, dan menjenguk kedua orang tua dan saudarinya, di rumah yang penuh kenangan itu, hanya satu atau sampai tiga kali dalam setahun.


Disaat dirinya sakit, dan membutuhkan belaian sang ibu, tapi apalah daya, jarak memisahkannya. Namun, meski begitu, tinggal bersama neneknya, menemaninya dimasa tuanya adalah hal yang paling membuatnya bahagia dan bangga, sebab diakhir hayatnya bisa menemani, menghibur, dan membuatnya tidak merasa sendirian di masa tuanya.


Nara : 'Iya Mah, Nara kesana sekarang.'


Nara menekan tombol merah untuk mematikan panggilan suara dengan Arini, dan memasukanya dalam kantong saku jaketnya kembali.


"Kenapa?" tanya Awan menyelidik, saat melihat perubahan raut wajah cantik Nara.


Awan dapat melihat raut kesedihan, namun juga kebahagiaan di wajah Nara. Namun, Awan memilih diam, tidak ingin memaksa bicara gadisnya, dan memilih menunggu Nara menceritakanya sendiri.


Nara menggeleng. "Gue balik duluan ya?, Mamah gue yang nyuruh."


Awan memanyunkan bibirnya, tanda tak ikhlas jika harus berpisah dengan kekasih hatinya.


"Huh, gue anter yah?" Awan menawarkan, tapi ditolak halus oleh Nara.

__ADS_1


Awan pasrah, dan membiarkan Nara pulang sendiri. Namun, sebelumnya, satu kecupan lembut mendarat di kening Nara.


"Hati-hati," pesan Awan setelah melepaskan kecupannya.


Pipi Nara langsung memerah, ada rasa malu dan bahagia yang tersirat di hatinya.


"Lo juga," bales Nara sambil tersenyum manis.


****


Di sini, di sebuah ruangan dengan dinding bercat putih, dengan dilengkapi sofa yang berukuran cukup besar terletak tak jauh dari ranjang pasien, Nara berada.


Berlinang air mata, Nara memeluk saudari kembarnya. Penantianya selama satu tahun akhirnya terjawab sudah, walaupun entah nantinya seperti apa hubunganya dengan sang kekasih, tapi Nara tetap bahagia melihat saudarinya siuman.


"Aku juga Ra," sahut Naya lirih tapi masih dapat didengar Nara.


Rendy dan Arini meninggalkan kedua anaknya yang tengah saling melepas rindu, tidak ingin mengganggunya. Keduanya memilih duduk di kursi yang letaknya tak jauh dari ruangan Naya.


****


15 menit berlalu, keheningan terjadi antara Nara dan Naya. Keduanya sama-sama bingung, harus memulainya dari mana.


"Ehm, bagaimana kabar dia?" tanya Naya sambil menatap Nara.


Nara menatap Naya dengan lekat, Nara tahu yang dimaksud dia oleh Naya. Ya, dia adalah Awan. Pria yang kini tengah mengisi hatinya dan saudarinya.

__ADS_1


Dalam benak Nara, ingin rasanya bersikap egois untuk kali ini saja. Tapi, Nara juga tak tega untuk membohongi Naya, suaudaranya sendiri.


"Baik," sahut Nara.


"Kami sudah jadian," lanjut Nara ragu lalu menatap lekat Naya.


Nara memerhatikan raut wajah Naya, mencoba membaca apa yang dipikirkan Naya melalui ruat wajahnya, namun sayangnya Nara tidak dapat membacanya.


Naya tersenyum manis. "Hmm, makasih."


Nara diam, hatinya telah was-was dengan kata makasih yang terlontar dari bibir Naya. Nara takut, jikalau Naya menagih janjinya untuk melepaskan Awan sang kekasih, untuk saudarinya.


"Makasih, udah penuhin permintaan aku. Mungkin, seminggu lagi aku sudah bisa pulang, dan bisa beraktivitas seperti pada umumnya."


"Dan yang paling aku tunggu, bertemu Awan. Aku akan menggantikanmu, senin depan. Tak hanya itu, kamu juga sudah bisa bebas seperti kamu yang dulu."


Naya berucap dengan senyman mengembang, menghayal betapa bahagianya bisa menjalin hubungan dengan pujaan hatinya, meski melewati perantara dari Nara, saudara kembarnya.


Deg ...


Jantung Nara seakan tertusuk ribuan jarum, segampang itukah Naya menggantikanya, tanpa tau seperti apa perjuanganya. Rasanya Nara ingin segera pergi dari hadapan Naya, dan menangis meratapi nasibnya.


'Sayangnya gue bukan Nara yang dulu. Nara yang sekarang , hanya mencintai Awan, dan akan selalu mencintai Awan,' batin Nara


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2