
"Nara!" Pekik Rendi dan Arini.
Yaps, Nara atau Kanara Herdzigova Afriana, saudara kembar Naya yang sedari kecil diasuh oleh neneknya di Kanada sebab, Rendi adalah anak tunggal, tetapi karena pekerjaan Rendi memilih tinggal di Indonesia dengan syarat yang diberikan oleh ibunya, yaitu membiarkan salah satu cucunya yang masih berusia 5 Tahun tinggal bersamanya. Awalnya Rendi keberatan, tapi Nara mengajukan dirinya untuk tinggal bersama neneknya, sebab Naralah yang paling dekat dengan neneknya itu.
Nara adalah gadis cantik dengan rambut berwarna hitam pekat, kulit putih, hidung mancung. Semuanya hampir mirip dengan Naya, tapi bedanya ada pada rambut mereka dan tahi lalat di pelipis Nara. Naya juga memiliki lesung pipi di sebelah kanan, sedangkan Nara di sebelah kiri.
Keduanyapun memiliki karakter yang bertolak belakang. Naya cenderung lembut, rapi, feminim, polos, namun Naya adalah seorang yang ambisius.
Sedangkan Nara, dia memiliki sikap yang cuek, selalu berpenampilan acak-acakan, rambut yang selalu Nara selipi beberapa helaian rambut palsu yang disambungkan di rambut hitamnya. Nara juga cenderung selalu bersikap kasar, ceplas-ceplos, bar-bar, dan memiliki hobi balap liar.
Namun, dibalik itu semua Nara adalah gadis yang sangat baik, penyayang, dan sangat menghormati orang tua.
"Kamu tau dari mana kami ada di sini?" tanya Arini.
"Dan kenapa nggak minta Pak Johan buat jemput kamu," cerca Rendi yang memang over protektif dengan kedua putrinya.
"Nara tau dari Bik minah, awalnya Nara mau kasih surprise tapi malah gagal semuanya. Nara udah minta jemput sama Kak Leo dan sebelumnya juga udah ngabarin Kak Leo, kok" jawab Nara sambil melepas pelukan kedua orang tuanya.
Rendi dan Arini serta mengulas senyum, lalu membelai kepala Nara. Lalu tatapan kedua orang tua Nara menatap Leo tajam, karena tak memeberi kabar kepulangan Nara ke Indonesia. Sedangkan Leo yang mendapat tatapan tajam itu hanya cengengesan.
"Piss." Leo memberi tanda perdamaian sambil cengengesan.
*****
__ADS_1
Setelah bebrapa waktu, Dokter mengatakan Naya sudah bisa di jenguk, dengan syarat tak boleh bersamaan.
Satu-persatu keluarga Naya bergantian menjenguk Naya. Dan sekarang giliran Nara.
Nara memasuki ruang Naya dengan pelan dan air mata yang mengalir. Setelah sampai di sisi brangkar, Nara langsung menggenggam sebelah tangan Naya.
Ajaibnya, Naya siuman saat setelah Nara menggenggam dan mengajak bicara Naya.
"Nara," lirih Naya.
Nara sontak kaget dan refleks memeluk Naya dengan kencang. Air mata Nara yang tadinya sempat berhenti sekarang kembali mengalir dengan deras. Seakan mewakilkan rasa rindu, khawatir, dan sayang pada saudara kembarnya itu.
"Naya, gue kangen banget tau sama lo. Jangan sakit lagi, yah," ucap Nara merengek membuat Naya sangat gemas sekali dengan tingkah adiknya itu, ya walaupun hanya terpaut 5 menit.
"Udah dong, sesek nih aku," rengek Naya saat Nara masih dalam kondisi memeluknya erat.
"Hehe," cengir Nara sadar akan tingkahnya.
Nara perlahan melepaskan pelukanya dengan hati-hati, seakan tak rela melepas pelukan itu. Nara memang melepas pelukanya, tapi tidak dengan genggaman tanganya.
"Gue panggilin Dokter yah, sekarang. Bentar-bentar gue keluar dulu," ucap Nara langsung bergegas keluar, tapi belum satu langkah Nara berjalan, Naya memegang lengan Nara dan menggelengkan kepalanya dengan lemah.
"Aku tahu, sebentar lagi aku akan operasi jantung. Sebenernya, pingin banget aku nolak. Dari dulu, aku selalu menjaga pola makanku, nggak bisa main sepuasnya, nggak bisa ikut mata pelajaran olahraga kayak yang lain, aku ggak bisa bebas kayak yang lain. Aku capek Ra," keluh Naya lirih disertai air mata mengalir.
__ADS_1
Nara mengusap-usap punggung tangan Naya menenangkan saudaranya yang tengah bersedih itu.
"A-aku nggak tahu, berhasil apa nggak operasiku nantinya. Tapi sebelum itu, aku punya dua permintaan buat kamu," ucap Naya lalu menatap bola mata Nara.
Sedangkan Nara terpaku diam. Memikirkam permintaan apakah yang akan diberikan padanya oleh Naya. Dan apakah sanggup ia memenuhinya.
"Em, apa?" tanya Nara hati-hati.
Naya menghembuskan napasnya perlaha. Dadanya kembali sesak, mungkin karena terlalu bangak bicara dan bersedih, hingga membuat emosinya naik turun.
Naya berusaha menormalkan deru napasnya yang kian tak beraturan. Raut wajah Naya kembali membiru, namun sekua tenaga Naya menahanya.
"Jadilah penggantiku," ucap Naya sangat lirih tapi masih terdengar oleh Nara.
Nara masih diam seribu bahasa karena tak mengerti. Pengganti?, sungguh Nara tak tahu pengganti seperti apa yang diinginkan oleh Naya.
Belum sempat Nara melontarkan pertanyaanya pada Naya, suara erangan Naya membuat Nara kaget dan tersadar lamunannya.
"A-k-ku ahhk!" erang Naya menahan sesak dan sakit di dadanya.
"Naya!" seru Nara panik.
"A-ku ...."
__ADS_1
Bersambung ...