
Putri yang menyaksikan adegan itu, memilih diam, memberi kesempatan sahabatnya untuk menyelesaikan masalahnya dengan Awan.
Setelah selesai, Putri langsung mengagetkan Nara yang melamun di depan pintu perpustakaan sambil tersenyum, dan menyerbunya dengan berbagai pertanyaan serta peringatan.
Putri khawatir, jika Awan cuma mempermainkan sahabatnya itu. Sedangkan Nara, langsung menjawabnya dengan sabar dan tersenyum tulus.
Nara sangat merasa beruntung memiliki sahabat sebaik Putri. Ketulusuanya, dan perhatianya, yang tak pernah didapatkanya dari teman-temanya dulu. Ya, walaupun tidak sebagai dirinya sendiri.
"Makasih, Put. Udah perhatian sama gue, makasih banget," ucap Nara tersenyum tulus.
"Ya elah Nay, kayak sama siapa aja. Kamu itu, udah aku anggap kayak saudara gue sendiri," sahut Putri lalu memeluk Nara erat.
****
Pulang sekolah, tak lupa Nara mampir ke rumah sakit, menjenguk Naya. Nara selalu menyempatkan waktunya untuk menjenguk Naya, dan membawakan buah-buahan kesukaan Naya.
Dan seperti biasa, Nara mengajak Naya mengobrol. Menceritakan semua yaang dialaminya pada Naya, dan berharap Naya mendengarnya. Hingga tak terasa, waktu sudah hampir magrib, dan Nara bergegas pulang.
Di perjalanan, tak sengaja Nara melihat sebuah mobil mewah, yang sangat Nara kenali, berhenti di tepi jalan yang sepi. Sebab, jalan itu adalah jalan pintas yang sering Nara lewati, agar mempercepat sampai di rumah.
Nara berhenti, dan turun dari motornya, berjalan ke arah mobil itu. Nara mendekati seorang itu yang terlihat fokus pada sebuah ban mobil depannya.
__ADS_1
Nara bisa menebak, mobil milik seorang itu bocor, terlihat dari keadan bannya kempes, dan seorang itu yang sedang berusaha mengganti ban mobilnya.
'Awan,' lirih Nara dalam hati, saat melihat orang itu.
Tepat dugaanya, pemilik mobil itu adalah Awan. Awalnya, Nara ragu meneruskan jalanya ke Awan. Tapi, saat hendak balik ke motornya, Nara juga kasian dengan Awan yang kesusahan mengganti ban mobilnya.
Karena ketidak tegaanya pada Awan, Nara memaksa kedua kakinya melangkah mendekati Awan kembali.
'Inget Nara, ini cuma karena karena kewajiban lo sebagai sesama manusia, yang wajib menolong orang yang sedang kesusahan saja, bukan karena hal lainya,' batin Nara memantapkan diri dan hatinya.
"Kak Awan," panggil Nara sambil berdiri di samping Awan yang sedang jongkok di depan mobilnya.
"Naya?" Awan menatap Nara kaget.
Sedangkan Awan, justru salah tingkah melihat Nara di depanya. Entah sejak kapan, jantungnya berdegup kencang, dan baru kali ini Awan merasakanya. Bahkan, saat dengan Bunga, Awan tak merasakan apapun. Justru, Awan selalu merasa risih, saat Bunga mengekorinya.
"Em, lo lewat sini juga Nay?" tanya Awan basa-basi.
Nara hanya tersenyum mengangguk, lalu tatapanya tertuju pada ban mobil Awan yang masih belum diganti. Tanpa diminta, Nara langsung jongkok dan mulai mengganti ban mobil Awan dengan serius.
Sebelumnya, Awan berusaha mencegah Nara, dan dirinyapun tak yakin, jika gadis di depanya bisa mengganti ban mobil miliknya. Tapi, Nara kekeh ingin membantunya, dan di sisi lain, Awan juga membutuhkan bantuan, sebab, Awan sudah terbiasa hidup mewah, dan terbiasa bergantung dengan fasilitas yang diberikan oleh orang tuanya, sehingga membuatnya menjadi anak yang manja, dan sombong.
__ADS_1
Dan akhirnya, saat di situasi seperti ini, Awan tak bisa apa-apa. Mau menelpon bengkel langgananya, handphone lowbet, dan mau meminta bantuan pada seseorang, dirinya berada di jalan yang sepi, dan jauh dari pemukiman penduduk.
Setelah beberapa saat, Nara selesai mengganti ban mobil milik Awan. Tanganya mengusap dahi dan pelipisnya, yang terdapat butiran cairan bening keluar tanpa seizinnya.
"Akhirnya, selesai juga," ucap Nara lega.
Awan tercengang dengan kemampuan Naya, yang seperti laki-laki. Awan tak mengira, secepat itu gadis ini mengganti ban mobilnya.
Saking fokusnya memerhatikan Nara, Awan tak menyadari, kalau Nara telah berdiri, dan memanggil-manggilnya. Hingga, cubitan yang cukup keras, mendarat di pipi putih Awan.
"Awsh, sakit Nay," rintih Awan sekaligus kaget.
Tanpa diduga, Nara tertawa lepas, melihat ekspresi lucu Awan, yang sedang menahan perih, sekaligus panas di pipinya, dan justru membuat Awan semakin menggemaskan, bagi Nara. Ekspresi inilah yang belum pernah Nara Lihat, selama kenal dengan Awan.
'Cantik,' gumam Awan dalam hati, saat melihat Nara yang masih tertawa lebar.
Nara yang menyadari Awan menatap dalam dirinya, langsung mengubah wajahnya menjadi datar, dan cuek kembali. Dalam hati, tak henti-hentinya, Nara mengumpati dirinya, yang berani tertawa lepas di depan Awan.
"Terimakasih, Nay," ucap Awan tulus.
"Ya, sama-sama," sahut Nara datar.
__ADS_1
Bersambung ...