Pengganti Sang Kembaran

Pengganti Sang Kembaran
3.


__ADS_3

Napas Naya tersendat-sendat, namun Naya tetap berusaha sadar dengan sekuat tenaganya yang semakin menipis.


"A-aku, ingin k-kamu menggantikank-ku akhs!. Jadila-akhhh sebagai diriku, t-tutup udentitas a-asl-limu dari semua orang," ucap Naya dengan susah payah mengeluarkan suaranya.


"D-dan tolong jagakan l-laki-laki y-yang aku cintai. B-buat dia takluk padamu. Jangan biarkan dia dimiliki siapapun, k-kam-mu tenang saja, setelah a-aku sembuh, pasti! Pasti aku akan kembali dan kamu bisa bebas seperti dulu," pinta Naya dengan nada memelas.


"D-dia Awan! Akhs akh," ucap Naya yang terlihat sangat kesakitan.


"Janji?" lanjut Naya.


Nara terdiam. Mendadak otaknya terasa blank, Nara hanya bisa mematung ditempat, hingga satu kata terlontar dari Nara yang tak kuat melihat Naya kesakitan.


"Janji," jawab Nara agak ragu ddengan jawabanya itu.


"M-makasih akhs s-sakit Ra," pekik Naya yang akhirnya tak sadarkan diri lagi.


"Naya!" pekik Nara langsung memencet tombol di atas brankar Nara yang berguna untuk memanggil Dokter atau perawat tanpa harus datang langsung.


"Dokter! Dokter tolong!" seru Nara semakin histeris saat Dokter yang menangani Naya baru saja tiba di ruangan Naya.


Nara bergegas keluar saat seorang perawat meminta Nara menunggu di luar, agar tidak mengganggu konstrentasi Dokter dalam memeriksa Naya.


'Naya Naya, lo nggak pernah berubah. Selalu terobsesi sesuatu yang lo inginkan. Bahkan, saat lo sakitpun sempat-sempatnya lo minta gue jaga dia,' batin Nara yang memang sudah hapal betul dengan sifat Naya yang memang mudah terobsesi sesuatu yang membuatnya penasaran.


Nara keluar dari ruangan Naya sambil berlinang air mata. Dadanya sesak saat melihat saudaranya terbaring sakit,

__ADS_1


Apalagi saat mendengar permintaan Naya yang tak mungkin Nara ingkari.


'Baiklah, akan gue coba,' putus Nara dalam hatinya.


Nara duduk di ruang tunggu, lalu tak lama kedua orang tuanya kembali ke rumah sakit setelah pulang ke rumahnya untuk mengambil pakaian Naya.


"Naya kenapa? Dan kamu juga kenapa terlihat sangat berantakan?. Jawab Nara, jangan buat mamah khawatir," ucap Arini menggoyangkan kedua pundak Nara yang masih diam mematung tanpa mau menjawab pertanyaanya.


"Kenapa Nara?" tanya Rendi yang sama cemasnya dengan Arini.


Nara mengambil napas lalu mengeluarkannya dengan pelan, untuk menetralkan rasa sesaknya akibat terlalu lama menangis.


"Naya makin drop Pah, Mah," jawab Nara lirih.


"Naya," lirih Rendi dan Arini dengan lemah.


Dokter keluar dan berkata bahwa sekarang juga Naya harus dioperasi. Namun, karena fasilitas rumah sakit itu kurang memadai, terpaksa Naya harus dirujuk ke rumah sakit yang lebih besar dan memiliki fasilitas operasi yang lebih canggih.


Setelah Rendi mengurus administrasi dan mendapat surat rujukan ke sebuah rumah sakit besar bernama Permata Medica, Naya dengan menggunakan mobil ambulans dia dirujuk.


Sedangkan Nara menggunakan motor gedenya mengikuti mobil ambulans itu yang tengah melaju dengan kencang.


Dalam balutan helmnya, air mata Nara tak henti-hentinya menetes. Khawatir? Tentu, siapa yang tak khawatir jika saudaranya yang amat sangat dicintainya sedang berjuang mempertahankan nyawanya.


'Naya, gue mohon lo harus sembuh, gue sayang lo,' lirih Nara dalam hatinya.

__ADS_1


Saat di sebuah tikungan tajam, jantung Nara seakan berhenti berdetak, saat mobil ambulans yang membawa Naya terperosok dan akhirnya terguling.


Kecepatan yang diatas rata-rata, membuat pengemudinya hilang kendali saat sebuah truk yang sama-sama melaju dengan kencang dan ugal-ugalan serta berlawanan arah. Pengemudi truk yang kaget saat melihat ambulans melaju kencang, membuatnya kaget dan berusaha menghindarinya, begitu juga dengan ambulans itu.


Kedua pengemudi hilang kendali dan akhirnya truk itu menabrak pohon besar di sisi jalan dan ambulans yang membawa Naya terguling.


Brak


Bunyi truk besar itu mebarak pohon, dan ambulans yang terguling jauh.


"Mamah, Papah, Naya!" pekik Nara histeris menyaksikan itu semua dari arah belakang yang lumayan jauh.


Nara mempercepat laju motornya dan Nara sampauli ditempat yang hanya berjarak tiga meter dari ambulans yang posisinya sudah terguling itu.


Tubuh Nara serasa seperti mati, untuk melangkan lebih dekat saja Nara merasa tak sanggup.


Beberapa warga yang sama-sama menyaksikan itu langsung menolong korban.


Nara yang tersadar dari socknya, langsung berlari ke ambulans yang sudah terguling, berusaha menyelamatkan kedua orang tua serta saudaranya.


"Hiks Mah, Pah, Nay. Nara mohon jangan tinggalin Nara, hiks hiks," tangis Nara semakin histeris.


Satu persatu korban bisa diselamatkan, begitu juga Naya dan orang tuanya.


Sedangakan Nara yang melihat kondisi keluarganya mengenaskan, membuat tangisnya tak dapat ditahanya.

__ADS_1


'Hiks hiks, tolong orang tua dan saudara Nara ya Allah.'


Bersambung ...


__ADS_2