Penghapus Lukaku

Penghapus Lukaku
Pembiasaan


__ADS_3

"sayang kita pulang sekarang ya"ajak Raka pada siska


"iya kak ...."


Mereka langsung turun ke bawah untuk meminta izin pada mama dan papa Siska yang sudah menunggu mereka , orang tua Siska juga akan kembali ke Semarang karena sudah habis izin dari pekerjaannya.


"ma ..pa .. Raka bawa Siska ke rumah ya "


"iya nak papa dan mama juga akan kembali ke Semarang kalian baik-baik ya dan jaga putri papa" ucap papa Alan


"iya pa insyallah "


"mama pesen sama mbak jadi istri yang baik ya nak" pesan mama Caca


"iya insyallah Siska akan berusaha"


Setelah berpamitan dan berpelukan Raka dan Siska pergi menuju kediaman Arganata dan kedua orang tua Siska pergi kembali ke Semarang.


"assalamualaikum"salam keduanya masuk ke dalam kediaman Arganata


"waalaikumussalam "jawab papi Rangga mendekati Raka dan Siska lalu mencium tangan Rangga.


" ayo Siska masuk nak ini juga rumah kamu jangan sungkan" ucap papi Raka


"iya Pi..."


"Raka sama Siska ke kamar dulu ya Pi" ucap Raka menarik tangan Siska


"iya nak "


Sesampainya di kamar Raka, Siska mematung dibuat kagum dengan kamar yang berwarna putih dan biru tua itu.


"kenapa malah bengong sayang " ucap Raka melihat Siska hanya berdiri saja didekat pintu masuk


" Siska canggung kak"


"inikan kamar kamu juga kenapa mesti canggung" ucap Raka mendekati Siska dan mengambil kesempatan dengan mencium bibir Siska


"tuh kan kebiasaan deh " kesal Siska mendapatkan ciuman dari Raka


"makanya jangan bengong "ucap Raka


Siska membereskan pakaian miliknya ke dalam lemari Raka lalu turun kebawah untuk memasak makan siang untuk suami dan mertuanya.


"non.. biar bibi saja yang masak biasanya juga begitu non " ucap bik sumi mencegah Siska yang hendak memasak

__ADS_1


"gak papa bi biar saya saja "


"jangan non bisa-bisa bibi kena marah"


"gak akan bi ,oh ya saya belum tahu nama bibi nama saya Siska bi" ucap Siska memperkenalkan diri


"saya bik Sumi non sudah 6 tahun bekerja disini"jelas buk Sumi


"ok bi mulai sekarang semua yang masak makanan biar saya saja ,bibi hanya boleh membantu saya saja ok"Siska tersenyum manis pada bik Sumi


"tapi non"


" gak papa bi ini tugas saya sebagai istri lagian saya juga nanti bosen gak ngelakuin apa-apa". jelas Siska


"ya sudah kalau begitu non biar bibi bantu buat kupas bumbunya aja ya"


"iya bik terimakasih". ucap Siska


Setelah memasak Siska memanggil papi Rangga dan juga Raka untuk makan siang


"waa ini kamu yang masak ya ka"tanya papi Rangga


"iya Pi maaf kalau makanannya kurang enak"


"belum dicoba sayang udah bilang gak enak"ucap Raka mengelus rambut Siska


"pasti enak lah masakan mantu papi" ucap papi Rangga


Siska mengambilkan makanan untuk Raka sedang kan papi Rangga mengambil sendiri karena ia menolak Siska mengambilkan nya.


"enak loh ka kamu pinter masak juga ternyata"puji papi Rangga


"terimakasih Pi"ucap Siska duduk disebelah Raka


Setelah selesai makan Raka dan Siska sholat Dzuhur dikamar setelah selesai Siska tertidur dan Raka berada di ruang kerjanya yang ada dirumah. Setelah beberapa jam Raka mengerjakan pekerjaannya ia kembali ke kamar untuk sholat ashar dan didapati sang istri sedang tertidur pulas ,ia mendekati Siska yang tertidur di kasur dan mengelus pipi Siska pelan lalu mencium kening Siska. merasa terusik dengan sesuatu di wajahnya Siska membuka matanya dan dilihatnya suaminya yang ada dihadapannya.


"sholat ashar dulu yuk "ajak Raka dianggukan oleh siska


Dirumah Wiranata terjadi perselisihan yang sengit antara Fauzan dan juga Gita yang tak ingin kalah dalam membongkar rahasia kecil Mereka.


"eeh.... Lo gak inget apa gue yang nolong Lo waktu Lo dikejar anjing tahu gak"ucap Fauzan


Mereka duduk diruang keluarga dengan didengar oleh keluarganya.


" masa sih gue gak inget tuh"balas Gita pura-pura tak ingat

__ADS_1


"dasar pikun masih muda udah pelupa gimana tuanya" Fauzan menatap Gita sinis


"ehh.. kutu kupret gue gak minta tolong sama Lo tapi gaya Lo aja yang sok mau nolongin gue" ucap Siska


"eeh... nenek lampir kalau bukan disuruh papi buat jagain Lo gue juga gak mau mengorbankan diri demi Lo lebih baik buat kekasih hatiku aja "sambung Fauzan


"oohh ... jadi Lo gak ikhlas, Pi liat Fauzan gitu sama Gita"Gita mengadu pada Fakhri yang duduk didekat istrinya yang hanya menyaksikan keributan yang tak penting itu


"wahwah...... bisanya ngadu Mulu lu "kesal Fauzan


"biarin yang penting gue menang dari Lo" lanjut Gita kesal


"udah deh kalian jangan kayak anak kecil kakak bongkar nanti kelakuan kalian "ucap farhan yang baru datang


"jangan kak.."jawab mereka bersamaan


" emangnya ada apa Han sampai mereka takut banget gitu"tanya mami elin


"jangan sekarang mi nanti kalau Farhan kasih tahu bisa-bisa gak ada senjata lagi buat Farhan ancem nih kedua bocah"ucap Farhan mencium tangan Fakhri dan elin lalu duduk didekat Gita


"Kakak udah janji Lo kak"ucap Fauzan


"iya tenang aja adik-adik ku selagi kalian tak bertingkat"kekeh farhan


"males deh kalau udah diancem gini"ucap Gita pergi ke kamarnya disusul Fauzan


"ada-ada aja mereka ini" ucap mami elin


"oh iya Pi Farhan izin buat liat hotel kita Yang ada di Palembang ya Pi" ucap Farhan


"bukannya itu tugasnya Faiz ya Han"tanya elin


"iya mi tapi kan Faiz udah nikah kasihan juga kalau Arin ditinggal biar Farhan aja yang gantiin nanti kalau Farhan udah nikah gak akan mau lagi mi"jawab Farhan menaik turunkan alisnya


"kamu ini ada-ada aja han"


"besok Farhan langsung pergi Pi .. mi ..."


"iy sayang mami setuju aja kalau itu yang kamu mau" ucap mami elin berat meski tak sampai 1 Bulan tapi tetap saja enggan berpisah dengan putra kakak iparnya yang sudah ia anggap sebagai anak kandungnya sendiri.


"mami tenang aja Farhan gak akan lama setelah itu Farhan akan membawa menantu mami yang kedua mi" ucap Farhan penuh percaya diri


"mami dan papi tunggu Farhan " goda papa Fakhri


"Farhan tarik ucapan yang tadi Pi pokoknya secepatnya walau mungkin bukan tahun ini hahahaha"ucap Farhan tertawa yang dibuat buat

__ADS_1


"makanya jangan dingin sama cewek mana ada yang mau Deket kalau muka dingin,kaku dan cuek gitu udah sama aja kayak Faiz untuk Arin mau" ucap mami elin mengingat sifat kedua putranya yang sama-sama dingin


"siap komandan laksanakan" Farhan hormat seperti ingin upacara bendera membuat elind am Fakhri tertawa dibuatnya


__ADS_2