
Dinda yang sedang berada dikampus melaksanakan ujian praktek akhir semester. ujian yang dilakukan didalam laboratorium mengharuskan mahasiswanya untuk berhati-hati terhadap zat yang menjadi bahan praktek.
Dinda tak merasa kesulitan dalam menjalankan ujiannya karena sebelumnya ia sudah pernah meracik obat-obatan. kini ia berusaha untuk meracik obat yang berguna untuk pereda nyeri luka tusukan atau tembakan.
dengan teliti ia mencampurkan satu persatu bahan yang dibutuhkan. Kania, teman satu kelas Dinda yang memang dari awal tak menyukainya karena selalu digemari para lelaki sebab parasnya yang cantik pun membuat ulah.
saat Dinda ingin mengambil stok salah satu zat D kedalam ruang pendingin, Kania mendorongnya hingga tersungkur kearah lemari pendingin. Wisnu yang saat itu juga ingin mengambil zat dikejutkan dengan adanya Dinda yang tak sadarkan diri dengan keluarnya cairan darah. Wisnu segera berteriak minta tolong.
"tolonggg, profesor. tolong Dinda. tolong", teriak Wisnu yang panik melihat banyaknya darah yang keluar.
profesor dan teman lainnya datang segera membantu Wisnu membawa Dinda ke rumahsakit.
"kenapa bisa terjadi seperti ini Wisnu? ada apa ini?". tanya profesor khawatir.
"ntahlah prof. tapi tadi di runag pendingin aku melihat Kania yang gemetar. mungkin setelah ini kita bisa mengecek cctv ruangan itu. sekarang selamatkan dulu Dinda." ucap Wisnu yang memang juga ketakutan melihat darah.
tak lama terdengar dering ponsel Dinda disaku almamaternya.
"prof, ada panggilan dari 'mine'. aku tidak tau siapa. mungkin kekasih Dinda". ucap Wisnu.
"halo". profesor mengangkat panggilan itu
"siapa kau? lancang sekali kau mengangkat panggilan di ponsel Dinda". suara bariton itu menggemetarkan tubuh profesor yang memang sudah tua.
"ma-maaf tuan. saya profesor yang mengawas Dinda ujian praktek hari ini. tapi ada kecelakaan tuan. Dinda sekarang akan kami bawa kerumahsakit hmmmmm rumahsakit, apa nama rumah sakitnya Wisnu?" profesor bingung nama rumahsakit yang dituju karena tak tak mana yang terdekat.
"rumahsakit Brahma medica. itu milik papa Dinda. bawa segera kesana. aku akan mengirim lokasinya. aku juga akan tiba disana secepatnya.". ucap Zack seraya mematikan panggilan.
Wisnu, profesor, dan supir membawa Dinda kerumahsakit Yeng telah disarankan Zack.
"matilah kita Wisnu. aku baru ingat Brahma medica itu rumahsakit milik siapa. astaga Wisnu, bagaimana ini". takut profesor karena tau siapa pemiliknya.
"siapa prof? kenapa anda begitu takut?" tanya Wisnu yang memang tak tau.
"dragon blood. ya, apa kau pernah dengar?" tanya profesor dan mendapat gelengan dari Wisnu.
__ADS_1
"bodoh !!. dragon blood adalah kelompok mafia terkejam di seluruh negara. petingginya bernama tuan besar bra-brahmana, dan kini dragon blood dilanjutkan dan diketuai oleh anaknya, tuan muda zack. dan tadi si penelepon mengatakan bawah rumahsakit itu milik papa Dinda, itu berarti Dinda...." profesor menelan Slavia nya susah.
"matilah prof. turunkan aku disini prof. itu artinya Dinda anak petinggi mafia itu kan prof. aduh tekencing aku sedikit prof. bagaimana ini. bahkan belum sampai dirumahsakit itu kini celanaku telah basah karena ketakutan" ucapan Wisnu membuat profesor melirik celana prakte Wisnu yang benar telah basah.
setibanya dirumahsakit telah terlihat banyaknya bodyguard yang menjaga mulai dari luar gedung rumahsakit sampai dalam. Wisnu dan profesor yang mengangkat Dinda pun gemetaran, tapi mereka yakin tidak akan mati sia-sia karena menolong anak mafia.
"biar saya yang membawanya". suara itu persis seperti suara si penelepon tadi. ya, Zack yang menelepon tadi ingin mengatakan ia tak bisa menjemput Dinda di kampus karena rapat. tapi ia membatalkan semuanya kal mendengar ucapan profesor tadi.
"kalau begitu kami permisi, tuan". ucap profesor izin pamit.
"siapa yang membiarkan kalian pergi? ikut aku". ucap Zack
"prof, aku takut. bahkan aku belum beristri prof, apa aku harus mati muda dan belum merasakan nikmatnya dunia?". ucap Wisnu yang bergetar hebat.
.......
dokter sedang menangani Dinda. apapun hasilnya Zack menerimaack menelp.
diruang tunggu ada 2 pria yang membawa Dinda tadi.
akhirnya Wisnu memberanikan diri menceritakan kejadian yang masih abu-abu. apakan Kania pelakunya atau tak sengaja saja.
Zack menelepon pengawalnya, "cari wanita itu. pastikan kau mendapat rekaman cctv itu. bebaskan ia jika memang tak bersalah".
Zack menatap profesor dan Wisnu bergantian. "aku Zack. aku adalah suami dari Dinda. Dinda sendiri adalah anak angkat papaku, brahmana." ucapan Zack membuat Wisnu pingsan.
"maafkan dia tuan. dia ketakutan sejak tadi karena tau siapa papa Dinda. lihatlah celana nya basah karena mengompol". ucap profesor menunduk.
dari kejauhan terlihat seorang pria gagah melangkahkan kakinya mendekat, "dimana putriku? bagaimana keadaannya? bagaimana pula cucuku yang ada dalam kandungannya?" Zack tak bisa menjawab pertanyaan papanya.
"bodoh!!! kau suami yang tidak baik rupanya. menajaganya saja kau tak bisa". papa melayangkan tinjunya kearah Zack. profesor berdiri hendak melerai.
"biarkan saja lelaki tak berguna ini mati. diiii...", "profesor???". papa terkejut melihat rekan lamanya kini ada dihadapannya.
profesor mendongak, "ya, saya, tuan besar. saya dan Wisnu yang membawa putri anda kemari sesuai petunjuk tuan muda".
__ADS_1
"masukalh kelaboratorium dilantai 4, racik obat untuk putri dan juga calon cucuku. dalam waktu 20 menit kau harus menyelesaikannya.". profesor mengangguk. ketika hendak pergi ia melihat Wisnu yang sudah sadar dibangku tempatnya pingsan tadi.
"prof". ucap Wisnu.
"ikut, aku. jika kau berhasil meracik obat ini. aku jaminkan kau bisa bekerja di rumahsakit ini seumur hidupmu. jika kau gagal, tak ada lagi jalan keluar dari sini". Wisnu yang memang memiliki kemampuan diatas rata-rat mengangguk paham.
.....
dokter keluar karena mengkhawatirkan kondisi Dinda dan janinnya.
"tuan, maafkan saya. kami tidak memiliki obat yang bisa menyelamatkan keduanya. kondisinya kritis saat ini. tu..." belum selesai menjelaskan, terdengar teriakan dari dalam ruangan, "dokter, Anfal. dok dokter tolong" ucap perawat didalam.
bertepatan dengan itu profesor dan Wisnu berlari menemui brahmana dan Zack.
"tuan, gunakan obat racikan ini. semoga berhasil. kami membuatnya dengan dosis perkiraan masa uji coba 10 menit. jika lebih dari 10 menit kondisinya tak membaik, maka itu racikan obat kami yang gagal". profesor menunduk mengatakannya karena takut gagal.
"dokter buka pintunya. gunakan obat ini segera. tunggu reaksi obat 10 menit". ucap brahmana memberi obat itu pada dokter.
....
10 menit berlalu, belum ada tanda-tanda kondi Dinda membaik. saat dokter ingin mencabut selang oksigen Dinda, tiba-tiba Dinda terbatuk dan mengeluh sakit pada perutnya.
dokter mengusahakan apa yang ia bisa. dan ya, mukjizat Tuhan keduanya terselamatkan. bahkan kondisi keduanya dinyatakan sangat membaik.
"tuan, pasien akan kami pindahkan keruang petinggi". ucap perawat.
melihat Dinda yang cengengesan dengan berbagai macam alat ditubuhnya membuat Brahman menghela nafas lega.
"dasar psikopat, bisanya bikin jantungan aja." gerutu Brahmana.
"maaf tuan, apa kami berhasil?" tanya Wisnu.
"profesor dengarkan aku baik-baik. terimakasih banyak atas bantuannya. aku memberimu rumahsakit dan laboratorium anak cabang dikota E. dan kau Wisnu. aku mempersilahkan kau bekerjasama dengan Dinda di rumahsakit miliknya. kau bekerja dibagian laboratorium milik Dinda. persiapkan dirimu untuk melakukan wisuda sarjanamu bulan depan. dan akan melanjutkan Pascasarjana mu di universitas yang sama tahun ini juga. aku beri kau beasiswa karena universitas itu adalah yayasan milikku pribadi." profesor dan Wisnu menganga tak percaya atas apa yang diberikan petinggi mafia yang disegani itu.
sujud syukur keduanya sambil berpelukan karena telah berhasil melewati masa-masa mencekam.
__ADS_1