
Dinda, yang lebih tepatnya Ximey yang telah mengambil alih tubuhnya membawa Pamela ke markas flower team.
Ximey yang masih berada dalam emosi Dinda mengikat Pamela dengan kuat. tak lupa ia juga menancapkan banyak besi yang telah dipanaskan ke paha, lengan, dan punggung Pamela.
"aaaaaaaaargh. lepaskan aku. tolong. siapapun diluar sana tolong aku. ada wanita gila yang ingin menyakitiku".
"hahaha. aku bukan wanita gila. aku lebih senang disebut dengan penjual bunga yang psikopat karena jati diriku hanyalah seorang penjual bunga."
"lepaskan. lepaskan aku. aku mohon."
"tak ada kata ampun bagimu. kau menggoda orang Yang salah nona".
sreekkk, jleb jlebb
"aaaaaaaaaaaakk, jangan. jangan lukai wajahku"
door doorr
cetakkk
dua tembakan terlepas mengenai bahu dan lengan Pamela, serta tajamnya anak panah yang melesat tepat di kepalanya.
"ciihh, baru begitu saja kok sudah mati. gak asik banget"
Dinda meninggalkan markas dan sebelumnya ia sudah memerintahkan kepada anggotanya untuk membuang mayat Pamela ke jurang.
....
Dinda yang telah membersihkan diri datang ke toko bunganya.
ia membantu para karyawan untuk merangkai bunga.
ia yang tengah sibuk metangksi bunga itu terkejut ketika banyaknya gerombolan preman datang dan mengobrak-abrik tokonya.
"kalian yang memiliki kemampuan bela diri silahkan keluar. aku akan memantau kalian dari ruangan ini" ucap Dinda yang masih terus merangkai bunga
"baik queen".
....
"hei, kalian! ada apa ini?" ucap karyawan Dinda.
karyawan Dinda yang memang anggota dari dragon blood milik sang suami untuk membantu dinda di toko itu dibekali dengan ilmu beladiri.
__ADS_1
mereka 5 orang yang memiliki kemampuan itu.
preman yang berjumlah sekitar 25 orang itu terus memporak-porandakan toko Bunga Dinda.
"serahkan uang kalian. kami tahu toko ini sangat banyak sekali pengunjung."
"hadapi dulu kami dan pemilik toko bunga ini. jika kalian menang. maka seluruh penghasilan penjualan dari toko bunga ini milik kalian."
dengan menyeringai tajam, mereka saling beradu kekuatan. namun karena jumlah karyawan Dinda yang kalah, mereka sedikit susah menumbangkan preman itu.
"ckk, Zack Zack. kau salah memasukkan orangmu yang masih lemah ini ke dalam tokoku". monolog Dinda. dan berjalan keluar dengan membawa bunga di tangannya seolah tak tahu menahu hal ini.
"ada apa ini?"
ucap Dinda dengan memasang wajah polosnya.
"maaf Bu, mereka ingin merampok toko bunga ibu". ucap salah seorang karyawan Dinda dengan mengedipkan sebelah matanya sebagai tanda.
"hahah jadi kau pemilik toko bunga ini? wanita semuanya lemah! serahkan saja hasil penjualanmu. maka kami akan pergi"
Dinda yang masih memegang bunga ditangannya itu meremasnya hingga berguguran kelopaknya. ia tersulut emosi melihat toko bunganya berantakan dan banyak pengunjung histeris ketakutan.
"bawa para pengunjung keluar. dan kalian hentikan pertengkaran ini". ucap Dinda pada karyawan yang sedang beradu otot itu.
"stop! apa mau kalian?" ucap Dinda menghentikan preman itu.
"mundur! kami hanya ingin hasil penjualanmu". ucap ketua preman itu memerintahkan anggotanya untuk berhenti berkelahi.
"baik. jika kau bisa mengalahkanku, maka hasil penjualan beserta toko ini jadi milikmu. jika kalian kalah, kalian akan.......... mati". ucap Dinda sedikit memperlambat kata terakhirnya.
"seraaaangg".
buughh
buughh
sreekk
kletaakkk
buugh
suara-suara patahan tulang, sayatan, dan pukulan yang begitu keras terdengar nyaring ditelinga.
__ADS_1
bughh bughhh buughhhh
cettaakkk
jleeb
"aaaaaaaaaaaargh hmmm"
semua preman itu mati tak tersisa. bunga-bunga yang ada di toko itupun hancur dan tergenang oleh banyaknya darah para preman.
"sungguh malang nasib bungaku harus terkena darah kotor kalian. cuiihh".
"bereskan mereka juga toko ini. aku akan memesan bunga lagi". perintah Dinda pada karyawannya.
.....
disisi lain, Zack sedang uring-uringan karena melihat Dinda yang tak kunjung pulang.
"ckk, kemana kau bawa dindaku, Ximey! kau bahkan membawa serta anakku".
gumam Zack.
tok tok tokk
pintu ruangan Zack terbuka.
"ada apa?" tanyanya pada shadow
"toko bunga milik nona muda diserang preman, tuan".
"apa!!. bagaimana keadaan disana? apa kau melihat Dinda?"
"toko sangat kacau tuan. semua bunga berhamburan dan hancur. genangan darah juga mengenai seluruh bunga yang ada ditoko. tapi maaf tuan, saya dan tim tidak melihat nona muda."
"darah? apa karyawan ada yang terluka bahkan mati?"
"tidak tuan. karyawan dan pengunjung telah diamankan keluar. kemungkinan darah itu milik para preman yang mati tuan. mereka berjumlah lebih dari 20 orang".
"apa para karyawan utusanku yang menghabisinya?"
"saya rasa tidak tuan. mengingat mereka masih belum menguasai ilmu beladiri dengan mahir".
"baiklah. aku tahu Dinda ada disana. terimakasih"
__ADS_1
.....