Penjual Bunga Itu Psikopat

Penjual Bunga Itu Psikopat
misi awal


__ADS_3

Sonia yang telah berada di bandara memeluk erat Zack dan Dinda. mereka melepas kepergian Sonia untuk menjalankan misi penting bagi Dinda.


"jaga dirimu baik-baik. kembalilah dengan utuh. aku tak menerima kepalamu, atau tangan bahkan potongan tubuhmu yang lain" ucap Dinda.


psikopat mah ngeri ya gaes ya, salam perpisahannya ngadi-ngadi gitu.


"aku pastikan semua anggota tubuhku akan tetap berada pada tempatnya hingga aku kembali nanti. jika mama sanggup perjalanan jauh, kunjungi aku sesekali"


"pasti. doakan saja adikmu ini bisa diajak kerjasama supaya mama bisa mengunjungimu. jikalaupun mama tak sanggup, pasti papa akan datang kesana membantumu"


"umpankan aja terus aku. kenapa gak kau saja yang kesana. kan misimu" ucap Zack sembari mengupil.


"kau bilang ini misiku? baik. jika mafia mu ada masalah, jangan harap aku atau Sonia akan membantumu."


"cih, sehebat apa psikopat seperti kalian?"


dalam perjalanan menuju tempat yang sudah disediakan oleh anggota kepercayaan Zack dan Dinda, Sonia berpikir bagaimana caranya ia akan memikat dormeo agar bisa didekati untuk mencari tahu seluk beluk wanita tua itu. baru setelahnya ia bisa membawa keduanya kepada Zack dan Dinda.


"ah, akan aku pikirkan nanti setibanya aku dirumah itu. lelah sekali rasanya. kenapa hidupku penuh dengan candaan seperti ini? ya Tuhan, aku mohon lindungi saja aku serta keluarga baruku. masalah percintaan dan lain-lain akan aku anggap bonus kebaikan dariMu".


Sonia memejamkan matanya untuk beristirahat sejenak di dalam pesawat sebelum melakukan misi berbahaya itu.


....


Sonia keluar dari bandara menuju parkiran. disana Zack dan Dinda telah menyediakan mobil untuknya.


Sonia dengan perawakan tinggi, putih, rambut hitam panjang sepinggang membuat para manusia yang ada disekitaran bandara itu terperangah.


"nona Sonia. saya Ibnu. supir yang ditugaskan nyonya Dinda untuk membawa anda kerumah yang sudah disediakan"


"baik"


Sonia masuk kedalam mobil, melepas kacamata hitamnya dan menggantungkan disela tangtop bagian depannya.


.....


kini Sonia dan Ibnu berada dihalaman rumah yang terbilang cukup kecil. kemungkinan hanya mampu menampung 3 orang saja di dalam rumah itu.


"silahkan nona. ini rumah baru anda."


"hmm"


"jika ada yang bisa saya bantu, saya ada di ruang belakang pos satpam itu nona".


"pergilah. aku ingin beristirahat"


.....


Sonia masuk kedalam rumah bernuansa hijau muda itu. ia melihat seisi rumah dengan seksama.


rumah dengan 1 kamar tidur, 1 dapur dan 1 ruang tamu kecil itu dirasa cukup oleh Sonia.


"maaf nona. makan malamnya sudah saya siapkan. saya Dini koki dirumah ini sesuai perintah tuan Zack"


"tunggu sebentar. kita akan makan malam bersama dengan yang lainnya. aku akan mandi terlebih dahulu"

__ADS_1


"ba-baik nona".


.....


seminggu sudah Sonia berada di tempat dekat dengan dormeo. selama itu juga ia telah mencoba untuk mendekati dormeo.


dormeo yang melihat Sonia pun merasa ada angin segar yang berhembus dalam dirinya.


selama itu dormeo sering berkunjung ke rumah Sonia. tentunya tanpa adanya pengawalan secara terang-terangan dari anggota yang diperintah Zack dan Dinda.


malam ini Sonia dan dormeo janjian akan ke pesta ulangtahun kota itu. dormeo telah menunggu Sonia di sofa ruang tamu. ia memakai setelan jas berwarna maroon.


Sonia keluar dari kamarnya dengan menggunakan dress selutut berwarna hitam pekat dengan hiasan taburan permata dibagian leher dress-nya.


ia menggerai rambut panjangnya dan mengaplikasikan pita dirambutnya. dormeo melotot melihat penampilan Sonia yang terlihat seksi dimatanya.


"kau sangat cantik, sayang" ucap dormeo mengelus lembut pipi Sonia.


"kau juga tampan sekali malam ini. ayo kita berangkat. pesta akan dimulai"


"baiklah. ayo, sayang"


....


mereka mengendarai mobil milik dormeo tanpa supir. mereka mengikuti setiap rangkaian acara pesta itu.


"sayang, tunggu sebentar ya. aku ke toilet sebentar" ucap dormeo


"baiklah. jangan terlalu lama. aku khawatir banyak om-om yang mendekatiku. hahah"


........


Sonia yang melihat dormeo berlalu pun segera memasukkan obat racikan profesor dan Wisnu. obat yang dapat menghilangkan kesadaran penggunanya, dan mampu membuat penggunanya jujur akan segala hal tanpa ditanya.


biipp biippp


jam tangan Sonia yang terhubung dengan shadow berkedip. hal itu menandakan adanya panggilan dari shadow padanya.


"ada apa?" Setelah Sonia menekan tombol jam tangan yang berkedip itu.


"dia segera kembali nona. segera bawa dia ke hotel x kamar 03. aku sudah menyiapkan segalanya disana."


"baik"


...


dormeo melihat Sonia dari kejauhan yang sedang membenahi anak rambutnya.


ia tersenyum dan menyelipkan anak rambut Sonia kebelakang telinga Sonia.


"eh, kau Kembali?"


"ya, sayang"


"ah, ini minumlah. tadi aku mengambil minuman untukku juga untukmu"

__ADS_1


"terimakasih. kau memang baik sekali"


dormeo tanpa curiga meminum minuman itu hingga tandas.


15 menit kemudian obat bereaksi pada kesadaran dormeo.


"aisshh mana kuat aku menggendongnya." ucap Sonia.


lalu Sonia menekan tombol jam tangannya lagi.


"paman, bantu aku. makhluk ini berat, aku tak akan sanggup memapahnya".


"baik nona"


. ..


sesampainya di hotel, Sonia menanyakan tentang siapa wanita tua yang bersama dengan dirinya itu.


ia juga merekam setiap ucapan dormeo untuk diserahkan pada papa Zack dan mama Dinda.


setelah puas bertanya, Sonia melucuti pakaiannya dan juga pakaian dormeo. sehingga ketika dormeo terbangun pastinya seolah mereka telah melakukan yang iya-iya.


"menjijikkan sekali aku melihat Joni letoymu ini. hiii"


ucap Sonia menutupi tubuh dormeo dan juga dirinya.


ia sengaja mencampakkan pakaian keduanya disembarang tempat.


hingga waktu menjelang pagi, dormeo menggeliat terbangun dari tidur panjangnya. Sonia yang sejak malam tak bisa tidur pun tetap menutup mata seolah ia tertidur.


jauh dalam lubuk hatinya, ia sangat takut jika Dormeo benar-benar akan melakukan hal itu padanya.


"cantik sekali". dormeo mengecup singkat pipi Sonia.


Sonia perlahan membuka matanya seolah terganggu dengan kecupan dormeo.


"pagi"


"pagi sayang"


"aw, sakit" Sonia berpura-pura sakit pada intinya.


malam sebelum Sonia benar-benar naik keatas ranjang ia sudah menuang cairan membersih luka berwarna merah yang dicampur dengan pasta stroberi. seolah itu adalah darah keperawanan dirinya.


"kau kenapa sayang?"


"sakit sekali"


"ap-apa kita tadi malam...."


"jelas saja. kau mengungkungku tanpa ampun. lihatlah seprai putih itu berbalut dengan darahku. hiks ini kali pertama bagiku. hiks hiks" Sonia bersandiwara menangis untuk meyakinkan dormeo


"maafkan aku. aku tak sadar melakukan itu."


"gotchaaa. sekalinya bodoh tetap bodoh. ditipu anak kecil kok gampang banget. haha. rasakan permainanku selanjutnya sebelum kau mati ditangan mamaku". ucap Sonia dalam hatinya.

__ADS_1


__ADS_2