
sonia, Samuel, Dominick dan Zack telah sampai di markas. disana Dinda telah menunggu kedatangan mereka.
Dinda melihat ada yang mencurigakan dari gerak-gerik Samuel dan Sonia. mereka berdua terlihat sedikit bingung dan panik.
"apa ada yang ingin mengatakan sesuatu?" tanya Dinda menelisik
"maaf nona muda. saya tidak ada hal untuk disampaikan. sejauh ini semuanya aman" ucap Dominick membuka pembicaraan
"bagus. kau boleh beristirahat"
"terimakasih nona muda, tuan. saya pamit undur diri dulu. permisi"
Sonia dan Samuel menatap tajam Dominick yang bisa-bisanya meninggalkan mereka begitu saja.
"hmm. apa kalian tak ingin melaporkan sesuatu?" tanya Dinda
"ah, eh. hmm iya nona semua berjalan dengan baik dan sesuai dengan misi."
jawab Samuel kaku
"kenapa kau terlihat berbeda hari ini? apa kau ada masalah?"
"ti-tidak nona muda. saya baik-baik saja"
"katakanlah apa yang sebenarnya jadi beban pikiranmu. selagi aku bisa mendengarkan maka akan aku dengarkan. mungkin pula aku punya solusinya"
"mereka memiliki hubungan khusus dibelakang kita. mereka pacaran, sayang" tiba-tiba Zack membuka suara perihal hubungan keduanya.
"what? benarkah? Sonia? Sam?" ucap Dinda menatap keduanya
"maafkan saya nona muda. saya benar-benar mencintai Sonia. eh maksud saya nona kecil. lancang memang saya menaruh hati pada majikan saya sendiri, tapi memang begitu kenyataannya nona"
"Sonia?"
"maaf ma, pa. bukan Sonia tak ingin memberitahukan hal ini pada kalian. kami hanya membutuhkan waktu yang tepat. Sonia pun mencintai kak Samuel pa, ma. jika berkenan, restuilah kami"
"terimakasih Sam, kau sudah menjadi pria gantle yang mengatakan secara langsung pada kami sebagai orangtua Sonia. terimakasih pula selama ini kau telah melindunginya. kami merestui kalian. tapi dengan syarat.." ucap Dinda yang terus menatap keduanya secara bergantian
"maaf jika saya lancang nona, apakah syarat yang nona ajukan untuk kami?"
"nikahi Sonia dalam waktu kurang dari 2 Minggu. besok pagi lamar dia secara resmi dihadapan kami dan juga rekan mafiamu. kau sanggup?"
"baik nona. saya bersedia. besok pagi saya akan datang untuk melamar Sonia. setelahnya saya sendiri yang akan mengurus persiapannya."
"bagus. tapi kau tetap harus bekerja. musuh zack dan aku tak akan berhenti untuk mengincar nyawa kami sampai disini saja. jaid kau harus tetap mengawasi sekitar"
"tapi ma. kan capek harus melakukan ini dan itu, mempersiapkan pula segalanya" ucap Sonia mengkhawatirkan Samuel.
"huh, mulai cemas kau rupanya gadis psikopat. itu syarat selanjutnya yang harus ia kerjakan dengan baik" ucap Zack
"tak apa Sonia. aku kan lelaki kuat. aku pasti bisa melakukan semuanya sendiri" ucap Samuel.
"baiklah kak. jaga dirimu baik-baik" ucap Sonia sedih
__ADS_1
"dan syarat terakhir yang aku berikan padamu adalah setelah besok selesai lamaran kau hanya aku beri waktu untuk menghabiskan waktu dengan Sonia selama 3 jam saja. setelah itu kalian dilarang bertemu hingga waktunya tiba untuk pernikahan. kalian hanya boleh melakukan interaksi melalui ponsel saja." ucap Zack memberi syarat akhir
"ba-baik tuan, nona"
"jika tak ada yang ingin kau tanyakan silahkan kembali ke ruanganmu. beristirahatlah, jangan lupa datang ke apartemen besok pagi pukul 10"
"siap tuan. saya permisi nona, tuan, Sonia. mari"
Sonia menatap punggung datar Samuel yang semakin menjauh darinya.
"hmmm" Dinda mendehem melihat Sonia begitu lekat menatap kepergian calon suaminya itu.
"eh, hehehe ma, pa Sonia ke kamar dulu ya"
"tidak. kau tidak boleh istirahat disini. ayo ikut pulang" Dinda menarik tangan Sonia agar ikut dengannya dan Zack pulang.
.....
setibanya di apartemen di da dan Zack masih tak mengizinkan Sonia untuk istirahat.
"duduk." ucap Zack pada Sonia.
"ada apa pa? inikan sudah larut malam. Sonia mau tidur"
"sejak kapan kalian berhubungan?" tanya Dinda yang juga duduk dengan membawa buah potong ditangannya
"belum lama ma. sejak kami melakukan misi dirumah nenek Hanum"
"kami bersyukur kau melabuhkan hati pada orang yang tepat. saat kalian disana sebenarnya kami sudah berencana untuk menjodohkan kalian, tapi nyatanya kalian bergerak lebih cepat daripada rencana kami.""
"ya, benar. lalu apa yang membuatmu jatuh hati padanya?"
"aku yakin dia orang baik pa, ma. bahkan dia tak mau menyentuhku sedikitpun. bahkan aku pernah sengaja menggodanya untuk melihat seperti apa orang yang aku cintai itu. mama dan papa tahu? dia bahkan mengatakan aku akan melindungi mu sampai kapanpun, meski aku bernafsu melihatmu, sebisa mungkin aku tetap menjagamu. biarkan hal yang menjadi hakku nantinya tetap terjaga hingga waktunya tiba aku memintanya. begitu ma, pa"
"kau memang tak sala pilih sayang, mama bangga padamu meski kau dulunya bekerja sebagai penari striptis tapi tetap menjaga kehormatan dirimu" ucap Zack memeluk Sonia.
"sudah kewajibanku pa, dan lagi Samuel bilang nantinya jika menikah ia memintaku menggunakan alat kontrasepsi karena ia tak mau terjadi hal buruk padaku jika nantinya aku hamil dalam usia yang masih sangat muda."
"begitu khawatirnya dia padamu, sayang. istirahatlah, kau harus terlihat fresh besok pagi diacara lamaranmu"
"baik pa, ma. aku ke kamar dulu. mama jangan terlalu banyak ngemil yang manis seperti gulali itu. tidak baik untuk adik kecilku yang ada diperutmu"
"ya sayang."
.....
waktu yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Sonia dan Samuel melangsungkan lamaran dikediaman Zack dan Dinda.
"saya sebagi wali dari Samuel ingin menyampaikan niat baik kami yang tentunya sudah nona dan tuan muda ketahui. saya ingin melamar Nona Sonia untuk Samuel, rekan kerja saya" ucap Dominick
"terimakasih dom. kami sebagai orangtua pasti mendukung apa yang menjadi keputusan anak kami sebab yang akan menjalani kehidupan ini adalah dirinya. jadi saya selaku papa Sonia menyerahkan kembali keputusan ini pada Sonia"
mereka menatap ke arah Sonia yang sedari tadi menunduk malu. ia terlihat begitu memukau dengan dress peach yang membalut tubuhnya. makeup tipis membuat wajahnya terlihat lebih segar.
__ADS_1
"aku bersedia menerima lamaran kak Sam" jawab Sonia menatap Samuel
"Alhamdulillah. ini cincinnya. silahkan pakaikan pada jari Sonia dan Sonia pakaikan cincin itu ke ajari Sam sebagai tanda kepemilikan kalian" ucap Dominick.
keduanya saling bertukar untuk memasangkan cincin. acara lamaran pun selesai.
kini mereka sedang berada diruang tamu setelah Dinda menjamu mereka untuk makan siang bersama.
"maafkan aku, sayang. aku hanya bisa melamarmu dengan seadanya saja. waktu yang ku miliki tak banyak. akupun memesan cincin itu baru pagi tadi dengan dom, makannya hampir saja kami tadi terlambat datang " ucap Samuel
"tak apa. ini sudah lebih dari cukup. terimakasih banyak telah mengupayakan yang terbaik untukku". jawab Sonia tersenyum.
Sonia sangat bersyukur memiliki kekasih seperti Samuel. dengan penuh tanggungjawab ia berusaha dengan semampunya mempersiapkan hal terbaik untuk lamaran itu. cincin dengan motif bunga mawar menjadi pilihan Samuel untuk Sonia, sedangkan dirinya memilih cincin dengan motif pistol kecil diatasnya untuk Samuel sendiri.
"jangan abaikan pekerjaanmu setelah ini Sam" ucap Dinda
"baik. nona"
"hentikan panggilanmu itu. Sekarang aku calon mertuamu. maka panggil pula aku dan Zack seperti Sonia memanggil kami"
"ap-apa boleh?"
"tentu. kini kau putra besar kami." ucap Zack
"terimakasih nona, tuan. ehm maksud saya mama papa. terimakasih atas kepercayaan kalian untuk menjaga dan melindungi Sonia. terimakasih pula atas bantuan kalian yang mengubahku menjadi manusia yang lebih berguna. aku berjanji tidak akan berkhianat "
"tepati janjimu. kami tahu kau pria baik. saat istriku membawamu kehadapan ku saat kau hampir mati dihajar ayahmu sendiri, aku sudah sangat yakin kau mampu menjadi lebih baik"
"maaf jika aku selalu merepotkan kalian"
"tak masalah. sudah kewajibanku dan Dinda memberimu wadah dan kesempatan untuk mencari jati dirimu".
"terimakasih sekali lagi".
saat mereka berbincang-bincang, ada seseorang yang sejak tadi hanya menjadi pendengar setia. jauh di dalam lubuk hatinya ia bersedih sebab sang sahabat sebentar lagi akan memulai hidup baru dengan status pernikahannya. sedangkan ia kekasih pun tiada.
"hmmm, kau kenapa?" tanya Dinda yang sejak tadi memperhatikan Dominick
"eh, hehe. tidak ada nona."
"mana kekasihmu? kau tak ingin memperkenalkan dia pada kami?" tanya Dinda
"tidak ada nona. saya jomblo sejak lahir"
"hahahahaa, kasihan sekali. pantas saja sejak tadi acara lamaran selesai muka mu kusut seperti pakaian yang tidak di setrika" ledek Dinda pada dom
"hehe, bagaimana lagi nona. jika begini kan aku juga ingin segera menikah"
"menikahlah dengan Popi. dia juga cantikan. bahenol lagi" ujar Dinda menawarkan pelatih beladiri di toko bunga miliknya.
"hah? wanita setengah pria itu? oh, tidak nona. terimakasih. bisa-bisa aku sehari menikah dengannya langsung mati"
"hahahah. berhati-hatilah dalam mengucap, kawan. bagaimana jika kedepannya kau malah bucin padanya dan merengek untuk kunikahkan kau dengannya?"
__ADS_1
"heheh. up nona up. nanti saja ya. biar Sam duluan saja. nanti aku pikirkan lagi tawaran nona".
Dominick terlihat kikuk saat ini. hal itu membuat mereka yang berkumpul disana tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi dari Dominick yang tak lain adalah penembak jitu dragon blood.