Penyesalan Tuan Muda

Penyesalan Tuan Muda
#bab 12


__ADS_3

sheilla yang berada dalam kamar sedang duduk di balkon kamar sambil memandang keindahan kota.


zhein yang baru memasuki kamar berjalan menuju balkon kamar, zhein tahu sheilla berada di sana.


sheilla dan zhein duduk dengan hening. zhein belum berbicara apa-apa begitupun dengan sheilla.


setelah sekian lama hening zhein akhirnya membuka suara. "jangan pernah memberitahu Rosa jika kmu hamil" ~zhein berbicara dengan enteng tanpa memikirkan perasaan sheilla


sheilla masi setia dengan diamnya, sheilla enggan menjawab perkataan zhein. sheilla sudah mempersiapkan dirinya bila zhein tidak menerima anak yang di kandungnya.


"urus saja anak-anakmu itu sendiri, aku tidak ingin terikat dengan mereka. aku hanya ingin anak-anak dari rahim Rosa bukan dari rahimmu. sampai kapan pun, aku tidak akan menganggap anak-anak itu sebagai anakku"


DEG


kali ini perkataan zhein sukses membuat hati sheilla bagaikan di himpit batu besar, pasokn oksigen di sekelilingnya mendadak berkurang, air mata yang sheilla tahan sedari tadi akhirnya luruh tanpa bisa sheilla cegah.


setelah mengantarkan perkataan yang menyakitkan itu zhein berbalik meninggalka sheilla sendirian


hiks....hiks.... hiks


tangis sesegukkan itu lolos dari bibir mungil itu. sheilla mengelus perut ratanya dengan hati yang luar biasa pedihnya.


"kita akan pergi dari sini nak, kita akan hidup berempat saja. hanya kalian dan bundah saja" ~lirih sheilla sambil sesegukkan


entah sudah berapa lama sheilla menangis, ia sendiri pun tidak tahu.


zhein kembali membuka pintu balkon kamar.


zhein pov.


saat meninggalkan sheilla ada sedikit penyesalan dengan kata-kata yang ia lontarka pada sheilla.


"apa yang sudah aku katakan barusan. ****."~umpat zhein pada dirinya sendiri.


zhein menggelengkan kepalanya "untuk apa juga aku memikirkannya dan anak-anaknya. Rosa juga bisa memberiku anak"


tok.. tok.. tok... cek lek. pintu kmar di buka dari luar ternyata pelayanan yang datang.


"tuan muda, nyonya dan tuan besar menunggu anda dan nyonya muda untuk makan malam" ~ucap pelayanan yang tidak di ketahui namanya itu.


"baiklah, kami akan segera bergabung" ~ jawab zhein dengan datar.


pelayat tersebut keluar meninggalkan zhein.


sepeninggala pelayanan tersebut, zhein melangkakan kakinya menuju balkon untuk menemui sheilla.


zhein terkejut melihat sheilla yang melamun dengan air mata yang terus mengalir, ada rasa iba bahkan zhein ingin memeluk tubuh mungil itu.


pandangan zhein tertuju pada tangan sheilla yang sedang mengelus perutnya. tanpa sadar zhein berjalan menuju sheilla ingin mengelus perut yang berisikan anak-anaknya.


baru saja zhein akan berjongkok di hadapan sheilla, kesadaran zhein kembali. segera zhein menjauh dari sheilla.


"mau sampai kapan kamu di situ?. mama dan papa menunggu untuk makan malam"~setwlah mengatakan itu zhein berbalik meninggalkan sheilla.


sheilla tidak mengindahkn perkataan zhein, sheilla masi setia dengan diamnya

__ADS_1


zhein pov and


***


meja makan.


" zhein mana istrimu? "~ baru saja zhein duduk, nyonya dewi sudah menanyakan keberadaan sheilla


zhein mengumpat dalam diam saat mengetahui sheilla tidak mengikuti langkahnya.


dengan wajah arogannya zhein meninggalkan meja makan menuju kamarnya.


brak


zhein mendobrak pintu kamar dengan emosi yang meluap-luap.


sheilla yang baru menutup pintu balkon tersentak kaget saat mendengar pintu di dobrak.


zhein maju ke arah sheilla lalu mencengkram pipi sheilla hingga memerah.


plak. lagi dan lagi zhein menampar sheilla.


" sepertinya kamu mulai berani padaku j*l*n*. jangan karna mama dan papaku baik padamu kamu mulai ngelunjak "~zhein berteriak di hadapan sheilla.


sheilla memejamkan matanya saat mendengar bentakan zhein pas berada dihadapannya.


" apa kamu pikir aku ini pelayanmu yang bolak balik memanggilmu hanya untuk makan, ha" ~zhein berteriak seperti orang kesetanan.


"cepat turun, jangan biarkan mama dan papa menunggumu terlalu lama. kamu bukan nyonya di rumah ini"


sheilla tersadar saat mendengar pintu yang banting untuk kedua kalinya.


sheilla menyeka air matanya.


"apa salahku Tuhan. hiks... hiks... hiks. "


sheilla berdiri dengan sisa tenaganya. berjalan menuju kamar mandi untuk membasuh wajahnya.


"loh, zhein kok turun sendiri lagi. istrimu mana? "~tanya nyonya dewi. pasalnya zhein tadi berpamitan untuk memanggil sheilla


" dia akan menyusul ma, mama lanjutkan saja makannya"~ zhein dengan santai mendudukkan dirinya pada kursi lalu mengambil nasi dan lauk pauk yang ia butuhkan


sheilla terlihat menuruni anak tangga dengan senyum yang di paksakan.


nyonya dewi bangun dari duduknya untuk menuntun sheilla menuju kursi samping zhein.


"makasi mah"~ kata sheilla


nyonya dewi dengan cetakan melayani sheilla, mulai dari mengmbilkan nasi, lauk pauk dan menuangkan segelas susu hamil.


" silakan di makan nak" ~kata nyonya dewi


lalu mereka melanjutkan makannya dengan hening.


tuan Wijaya terus memperhatikan sheilla sedari tadi. sepertinya tuan Wijaya curiga dengan rumah tangga anaknya ini.

__ADS_1


"aku akan menyelidinya nanti"~ucap tuan Wijaya dalam hati.


***


di apartemen Edwin.


Rosa tidak benar-benar ke Paris, selama 3 bulan ini Rosa menghabiskan waktunya dengan Edwin di apartemen Edwin.


Rosa yang baru keluar kamar mandi menghampiri Edwin yang berdiri menghadap kaca dengan bertelanjang dada.


" honey"~panggil Edwin kaget, pasalnya Edwin sedang melamun lalu Rosa tiba-tib memeluknya.


"aku punya sesuatu untukmu honey" ~rosa menyerahkan hasil tespek di hadapan Edwin.


Edwin yang bahagia berbalik lalu memeluk Rosa.


"aku akan menjadi papa sayang"~ Edwin memeluk Rosa dengan erat.


Rosa pun tersenyum dan membalas pelukan Edwin.


" tapi aku mau anak ini menjadi anak zhein. aku akan menjerat zhein dengan anak ini"


deg


Edwin melepaskan pelukannya lalu memandang Rosa dengan tatapan datar. Edwin pergi meninggalkan Rosa.


Rosa mengejar Edwin lalu kembali memeluk Edwin dari belakang dengan eret


"dengarkan dulu penjelasanku honey. setelah aku mendapatkan harta kekayaan Wijaya, kita akan hidup ber sama-sama lagi. aku janji"~ penjelasan Rosa.


Edwin masi setia dengan diamnya bahkan Edwin tidak berreaksi apa-ap. Rosa berjalan di hadapan Edwin. Rosa berjinjit llu mengecup b*b*r edwin. namun Edwin masi setia dengan diamnya.


" aku bisa menafkahi kamu dan anak kita Rosa"~ Edwin berbicara dengan nada datar.


"aku tahu sayang, tapi aku butu menjadi nyonya Wijaya selain bagus untuk memuluskan jalannya karirku, kekayaannya juga bisa kita manfaatkan"~ Rosa masi mencoba bernegosiasi.


"terserah padamu Rosa"~ jawab Edwin lalu pergi meninggalkan Rosa.


Edwin sangat marah pada Rosa. Edwin begitu tulus mencintai Rosa tetapi Rosa masi meneruskan obaesinya pada keluarga Wijaya.


***


kembali ke kediaman Wijaya


setelah makan malam berakhir, sheilla dan zhein sedang berada dalam kamar dengan posisi zhein berada di tempat tidur sedangkan sheilla berada di sofa.


zhein sedari tadi terus memandang sheilla, zhein ingin menawarkan sheilla tidur seranjang denganya namun gengsi zhein terlalu besar " nanti dia besar kepala lagi" ~batin zhein


sheilla merebahkan dirinya, tak butu waktu lama sheilla terbang ke amal mimpi.


zhein yang melihat sheilla tertidur juga membaringkan badanya membelakangi sheilla lalu tertidur.


sedangkan tuan Wijaya yang berada di ruang kerjanya sedang menelpon seseorang entah apa yang ia bicarakan dan dengan siapa ia berbicara.


bersambung...

__ADS_1


__ADS_2