
zhein yang baru turun dari pesawat tersenyum memandang di sekelilingnya. zhein tidak sabar untuk menemui ketiga anaknya.
orang suruhan tuan wijaya berjalan menuju tempat zhein berdiri.
"tuan, mari saya antar tuan untuk beristirahat di hotel"~ kata orang tersebut.
" tidak, aku ingin menemui anak-anakku dulu"~ zhein memakai kacamata hitamnya lalu berjalan mendahului orang tersebut.
****
setelah menempu perjalanan panjang, tibalah zhein di rumah bibi Tia. orang kepercayaan tuan Wijaya yang di tugaskan menjaga sheilla dan anak-anaknya ( namanya Tio).
Tio turun dari mobil mendahului zhein, lalu berjalan memutari mobil untuk membukakan pintu untuk zhein.
zhein melangkakan kakinya hingga pada pintu rumah bibi Tia. tok.. tok.. tok. zhein mengetuk pintu dengan perasaan gugup.
cek lek, bibi Tia membuka pintu dengan zoya yang ada di gendongannya, sisa-sisa air mata zoya masi ada di pelupuk matanya, biasalah zoya nangis di jailin ziko.
zhein mematung di tempatnya, badanya seolah kaku untuk melangkah, hampir saja zhein terjatuh jika Tio tidak memahan badan zhein
air mata zhein turun dengan luruh membasahi pipinya, zhein ingin menggendong dan memeluk zoya, tapi zhein takut mendapat penolakan dari zoya. namun tanpa di duga zoya sendiri merentangka tangannya meminta di gendong.
"papapapapapa"~ celote zoya menyadarkan zhein.
zhein segera merebut zoya dari gendongan bibi Tia lalu membekap zoya dalam pelukkannya.
zhein mencium semua wajah zoya tanpa ada yang terlewatkan. " ini papa nak, ini papa"~ ucap zhein dengan dada yang sesak.
bibi Tia memalingkan tatapannya saat melihat zhein menangis di depannya.
"mari masuk tuan, tuan muda zidan dan ziko sedang bermain"~ ajak bibi Tia
tanpa menunggu waktu lama, zhein tiba di hadapan kedua putranya. zidan yang melihat zhein di depannya tidak ber reaksi apa-apa, maklum lah zidan kan titisan zhein kulkas 15 pintu.
__ADS_1
ziko memandng sang ayah dengan tatapan bingung. pasalnya ziko baru melihat zhein. zhein yang di perhatikan oleh ziko segerah mendudukkan dirinya di samping ziko dengan zoya yang ada di pangkuannya.
zhein mengangkat ziko lalu pendudukan juga di pangkuannya. " ini papa nak" ~ucap zhein pada ziko yang kebingungan.
"papa? "~panggil ziko dengan suara khasnya.
" iya, ini papa nak"~ dada zhein semakin sakit kala ziko memandangnya dengan tatapan asing.
zhein menolehkan kepalanya pada zidan, zidan masi diam di tempatnya sambil bermain bongkar pasang.
zhein menurunkan zoya dan ziko dari pangkuannya lalu berali mendekati zidan.
"zidan"~ panggil zhein
zidan hanya menatap zhein sekilas lalu kembali melanjutkan acara mainnya.
" zidan, itu namamu bukan? "~ ucap zhein dan di angguki oleh zidan.
zhei mengangkat zidan lalu membawanya dalam dekapan hangatnya. Lagi-lagi air mata penyesalan itu hadir. zhein menyesal tidak melihat dan terlibat dalam tumbu kembangnya anak-anaknya.
ziko mendekati zoya, lalu mengacak-acak mainan zoya, zoya yang melihat itu menangis dengan melengking.
huwaa..... huwaa..... huwaa.....
zhein yang sedang menemani zidan yang membuat pesawat tempur tersentak kaget mendengar teriakan zoya, sontak zhein membalikkan badanya.
" ziko"~ tegur zhein dengan suara tegasnya
ziko yang di tegur zhein mendudukan kepalanya takut. zhein lalu mendekati ziko lalu mengusap kepala ziko "papa tidak marah nak. tapi jangan suka menjahili adikmu. bantu zoya menyusun kembali mainannya"~ zhein berbicara dengan nada lembut.
diko mengaukkan kepalanya lalu menyusun kembali mainan yang berwarna ping dan biru tersebut.
zoya yang berada dalam gendongan zhein masi terisak dengan sia-sia air matanya. zhein dengan setia menghapus air mata zoya " sudah, tadi kakak hany becanda"~ kata zhein untuk menenangkan zoya.
__ADS_1
"tata, merusak mainan joya. hiks.. hiks.. hiks"~ adu zoya dengan bibir mengerucut.
" tidak, kakak hanya ingin menemanimu bermain"~ zhein masi terus mengusap kepala zoya yang bersandar pada dada bidangnya.
***
sheila terlihat memasuki mini market untuk berbelanja keperluan dapur.
"sepertinya ini sudah semua"~ gumam shella sambil melihat belanjaannya yang ada di troli.
sheila berjalan menuju kasir, setelah membayar semua belanjaannya, sheila bergegas untuk pulang.
sesampainya di rumah, sheila seterah membuka pintu lalu berjalan menuju dapur untuk menyimpan belanjaannya.
alangkah terkejutnya sheilla saat melihat lelaki di depannya. lelaki yang ingin sheilla lupakan, lelaki tidak ingin sheilla lihat, lelaki yang sheilla benci sekaligus rindukan.
zhein mematung di depannya saat melihat sheilla. Hein maju ke hadapan sheilla. shella tanpa sadar menjatuhkan kresek belanjaannya.
zhein segera membawa sheilla dalam pelukkan nya. sheilla yang tersadar sponta memberontak dalam dekapan zhein. setelah berhasil melepaskan pelukan mereka.
PLAK, sheilla tanpa sadar menampar pipi zhein dengan semua kekuatan yang ia punya. zhein memegang pipinya dengan rasa panas.
" apa-apaan anda masuk ke rumah larang sembarangan"~ teriak sheilla.
"KELUAR DARI RUMAH BIBI TIA"~ teriak sheilla.
zhein kembali mendekati sheilla lalu memeluknya dengan erat tanpa menghiraukan teriakkan dan pukulan sheilla.
" LEPASKAN KU BILANG"~ teriak sheilla.
"maafkan aku"~ lirih zhein dengar air mata dan suara yang lemah.
bibi Tia berlari menuju sumber suara saat mendengar teriakkan sheilla, namun bibi Tia menghentikan langkanya saat melihat zhein sedang memeluk sheilla.
__ADS_1
bibi Tia kembali ke bermain bersama tripel Z.
bersambung....