Penyesalan Tuan Muda

Penyesalan Tuan Muda
#bab 6


__ADS_3

Sheilla yang baru selesai menidurkan tripel Z, beranjak meninggalkan kamar tripel Z.


Menit demi menit sheilla lewatkan untuk menonton TV, namun karena bosan sheilla beranjak menuju taman rumah.


Sheilla duduk hanya beralaskan rempu halaman rumah tersebut matanya masi fokus memandangi langit yang dihiasi bintang.


Air mata Sheilla menetes membasahi pipi Cabinya. Pikirannya menerawang pada kejadian beberapa tahun lalu.


Sheilla yang masi berusia 19 tahun mencoba merantau ke Amerika untuk mengubah nasib, namun naasnya ternyata di Amerika awal kehancurannya.


Sheilla yang bekerja sebagai OB di perusahaan Zhein, mengalami insiden pemerkosaan yang di lakukan Zhein.


Zhein yang baru selesai menghadiri pertemuan dengan para petinggi perusahaan pulang dalam keadaan tak karuan. Zhein yang saat itu dibawa pengaruh obat perangsang dengan dosia tinggi pulang ke perusahaan.


Sheilla yang mendapat shif malam sedang membersihkan ruangan Zhein, saat masi asik membersihkan ruangan tersebut.


Brak,,,, pintu di debrak dari luar, Sheilla yang kaget refleks menoleh ke arah pintu, Sheilla dapat melihat penampilan Zhein yang kacau.


Sheilla menghampiri Zhein dengan tujuan membantunya, namun Sheilla mendapat perlakuan yang tidak baik dari Zhein


Zhein yang dibawah pengaruh Alcohol dan obat perangsang, menyeret Sheilla dan membawanya ke ruang pribadi.


Sheilla yang merasa ketakutan, mencoba memberontak dengan kekuatan yang dimilikinya. Namun kekuatan yang dimiliki Sheilla tak sebanding dengan Zhein


Sheilla yang betubu mungil terus memberontak namun tetap tidak dapat melawan kekuatan zhein.


Sheilla yang capek memberontak, akhirnya diam dan hanya air mata yang menetes lewat mata cantiknya.


"Tolong, lepaskan tuan" ~Sheilla berucap dengan sisa tenganya.


"Diamlah, aku tidak akan menyakitimu. Aku akan memberikanmu kenikmatan" ~Zhein berucap sambil memompa tububnya diatas Sheilla.


Menit berganti menit, jam berganti jam. 2 jam sudah Zhein memompa tubuh Sheilla, Sheilla yang telah mendapatkan pelepasan berkali-kali, sementara Zhein belum mendapatkan sama sekli.


"Tahan sebentar, aku hampir sampai" ~ucap Zhein sambil memompa Sheilla dengan kecepatan penuh..


Setelah kegiatan tersebut selesai, Zhein dan Sheilla tertidur karena kelelahan.


Sheilla yang sudah bangun lebih dulu menangis tanpa suara di samping Zhein. Sheilla beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk membersihkan badan.


Zhein terbangun dari tidurnya, zhein kaget melihat penampilannya yang tidak memakai sehelai kain pun, zhein mengedarkan pandangannya nmun tidak menemukan siapa-siapa di dalam kamar tersebut. namun mendengar gemircik air dari dalam kamar mandi


Cek lek Sheilla keluar dari kamar mandi, Sheilla belum sadar jika Zhein sudah bangun dan mengamatinya.


Zhein yang melihat penampilan Sheilla seketika mengingat kejadia semalam, Sheilla memakai kemeja Zhein yang kebesaran di tubuhnya.


Zhein bangun dari tidurnya dan menghampiri Sheilla. Sheilla yang kaget refleks berteriak.


"Aaaaaaak" teriak Sheilla


"Jangan berteriak sayang, mari lanjutkan kegiatan semalam" ~Zhein menyeret dan membanting Sheilla di atas tempat tidurnya.


"Tu.. Tuan. Hiks... Hiks.. Hiks... Aku mohon jngan tuan. Kasihani saya tuan" sheilla memohon dengan sesegukkan


Namun zhein tidak menghiraukan perkataan Sheilla, zhein terus memaksa Sheilla. Sekuat tenaga sheilla mengumpulkan kekuatan dan PLAK, satu tamparan keras yang Sheilla hadiahkan untuk Zhein.


Zhein murka saat Sheilla mendartkan tamparan di pipi mulusnya. Plak,,, Zhein menampar pipi Sheilla.


Zhein merasa di rendahkan saat Sheilla menampar nya. Selama ini belum ada seorang pun yang berani menampar nya.

__ADS_1


"Hei ******, harusnya kamu bersyukur, aku biasanya tidak mau menggunakan ****** yang sama" ~ucap Zhein, lalu m*l*m*t b*b*r Sheilla dengan brutal..


Lalu terjadilah apa yang seharusnya tidak terjadi. Ya Sheilla di perkosa untuk kedua kalinya oleh Zhein


Zhein terbangun pukul 09.30 am. Zhein melihat kesamping dan menemukan Sheilla masi tertidur pules.


Zhein menoleh saat ada panggilan masuk di hedphone canggihnya.


"Mama"~zhein membulatkan matanya sempurna saat ada 50 panggilan tak terjawab.


" gawat kalo mama tau"~ucap zhein gusar.


***


Tuan Adijaya dan Nyonya Dewi memikirkan anak tunggalnya, semalaman Zhein tidak pulang.


"Pah, ini sudah pagi. Zhein belum ada kabar dari semalam, ponselnya aktif tapi tidak mengangkat panggilan mama, pah. " ~nyonya Dewi berucap sambil mondar-mandir.


"Mah, Zhein bukan anak kecil yang harus di khawatirkan. Duduklah dulu. Kepala papa pusing melihat mama yang kesana-kemari seperti strika" ~tuan Adijaya


"Pah, Zhein anak kita satu-satunya pah. Bisa-bisanya papa setenang ini" ~nyonya Dewi berucap dengn nada berapa-api


"Zhein bisa meng-"


Kring... Kring.... Kring...


"Katakan! " titah tuan Adijaya


.....


Tut


"Mah, Zhein ada di perusahaan. Zhein terciduk sedang tidur dengan seorang OB" ~ucap tuan Adijaya.


"Ayo ke perusahaan"


Tuan Adijaya berdiri dari duduknya, menggandeng tangan nyonya Dewi menuju mobil.


***


Rehan yang takut tuanya kenapa-napa memnggil tukang untuk membuka kamar pribadi Zhein, saat pintu terbuka rehan begitu kaget melihat tuannya dan seorang OB yang masi tertidur pules.


Zhein yang masi asik memandangi wajah sheilla mengalihkan pandangannya pada rehan.


"Bapak bisa keluar sekarang"~rehan bergegas mengusir tukang tersebut.


" baik tuan, saya permisi"~pamit tukang tersebut setelah menerima uang dari rehan.


"Rehan, mama dan papa tidak boleh tau apa yang terjadi padaku dan wanita ini"~zhein memandang rehan dengan tatapan elangnya.


"Tuan, tuang besar dan nyonya besar dalam perjalanan menuju ke sini"~ucapap rehan dengan nada pelan


" ****"~ucap Zhein "keluarlah rehan"~perinta Zhein.


***


Setibanya di parkiran perusahaan, nyonya Dewi bergegas turun dari mobil berlari kecil menuju lift, tuan Adijaya hanya mengikuti belakang sang istri.


Lift terbuka. Brak, nyonya Dewi memasuki ruangan sang putra, nyonya Dewi bergegas menuju kamar pribadi Zhein.

__ADS_1


"ZHEIN, apa yang kamu lakukan kepada wanita ini" ~nyonya Dewi seketika berteriak melihat penampilan anak dan wanita yang tidak diketahuinnya itu.


Hiks,,, hiks,,,, hiks,,,


Sheilla yang kaget sontak menangis sesegukkan. Sheilla begitu takut melihat dua orang yang sangat berpengaruh di negri ini. Sheilla takut di anggap wanita murahan.


"Mah" ~Zhein yang mendengarkan teriakkan sang ibu, Zhein sangat terkejut.


Zhein bergegas memakai pakaian yang seadannya, menghampiri sang ibu.


Plak, Zhein yang ingin menjelaskan kepada Nyonya Dewi menghentikan aksinya saat mendapat tamparan sang ibu.


"Zhein, kamu memalukkan keluarga Adijaya" nyonga Dewi berucap dengan nada sendu.


"Mah, Zhein tidak sengaja. Dia yang menggoda Zhein mah" ~Zhein


Sheilla yang mendengar itu merasakan sedih. Dengn mengumpulkan keberanian yang kuat Sheilla mencoba untuk membela diri.


"tuan besar, nyonya besar. Sya bersumpa🙏saya tidak menghoda tuan muda. Hiks.. Hiks.. Hiks.. Tuan muda yang memperkosa saya semalm hingga pagi tadi, hiks... Hiks... Hiks... " ~dengan suara terputus-putus Sheila berucap sambil memandang mata Nyonya Dewi dengn tatapan sendu


Nyonya Dewi berjalan menghampiri Sheilla. Nyonya Dewi duduk di sisi ranjang dan memeluk Sheilla, sesekali mengusap pundak polos Sheilla.


Nyonya Dewi melepaskan pelukannya, menyeka air mata Sheilla "tenanglah nak, Zhein pasti bertanggung jawab"


Zhein yang mendengar itu bernit melayangkan protes pada sang ibu, namun mengurungkn niatnya saat melihat tuan Adijaya mengelengkan kepalanya.


Hari berganti hari, minggu berganti minggu. Hari ini adalah hari pernikahan Zhein dan Sheilla.


Awalnya Zhein menolak menikahi Sheilla, namun nyonya Dewi memaksa Zhein


Pernikahan Zhein dan Sheilla berlangsung sederhana, tidak ada tamu undangan, hanya beberapa orang terdekat yang Zhein percayai bisa menyembunyikan pernikahan mereka.


Setelah acara pernikahan selesai, Zhein meminta izin pada mama dan papanya untuk membawa Sheilla ke apartemen pribadinya, dengan alasan ingin mandiri


Nyonya Dewi sempat menolak ide sang putra, namun tuan Adijaya mendukung keputusan sang putra.


Disinilah mereka sekarang.


Hanya keheningan yang ada di mobil yang dikendarai Zhein.


Mobil mulai memsuki area parkiran elit.


"Turun" titah Zhein


Sheilla yang sedang melamun menolehkn pandangannya pada Zhein.


"Keluar dari mobilku, dasar ****** sialan" ucap Zhein sambil mencengkram pipi Sheilla


Tes.. Tes.. Tes..


Air mata Sheilla membasahi tangan Zhein.


"Jangan pernah berharap lebih pada pernikahan ini, kau tidak lebih dari seorang ****** dan pembantu untuk ku" ~ucap Zhein dengan sadis


Zhein turun dari mobil meninggalkan Shella sendirian.


Sheilla menyeka air matanya lalu turun menyusul Zhein


"Bersihkan gudang di belakang untuk tempat tidurmu"~perinta Zhein saat sheilla baru memsuki apartemen mewah milik Zhein.

__ADS_1


" gudangnya ada di bagian mana tuan?" ~tanya Sheilla dengan takut-takut.


"Dasar bodoh"~Zhein pergi meninggalkan sheilla sendirian


__ADS_2