Penyesalan Tuan Muda

Penyesalan Tuan Muda
#bab 4


__ADS_3

Zhein tiba di rumah pukul 10.45 pm. saat pulang dari perusahaan Zhein tidak langsung pulang melainkan singgah di cafe untuk mendinginkan kepalanya.


saat tangan Zhein hendak membuka pintu kamar utama, tangis naya menghentikan gerakan tangan Zhein.


zhein buru-buru menuju kamar naya, cek lek ziko membuka pintu dan disambut tangisan naya, nani yng bertugas menjaga naya mengalihkan pandangannya.


Zhein menghampiri nani, mengambil alih naya dari gendongan sang nani tak lupa pula Zhein mengambil sebotol susu formula. tanpa sepata katapun Zhein pergi meninggalkn kamar naya.


saat Zhein membuka pintu kamar utama, ternyata ada Rosa yang sedang tertidur pules.


"dasar ibu tidak becus"~gerutu Zhein dengan nada suara super pelan.


Zhein memberi susu formula sambil menimang-nimang Naya agar tertidur.


benar saja, 20 menit berlalu Naya sudah tertidur pules dalam gendongan Zhein. Zhein berjalan menuju boks Naya yang ada dalam kamar utama tersebut, membaringkan naya dengan hati-hati agar tidak terbangun.


Zhein mengayunkan kakiknya menuju balkon kamar tersebut, tangan Zhein perlahan membuka pintu balkon.


Zhein merentangkan tangannya, menghirup udara malam banyak-banyak. Beberapa menit setelahnya Zhein menuju sofa dan mendudukan dirinya.


Zhein merogo saku celana yang melekat padanya, tangannya membelai foto USG ketiga anak kembarnya.


Air mata Zhein menetes membasahi pipi. Zhein terkeke sinis saat mengingat perkataanya dulu pada sheilla.


"Urus sendiri anak harammu itu, sampai kapan pun aku tidak akan pernah mengakuinya"


"B*e*g*e*. Maafkan papa nak"~ Zhein menyeka air matanya.

__ADS_1


Tangannya terus mengelus foto hasil USG tersebut.


"Sebenarnya dimana termpatmu bersembunyi Sheilla. Kenapa aku begitu sulit msnemukanmu?"monolog Zhein.


Zhein mengingat perkataan Rehan padanya beberapa waktu lalu.


"Jika memang benar ada yang melindungi Sheilla. Tapi siapa?. Selama bersamaku Sheilla tidak punya teman spesial"


Rosa yang terbangun dari tidurnya, mengalikan pandangannya pada balkon kamar.


Rosa mengayunkan kakiknya menuju balkon kamar tersebut. Rosa memutar bola matanya jengah dengan tingkah Zhein.


Rosa membuka pintu balkon tersebut. Zhein yang membelakang pitu balkon tidak melihat keberadaan Rosa di belakangnya.


Rosa merebut foto USG tripel Z tersebut, Zhein tersentak kaget saat Rosa merebut foto yang ada di tangan Zhein.


Rosa memperhatikan foto tersebut lalu mengalihkan pandangannya pada Zhein, Rosa tersenyum sinis.


"Sejak kapan kamu merindukan anak h*r*m ini?"


Zhein mengepalkan tangannya kuat-kuat berusaha meredam emosinya.


"Bukanya kamu sendiri dulu yang sering mengatakan Sheilla ******, dan anak-anaknya adalah anak haram?"~rosa terkeke sinis sambil memandang Zhein.


Zhein yang memiliki kesabaran setipis tisu dan dibagi 2. Zhein mengangkat tangannya hendak menampar Rosa, namun hal itu diurungkan Zhein. Zhein menyugar rambutnya ke belakang dengan kasar.


" Rosa, kembalikkan hasil USG itu. Hanya itu yang aku punya untuk mengobati rasa rinduku pada anak-anakku"~pinta Zhein dengan suara melemah.

__ADS_1


Rosa melemparkan lembaran USG tersebut, lalu berbalik memasukki kamar utama.


Air mata Rosa membasahi pipinya "jahat kamu Zhein"~rosa menyeka air matanya dengan kasar.


Monsion tuan Wijaya


Nyonya Dewi yang sedang asik nonton di ruang televisi di temani secangkir kopi tak lupa pula cemilan kesukaannya.


Nyonya Dewi mengalihkan pandangannya saat HP canggihnya berbunyi, menandakan ada pesan masuk.


Nyonya Dewi meneteskan air matanya haru saat melihat ketiga cucunya tertidur dengan pules.


Tuan Wijaya yang baru memasuki ruang utama mengalihkan pandangannya saat mendengar isakan sang istri.


" mah, mama kenapa menangis? "~tanya tuan Wijaya saat berada di samping nyonya Dewi.


Tanpa menjawab pertanyaan sang suami, nyonya Dewi memperlihatkan foto ketiga cucunya yang tertidur pules.


"Pah, mama rindu sama Sheilla dan cucu-cucu kita"~ucap nyonya Dewi dengan senduh.


Tuan Wijaya yang mengerti suasana hati istrinya, memeluk nyonya Dewi berusaha menenagkannya.


"Sudah 3 tahun Sheilla pergi pah. Cucu-cucu kita juga besar pah. Ayo kita temui mereka tanpa sepengetahuan Zhein pah. Mama rindu sama mereka"~isakan itu berubah menjadi tangisan.


Zhein yang baru memasuki rumah kedua orang tuannya kaget mendengar permintaan sang ibu.


" mah, pah. Jadi selama ini mama dan papa tau keberadaan istri dan anak-anakku?" ~tanya Zhein dengan emosi yang tertahan.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2