Penyesalan Tuan Muda

Penyesalan Tuan Muda
#bab 19


__ADS_3

Disinilah mereka berada. Setelah melewati hari yang panjang, dan bujukan dari bibi Tia, akhirnya Sheilla mau berbicara berdua dengan zhein.


Hanya denting sendok yang mengisi ruangan VIP tersebut. Zhein masi setia dengan diamnya begitupun dengan sheilla.


Sesekali zhein mencuri-curi pandang pada sheilla, namun sheilla tidak memperhatikan zhein.


Sejam berlalu zhein dan sheilla masi setia dengan diamnya. Mereka masi bungkam satu sama lain.


Ekhm... Zhein berdehem untuk memeca keheningan diantara mereka.


"Boleh kita mulai pembicaraan"~kata zhein yang mencoba mentap sheilla dengan lembut. Namun sayang sheilla lebih memilih memandang kearah lain.


"Aku tau, seribu kalipun aku meminta maaf tidak mampu mengganti sakit hatimu selam 3 tahun ini"~ ucap zhein dengan sendu.


Sheilla menjatukan air matanya lalu menyekanya dengan kasar.


Zhein terus memperhatikan sheilla, dada zhein rasanya terhimpit batu besar melihat air mata sheilla, padahal dulu Hein sangat suka melihat air mata sheilla.


Zhein berdiri dari duduknya, lalu berjalan menuju hadapan sheilla. Zhein menggeser sedikit meja lalu berjongko di hadapan sheilla, zhein mengenggam tangan sheilla dengan sayang.


Sheilla ingin menepis tangan zhein, namun zhein tidak membiarkan sheilla menepis tangannya.


" maafkan aku sheilla, beri tau aku bagaimana caranya agar kamu mau memafkan aku?"~ ucap zhein dengan putus asa di sertai dengan air mata nya.

__ADS_1


Sheilla hanya diam tanpa menghiraukan zhein, namun air mata sheilla turun tak dapat di tahan.


"Aku tidak bisa mengganti waktu yang terlewatkan selama 3 tahun" ~lanjut zhein masi dengan posisi yang sama.


Sheilla perlahan menoleh pada zhein, air matanya belum berhenti turun.


"Selama ini, kami sudah terbiasa hidup berempat. Kami sudah terbiasa tanpa kehadiran tuan"~ sheilla berbicara setelah sekian lama diam.


Zhein masi menunduk dengan dalam.


Sheilla melepas paksa tangannya yang di genggam zhein, zhein mendongakkan kepalanya untuk melihat sheilla.


Sheilla memegang pipi kiri dan kanan zhein dengan tangan mungilnya.


"Pulangkah tuan. Istri dan anak-anak tuan sedang menunggu kepulangn tuan" ~ sheilla melepas diri dari zhein.


Sheilla tersenyum lalu menggeleng. " tidak taun, kami akn tetap di sini. Tuan bisa datang sekali waktu untuk mengajak tripel Z bermain"~ sheilla hendak berdiri dari duduknya.


Namun lagi-lagi zhein menahanya. "Jika kamu tidak ingin ikut bersamaku, maka aku akan membawa tripel Z pergi selamanya denganku dan kamu tidak akan bisa bertemu dengan mereka lagi"~ ucap zhein dengan suara datarnya.


Zhein kehabisan akal membujuk sheilla. Bukan tanpa alasan zhein mengancam sheilla, zhein hanya takut sheilla pergi lagi darinya.


Deg... Sheilla tersentak kaget. Sheilla mematung di tempatnya. Air matanya kembali turun dengan deras.

__ADS_1


Sheilla menghirup udara banyak-banyak, lalu memandang mata zhein dengan dalam, lalu tersenyum dengan lembut.


"Jika itu bisa membuat tuan senang, maka ambillah mereka. Tapi tolong pastikan nyonya Rosa menyayangi merek seperti anak-anaknya sendiri"~ setelah mengatakan itu, sheilla berjalan keluar meninggalkan zhein yang mematung mendengar perkataan sheilla.


Sheilla menyatukan dirinya di lantai setelah menutup pintu VIP kafe tersebut. Hatinya begitu sakit saat mendengar perkataan zhein


Zhein mematung di tempatnya, hatinya begitu sakit saat mendengar sheilla mengizinkannya membawa tripel Z.


"Bagaimana jika yang sheilla katakan itu benar? "~ tanya zhein pada dirinya sendiri.


Zhein menggelengkan kepalanya, mengambil langka seribu untuk mengejar sheilla.


Saat membuka pintu zhein dikagetkan dengan sheilla yang duduk sambil menangis dengan terseduh-sesuh.


" ****, bodoh kamu zhein"~ zhein memaki dirinya sendiri.


Zhein menghampiri sheilla lalu memeluk sheilla dengan posisi menukukkan lututnya.


"Hiks... Hiks... Hiks... Apa mau tuan sebenarnya? Hiks... Hiks... Hiks... Aku yang hiks mem hiks besarkan hiks mereka. Tapi kenapa tuan hiks begitu tega hiks.. Hiks... Hiks"~ suara sheilla tenggelam dalam tangisnya.


Zhein begitu sesak mendengar tangis pilu sheilla" maafkan aku, maafkan aku. Aku tidak akan mengambil mereka dari kamu"~ ujar zhein menenangkan sheilla sambil sesekali mengecup puncak kepala sheilla, tak lupa tangannya yang mengusap lembut lengan sheilla.


"Sekarang, ayo pulang"~ ujar zhein lalu membantu sheilla berdiri.

__ADS_1


Tanpa menunggu lama zhein menggendong sheilla dan berjalan menuju parkiran mobil.


Bersambung...


__ADS_2